Sabtu, 26 Desember 2009

Musik Sasando Dikolaborasikan dengan Musik Modern

Kupang - Musik tradisional Sasando asal Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini gemanya hanya di sekitaran wilayah Bali dan Nusa Tenggara, sehingga sudah saatnya musik ini berkolaborasi dengan alunan musik modern lainnya.

"Kolaborasi dengan musik modern ini penting dilakukan sebagai salah satu bentuk promosi dan pengembangan aset budaya ini ke depan dan selakigus memikat para penikmatnya," kata Komposer musik dan lagu dari Universitas Katolik Widya Mandiri Kupang, Agust Beda Ama, di Kupang, Rabu.

Beda Ama menyebut hasil racikan musisi kenamaan Dwiki Dharmawan pada pagelaran festival musik Sasando memperbutkan piala presiden di aula Eltari Kupang belum lama ini dengan merajut sendu lagu ciptaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjudul "Kuyakin Sampai Disana" merupakan salah contoh kolaborasi yang diinginkan.

"Ini salah satu cara bagaimana agar musik Sasando ini tidak sekedar menjadi konsumsi di kalangan orang NTT, Bali dan sekitarnya," katanya.

Beda Ama sependapat dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik yang optimis Sasando dapat bersanding di pelataran musik tradisional dengan provinsi lainnya, jika dikolaborasikan dengan musik modern yang berkembang pesat saat ini.

Beda Ama yang juga salah satu tim juri pada pagelaran festival musik Sasando itu, mengatakan Menbudpar sempat terpesona dengan racikan musik petik sasando oleh Musisi kenamaan Dwiki Dharmawan yang bersanding bersama musik modern lainnya mengiringi sejumlah lagu daerah NTT.

"Lagu-lagu NTT itu diantaranya Bolelebo, Ova Langga, I-E I-E dan lagu ciptaan Presiden SBY Kuyakin Sampai Disana," katanya.

Menbudpar kata Beda Ama usai menyaksikan pagelaran kolaborasi musik sasando dengan musik modern lainnya berjanji akan mengadakan festival yang sama di tingkat nasional.

Menteri juga kata Beda Ama mengimbau semua pihak untuk mendukung aset dan kreasi budaya yang ada sehingga tidak kalah merdunya degnan musik daerah lain atau musik modern yanga da saat ini.

Ia menyarankan pada penyelenggara hiburan musik yang mendatangkan artis-artis ibu Kota setiap bulan, perlu juga memberi tempat bagi musik sasando hasil kolabirasi untuk ditampilkan pada kesempatan-kesempatan tersebut. (JY)

Sumber: http://oase.kompas.com

Pemerintah Kota Batam Didesak Bangun Tugu Kampung Tua

Batam - Fraksi Partai Demokrat DPRD Kota Batam komit untuk mengawal keberadaan kampung tua di Batam. Muhamad Yunus Spi, Ketua Fraksi Partai Demokrat mendesak agar Pemko merealisasikan agenda untuk membangun tugu kampung tua di 36 titik kampung tua yang saat ini disepakati.

Tugu itu menurut Yunus sangat penting sebagai tanda bahwa wilayah tersebut adalah benar telah diakui sebagai kampung tua. “Agar warga di sana bisa tenang,” ujar Yunus saat diemui Batam Pos di Batam Centre, Rabu (23/12).

Pembangunan 36 tugu tersebut, menurut pria kelahiran Batubesar ini, telah dianggarkan dalam APBD 2010 yang baru saja disahkan. Sebelumnya Pemko menjanjikan untuk membangun 11 tugu saja, namun permintaan itu ditolak dewan, jadilah semua kampung tua ditandai.

Selain menandai dengan tugu, Fraksi Demokrat juga mendesak agar Pemko segera menetapkan titik koordinat luas kampung tua. “Ini (luas kampung tua, red) harus berkoordinasi dengan tokoh masyarakat setempat,” imbuhnya.

Ia juga mendesak Otorita Batam untuk berkoordinasi dengan Pemko tentang titik koordinat kampung tua.

Menurut pria kelahiran tahun 1969 ini kepastian hukum kampung tua sangat bernilai bagi warga di sana. Antara lain kepastian hukum dari tanah yang dimiliki warga. Adanya kepastian hukum membuat segala urusan jadi lebih mudah. Di Batubesar, Yunus memberi contoh, jaringan air dan telepon tak masuk. Pasalnya perusahaan penyedia jasa belum melihat kepastian hukum atas lahan kampung tua. “Di tempat saya seberang jalan ada pipa air di seberang lain tak ada, inilah ironinya,” bebernya.

Selain itu, masih menurut pandangan Yunus, kampung tua bisa menambah pendapatan pemerintah. Misalnya dari pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan. “Selama ini kami tidak membayar PBB,” katanya. (ptt)

Sumber: http://batampos.co.id

Festival Yoga Internasional Digelar di Bali

Denpasar - Bali-India Foundation kembali akan menggelar kegiatan bertaraf internasional, yakni Yoga Festival yang melibatkan sekitar 1.500 yogi dari berbagai negara di belahan dunia. Kegiatan untuk kali kedua ini akan berlangsung di Bali selama sepekan pada 3-10 Maret 2010.

Ketua Yayasan Bali-India Dr Somvir di Denpasar Jumat (25/12/2009) mengatakan, separuh dari 1.500 peserta itu akan datang dari India, Eropa, Amerika Serikat, dan kawasan Asia. Separuh peserta lainnya adalah para yogi, pengelola pusat pengembangan yoga, serta pencinta yoga dari berbagai daerah di Indonesia.

"Kegiatan tahunan yang akan digelar secara berkesinambungan di Bali ini mengangkat tema yoga dan pemanasan global atau Yoga and Global Warming issue," ujar Somvir.

Dia menjelaskan, sejumlah negara antara lain dari India, Jerman dan Singapura sudah menyatakan kepastiannya melibatkan anggota rombongan masing-masing lebih dari 50 orang. Seluruh rangkaian kegiatan festival yoga bertaraf internasional ini akan berlangsung di Patanjali Yoga City Banjar Gunung Sari, Desa Tegal Linggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali utara.

Sekitar 80 km dari utara Denpasar, lokasi tersebut merupakan sebuah desa yang hingga kini masih asri dikelilingi kawasan perbukitan serta menjadi sebuah desa yang bersejarah bagi perkembangan agama Hindu dan Islam. Desa Tegal Linggah yang akan dibangun "Yoga City" itu pernah disinggahi oleh Rsi Markandeya dari India sebelum meletakkan batu pertama pembangunan Pura Besakih, tempat suci umat Hindu terbesar di Pulau Dewata. (LTF)

Sumber: http://oase.kompas.com

Merebaknya Film Religi Baru Menjadi Gejala

Semarang - Sutradara senior, Chaerul Umam, menilai, merebaknya film-film religi Islam saat ini baru menjadi gejala akan bangkitnya film bertema keagamaan di tengah kepungan film dengan tema-tema lain seperti horor, seks, dan percintaan.

"Saya pikir perkembangan film religi di Indonesia masih menjadi gejala, sebab sumber daya pembuatan film religi memang masih terbatas," katanya usai apresiasi film "Ketika Cinta Bertasbih" di Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Kamis.

Menurut dia, pembuatan film bertema religi hingga saat ini masih terkendala sumber daya manusia, sebab banyak pihak yang belum siap dan sadar untuk menyuguhkan tema Islam sebagai alternatif membuat film, dibandingkan tema-tema lain yang mungkin lebih diminati.

"Hal itu dibuktikan dengan banyaknya film bertema religi yang dibuat dan diputar di bioskop, namun dibuat oleh sutradara yang itu-itu saja. Tidak banyak yang mau membuat film bertema religi," kata sutradara film "Ketika Cinta Bertasbih" tersebut.

Selain masalah sumber daya manusia, kata dia, pembuatan film religi juga terkendala sumber dana, karena banyak produser yang cenderung memilih film dengan tema-tema lain, karena dianggap lebih memiliki nilai jual dibandingkan dengan film religi.

Ditanya tentang kebangkitan film-film religi di Indonesia, ia mengatakan, kemungkinan besar akan terjadi, ditandai dengan semakin banyaknya produksi film religi belakangan ini, namun kualitas film religi yang dibuat juga perlu mendapatkan perhatian.

"Jangan sampai nilai-nilai religiusitas hanya digunakan sebagai formalitas untuk membuat film bertema itu," kata sutradara yang mengaku telah membuat sekitar lima film bertema religi sejak tahun 1977 tersebut.

Ia menilai, pembuatan film bertema religi harus lebih mengutamakan nilai dakwah, tanpa meninggalkan unsur-unsur yang membuat film tersebut memiliki nilai jual, meskipun antara nilai dakwah dan nilai jual merupakan dua hal yang berbeda dan tidak dapat disamakan.

Ditanya tentang kekhawatiran merebaknya film-film religi nantinya akan dijadikan `aji mumpung`, ia mengatakan, hal itu bisa dihindari dengan keselektifan pembuatan film, agar film yang dihasilkan dapat berkualitas. "Kalau memang bagus, kan tidak apa-apa," katanya.

Chaerul mengatakan, pihaknya saat ini gencar menggelar `workshop` pembuatan film untuk melatih dan menyadarkan masyarakat dan ternyata banyak diminati, terutama kalangan muda, meskipun hal tersebut memang agak terlambat dilakukan.

Menurut dia, hal terpenting untuk membuat film religi adalah kedekatan pembuat film dengan masalah yang akan diangkat dalam film dan pembuat film religi juga harus benar-benar menguasai seluk beluk permasalahan berkaitan dengan agama Islam, selain soal sinematografi.

"Kalau ditanya bagaimana ilmu untuk membuat film religi, sebenarnya memang tidak ada ilmunya, namun yang terpenting pembuatan film tersebut jangan dipaksakan," kata Chaerul. (JY)

Sumber: http://oase.kompas.com

Kamus Bahasa Gaul Balikpapan Segera Diluncurkan

Balikpapan - Kamus Bahasa Gaul Balikpapan pada tanggal 29 Desember 2009 akan diluncurkan oleh Tim Kreatif Balikpapan Gathering.

"Kamus Bahasa Gaul Balikpapan merupakan kamus bahasa sehari-hari trend dan banyak digunakan masyarakat sini," kata Ketua Umum Balikpapan Gathering, Benhur Panjaitan di Balikpapan, Kamis.

"Semoga buku kamus tersebut dapat bermanfaat bagi kawula muda dan tua serta sembari bernostalgia guna menambah khasanah bahasa gaul anak muda balikpapan khususnya," ujar Benhur Pandjaitan.

Saat ini sudah ada pemesanan sekitar 12 ribu eksemplar Kamus Bahasa Gaul Balikpapan, dari berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri.

"Balikpapan Gathering merupakan wadah bagi warga Balikpapan yang lahir, bersekolah, bekerja dan menetap di Balikpapan atau yang pernah tinggal dan kini tersebar diseluruh Nusantara dan mancanegara yang terbentuk pada tanggal 29 Oktober 2009 di Jakarta," jelasnya.

Benhur mengatakan pembentukan wadah tersebut berawal dari kerinduan, kecintaan dan apresiasi warga Balikpapan untuk berbuat bagi kota tercinta Balikpapan.

"Balikpapan Gathering dalam menjalin kekeluargaan yang sebenar-benarnya dengan mempererat tali pertemanan, persaudaraan warga Balikpapan yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara," tambahnya.

Serta meningkatkan kecintaan dan apresiasi kepada kota Balikpapan, memperkenalkan dan mempromosikan kota Balikpapan, menggali potensi potensi daerah dan kearifan budaya lokal baik di skala nasional dan internasional.

"Selanjutnya pada bulan Januari 2010 Balikpapan Gathering akan meluncurkan Balikpapan Merchandise yang menampilkan ciri khas Balikpapan dan Kalimantan sebagai upaya mempromosikan potensi daerah dan kearifan budaya lokal," kata Benhur.

Pada bulan Juli 2010 akan dilaksanakan pula perhelatan akbar "Balikpapan Gathering 2010 (BG2010)" di Jakarta yang merupakan ajang promosi pariwisata, budaya dan dunia usaha terbesar diluar kota Balikpapan.

"Berbagai atraksi budaya lokal akan ditampilkan dengan format yang sangat unik yang tidak pernah kita temukan sebelumnya.Begitu pula dengan produk-produk lokal dan peluang investasi di Balikpapan khususnya dan Kalimantan Timur umumnya," kata Benhur.

Balikpapan Gathering telah dipercaya sebagai mitra strategi perhelatan "East Kalimantan Dream 2010" sebuah cita-cita yang ingin dicapai sebagai bentuk citra diri perkembangan Kaltim di semua lini yang akan diikuti oleh walikota dan bupati se-Kalimantan Timur, tambahnya. (JY)

Sumber: http://oase.kompas.com

Ulama Asia Tenggara Bahas Syariat Islam di Aceh

Meulaboh - Sebanyak 600 orang ulama se-Asia Tenggara, akan hadir ke Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat. Mereka akan menggelar musyawarah (muzakarah) membahas penerapan syariat Islam di Bumi Teuku Umar, serta di Aceh pada umumnya. Mereka akan membahas sejumlah persoalan agama dan kejayaan Islam pada masa Sultan Iskandar Muda pasa lampau.

Pertemuan ini akan melibatkan para ahli agama, pakar, serta cendikiawan yang berasal dari negara-negara Asia Tenggara tersebut akan dipusatkan di Masjid Agung Baitul Makmur, Seuneubok, Meulaboh, Aceh Barat selama tiga hari. Sehingga diharapkan dengan hasil musyawarah yang digelar tersebut, mampu membangkitkan kembali penerapan syariat Islam di Serambi Mekkah termasuk masalah agama yang dihadapi dunia-dunia islam saat ini.

Bupati Aceh Barat, Ramli MS kepada Serambi, Selasa (22/12) mengatakan, muzakarah ulama akan berlangsung pada bulan Maret 2010. Persiapan untuk menggelar event akbar hingga kini terus dilakukan. “Kita (Pemkab) telah membentuk pantia kecil guna melaksanakan kegiatan ini, dan semua ulama yang kita undang menyatakan telah bersedia hadir di Bumi Teuku Umar,” katanya.

Menurut Ramli, untuk menyiapkan kegiatan pihaknya dalam beberapa hari mendatang akan menerima tamu dari Ulama Malaysia guna membicarakan pertemuan dimaksud di Meulaboh. Bahkan, katanya, semua persiapan juga telah merampungkan semua persiapan untuk menerima dan menyambut ratusan ulama yang diperkirakan berjumlah sebanyak 600 orang dari sejumlah negara di Asia Tenggara.

Tujuan muzakarah ulama se-Asia Tenggara di Meulaboh, menurut Ramli untuk mengkaji sekaligus membahas penerapan syariat Islam di wilayah itu termasuk Provinsi Aceh. Dalam pertemuan itu para ulama itu juga akan membicarakan sejumlah persoalan yang dialami oleh dunia Islam terkait konflik serta tuduhan teroris yang dicap oleh negara kafir terhadap umat muslim di dunia. Termasuk kejayaan Islam di Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda, serta mengkaji mengapa bisa terjadinya konflik di Aceh.

Adapun ulama yang akan hadir itu nantinya berasal dari negara Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos, Singapura, serta perwakilan ulama dari dalam negeri termasuk unsure pemerintah Indonesia dari Jakarta. Sedangkan pertemuan itu akan berlangsung selama tiga hari dengan jadwal yang belum bisa ditentukan.

Ia berharap dalam pertemuan para ulama seluruh negara Asia Tenggara tersebut mampu melahirkan sejumlah rekomendasi pelaksanaan syariat Islam serta solusi terbaik terhadap persoalan agama yang kini sedang terjadi. “Mudah-mudahan dalam kegiatan ini akan membawa sejumlah hal positif khususnya demi kejayaan Islam,” ujarnya.(edi)

Sumber: http://www.serambinews.com