Rabu, 31 Maret 2010

Restorasi Benteng di Maluku Utara Terkendala

Ternate - Minimnya data sejarah menyebabkan restorasi 37 benteng peninggalan Belanda, Spanyol, dan Portugis di Provinsi Maluku Utara sulit dilakukan. Data sejarah diperlukan agar pembangunan kembali benteng tidak berubah dari bentuk aslinya.

Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Ternate Laode Muhammad Aksa di Ternate, Senin (29/3), mengatakan, pengumpulan data sejarah sekarang sedang dilakukan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. ”Pencarian data tidak hanya di arsip nasional, tetapi juga mencari ke Belanda dan Portugis,” ujarnya.

BP3 Ternate saat ini sedang menginventarisasi semua benteng di Maluku Utara untuk melihat kondisi benteng-benteng itu. ”Jika nanti data sejarah terkumpul dan proses inventarisasi tuntas, barulah ditentukan benteng akan dibangun kembali, dipugar, atau dibiarkan seperti kondisi yang ada sekarang, tetapi dirawat dan dijaga,” katanya.

Penentuan itu tergantung dari seberapa lengkap data historis yang diperoleh. ”Kalau datanya minim, kami tidak bisa merestorasi karena bisa-bisa melenceng dari wujud benteng yang aslinya,” ujar Laode.

Berdasarkan pendataan BP3 Ternate, tidak sedikit benteng di Maluku Utara yang konstruksinya sekarang rusak. Bahkan, menurut Laode, ada benteng yang menyisakan fondasinya saja atau tembok batu yang panjangnya tinggal beberapa meter.

Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya upaya perawatan benteng-benteng tersebut, seperti yang terlihat di Benteng Torre, benteng di Tidore.

Berdasarkan pengamatan Kompas, Minggu (28/3), rumput liar dibiarkan memanjang di benteng tersebut. Bahkan, lahan di dalam benteng dipakai sebagai lokasi berkebun oleh warga setempat.

Laode mengatakan, selain menginventarisasi benteng-benteng di Maluku Utara, pihaknya juga berupaya mengajak warga untuk terlibat merawat bangunan-bangunan bersejarah tersebut. ”Juru pelihara di setiap benteng juga kami tekankan agar lebih menjaga kebersihan benteng,” ujarnya.

Benteng di Maluku Utara yang tersebar di 37 lokasi yang dibangun mulai abad ke-15 Masehi oleh Portugis, Spanyol, dan Belanda menunjukkan pentingnya kawasan itu, terutama Ternate dan Tidore, di mata dunia internasional pada masa itu karena hasil rempah-rempahnya. (APA)

Sumber: http://cetak.kompas.com

Randai Kuantan Bertahan di Tengah Gempuran

Malam semakin larut ketika sayatan dawai biola memecah keheningan malam, disusul tabuhan gendang bertalu-talu, dan tiupan serunai. Gabungan tiga alat musik tersebut menghasilkan irama khas Melayu daratan.

Dua puluh lelaki yang pada mulanya duduk melingkar, beranjak berdiri dan mulai menghentakkan kaki ke bumi. Mereka berjoget bersama. Raut muka ceria dan gelak tawa menghiasi wajah mereka. Tak lama kemudian, satu per satu penonton memasuki panggung dan turut berjoget bersama.

Yah, itu merupakan salah satu bagian pembuka dari Randai Kuantan yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, yang dipertontonkan di Taman Budaya Riau, Sabtu malam (27/3).

Selama ini Randai identik dengan seni tradisional Sumatra Barat, namun hal tersebut dipatahkan dengan adanya Randai Kuantan yang berasal dari Riau.

Randai tersebut sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda, yang dipertontonkan pada acara pesta perkawinan, sunatan, kenduri kampung dan acara lainnya.

Berbeda dengan Randai Sumatra Barat yang lebih kompleks dalam penyampaian pesan dengan airmata, kebencian, kekerasan, maupun suka cita, randai Kuantan lebih komunikatif dan penuh dengan gelak tawa.

Pelakonnya pun mayoritas generasi muda sehingga kadang dikenal dengan randai "Bujang Gadi" atau lelaki dan perempuan muda. Sedangkan Randai Sumatera Barat umumnya dilakonkan oleh sesepuh atau tokoh masyarakat.

Menurut Hamsirman MS, pembina dari kelompok Randai Kuantan Pitunang Grup, Randai Kuantan membawakan cerita rakyat yang sudah disusun dengan dialog dan pantun logat Melayu Kuantan, disertai lagu-lagu Melayu Kuantan sebagai paningkah babak-babak cerita.

Biasanya pertunjukan ini dimulai pukul 20.00 WIB hingga menjelang subuh, dan dimainkan 40 orang. "Uniknya, dalam pertunjukan Randai Kuantan ini, tokoh wanita atau "gadi" dilakonkan oleh laki-laki yang berpakaian perempuan. Hal ini disebabkan keluar malam bagi perempuan Melayu adalah sesuatu yang tabu atau dilarang," ujar Hamsir.

Dikatakannya, selama pementasan, pelakon atau yang dikenal dengan sebutan ’Anak Randai’ membentuk lingkaran dan menari sambil mengelilingi lingkaran.

Hamsir mengatakan bahwa hal tersebut mempunyai makna yakni simbol persatuan dan kesatuan pemuda setempat. "Menonton pertunjukan randai ini sama seperti menyaksikan kehidupan kampung di Kuantan Singingi, seperti bermain di antara rimbunan kebun karet, gurauan dan sorak sorai," ujarnya.

Hamsir menambahkan, walaupun saat ini gempuran budaya asing tak henti-hentinya masuk ke Kuantan Singingi, namun Randai Kuantan tetap berada di hati masyarakat.

Hal itu antara lain terbukti dengan keberadaan 25 grup randai di kabupaten hasil pemekaran tersebut. Begitu juga dengan generasi muda yang merupakan generasi "Facebook", tetap mencintai randai. "Randai sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat, sampai kapan pun randai tidak akan pernah lepas dari tiap sendi kehidupan masyarakat Kuantan Singingi," kata Hamsir yang juga Kepala Seksi Pengembangan dan Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kuantan Singingi.

Kepala Taman Budaya Riau, OK Pulsiahmitra, mengakui Randai Kuantan memang tak sepopuler Randai Sumatra Barat, maupun Lenong dalam kesenian khas Betawi. Padahal, inti dari randai ini memberikan petuah pada masyarakat dengan cara yang lebih komunikatif.

Menurut dia, hal ini wajar mengingat gaungnya hanya ada di wilayah Riau. "Itu akan menjadi tugas kita ke depan untuk memperkenalkan budaya-budaya Melayu Riau ke pentas nasional. Tak hanya randai, tetapi juga masih ada budaya lainnya seperti Joget Pesisir maupun Zapin. Ke depan kita harapkan untuk dapat berkembang," kata OK Pulsiahmitra yang akrab disapa Ipul ini.

Fahrul Hidayat (30), salah seorang penonton yang ditemui Antara, mengatakan dirinya tetap mencintai randai.

Menonton randai, katanya, mengingatkan dirinya pada masa kecilnya di sebuah kampung di Kabupaten Singingi. "Saya jadi terkenang dengan masa kecil saya," katanya.
Menurut dia, walaupun dirinya merantau ke Pekanbaru, yang notabene masih berbudaya Melayu, namun ia tetap merindukan randai Kuantan, seni tradisional setempat yang tak lekang digempur budaya asing. (ndriani)

Sumber: http://oase.kompas.com

Rabu, 17 Maret 2010

Kebudayaan Pilar Industri Pariwisata

Berlin, Kompas - Industri pariwisata berbasis produk dan nilai tradisi budaya bangsa akan semakin berperan penting pada masa-masa mendatang. Tanpa kebudayaan sebagai pilar penopangnya, industri pariwisata akan jenuh, sulit menjaring lebih banyak wisatawan.

Kesadaran ini terlihat sangat menonjol dalam materi ekspose sebagian besar di antara sekitar 180 negara peserta Bursa Pariwisata Internasional (Internationale Tourismus Borse/ITB) Berlin 2010, yang berlangsung 10-14 Maret 2010. Hampir setiap paviliun negara peserta, khususnya dari Asia, produk dan nilai budaya bangsa masing-masing menjadi sajian utama yang mereka ditawarkan.

Pesona dan eksotisme alam dan lingkungan memang masih menghiasi stan tiap negara peserta, tetapi kebanyakan dikemas dalam paduan produk budaya setempat. Kalangan industri pariwisata yang terlibat dalam ajang promosi—sebutlah seperti agen perjalanan, perhotelan, dan maskapai penerbangan—pun selalu menyertakan keragaman budaya di lokasi tujuan dalam brosur dan presentasi yang disampaikan.

Indonesia yang tampil untuk ketiga kalinya dalam ajang promosi terbesar di dunia tersebut, tahun ini, hadir dengan maskot utama binatang langka komodo, ornamen Tana Toraja, Bali, dan Papua. Bursa pariwisata yang sudah ada sejak 1966 ini juga digunakan oleh Garuda Indonesia Airlines untuk mempromosikan kembalinya maskapai nasional milik pemerintah itu melayani rute penerbangan ke Eropa mulai pertengahan 2010.

Paviliun Indonesia yang menempati lahan seluas 800 meter persegi di Hall 26c Messegelande, Berlin, Rabu (10/3) siang waktu setempat, diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik. Tarian Betawi yang disajikan oleh tim kesenian dari KBRI Berlin dan tarian werena, yang dibawakan langsung misi kesenian dari Papua di arena pameran, mendapatkan sambutan hangat pengunjung.

Menteri Ekonomi dan Teknologi Jerman Rainer Bruderle, yang dalam waktu dekat akan berkunjung ke Indonesia, menyempatkan hadir di Paviliun Indonesia. Didampingi Wali Kota Berlin Klaus Wowereit dan Presiden/CEO ITB Berlin Raimund Hosch, Rainer Bruderle, disambut langsung oleh Jero Wacik dan Duta Besar RI di Berlin, Eddy Pramatomo.

Dalam kesempatan berbincang dengan Kompas, Metro TV, Antara, dan Deusche Welle, Jero Wacik mencanangkan tekadnya untuk merebut pasar wisatawan Eropa. Setelah mengikuti kegiatan serupa di London dan Amsterdam beberapa waktu lalu, partisipasi Indonesia pada ajang promosi di ITB Berlin kali ini dipandang sangat penting.

”Dibandingkan dua kali keikutsertaan terdahulu, kedatangan tim Indonesia kali jauh lebih optismistis. Lebih percaya diri. Kalau keikutsertaan kita yang pertama bersamaan peristiwa tsunami dan yang kedua terjadi kasus bom Bali, sekarang Indonesia dalam kondisi sangat aman. Citra Indonesia sekarang sangat baik,” kata Jero Wacik.

Dari perspektif potensi kepariwisataan, Indonesia memiliki banyak keunggulan dibandingkan negara-negara tetangga, khususnya di Asia Tenggara. Salah satunya keragaman budaya, baik yang bersifat budaya sehari-hari maupun produk-produk budaya yang sudah jadi. (KEN)

Sumber : http://cetak.kompas.com

Indonesia Targetkan 7 Juta Wisatawan

Menteri Budaya dan Pariwisata RI, Jero Wacik, meresmikan paviliun Indonesia pada pameran pariwisata internasional terbesar dunia, ITB Berlin (10/3).

Menurut Jero, dalam sambutannya, kali ini Indonesia datang dengan optimisme yang tinggi. Salah satunya, faktor keamanan di Indonesia yang makin stabil dan krisis keuangan dunia yang berangsur membaik.

Target kedatangan wisman pada 2010 adalah 7 juta orang. Dalam pidato peresmian paviliun Indonesia di ITB Berlin, Jero Wacik mengatakan akan menargetkan kedatangan wisman eropa hingga 1 juta orang. Faktor penting yang mendorong kedatangan mereka adalah dibukanya kembali rute penerbangan Indonesia ke Eropa oleh maskapai penerbangan Garuda Indonesia. "Ini bukan hal yang mustahil dan dapat kita kejar, termasuk para wisatawan dari Rusia," ujarnya.

Sumber : http://www.gatra.com

Kali ini, paviliun Indonesia tampil lebih luas dan segar dengan wajah kontemporer, walaupun ragam etnik Toraja dan Bali, dipadu motif bata merah seperti pada aristekur Bali, tampak mendominasi desain interior paviliun seluas 800 m2 itu.

Sebuah patung komodo dengan berukuran 1:1 diletakkan di muka paviliun tersebut, disertai kata-kata "Vote Komodo as seven wonder of the world". Di sudut lain, stand sebuah perusahaan kosmetik Indonesia menggelar demo spa pijat kebugaran.

Sebanyak 80 perusahaan dari industri pariwisata ambil bagian dalam pameran ini. Stand Papua, yang agak terpisah dari paviliun Indonesia, menyedot banyak perhatian dari para pengunjung. Stand ini menawarkan ekoturisme di Papua, sesuai harapan wisatawan Eropa untuk menjelajahi destinasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Menbudpar Jero Wacik menyambut Menteri Ekonomi Jerman Rainer Bruederle dan Wali Kota Berlin Klaus Wowereit, yang sempat mampir di paviliun Indonesia. Mereka tampak terkesan dengan stand Papua yang lengkap dengan orang orang berpakaian adat dan demo mengukir kayu. Keduanya merencanakan kunjungan kerja ke Indonesia pada tahun ini.

Sebuah laporan asosiasi perjalanan Jerman tahun 2008 menyebutkan, dari total penduduk 82,3 juta, 88 persen di antaranya melakukan perjalanan liburan setiap tahunnya. Sebanyak 6,2% di antaranya memilih tujuan Amerika, Australia, dan Asia.

Melihat data data di atas, KBRI Berlin merencanakan serangkaian acara untuk mempromosikan wisata ekspansif di berbagai kota di Jerman, juga mengoptimalkan kerja sama dengan berbagai elemen persahabatan antarbangsa (Friends of Indonesia, Perkumpulan Indonesia-Jerman (DIG), Alumni Darmasiswa).

KBRI Berlin juga aktif mengadakan pertemuan dengan tour operator dan media wisata jerman, termasuk menawarkan kunjungan bagi jurnalis Jerman ke Indonesia.

Duta besar Indonesia untuk Federal Republik Jerman, Eddy Pratomo, menekankan bahwa keikutsertaan Indonesia dengan penampilan baru dalam ajang ITB Berlin, menunjukkan situasi ekonomi Indonesia yang lebih baik, demokrasi yang makin matang, dan aktif berperan dalam politik internasional.

Selain itu, pelayanan pemberian visa bagi pelancong Jerman juga akan dipercepat. Duta Besar Eddy Pratomo berharap, mereka yang membutuhkan visa kunjungan ke Indonesia dapat dilayani secepat mungkin, apalagi bila harus jauh jauh datang dari lain kota. Mulai Februari 2010, KBRI Berlin menerapkan pelayanan visa 1 jam (one hour service).

Tahun 2009, jumlah wisatawan mancanegara asal Eropa ke Indonesia tercatat 641.024. Sebanyak 117.216 di antaranya berasal dari Jerman. Rata-rata pengeluaran wisman asal Jerman sekitar 1.446,30 dolar Amerika, per kunjungan dengan masa kunjungan rata rata 13 hari.

Penerimaan devisa dari sektor pariwisata tahun 2009 tercatat 7,3 US Dollar (Rp 68 trilyun), menempati urutan ketiga setelah migas dan kelapa sawit. [Mir]

Ceruk Wisata Eksklusif Rp 14 Juta Per Malam

GUNUNG KIDUL — Bagi Anda wisatawan kalangan menengah ke atas, tak perlu lagi khawatir jika ingin mengecap keindahan pantai Gunung Kidul sepuas-puasnya. Berbagai paket wisata, restoran, dan penginapan eksklusif siap memanjakan Anda. Layanan ini terbukti mampu menarik wisatawan mancanegara, seperti dari Singapura dan Jepang, untuk tinggal lebih lama di Gunung Kidul.

Dari pucuk bukit karst di Pantai Watulawang, wisatawan bisa memandang terbit dan tenggelamnya matahari ditemani secangkir kopi yang dilanjutkan makan malam di Resor Crab dengan ditemani alunan musik klasik Jawa cokekan. Jika ingin lebih jauh menikmati laut, perahu siap mengantar Anda memancing ke tengah laut, tepat ke perairan laut dengan kemunculan air tawar atau biasa disebut umbul.

Minisirkuit off road menyusuri pantai selatan pun disediakan oleh pengelola. Kunjungan Anda ke Gunung Kidul akan dikawal mobil wrangler dengan rute melewati Candi Boko dari bandara. Investor Resor Crab, Sugiharto Soeleman, mengaku bermimpi DIY memiliki pantai bersih dan layak jual. "Kami mengembangkan wisata tanpa merusak lingkungan," ujar Sugiharto, Senin (8/3/2010).

Rini Afriani dari bagian keuangan Resor Crab menuturkan, harga paket eksklusif untuk dua kamar dan ruang pertemuan adalah Rp 14 juta untuk enam orang selama menginap satu malam. Pilihan lainnya, paket Rp 25 juta untuk dua malam. Apabila tidak ingin menginap, tersedia pula paket sunset dinner Rp 10 juta untuk 10 orang.

Dengan modal awal Rp 450 juta, pemilik Restoran Kampoeng Baron, Zulkarnain, mulai merintis pembangunan restoran sejak 2006. Sedikit demi sedikit, ia terus membangun hingga kini tercipta restoran elegan dengan konsep etnik kontemporer tepat di dekat pintu gerbang retribusi kawasan wisata Pantai Baron.

Restoran Kampoeng Baron ini menjadi satu-satunya restoran dengan menu makanan laut bercita rasa eksklusif dengan menu andalan sup kerapu dan sup kepala kakap. Rentang harga makanan Rp 4.000-Rp 60.000 per orang. Tak hanya mencicipi kemewahan masakan, tamu restoran bisa sekaligus menikmati pemandangan perbukitan karst di ruang makan tradisional Jawa dengan meja dan kursi dari kayu jati daur ulang.

Kampoeng Baron bisa menampung pengunjung restoran hingga 150 orang. Dua kamar hotel dengan tarif Rp 300.000-Rp 400.000 diperkirakan sudah bisa ditempati pengunjung pada bulan depan. "Kami ingin mengisi ceruk yang belum ada, yaitu pelayanan bagi wisatawan kalangan menengah ke atas," ujar Zulkarnain. (WKM)

Sumber : http://travel.kompas.com

Lombok Siap Jadi Tuan Rumah IMCTM 2010

SETELAH sebelumnya Yogyakarta yang menjadi tuan rumah, tahun ini pelaksanaan Indonesia MICE (Meetings, Incentive, Conventions & Exhibitions) & Corporate Travel Mart (IMCTM 2010) akan digelar di Lombok, Nusa Tenggara Barat pada 6 - 9 Mei 2010 mendatang.

Bertempat di Sentosa Villas and Senggigi Beach Resort, IMCTM 2010 yang merupakan acara tahunan berskala internasional ini diadakan dengan tujuan untuk mendukung program pemerintah yaitu Visit Indonesian Year.

"Program ini diadakan memang untuk membantu pemerintah dalam rangka menaikkan target kunjungan wisatawan mancanegara sekitar tujuh juta di tahun 2010, maka diharapkan IMCTM 2010 ini dapat mengakomodir promosi potensi MICE, khususnya dunia pariwisata di Indonesia," ujar Panca Rudolf Sarungu selaku Ketua Penyelenggara IMCTM 2010 kemarin (10/3) di Jakarta.

Selain itu Panca juga menambahkan, Diestimasi IMCTM 2010 akan melibatkan 1.500 sesi bisnis atau meningkat 50 persen jika dibandingkan dengan IMCTM 2009 di Yogyakarta, karena bertambahnya jumlah pembeli (buyer) menjadi 200 orang. Dari daftar buyer tersebut 80 persen di antaranya merupakan korporasi lokal, sisanya berasal dari Australia, China, Malaysia, Singapura dan Korea Selatan.

"Sedikitnya ada 150 pihak resor, tempat konvensi dan penyedia fasilitas MICE menjadi pihak seller yang bertemu dalam format one to one table top session dengan pihakbuyer," lanjutnya.

Yang juga menarik pada pelaksanaan IMCTM 2010 ini adalah hadirnya Bali yang juga tidak mau ketinggalan turut ambil bagian.

Korporasi lokal
Keikutsertaan Bali dalam IMCTM 2010 di Lombok mendatang, diharapkan mampu menarik wisatawan asing di tahun ini dengan target 2,1 juta orang. Keyakinan ini diperkuat karena tiap tahun tempat-tempat penginapan seperti hotel, resor, dan villa serta rumah makan dan agen-agen perjalanan di Bali kian marak.

Dibanding pelaksanaan tahun lalu di Yogyakarta, estimasi sesi bisnis yang terjadi akan menjadi 15 ribu atau meningkat sebesar 15% seiring dengan bertambahnya jumlah pembeli (buyer) menjadi 200 buyer. Dari daftar buyer tersebut 80% adalah buyer korporasi lokal, dan sisanya berasal dari Singapura, China, Malaysia, Korea Selatan dan Australia.

Terpilihnya Lombok untuk penyelenggaraan IMCTM tahun ini adalah sesuai kesepakatan pemerintah dan asosiasi INCCA (Indonesian Congress and Convention Association) bersama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata melaksanakan komitmennya dalam rangka mendukung Pemda NTB untuk program Visit Lombok Sumbawa 2012. (*/OL-08)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

Batik Ibunda Obama Dipamerkan di Tanah Kelahiran

New York - Batik-batik koleksi ibunda Presiden Barack Obama, mendiang Ann Dunham, akhirnya dipamerkan juga di tanah kelahirannya di Kansas, Amerika Serikat, setelah pada tahun lalu ditampilkan di beberapa negara kota di AS, yaitu Chicago, Los Angeles, San Francisco, Houston, New York, Washington DC dan St. Louis.

Menurut keterangan dari Konsulat Jenderal RI di Chicago, Rabu, pameran batik Ann Dunham itu berlangsung pada 7-12 Maret 2010 di Johnson County Community College, Overland Park, Kansas.

Pameran yang dibuka oleh Konjen RI-Chicago Benny Bahanadewa dan anggota Kongres AS Distrik Tiga Kansas Dennis Moore serta Walikota Overland Park Kansas itu, diselenggarakan melalui kerja sama antara KJRI Chicago, KBRI Washington DC, keluarga adik tiri Presiden Obama Maya Soetoro Ng dan Johnson County Community College (JCCC).

Resepsi pembukaan dihadiri oleh sekitar 150 tamu dari kalangan pejabat pemerintahan Kansas, akademisi, pengusaha, seniman, media dan masyarakat.

Saat membuka acara, Konjen Benny Bahanadewa mengungkapkan kembali koleksi batik yang dipamerkan adalah bentuk peninggalan dan hubungan khusus mendiang Ann Dunham --yang adalah seorang antropolog bidang pembangunan perdesaan-- dengan Indonesia.

Semasa tinggal di Indonesia, Ann pernah mempelopori program pinjaman bagi para pengusaha industri kecil dan menengah di desa-desa untuk mengembangkan produk kerajinan tangan tradisional.

Anggota Kongres Dennis Moore menyampaikan bahwa pameran batik koleksi Ann memiliki kesan tersendiri bagi masyarakat Kansas serta mengandung arti penting dalam upaya saling memahami budaya Indonesia-AS serta meningkatkan hubungan kedua negara.

Pada acara tersebut, tokoh pendiri Interfaith Council, Rev. Dr. Vern Barnet, membacakan puisi tentang keindahan batik koleksi Ann Dunham dalam kaitannya dengan semangat universal serta hubungan antar individu dan negara yang ia beri judul "Invocation 2010".

Acara juga diisi dengan demonstrasi pembuatan batik, pementasan tarian tradisional Indonesia seperti "Sekar Jagad", "Puspanjali", "Cendrawasih", "Yapong" dan "Saman".

Kain-kain batik peninggalan Ibunda Obama yang dipamerkan adalah berupa kain sarung, selendang dan kain gendong buatan Yogyakarta, Indramayu, Cirebon, Pekalongan, dan Madura dengan berbagai motif seperti parang, lereng, dan kawung.

Menurut Konsul Fungsi Pensosbud KJRI Chicago, Sylvia Shirley Malinton, pameran batik koleksi Ann Dunham itu merupakan yang ketiga kalinya diadakan di wilayah Midwest AS setelah di Chicago dan St. Louis pada tahun 2009.

Ann, yang bernama lengkap Stanley Ann Dunham, lahir di Kansas pada 29 november 1942. Tahun 1961 ia menikah dengan mahasiswa Kenya, Barack Hussein Obama, dan pada tahun yang sama melahirkan Barack Hussein Obama Jr, yang kini menjadi Presiden AS ke-44.

Setelah bercerai dengan Barack Hussein Obama pada 1962, Ann menikahi pria asal Indonesia, Lolo Soetoro, tahun 1967 dan kemudian mengikuti Soetoro pindah ke Jakarta.

Pasangan Ann-Soetoro dikaruniai satu puteri, Maya Kassandra Soetoro, yang kini bernama Maya Soetoro Ng.

Ann Dunham meninggal di Hawaii pada 7 November 1995. (TNY/B010)

Sumber : http://www.antaranews.com

Halmahera Gelar Festival Teluk Jailolo

DALAM rangka memperkenalkan potensi seni, budaya dan bawah lautnya yang merupakan kawasan segitiga coral (coral triangle), pemerintah Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara untuk kedua kalinya kembali mengadakan Festival Teluk Jailolo 2010.

Untuk tahun ini, Festival Teluk Jailolo akan mengambil tema Colourful Sea of Gilolo dan berlangsung pada tanggal 29 Mei 2010 mulai pukul 15.00 WIT. Acara sendiri akan digelar selama sepekan, di mana sederet kegiatan bakal dipertunjukkan. Termasuk para penyelam dan fotografer dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan konsep yang lebih menarik, festival kali ini akan melibatkan masyarakat secara keseluruhan, mulai tingkat penyelenggara hingga pengisi acara. Paduan dari beragam seni ini akan dikemas dalam konsep pertunjukkan yang diberi nama Theatre on The Sea.

Theatre on the Sea sendiri merupakan program unggulan utama Festival Teluk Jailolo 2010 dimana satu-satunya di Indonesia bahkan di dunia pertunjukan teater berada di atas laut. Beberapa perahu nelayan akan membentuk konfigurasi tertentu hingga menjadi panggung "apung" lengkap dengan setting yang menggambarkan biota-biota laut dengan pendekatan realisme sesuai kebutuhan visual yang melakukan gerakan kinetik sesuai aslinya.

Seni tradisi
Seakan tidak mau ketinggalan, unsur seni tradisi Halmahera Barat turut menjadi bagian dari pertunjukkan Theatre on the Sea, seperti musik yanger, alat musik tataruba, menuru dan tarian tradisional yaitu Legu Salai, Sara Dabi-dabi. Tidak ketinggalan juga Horom Sasadu yang merupakan acara makan bersama yang bermakna ucapan rasa syukur atas panen yang melimpah.

Pihak panitia juga akan menyelenggarakan banyak kegiatan lain seperti penampilan seni dan budaya di desa-desa yang tersebar dalam wilayah Halmahera Barat dengan berbagai lomba.

Keindahan alam dan keunikan budaya di Halmahera Barat rupanya juga menjadi sebuah potensi wisata para penghobi fotografi yang saat ini memiliki komunitas yang cukup besar di Indonesia, untuk itu panitia juga menyelenggarakan program Photographer Hunting pada festival ini.

Bagi Anda yang ingin menyaksikan festival ini, menuju Teluk Jailolo tidaklah sulit, Anda hanya memerlukan waktu 3 jam penerbangan dari Jakarta menuju Ternate, bisa juga dengan alternatif penerbangan via Makassar atau Manado menuju Ternate.

Dari Pelabuhan Dufa Dufa di Kota Ternate, perjalanan dilanjutkan melalui jalur laut dengan menggunakan speed boat selama 40 menit. (*/OL-08)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

Isu Teroris Tak Pengaruhi Pariwisata Wakatobi

JAKARTA - Gencarnya pemberitaan mengenai aksi teroris di Indonesia tak memengaruhi jumlah wisatawan yang singgah di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Bupati Wakatobi Hugua menyatakan jumlah wisatawan yang masuk ke Wakatobi mengalami peningkatan sekitar 80 persen setiap tahunnya.

"Wisatawan Wakatobi 20.000 per tahun. Itu naik terus dan tahun ini naiknya hampir 80 persen plus minus," kata Hugua, di Kantor Microsoft Indonesia, Jakarta, Jumat (12/3/2010).

Menurut Hugua, jumlah wisatawan itu sudah termasuk jumlah peneliti yang menyambangi Wakatobi setiap tahunnya. Untuk peneliti asing di Wakatobi, tahun kemarin kenaikannya mencapai 200 persen.

Para wisatawan yang ingin ke Wakatobi dapat melalui jalur udara dan mendarat di Bandara Matahora. Wisatawan dapat menggunakan pesawat Ekspress Air dari Bandara Hasanuddin Makasar ataupun menggunakan pesawat Garuda."Bisa dari Makassar atau naik Garuda dari Kendari," tandasnya.

Sumber : http://travel.kompas.com

Nias Barat Siap Tampil di PRSU; Keunikannya Belum Ditemukan di Belahan Dunia Lain

Pemerintah Kabupaten Nias Barat menyatakan kesiapannya tampil pada Pekan Raya Sumatera Utara atau PRSU dalam waktu dekat ini.

“Sebagai kabupaten baru, Nias Barat siap tampil di arena PRSU.Kitamenyuguhkan berbagai potensi daerah termasuk seni dan budaya”, kata Direktur Lembaga Pemberdayaan Potensi Nias (LPPN) Sumut, Ones Daily di Medan, Kamis (11/3).

Dia menjelaskan kesiapan itu, seusai menggelar pertemuan panitia setempat dengan tokoh masyarakat Nias Barat di Medan yang dipimpin Bupati Nias Barat, Faduhusi,Spd didampingi Asisten II Sudirman Waru, selaku panitia pelaksana.

“Dalam pertemuan itu masyarakat Nias Barat di Medan menyambut baik atas keikutsertaan daerahnya di ajang PRSU untuk mempromosikan berbagai produk termasuk potensi pariwisata, seni dan budaya daerah tersebut”, ucap Ones.

Sekretaris LPPN Sumut Ebenezer Hia menjelaskan tampilnya Nias Barat sebagai daerah otonomi baru merupakan kesempatan bagus dan bermanfaat dalam upaya mempromosi sumber daya yang dimilikinya untuk menarik investor ke sana.

Harus diakui kata Eben, Nias sebagai daerah yang memiliki potensi pariwisata dapat diandalkan. Keunikannya belum ditemukan di belahan dunia lain. Diharapkan dengan adanya media promosi lewat jaringan online, daerah tujuan wisata Nias dapat diakses seluruh dunia.

“Wisatawan mancanegara bisa ke Sumut khusus ke Nias minimal 10 ribu wisatawan per tahun.Apalagi dalam waktu dekat akan terbuka akses penerbangan Singapura-Nias. Itu sebabnya Nias terus mempercantik diri menanti kedatangan tamu mancanegara”, sebut Eben.

Web Site
Ones Daily menambahkan, bukan hanya itu untuk memperlancar arus pariwisata juga telah dikembangkan Web Site Directory Pariwisata Gunung Sitoli oleh Ebenezer Hia dan akan diluncurkan Walikota Gunung Sitoli, Drs Martinus Lase di PRSU. “Stand Nias Barat di arena PRSU akan menyuguhkan berbagai jenis kesenian daerah dan kreasi baru seperti tari Elang, Hiwo termasuk tari massal Maina maupun atraksi budaya Nias lainnya”, imbuh Eben.(bay)

Sumber : http://analisadaily.com

Wisatawan Prancis ke Bali Turun 6,17%

Denpasar - Wisatawan Prancis yang menikmati panorama alam serta keunikan seni budaya Bali selama Januari 2010 sebanyak 4.807 orang, menurun 6,17% dibanding bulan yang sama 2009.

"Mereka sebagian besar melalui Bandara Ngurah Rai, dengan menumpang pesawat yang terbang langsung dari negaranya, hanya enam orang lewat pelabuhan laut dengan menumpang kapal pesiar," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Ida Komang Wisnu di Denpasar, Jumat.

Ia mengatakan, meskipun masyarakat Prancis berkurang ke Bali, namun tetap masuk 10 negara terbanyak memasok turis ke Bali. Negara itu menempati urutan kedelapan setelah Australia, Jepang, Cina, Taiwan, Korea Selatan, Rusia, Malaysia, dan Belanda.

Selama 2009 wisatawan Perancis ke Bali tercatat 113.453 orang, meningkat 46,62% dibanding tahun sebelumnya yang hanya 77.379 orang.

Ida Komang Wisnu menambahkan, Bali memiliki 158 pramuwisata profesional dalam bahasa Prancis yang siap mendampingi dan mengantarkan masyarakat Prancis dalam menikmati liburannya di daerah ini.

Prancis mampu memberikan kontribusi sebesar 2,68% dari total wisman ke Bali sebanyak 179.273 orang selama Januari 2010, meningkat 2,71% dibanding bulan yang sama 2009.

Ida Komang Wisnu menjelaskan, dari 10 negara terbanyak memasok wisman ke Bali, empat negara menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan dan enam negara mengalami penurunan.

Empat negara yang menunjukkan adanya peningkatan meliputi Rusia 2,51%, Australia hampir 60%, Korea Selatan 26,49%, dan Belanda 40,10 %.

"Enam negara yang masyarakatnya berkurang ke Bali selain erancis, juga Jepang sebesar 23,86%, China 31,44%, Taiwan 8,55%, Malaysia 28%, dan AS 8,36%," tutur Ida Komang wisnu. [*/mor]

Sumber : http://www.inilah.com

Pawai Arak-arakan Maulid di Mataram Meriah

Mataram (ANTARA News) - Tradisi pawai arak-arakan untuk memeriahkan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), berlangsung meriah dan semarak.

Dari pantauan ANTARA di Mataram, Sabtu menyebutkan, masyarakat Kota Mataram beramai-ramai menyaksikan pawai arak-arakan tersebut dengan berdiri disepanjang Jalan Langka Mataram dan jalan-jalan kampung di Kelurahan Dasan Agung.

Ratusan masyarakat terutama remaja mengusung anak-anak yang akan dihitan dengan menggunakan kuda-kudaan dengan memakai pakaian tradisional Lombok, sehingga menjadi perhatian setiap lalu lintas.

Menurut H. Zainur yang juga Kepala Lingkungan Gapuk, Dasan Agung, kuda-kudaan tersebut didatangkan dari Lombok Timur dan Lombok Tengah beserta pengusungnya dan rata-rata disewa Rp300.000 per unit dengan jumlah 30 kuda-kudaan sekitar 30 unit.

Saat ini masyarakat Kota Mataram, Lombok sedang merayakan Maulid yang dirayakan secara tradisional dengan menyediakan berbagai jenis makanan khas tradisional Lombok termasuk kue.

Setiap Kepala Keluarga (KK) hampir rata-rata merayakan maulid baik dirumah masing-masing maupun secara bersamaan di masjid dengan mengundang tamu dari luar lingkungan dan dirayakan sehari suntuk.

Dana yang dihabiskan untuk perayaan maulid minimal Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per KK, sementara untuk kebutuhan daging sapi setiap KK sekitar 15 kg belum termasuk daging ayam, telur dan sayur-mayur.

Sejak masuknya perayaan Maulid pada 26/2) atau bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal 1431 Hijriyah harga daging di Mataram, naik tajam dari sebelumnya Rp60.000 per kg kini mencapai Rp75.000 per kg.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Mataram, Drs. H. Marzuki Sahaz mengakui kenaikan harga daging cukup tinggi, namun kenaikan tersebut bersifat sementara karena sasat ini masyarakat sedang maulid.

Setelah bulan Maulid selesai, maka harga daging akan mulai normal demikian juga harga bawang merah, cabe, bawang putih dan lainnya akan ikut stabil.

Tradisi maulid secara besar-besaran hingga kini masih dilakukan terutama di Kelurahan Dasan Agung Mataram yang letaknya berada di jantung Kota Mataram.

Di Kelurahan tersebut ada selapan kampung yang merupakan penduduk asli Dasan Agung dan kedelapan kampung tersebut merayakan maulid secara bergantian sejak masuknya bulan Maulid hingga selesai. (ANT/S026)

Sumber : http://www.antaranews.com

Pembangunan Istano Basa Pagaruyung Selesai 91 Persen

Padang - Pembangunan fisik Istano Basa Pagaruyung di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, sudah selesai 91 persen namun pengerjaan bangunan yang masih tersisa membutuhkan anggaran senilai Rp4 miliar.

"Kini masih tersisa sembilan persen pengerjaan Istano Basa Pagaruyung, yang membutuhkan dana sekitar Rp4 miliar lagi," kata Kepala Dinas Pariwisata Tanah Datar, Alfian Jamrah, MSi di Tanah Datar, Minggu.

Anggaran yang sudah diserap untuk pembangunan Istano Basa Pagaruyung sekitar Rp14 miliar lebih, dan diperkirakan akan menghabiskan dana mencapai Rp17 miliar.

Alfian menjelaskan, kebutuhan dana untuk melanjutkan pembangunan Istano Basa Pagaruyung, untuk interior dan pengadaan material kayu olahan.

Kebutuhan kayu untuk sampai "finishing" pengerjaan Istano Basa Pagaruyung sebanyak 200 meter kubik (M3), tapi jenis surian dan meranti.

Selama ini, kayu olahan untuk bahan baku Istano Basa Pagaruyung diperoleh dari kawasan hutan Sumbar, di antaranya dibeli di Sijunjung dan kabupaten lainnya.

"Kalau dana tersedia dan material bangunan mudah di dapat pengerjaan bisa ditargetkan satu sampai dua bulan ke depan," katanya.

Pelaksanaan pembangunan kembali Istano Basa Pagaruyung yang terbakar pada 27 Pebruari 2007 itu, tersisa bagian lantai ruangan utama, loteng, lantai dapur dan pembungkusan tiang-tiang dengan papan.

Kendati demikian pihaknya menargetkan penyelesai pembangunan kembali Istano Basa Pagaruyung yang terbakar pada 27 Pebruari 2007 sebelum Juni 2010.

"Mudah-mudahan menjelang Juni mendatang sudah selesai dan telah diresmikan pemakaiannya karena akan ada dua kegiatan besar," katanya.

Kegiatan besar itu, yakni Tour de Singkarak yang akan menjadikan Istano Basa Pagaruyung Etape V yang akan berada selama empat jam di sana.

Selain itu, Jambore Budaya Internasional yang pelaksanaannya berpusat di areal Istano yang kini tengah dipersiapkan lahannya. Jambore Budaya itu, sedikitnya akan diikuti 1.500 peserta dari Malaysia, ditambah dengan peserta dalam negeri.

Alfian menjelaskan, pembangunan lanjutan yang mendesak pembangunan toilet untuk para pengujung dan pakar Istano Basa Pagaruyung, karena belum masuk tahap awal.

Rencana tambahan itu, tambahnya, sudah disampaikan kepada Kemenbudpar melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata provinsi, sehingga menjelang dua kegiatan besar toilet untuk pengujung sudah terbangun. (SA/K004)

Sumber : http://www.antaranews.com

AS Masuk 10 Besar Pasok Wisatawan ke Bali

Denpasar - Amerika Serikat untuk pertama kali masuk 10 besar negara pemasok wisatawan mancanegara terbanyak ke Bali, setelah menggeser posisi Jerman.

"Jerman, yang selama 2009 memasok Wisman ke Bali sebanyak 74.849 orang, sementara pada Januari 2010 tidak lagi masuk 10 besar pemasok wisman ke Pulau Dewata," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, Ida Komang Wisnu di Denpasar, Sabtu.

Ia mengatakan, AS sebagai 'pendatang baru' 10 besar pemasok wisman ke Bali, selama Januari 2010 hanya mendatangkan 4.504 orang, menurun 8,36% dibanding Januari 2009.

Meski hanya menempati urutan ke-10, AS mampu memberikan kontribusi sebesar 2,51% dari total wisman yang berliburan ke Bali selama Januari 2010 sebanyak 179.273 orang.

Angka itu naik 2,71% dibanding Januari 2009 yang tercatat 174.541 orang. Dari 10 negara terbanyak memasok wisman ke Bali, empat negara menunjukkan adanya peningkatan cukup signifikan dan enam negara mengalami penurunan.

Empat negara yang menunjukkan adanya peningkatan meliputi Rusia 2,51%, Australia hampir 60%, Korea Selatan 26,49%, dan Belanda 40,10%.

"Enam negara yang menunjukkan penurunan selain AS, juga Jepang 23,86%, China 31,44%, Taiwan 8,55%, Malaysia 28%, dan Prancis 6,17%," kata Ida Komang. [*/mor]

Sumber : http://www.inilah.com

Toraja Menjadi Wisata Kedua Setelah Bali

Makassar - Sekitar 18 orang wisatawan Familiarization Trip (Famtrip) yang terdiri dari ilmuan dan jurnalis senior media Jepang tiba di Bandara Internasional Hasanuddin Makassar, Sabtu (13/3/2010).

Mereka akan melakukan kunjungan wisata ke Tanah Toraja dan Sulawesi Selatan yang diharapkan menjadi tujuan wisata utama di Indonesia setelah Bali.

"Sulsel khususnya Tanah Toraja diharapkan menjadi tujuan wisata kedua setelah Bali," kata Director Buraku Liberation and Human Rights Research Institute Osaka, Jepang, Nobuaki Teraki PhD.

Rombongan yang terdiri dari 14 warga kota Osaka dan empat orang warga Tokyo akan melakukan kunjungan wisata di Makassar, Maros, bahkan Parepare, dan akan menghabiskan waktu di Tanah Toraja hingga Kamis (18/3/2010) mendatang. (Tribun Timur/Nasruddin)

Sumber : http://travel.kompas.com

Kuta, Desa Adat Pertama yang Berkembang Pariwisatanya

Denpasar Kawasan wisata Kuta yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan dalam dan luar negeri yang berlibur ke Pulau Dewata, merupakan desa adat pertama dari 1.452 desa pekraman di Bali yang pariwisatanya berkembang pesat.

"Bahkan dalam pengembangan sarana dan prasarana pendukung kepariwisataan tersebut sudah terintegrasi dengan fasilitas yang diperuntukkan bagi warga desa adat," kata Dr Drs I Ketut Sumadi, M.PAR, dosen Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar, Jumat.

Pria kelahiran Bayuyang, Gianyar 48 tahun silam itu, melakukan penelitian dan kajian terhadap desa adat Kuta untuk meraih gelar doktor pada program studi kajian budaya program pascasarjana Universitas Udayana dan dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Ia mengatakan, modal budaya sebagai dasar pengembangan pariwisata di desa adat Kuta menunjukkan bahwa kebudayaan telah menjadi propaganda pemerintah dan pengusaha pariwisata untuk mengajak masyarakat dapat menerima ideologi pasar yang penuh persaingan dan gaya hidup yang pragmatis.

"Kebudayaan tidak hanya sebagai pengarah yang menentukan dalam suatu masyarakat yang dipatuhi atau menjadi petunjuk arah dalam praktek yang berhubungan dengan religiusitas, namun menjadi modal promosi pariwisata bagi perjuangan kepentingan merebut keuntungan ekonomi pasar wisata," ujar doktor Sumadi.

Perjuangan tersebut dilakukan secara perorangan, kelompok masyarakat, pemerintah, pengusaha pariwisata maupun secara bersama-sama, dan kini membuahkan hasil berupa peningkatan kehidupan masyarakat.

Ketut Sumadi menjelaskan, penelitian yang dilakukan sangat menarik dan penting, mengingat modal budaya tidak hanya menegaskan fungsinya bagi warga desa adat Kuta, namun juga sangat menonjol dalam memberikan solusi di luar masalah budaya, yakni pengembangan pariwisata.

Pada tataran sosial budaya terjadi adanya proses dominasi dan subordinasi budaya secara dinamis seirama perkembangan pariwisata global.

Sementara pada tataran individu di satu sisi dapat diamati proses resistensi warga desa adat setempat terhadap manipulasi simbolik ideologi pasar.

Selain itu juga tercermin adanya perjuangan politik identitas budaya untuk menjaga ketahanan dan kekokohan desa adat. Namun pada sisi lain terjadi reproduksi identitas kultural untuk memenuhi motivasi atau selera wisatawan serta proses globalisasi agar pariwisata berkembang dan berkelanjutan, tutur Sumadi.

Sumber : http://oase.kompas.com

Batik Ibu Negara Dipajang di Canberra

Jika Anda berkunjung ke National Gallery of Australia yang berlokasi di kawasan Parkes, dekat Gedung Parlemen Australia di Canberra, Anda bisa melihat dua koleksi baru yang dipajang di dinding galeri.

Ada kain batik tulis motif Sekar Jagad dari Yogyakarta dan kain songket Klungkung dari Bali. Keduanya adalah hadiah dari Ibu Negara Ani Yudhoyono yang berkunjung ke Galeri tersebut pekan ini.

“Kedua kain itu benar-benar dari koleksi pribadi saya,” kata Ani seperti dilansir VIVAnews. “Batik motif Sekar Jagad sebenarnya ada dari Solo, Madura bahkan Pekalongan. Karena saya berasal dari Yogyakarta, maka saya memilihkan batik Yogya,” kata Ibu Negara.

Koleksi batik Ibu Negara lumayan banyak dan beberapa di antaranya adalah koleksi langka yang pernah dipamerkan di Alun-Alun, Grand Indonesia, bersamaan dengan pameran batik koleksi Ann Dunham, ibunda Presiden AS Barack Obama yang pernah tinggal di Indonesia. Ibu Negara berharap lewat kain asli Indonesia, masyarakat Australia lebih mengenal budaya Indonesia.

Meski pemerintah Australia masih mengenakan travel adversary atau anjuran tak berkunjung ke Indonesia karena alasan keamanan, jumlah turis ke Indonesia, terutama ke Bali, tak pernah surut. Jumlahnya lebih dari 400.000 tahun lalu.

Itu sebabnya, Ibu Ani memilihkan koleksi songket Klungkung Bali, menemani batik Sekar Jagad Yogya untuk dipamerkan di Galeri Nasional. Keduanya dipajang di seksi Asia Tenggara.

Sumber : http://sosialbudaya.tvone.co.id

Sulaman Indonesia Tarik Perhatian Masyarakat Jerman

Berlin - Sulaman Indonesia menarik wisatawan Jerman yang datang ke Paviliun Indonesia di pameran pariwisata, Minggu, dengan ditampilkannya demonstrasi menyulam oleh Ny Salfrida N Ramadhan KH, mantan diplomat yang memiliki kelompok pengemar sulaman Indonesia.

Ketua Yayasan Sulam Indonesia Ny Triesna Wacik kepada koresponden Antara London, mengatakan bahwa ia ingin memperkenalkan sulaman Indonesia ke tingkat internasional dengan menampilkan demo menyulam di pameran pariwisata ITB Berlin yang berlangsung sejak 10 Maret yang berakhir Minggu .

Istri Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik itu menyebutkan sulaman Indonesia sangat kaya dan ini dapat menjadi salah satu menjadi obyek bagi wisatawan yang paling tidak menjadi cendera mata yang bisa dibawa ke negaranya menjadi kenang kenangan.

Diakuinya sulaman Indonesia begitu banyak variasi dan juga pengrajin yang tersebar di seluruh Indonesia di berbagai sentra sentra di daerah dengan cirinya masing- masing.

Sulaman Indonesia tidak kalah indahnya ketimbang Batik atau kain tenun lainnya, ujar Ny Triesna Wacik.

Untuk itu, ia ingin juga sulaman dapat dikenal oleh dunia luar seperti halnya batik yang sudah diakui oleh UNESCO.

Menurut Ny Triesna ,selama ini permasalahan yang dihadapi para pengrajin sulaman adalah dalam pemasaran dan pengembangannya .

Untuk itu ,dibutuhkan suatu wadah berupa yayasan yang akan dapat membantu pengrajin terutama dalam pemasaran produknya selain mendesainnya sesuai dengan selera pasar tanpa meninggalkan ciri dari daerahnya masing masing.

Selain itu , Yayasan juga membantu dalam hal pemodalan dengan mencarikan orang tua asuh dari berbagai perusahaan besar.(ZG/R009)

Sumber: http://www.antaranews.com

Sail Banda 'Entry Point' Bangun Kerja Sama

Ambon - Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu menegaskan, penyelenggaraan Sail Banda yang dijadwalkan berlangsung Juli-Agustus 2010, akan menjadi "entry point" bagi daerah ini untuk membangun kerja sama saling menguntungkan dengan berbagai negara tetangga.

"Saya baru saja kembali dari lawatan bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Australia dan Papua Nugini dan Sail Banda sudah dipaparkan juga oleh Presiden saat berdialog dengan pimpinan kedua negara sahabat itu dan mendapat dukungan positif," kata Ralahalu di Ambon, Senin.

Dia mengatakan, penyelengaraan Sail Banda 2010 di Maluku akan menjadi wadah untuk menggalang dan meningkatkan kesejahteraan serta menciptakan kawasan-kawasan bebas konflik dan damai di masa mendatang.

Berbagai kegiatan bertaraf internasional akan dilaksanakan bertepatan dengan Sail Banda 2010 dan dihadiri oleh pakar serta ilmuan dari berbagai belahan dunia. Hal itu merupakan tindaklanjut dari kunjungan Presiden bersama enam gubernur di Kawasan Timur Indonesia ke Australia dan Papupa Nugini.

Enam Gubernur yang ikut dalam kunjungan itu, yakni Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, Gubernur Papua Barnabas Saebu, Gubernur Papua Barat Abraham Ataruri, Gubernur Bali I Made Mangu Pastika, Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Frans Lebu Raya dan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Madjdi.

Ralahalu mengaku, tidak sempat berbicara secara langsung dengan Perdana Menteri (PM) Australia Kevin Rudd tentang Sail Banda, tetapi dalam pembicaraan diplomatik antara Presiden dengan pejabat Australia, hal itu sudah disampaikan dan akan menjadi masukkan untuk dibicarakan lebih jauh.

"Saya tidak sempat membicarakan Sail Banda dengan PM Australia, tetapi dengan PM Papua Nugini Sir Michael Somare, saya sudah membicarakannya dan PM Somare berjanji akan berkunjung ke Maluku Agustus mendatang. Hal ini pun sudah saya laporkan kepada Presiden dan Presiden juga telah mengundang PM Papua Nugini secara resmi," ujar Gubernur Ralahalu.

PM Papua Nugini, menurut Ralahalu, senang bertemu dengan gubernur dari Indonesia Timur karena merasa serumpun dan menyatakan antusiasme untuk berkunjung ke Maluku serta beberapa provinsi lain di Indonesia Timur.

Dia mengatakan, berbagai agenda internasional akan dibahas saat Sail Banda, diantaranya, pertemuan tingkat tinggi antara Indonesia-Australia dengan fokus utama kerja sama dengan enam provinsi di Indonesia Timur, khususnya Maluku.

Sehubungan dengan hal itu, Ralahalu mengimbau semua komponen masyarakat di provinsi ini untuk mendukung sepenuhnya penyelenggaraan Sail banda agar berjalan sukses dan lancar.

"Mari kita jadi tuan rumah dengan mendukung penyelenggaraan event internasional ini, sehingga berdampak mengangkat kembali kejayaan Maluku di mata dunia internasional, sekaligus menjadi wilayah yang aman untuk kunjungan wisatawan maupun menjadi tempat bagi pengusaha mancanegara untuk di berbagai bidang pembangunan, sehingga berdmapak bagi kesejahteraan masyarakat di masa mendatang," kata Ralahalu. (T.K-JA/R009)

Sumber: http://www.antaranews.com

Tari Topeng Indonesia Awali Pameran Topeng Asia

London - Pameran topeng Asia dan Oceania dibuka secara resmi yang tengah berlangsung di museum Etnografi Hungaria, Budapest dengan menampilkan tari topeng dengan diiringi tabuhan musik tradisional Jawa, mengawali upacara pembukaan.

Hal ini merupakan penghargaan dan perhatian khusus pihak Hungaria kepada Indonesia, ujar Sekretaris Kedua KBRI Budapest, Patricia Silalahi kepada koresponden ANTARA London, Senin.

Ia mengatakan, pameran ini menampilkan topeng-topeng langka dari negara-negara Asia dan Oceania termasuk Indonesia, China, Vietnam, Jepang, Papua Nugini dan lain-lain.

Topeng-topeng tersebut terbuat dari emas dan lainnya dari kayu, kulit dan batu-batu lajurit serta giok, sebagian besar topeng merupakan koleksi pribadi Dr Istvan Zelnik.

Pakar budaya Dr Zsigmond Ritok mengemukakan, penggunaan topeng pada dasarnya menyembunyikan banyak hal dari diri pemakai dan yang nampak dari wajah topeng adalah jati diri yang sebenarnya.

Cahaya topeng jenazah menampilkan kekuatan yang bersangkutan, ujarnya pada acara pembukaan yang dihadiri kalangan diplomatik serta tokoh pemerintahan dan pemerhati kebudayaan.

Sementara itu, Duta Besar Indonesia Mangasi Sihombing mengatakan penggunaan topeng adalah bagian dari kebudayaan tua Indonesia yang hingga kini tetap terpelihara dan hidup dalam masyarakat.

Dia menekankan kekayaan budaya mencerminkan kekayaan alam dan ekonomi yang menjadikan Indonesia sebagai negara dan bangsa besar, dan akan mencapai kemajuan setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya.

Karena itu kerja sama dengan Indonesia menjanjikan bagi semua pihak, ujarnya.

Para penabuh musik Jawa yang ikut ambil bagian dalam acara ini adalah Dus Polett untuk gender, Jakab Geza untuk gendang, Kiss Marta untuk suling, Szilagy Peter untuk rebab serta Shinto Dery sebagai sinden. Penari tunggal adalah Gergye Krisztian.

Selain Shinto, mereka adalah peserta beasiswa Darmasiswa beberapa tahun silam di Indonesia. Krisztian saat ini telah menjadi koreografer ternama Hungaria dan pernah meraih "Choreographer of the Year" Hungaria.

Kiss Marta adalah pengarang dan meniti karir sebagai pelukis yang semakin menanjak. Dus Polett aktif memimpin band yang selalu mengkombinasikan musik tradisional Indonesia dengan musik modern.

Museum Etnografi Hungaria yang di pimpin Dirjennya, Dr Zoltan Fejos, mengharapkan kedepan kerja sama yang lebih luas dengan Indonesia, demikian Patricia Silalahi. (JY)

Sumber: http://oase.kompas.com

Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko Dijual di Jerman

Berlin - Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko yang menjadi warisan dunia tampil di pameran pariwisata internasional ITB Berlin, Jerman. Tiga candi itu pun dijual.

Presiden Direktur PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko Purnomo, Siswoprasetjo di London, Minggu (14/3), mengatakan kehadiran PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko di ITB Berlin sebagai upaya memperkenalkan peninggalan sejarah ketiga candi di Jawa Tengah tersebut.

Ia ingin memperkenalkan ketiga candi yang ditetapkan UNESCO sebagai "World Heritage" (warisan dunia) kepada wisatawan Eropa, khususnya Jerman. Maklum selama ini wisatawan Jerman hanya tahunBali.

Selam pameran, PT Taman Wisata Candi Borobudur menampilkan demo membuat wayang kulit yang dibawakan perajin dari Kraton Jogyakarta, Sagio. "Diadakannya demo membuat wayang diharapkan akan dapat menarik minat wisatawan yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai kebudayaan Indonesia. Selama pameran berlangsung kita merasa puas dengan banyaknya respon masyarakat Eropa,"

Tak hanya itu, proyek multimedia interaktif Prambanan, Borobudur dan Candi Bokor berisi berbagai cerita mengenai seluruh relief yang terdapat diseluruh dinding candi. "Masuk ke dalam multimedia interaktif itu orang seperti berjalan di lorong lorong candi.

Ia mengharapkan, proyek yang membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun itu akan menjadikan kisah Borobudur, Prambanan dan Candi Boko mudah difahami dan dimengerti oleh masyarakat maupun turis asing.

"Selain itu kita berharap, Borobudur dapat menjadi lokasi syuting dalam pembuatan film Holywood dengan keikutsertaan dalam pameran pariwisata terbesar di dunia, ITB Berlin ini," pungkasnya. [*/aji]

Sumber: http://www.inilah.com

Ritual "Perang Api" di Mataram Berlangsung Tegang

Mataram - Ritual "Perang Api" yang di gelar umat Hindu di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Senin petang, sebagai satu rangkaian menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1932, berlangsung cukup menegangkan.

Ritual "Perang Api" yang merupakan tradisi umat Hindu di Mataram sejak 1838 tersebut dilaksanakan di Jalan Selaparang, Cakranegara, yang merupakan lokasi peperangan antara Kerajaan Singosari dengan Kerajaan Karang Asem.

Kegiatan ritual yang dilakukan usai arak-arakan ogoh-ogoh (boneka raksasa dengan bentuk menyeramkan) itu melibatkan ratusan warga dari dua Banjar (lingkungan) yang ada di Kelurahan Cakranegara Timur, yaitu Banjar Negara Sakah dengan Banjar Sweta.

Warga dari masing-masing Banjar saling menyerang dengan menggunakan api yang disulut pada bobok (daun kelapa yang sudah kering yang sudah diikat membentuk sapu).

Sebelum dilakukannya aksi saling serang, para tokoh masyarakat terlebih dahulu memeriksa "bobok" yang akan digunakan oleh warga untuk menyerang warga lainnya.

Proses saling serang terjadi setelah para tokoh masyarakat dari masing-masing banjar sudah sepakat untuk memulai "peperangan".

Warga dari kedua Banjar tampak beringas melayangkan pukulan dengan bobok yang menyala ke arah tubuh lawannya. Proses saling serang beberapa saat dihentikan oleh tokoh masyarakat bersama aparat dari Polsek Cakranegara dan Polres Mataram yang melakukan penjagaan.

Namun, warga dari dua banjar kembali saling serang tanpa menunggu aba-aba dari tokoh masyarakat, sehingga tokoh masyarakat bersama aparat kepolisian terpaksa menyingkir untuk menghindari terkena api dari bobok yang menyala.

Situasi "peperangan" cukup tegang karena warga dari kedua Banjar tidak ada yang mau mundur dari arena peperangan. Jika salah satu kelompok warga mundur maka mereka dianggap kalah.

Akibatnya, sejumlah aparat yang berada di tengah-tengah warga dari dua Banjar yang ingin menghentikan "peperangan" terkena pukulan dan lemparan bobok yang masih menyala dari kedua belah pihak.

Selain itu, ratusan penonton dari berbagai wilayah di Kota Mataram, yang ikut menyaksikan ritual umat Hindu tersebut tampak ketakutan karena mereka sangat dekat dengan warga yang sedang saling menyerang.

Setelah "peperangan" berlangsung sekitar 15 menit akhirnya kedua Banjar sepakat menghentikan "peperangan" dan kembali ke rumah masing-masing dengan suasana damai tanpa ada dendam diantara mereka.

Menurut Lurah Cakranegara Timur, Nyoman Wisnu, "Perang Api" bukan sekedar bentuk peringatan menyambut Hari Raya Nyepi, namun memiliki makna yang lebih dalam yaitu untuk membersihkan bumi dari segala malapetaka yang terjadi.

"Dulu awalnya ada salah seorang warga kami yang mendapat bisikan oleh Hyang Kuasa untuk membakar bobok (oboh-oboh) di pekarangan masing-masing dengan tujuan menghilangkan segala macam musibah yang disebabkan mahluk jahat atau yang disebut dengan ’kala’. Setelah itu, mereka bertemu di jalan ini untuk saling menyerang" katanya.

Saling serang dengan api menggambarkan pembakaran hawa nafsu buruk yang ada dalam diri manusia agar benar-benar suci sebelum memulai acara Tapa Brata Penyepian.

Dia mengatakan, dua hari setelah pelaksanaan Tapa Brata Penyepian, umat Hindu melaksanakan "Lembak Geni" untuk mempererat rasa persatuan sesama manusia.

"Kita saling maaf-memaafkan dua hari setelah pelaksanaan ’Perang Api’ agar tidak ada rasa dendam antar sesama umat manusia," ujarnya. (JY)

Sumber: http://oase.kompas.com

Official upbeat about Sail Banda`s success

Ambon - A Sail Banda central committee official has expressed optimism the international maritime event to be held from July to August 2010 in Maluku will run successfully.

Aji Soelarso, the Sail Banda central committee`s first secretary who is also director general of marine and fisheries supervision at the marine and fisheries ministry, said the Maluku provincial administration was enthusiastic about the prospect of hosting the event and determined to make Sail Banda 2010 a success.

"I can testify that the governor, the local people, and students across Maluku province have a high spirit to make the international marine event a success," Aji Soelarso said in Ambon recently.

He said preparations made by the provincial administration to greet Sail Banda guests and participants were now 90 percent completed.

On the electricity problem about which the local people themselves had been complaining, Soelarso said he guaranteed it would be overcome in the runup to the the event.

"I think , Sail Bunaken in North Sulawesi last year was a warming up for Maluku to make even better preparations for Sail Banda 2010," Soelarso said.

Therefore he expressed hope that no protest rally against Sail Banda would happen anywhere in Maluku because such an international event was intended to promote the province`s potential and outlying small islands in the province.

"What we hope is that the people will not stage any protest rally. If they have suggestions and criticism, they can express it in a proper manner for the sake of our common progress," he said.

According to him, Sail Banda 2010 was designed in such away to make Maluku eastern Indonesian gateway for tourism and the province`s potentials for the local people`s welfare.

"All people of Maluku should give their contribution for our common good to make the event a success. It is not designed to make Maluku poor," Soelarso said.

He added that the Maluku provincial administration had allocated Rp12 billion from the regional budget (APBD) to fund the event, because the central government was not funding in cash but in the form of an infrastructure program.

Source: http://www.antaranews.com

Tragedi Pariwisata Indonesia

Oleh Anak Agung Gde Agung

Pejabat-pejabat pemerintah dari segala tingkat semuanya menyatakan betapa baiknya kondisi kepariwisataan Indonesia dengan setiap tahun mengalami peningkatan mantap.

Namun, sebaliknya, semua data menunjukkan betapa buruknya keadaan kepariwisataan Indonesia dasawarsa belakangan ini. Selama 12 tahun terakhir, hingga 2007, jumlah turis yang berkunjung ke Indonesia berkisar 5 juta pengunjung setahun. Walaupun jumlah ini naik ke 6,4 juta pada tahun 2008, peningkatannya selama ini rata-rata 1,9 persen per tahun, suatu prestasi yang sangat menyedihkan.

Rata-rata lama tinggal turis juga turun dari 10 hari pada tahun 1977 menjadi 8,5 hari tahun 2008. Lebih parah lagi adalah betapa jauhnya prestasi Indonesia dibandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia, yang tahun lalu masing-masing mendatangkan 10 juta, 15 juta, dan 22 juta turis.

Bagaimana bisa Indonesia yang begitu meluap dengan kekayaan budaya dan kecantikan alam hanya menarik kurang dari seperempat jumlah turis yang dilakukan Malaysia yang relatif begitu tandus? Tragedi ini rupanya berpangkal pada 1980-an sewaktu Indonesia, senantiasa kekurangan dana, menunjuk ke Bali yang sudah begitu tersohor sebagai sapi perahan kepariwisataannya.

Sejak itu, tidak banyak yang berubah. Hasilnya, kepariwisataan Indonesia praktis hanya tergantung pada Bali, dengan akibat yang menyedihkan. Turis yang melonjak tajam ke Bali diikuti terjadinya ledakan pembangunan infrastruktur yang mengerosikan lingkungan alam dan budayanya selain juga mengakibatkan ditelantarkannya daerah-daerah wisata lain yang tak kurang menarik di seluruh Nusantara. Tempat-tempat menakjubkan, seperti Borobudur, Yogyakarta, Toraja, Bunaken, dan Ujung Kulon, misalnya, begitu saja ditinggal tidak terurus.

Betapa buruknya stagnasi ini pada tujuan-tujuan wisata lainnya? Berikut ini adalah beberapa statistik yang mengejutkan. Borobudur, yang merupakan lambang warisan dunia yang diakui PBB, hanya berhasil mendatangkan sekitar 55.000 wisatawan asing tahun lalu dibanding dengan lebih dari 1 juta oleh Angkor Watt di Kamboja yang baru saja ”ditemukan”. Toraja beberapa tahun terakhir ini hanya mendatangkan sekitar 5.000 wisatawan dari luar negeri per tahun.

Bunaken rata-rata hanya menarik 10.000 wisman setahun sepanjang ingatan orang dibandingkan dengan lebih dari 4 juta pengunjung untuk Pattaya di Thailand yang mirip. Ujung Kulon dengan badak bercula satunya yang langka hanya bisa mengklaim rata-rata 6.000 turis gabungan lokal dan luar negeri setahunnya.

Perbaikan kepariwisataan Indonesia harus secepatnya dilakukan dan persyaratan utama untuk itu adalah mengubah cara berpikir mendasar para pembuat kebijaksanaan. Pertama, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono harus mendeklarasikan bahwa turisme merupakan prioritas nasional dan aparat pusat maupun daerah, baik pemerintah maupun swasta, wajib bekerja sama dalam usaha ini.

Strategi cepat-hasil

Setelah itu perlu dilakukan beberapa tindakan ”cepat-hasil” (quick-win) untuk menghidupkan kembali tujuan-tujuan wisata yang selama ini tidak diperhatikan, tetapi hanya perlu sentuhan kecil untuk membuat mereka aktif kembali.

Borobudur, misalnya, dapat dikembalikan ke kejayaannya semula dengan hanya merelokasi pedagang-pedagang kaki lima yang mengelilinginya dan membuatnya mesum serta mengganggu para wisatawan yang datang untuk menikmati keindahan dan ketenteraman situs ini.

Toraja juga dapat menarik jauh lebih banyak wisatawan apabila bandaranya yang kini ditinggal rusak diperbaiki sehingga turis dapat datang ke sana dalam 45 menit dari Makassar dan menghindari 10 jam perjalanan darat melalui gunung-gunung yang terjal. Untuk Ujung Kulon, jumlah turis dengan mudah dapat ditingkatkan dalam waktu singkat apabila diadakan transportasi laut yang aman dan berjadwal tetap dari Jakarta.

Ada banyak lagi tujuan wisata yang menakjubkan selain yang disebut di atas yang saat ini diabaikan, seperti Gunung Bromo, Pulau Komodo, Prambanan yang hanya memerlukan sentuhan kecil untuk membuat mereka menjadi tujuan turis utama sembari mengurangi tekanan terhadap Bali yang mengalami turis yang berlebihan dan merusak kebudayaan dan alamnya.

Fase ”cepat-hasil” ini harus diikuti dengan program jangka panjang (strategic plan) untuk membangun tujuan-tujuan wisata yang memerlukan investasi infrastruktur agar tempat-tempat yang saat ini kurang dikenal dapat menjadi pusat wisata yang potensial. Hal ini perlu dilakukan untuk menjaga kelanjutan jangka panjang industri turisme Indonesia.

Tempat-tempat menarik seperti ini, misalnya, adalah Trowulan dan Kota Gede untuk atraksi sejarah, Banda Naira dan Raja Ampat untuk olahraga selancar angin yang spektakuler, serta Lombok dan Waikabubak untuk pengalaman etnis yang tidak tertandingi. Masih banyak lagi tempat-tempat wisata seperti di atas yang dapat ditawarkan secara kelompok agar wisatawan dapat menikmati perjalanan yang lebih beraneka ragam.

Pentingnya ”branding”

Baik pada waktu fase ”cepat-hasil” maupun pada fase jangka panjang, usaha memperbaiki kepariwisataan Indonesia harus didukung oleh promosi yang tepat dengan melakukan branding nasional yang selaras. Malaysia memiliki ”Truly Asia”, India mengklaim ”Incredible”, sedangkan Singapura dan Thailand masing-masing menamakan diri mereka ”Uniquely Singapore” dan ”Amazing Thailand”.

Branding perlu untuk memosisikan suatu tujuan wisata agar selalu dalam ingatan pertama (top of mind) calon turis, sekalian menjaring agar wisatawan yang datang adalah yang tepat yang dapat menghargai kekhasan tujuan wisata yang bersangkutan. Paradigma dasar kepariwisataan mengatakan, lebih banyak turis yang datang menghargai kekhasan suatu tujuan wisata, lebih banyak pula masyarakat setempat yang akan merasa bangga dengan warisan budaya dan alamnya sehingga makin termotivasi untuk melestarikannya. Ini justru akan mendatangkan lebih banyak turis yang selaras. Semua ini akan menghasilkan suatu gerakan spiral ke atas yang saling mendukung antara masyarakat lokal dan turis yang datang bersama-sama memperkuat warisan tradisi setempat.

Program pariwisata yang berhasil dapat memberikan banyak faedah bagi Indonesia, antara lain membuatnya sebagai tujuan wisata yang paling beraneka ragam di dunia, memberinya penghasilan devisa yang berkelanjutan dan bersih lingkungan yang bisa jauh lebih besar nilainya dari yang didapat dari sumber-sumber lainnya, seperti minyak, yang terbatas jumlahnya.

Selain itu juga membawa kemakmuran bagi rakyat di seluruh Nusa Tenggara secara merata (bukan saja di Bali) melalui pemberdayaan dan kemandirian masyarakat akar rumput tanpa merusak warisan budaya, tradisi, dan alam setempat. Semua ini merupakan potensi besar yang perlu diraih Indonesia karena pahalanya terlalu besar untuk dibiarkan berlalu begitu saja.

Anak Agung Gde Agung Menteri Masalah–masalah Kemasyarakatan di Bawah Presiden Abdurrahman Wahid

Sumber: http://cetak.kompas.com

Kamis, 11 Maret 2010

Tak Semua Pengelola Bangunan Pahami Cagar Budaya

Bukittinggi - Tidak semua pengelola atau pemilik bangunan yang berstatus sebagai benda cagar budaya di Kota Bukittinggi memahami soal tersebut. Padahal, tidak kurang dari 43 bangunan di Kota Bukittinggi saat ini berstatus sebagai bangunan cagar budaya.

Wali Kota Bukittinggi Ismet Amzis, Rabu (10/3), mengatakan, hal itu terjadi karena ketidaktahuan warga akibat tidak adanya sosialisasi. Selain itu, keberadaan sejumlah bangunan cagar budaya yang berada relatif jauh dari kawasan permukiman juga membuat informasi soal status bangunan itu tidak diketahui.

”Tetapi, semua 43 bangunan berstatus bangunan cagar budaya itu tetap dipertahankan bentuknya,” kata Ismet seusai membuka Sosialisasi Rehabilitasi Jam Gadang di Istana Bung Hatta, Kota Bukittinggi.

Namun ia mengatakan, hingga sejauh ini belum ada perangkat hukum, seperti peraturan daerah, yang memastikan soal jaminan keberadaan semua bangunan cagar budaya itu tetap dalam bentuk aslinya. Termasuk soal adanya jaminan pemberian hukuman dan penghargaan bagi pengelola atau pemilik bangunan yang melanggar ataupun tetap melestarikan bangunan cagar budaya yang ditinggalinya.

Hingga sejauh ini, Pemerintah Kota Bukittinggi mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya dalam upaya pelestarian tersebut. ”Kalau untuk membuat perda, kami harus punya rekomendasi dulu,” kata Ismet. Ia melanjutkan, rekomendasi itu bisa berasal dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) di Batusangkar atau Badan Pelestarian Pusaka Indonesia.

Disinggung soal upaya sosialisasi mengenai bangunan cagar budaya yang dilakukan kepada para pemilik dan pengelola bangunan dengan status bangunan cagar budaya, Ismet mengatakan bahwa hal itu juga belum secara khusus dilakukan. Termasuk menandai bangunan yang termasuk dalam kategori bangunan cagar budaya.

Beberapa di antara bangunan yang termasuk dalam status bangunan cagar budaya itu adalah sejumlah rumah, gedung perkantoran, prasasti, dan bangunan sekolah. ”Kami akan tetap menjaga bangunan bersejarah itu, seperti (bangunan) Mapolresta (Bukittinggi), Dinas Pendidikan, SMP 4, dan SMA 2,” ujar Ismet.

Sebelumnya dari Medan dilaporkan, Pemerintah Kota Medan belum serius dalam melindungi bangunan bersejarah. Dari 600 bangunan yang dinilai bersejarah oleh Badan Warisan Sumatera (BWS), hanya 42 bangunan yang dilindungi Pemerintah Kota Medan. Untuk itu, butuh kesadaran warga untuk melindunginya.

Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 06 Tahun 1988 tentang Pelestarian Bangunan dan Lingkungan yang Bersejarah Arsitektur Kepurbakalaan hanya mencantumkan 42 bangunan di Kota Medan yang harus dilindungi. Bangunan itu antara lain Istana Maimoon, gedung bekas Kantor Wali Kota Medan, dan Masjid Raya. Masih ada ratusan bangunan lain yang dari sisi sejarah dan budaya perlu dilindungi.

Tahun 2002 BWS mengusulkan agar Pemkot Medan melindungi 600 bangunan bersejarah. Pemkot Medan menanggapi positif usulan tersebut, tetapi belum juga ada realisasinya. BWS ingin Perda No 06/1988 itu direvisi dan memasukkan ratusan bangunan lainnya sebagai bangunan yang perlu dilindung.

Perda No 06/1988 itu merupakan bentuk hegemoni Pemkot Medan. Mereka bisa kapan saja menghancurkan atau merobohkan bangunan-bangunan bersejarah yang tidak termasuk dalam perda tersebut.

Untuk itu, mereka terdorong membangun kontra hegemoni yang antara lain dalam bentuk peningkatan pengetahuan dan pemahaman warga atas nilai sejarah dan potensi wisata bangunan-bangunan bersejarah itu melalui wisata kota. (INK)

Budaya Lokal Perlu Dipromosikan

Balikpapan - Wakil Wali Kota (Wawali) HM Rizal Effendi SE berharap, setiap acara yang digelar diBalikpapan baik tingkat kota, nasional hingga internasional,. seharusnya ditampilkan atraksi seni buday lokal asli Kalimantan Timur. “Banyak budaya Kaltim, khususnya Balikpapan yang perlu ditampilkan dalam acara launching atau event resmi tingkat daerah hingga internasional.

Karena, warga Balikpapan merupakan masyarakat heterogen yang kaya dengan berbagai kebudayaan,” kata wawali saat membawakan sambutan dalam launching sistem online payment point (SOPP) milik PT Pos Indonesia kantor cabang Balikpapan Selasa (9/3) lalu.

Selain budaya seperti tarian-tarian asli Kaltim kata Rizal, mungkin perlu juga ditampilkan hasil-hasil karya anak-anak asli Balikpapan berupa lukisan atau hasil kerajinan lainya. “Dengan adanya lukisan-lukisan tentang Balikpapan maka secara tidak langsung telah mempromosikan kota Balikpapan kepada para pengunjung yang hadir dalam setiap acara,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, dalam setiap acara perlu disajikan kuliner yang dibuat pelaku UKM di Balikpapan. Seperti camilan, kripik, kue dan makanan asli masyarakat Kaltim yang telah dimodifikasi sehingga bisa membuat tertarik para pengunjung.

“Kedepan perlu dipikirkan tentang tarian-tarian budaya dan kuliner dari Balikpapan supaya pengunjung yang datang bukan hanya sekedar datang mengikuti acara tapi berkesan terhadap budaya yang ada di Balikpapan,”pungkasnya.(vie)

Belanda, Korsel dan Rusia Pasar Potensial Pariwisata Bali

Denpasar - Belanda, Korsel dan Rusia menjadi pasar potensial pariwisata Bali. Indikasinya, kunjungan wisatawan dari ketiga negara itu mengalami peningkatan signifikan.

"Pemerintah dan komponen pariwisata perlu lebih mengintensifkan promosi pariwisata ke negara itu, di samping negara-negara yang selama ini banyak memasok wisman ke Bali," kata Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Bali Ida Komang Wisnu di Denpasar, Rabu (9/3).

Negara yang dimaksud adalah negara Belanda, Korea Selatan dan Rusia. Masyarakat ketiga negara itu dalam beberapa tahun belakangan ini semakin banyak berlibur ke Bali, bahkan masuk 10 negara yang memasok wisman terbanyak ke Bali.

"Sebelumnya negara-negara itu tidak diperhitungkan untuk mendatangkan turis ke Bali," ujarnya.

Wisatawan Belanda yang berlibur ke Bali sebanyak 6.226 orang selama Januari 2010, meningkat 40,10% dibanding bulan yang sama pada 2009 yang hanya 4.444 orang. Sedangkan selama 2009 wisatawan Belanda ke Bali tercatat 77.526 orang, meningkat 22,14% dibanding tahun sebelumnya yang tercatat 63.471 orang.

Ida Komang Wisnu menjelaskan, bahwa Belanda yang menempati urutan ke delapan dari 10 negara terbanyak memasok wisman ke Bali mampu memberikan kontribusi 3,47% dari total wisman ke Bali sebanyak 179.273 orang selama Januari 2010. Kondisi itu mengalami peningkatan 2,71% dibanding Januari 2009 yang menerima kunjungan wisman hanya 174.541 orang. [*/aji]

Dukung Sail Banda 2010 Kapal Diubah Jadi Hotel Terapung

Kapal penumpang milik PT Pelni, KM Bukit Siguntang, akan didisain menjadi sebuah hotel terapung untuk menampung para peserta festival pelayaran internasional Sail Banda 2010 yang dijadwalkan berlangsung Juli-Agustus 2010.

"Kami mendukung sepenuhnya event Sail Banda 2010 dengan menjadikan KM Bukit Siguntang sebagai hotel terapung," kata Direktur Operasional PT Pelni Cabang Ambon Asep Suparman, Rabu (10/3).

Menurut Suparman, KM Bukit Siguntang dengan kapasitas 2.000 penumpang akan dijadikan hotel terapung guna mengantisipasi kapasitas pengunapan dan hotel-hotel yang ada di Ambon tidak mampu menampung ribuan peserta maupun masyarakat yang hadir untuk menyaksikan event tersebut.

Langkah ini dilakukan, menyusul hasil pertemuan antara Pemprov Maluku dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Direksi PT Pelni di Jakarta beberapa waktu lalu.

Bentuk dukungan lain dari BUMN itu, yakni mempertahankan frekuensi keberangkatan kapal-kapal Pelni dari Ambon menuju Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah yang dijadikan sebagai salah satu lokasi kegiatan pelayaran internasional itu baik sebelum maupun sesudah event Sail Banda 2010.

"Semua kapal Pelni yang melayari rute Ambon Banda maupun Maluku Tenggara Barat (MTB) dan Maluku Barat Daya (MBD) disiapkan untuk diberangkatkan saat pelaksanaan Sail Banda kendati cuacanya tidak bersahabat dengan ombak besar dan angin kencang," tandasnya.

Dia berharap dukungan yang diberikan ini pelaksanaan Sail Banda dapat berjalan lancar dan sukses agar mampu mendongkrak popularitas Maluku yang kaya potensi wisata bahari maupun sumber daya alam, sehingga terbuka peluang investasi di masa mendatang dan arus kunjungan wisatawan semakin meningkat.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Ambon Marthen Kailuhu secara terpisah mengaku, warga Kota Ambon kurang berminat mendaftarkan rumahnya dijadikan rumah sewa (home stay) untuk menampung peserta Sail Banda.

"Pemberitahuannya sudah disampaikan sebulan lalu, tetapi sampai saat ini baru 11 warga dari Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Pulau Ambon yang mendaftarkan rumahnya untuk diinventarisir panitia Sail Banda," katanya.

Dia mengaku pihaknya tidak menargetkan jumlah "home stay" yang disiapkan untuk menampung peserta Sail Banda, namun diharapkan partisipasi warga untuk menyukseskan event internasional ini mengingat hotel dan penginapan di Ambon saat ini hanya memiliki 1.600 kamar, sedangkan di Banda hanya 127 tempat tidur.

Dia berharap rumah warga yang didaftarkan untuk dijadikan home stay harus memiliki kamar tidur yang layak huni, minimal dua unit kamar mandi serta pemiliknya harus mampu berbahasa Inggris, serta mampu memberikan pelayanan terbaik bagi para peserta.

Kailuhu berharap Sail Banda akan menjadi motor penggerak pariwisata daerah ini dan memberikan kontribusi strategis bagi program pembangunan, pemerintahan dan pelayanan sosial di masa mendatang.

Pada acara tersebut, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan mencanangkan Maluku sebagai lumbung ikan nasional yang dijadwalkan akan dilakukan pada 3 Agustus 2010.

Data Dinas Perikanan setempat bahwa Laut Maluku memiliki potensi sumber daya ikan 1.640.160 ton per tahun, yang terdiri atas ikan pelagis (261.490 ton), pelagis kecil (980.100 ton), demersal (295.500 ton), ikan karang (47.700 ton) dan udang (44.000 ton).

Selain itu, lobster (800 ton) dan cumi-cumi (10.570 ton), di mana hingga 2005 sudah dimanfaatkan 484.747,8 ton atau 29,55 persen, yang merupakan hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan kapal motor, motor tempel dan perahu motor.(Ant/OL-5)

Desa Budaya Pampang Banyak Dikunjungi Kontingen

Samarinda - Desa budaya Pampang, "perkampungan suku Dayak" di Desa Pampang mulai ramai dikunjungi para anggota kontingen dari berbagai daerah yang mengikuti PON XVII di Kaltim 2008.

Mereka datang untuk melihat langsung kegiatan suku Dayak di desa budaya tersebut.

Untuk menuju ke lokasi Desa Pampang, ditempuh waktu sekitar satu jam dari Samarinda dengan menggunakan kendaraan roda empat.

Di desa Pampang itu, terdapat lokasi khusus yang memajang alat-alat tradisional khas dayak yang juga dijual pada masyarakat untuk oleh-oleh.

Menurut salah seorang penduduk Pampang, selain menyediakan berbagai macam kerajinan, desa itu juga biasanya menggelar pertunjukan budaya khas dayak.

Sementara itu salah seorang pengunjung mengatakan, desa Pampang ini kelihatan sama dengan perkampungan masyarakat biasa karena penduduknya telah membaur dengan warga sekitar.

"Bila ingin berfoto bersama dengan suku dayak, kita diminta uang alakadarnya sebagai tanda menjalin hubungan silaturahmi," katanya. antara/pur

Senin, 08 Maret 2010

Tempat Wisata di Balikpapan Masih Perlu Inovasi

Balikpapan - Ada pemandangan unik di pantai Manggar, Minggu (7/3). Di pantai berpasir putih ini terlihat sekelompok orang sedang mengembangkan parasut dan akhirnya ditarik oleh sebuah mobil. Parasut tersebut melayang ke udara dan yang menaikinya adalah seorang wanita, ini merupakan daya tarik Pantai Segara Sari Manggar, kemarin, warga yang berkunjung di pantai ini pun terhibur dengan pemandangan tersebut.

Bukan hanya orang lokal, dari luar negeri juga aberkunjung ke pantai tersebut dan mereka bersama-sama dengan masyarakt lokal berenang di pantai ini. Cuaca sore kemarin pun bersahabat, namun sayang ombak di pantai Segara Sari Manggar mulai membesar sehingga masyarakat yang tadinya akan berenang mengurungkan niatnya untuk berenang di pantai tersebut.

“Saya setiap akhir pekan selalu berkunjung ke tempat wisata yang ada di Balikpapan, namun sayang ya, Balikpapan kotanya bagus, tetapi tempat wisatanya masih kurang,” terang salahsatu pengunjung Ida kepada Post Metro, kemarin.

Dirinya berharap agar tempat wisata yang ada di Balikpapan diperbanyak lagi terutama tempat wisata yang ada di tengah kota, seperti pantai monumen perjuangan dan pantai belakang Banua Patra agar ada pengelolaan yang baik untuk tempat wisata di pantai ini. “Ada satu pantai yang bagus, yang ada di Hotel Dusit In tapi pantainya jarang dikunjungi masyarakat Balikpapan, di situ pantainya indah,” ucapnya.

Balikpapan merupakan kota jasa, perdagangan dan pariwisata untuk itu banyak hotel yang ada di kota ini bermunculan, namun yang masih kurang adalah tempat wisata yang ada di kota ini.

Banyak potensi yang ada di Kota Balikpapan yang bisa dijadikan tempat wisata, untuk itu masyarakat berharap ada inovasi dari pemerintah untuk menyediakan tempat wisata yang bisa menjadikan daya tarik wisatawan berkunjung ke Kota Balikpapan.(mm-2)

Sumber: http://www.metrobalikpapan.co.id

Peninggalan Sejarah Harus Dilestarikan

Banda Aceh - Peninggalan benda sejarah di seluruh Indonesia merupakan salah satu identitas bangsa yang perlu dilestarikan dan diselamatkan di masa mendatang, kata anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Dr Meutia Hatta.

"Benda-benda bersejarah merupakan identitas bangsa yang perlu dilestarikan dan diselamatkan sehingga generasi penerus bangsa dapat mengenal sejarah bangsanya," katanya, saat berkunjung ke museum mini benda bersejarah Aceh milik H Harun Keuchik Leumik, di kawasan Simpang Surabaya, Banda Aceh, Jumat (5/3/2010).

Menurut dia, semua pihak harus andil dalam menjaga dan merawat peninggalan sejarah sehingga peninggalan tersebut terus terjaga.

"Pelestarian itu bukan hanya dilakukan oleh pemerintah, melainkan juga oleh seluruh komponen masyarakat yang peduli akan benda bersejarah," katanya.

Hal itu juga tidak terlepas karena masih adanya benda bersejarah yang tidak tertampung di museum sehingga diperlukan perhatian semua pihak, katanya.

Menurut dia, peran individu dalam pelestarian dan menyimpan benda bersejarah tersebut harus mendapat apresiasi dari pemerintah.

"Kita bangga dan patut memberikan apresiasi terhadap para kolektor seperti Harun Keuchik Leumik yang menyimpan benda-benda bersejarah milik kerajaan Aceh tempo dulu," jelasnya.

Ia menambahkan, sebagian koleksi Harun Keuchik Leumik merupakan aset bangsa dan menjadi kebanggaan nasional yang harus terus diberikan perhatian dalam memberikan pengetahuan sejarah bagi generasi mendatang.

Sementara itu, Harun Keuchik Leumik sebagai kolektor dan penyelamat benda bersejarah Aceh mengungkapkan, awalnya pengumpulan dan penyimpanan benda-benda bersejarah ini hanya kesenangan belaka karena ingin menyimpan warisan leluhur Aceh.

Museum mini milik Harun Keuchik Leumik menyimpan ratusan benda bersejarah, yakni 300-an koleksi perhiasan emas Aceh, 30 kain sutra Aceh, 13 stempel kerajaan Aceh, dan lima Al Quran tulisan tangan dari abad ke-13.

Ia mengatakan, koleksi benda sejarah yang berada di museum mininya tersebut merupakan hasil yang dikumpulkan selama kurun waktu 30 tahun.

Menurut Harun, secara umum benda tempo dulu tersebut mempunyai motif yang beragam, rinci, halus pembuatannya, serta sarat dengan makna-makna simbolik dan spiritual.

Ia mengatakan, dari peninggalan sejarah itu menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sejak lama sudah dikenal sebagai masyarakat yang berperadaban tinggi.

"Saya berharap kaum muda Aceh dapat belajar dan menghargai seni dan budaya Aceh melalui benda bersejarah tempo dulu," demikian Harun Keuchik Leumik. (JY)

Sumber: http://oase.kompas.com

Ratusan Siswa Luar Kota Kunjungi Pustaka Soeman HS

Pekanbaru - Perpustakaan daerah Riau Soeman HS menjadi objek wisata edukasi dari berbagai sekolah daerah Riau. Pengunjung yang berasal dari luar kota tersebut umumnya datang berombongan dalam tema study tour. Pada Minggu (7/03/10) ini, ratusan siswa dari daerah mengunjungi perpustakaan enam lantai tersebut.

Ratusan siswa dari Pasir Penyu, Lirik Kecamatan Sungai Lala itu datang dengan 5 bis kota yang berkapasitas seratus orang lebih setiap bis.

Mereka bersama guru pembinanya sengaja memilih pustaka daerah Riau sebagai salah satu tema study tour mereka. Rausan siwa itu terdiri dari beberapa sekolah Taman Kanak-Kanak dan beberapa Sekolah Dasar dan Sekolah Tingkat Menenghah (SMP) daerahnya.

Meski tidak menyebut jumlahnya secara rinci, petugas perpustakaan yang biasa menerima dan mengurus keanggotaan pustaka mengakui pengunjung meningkat jumlahnya pada hari Sabtu dan Minggu ke gedung tersebut.

"Kebanyakan anak kuliah, siswa dan keluarga yang sengaja membawa anak-anak mereka di lantai dasar khusus untuk perpustakaan anak. Selain itu, sejumlah studi tour dari berbagai daerah juga meramaikan pengunjung pustaka pada hari libur,"ungkap petugas kepada RiauInfo.(Surya)

Sumber: http://www.riauinfo.com

Wisatawan Jepang ke Bali Anjlok 23,86%

Denpasar - Wisatawan Jepang yang berlibur ke Bali anjlok 23,86% dari 25.357 orang selama Januari 2009 menjadi hanya 19.308 orang pada Januari 2010.

"Penurunan itu lebih drastis dibanding Desember 2009 yang tercatat 28.048 orang atau turun 31,16%," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali Ida Komang wisnu di Denpasar, Sabtu (6/3).

Ia mengatakan, masyarakat Jepang yang berlibur ke Bali dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan, sehingga hal itu perlu diantisipasi, dengan harapan masyarakat Negeri Sakura itu tetap menghabiskan liburannya di Pulau Dewata.

Jepang memberikan kontribusi sebesar 10,77% dari total wisman ke Bali sebanyak 179.273 orang selama Januari 2010.

Empat negara yang mengalami peningkatan meliputi Australia hampir 60% dari 27.966 orang pada Januari 2009 menjadi 44.412 orang pada Januari 2010, Korea Selatan 26,49% dari 8.105 orang menjadi 10.252 orang, Belanda 40,10% dari 4.444 orang menjadi 6.226 orang dan Rusia meningkat 2,51% dari 8.901 orang menjadi 9.124 orang.

Enam negara yang masyarakatnya berkurang ke Bali selain Jepang, juga China 31,44%, Taiwan 8,55%, Malaysia 28%, Prancis 6,17%, dan AS 8,36%. [mor]

Sumber: http://www.inilah.com

Di Palembang Akan Ada Wisata Air Terbesar

Palembang - Kota Palembang, Sumatera Selatan segera memiliki arena wisata air terbesar di luar Pulau Jawa, "The Amazon Waterpark". Lokasinya di Kecamatan Alang Alang Lebar.

Wali Kota Palembang, Eddy Santana Putra, ketika melakukan peresmian pembangunan "The Amazon Waterpark" itu, di Palembang, Minggu (7/3/2010), mengatakan, pembangunan arena wisata air ini merupakan satu bukti investasi di Palembang terus berkembang maju. "Palembang sangat potensial untuk menjadi lokasi berinvestasi dan kini semakin banyak investor yang menanamkan modal di daerah ini, termasuk perusahaan milik pengusaha properti Ciputra ini," kata dia lagi.

Menurut Eddy, pihaknya berharap pembangunan arena permainan yang berada di kawasan terpadu Citra Grand City dapat diselesaikan sebelum pelaksanaan SEA Games ke-26 tahun 2011 dengan Palembang menjadi salah satu kota penyelenggaranya, sehingga dapat menjadi wisata andalan di daerah ini.

Pembangunan berbagai fasilitas wisata di Palembang diyakini mampu
meningkatkan kunjungan wisatawan ke daerah tersebut, terutama dari
kabupaten/kota di Sumatera Selatan dan provinsi tetangga, seperti Jambi dan Bengkulu, ujar Eddy.

Pihaknya optimistis Kota Palembang akan terus berkembang dan segera dilengkapi berbagai fasilitas wisata dan belanja serta hiburan agar mendorong kunjungan wisatawan ke daerah itu meningkat setiap akhir pekan.

Direktur Utama Citra Grand City, Budi Sastra Winata, mengatakan pembangunan "The Amazon Waterpark" ini merupakan salah satu bentuk kepedulian perusahaan pengembang di bawah bendera Ciputra tersebut terhadap keberadaan sarana hiburan dan wisata masyarakat.

Arena permainan ini tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga memiliki nilai-nilai edukasi dengan latar belakang kehidupan hutan Amazon di daratan Brazil, ujar dia.

Budi menjelaskan, "The Amazon Waterpark" dibangun di atas lahan seluas 3,5 hektare dari sekitar 200 hektare lahan yang kini dikembangkan untuk permukiman terpadu, dengan total investasi mencapai Rp 60 miliar. (XVD)

Sumber: http://regional.kompas.com

Obama Batal ke Yogya dan Jateng, Dunia Pariwisata Terpukul

Yogyakarta - Pembatalan rencana kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah menjadi pukulan berat bagi pariwisata di wilayah itu, kata Ketua Keluarga Public Relation (Kapurel) Yogyakarta Dedy Pranowo Eryanto. “Jadi, sangat disayangkan pembatalan rencana kunjungan Obama ke Yogyakarta karena pariwisata di DIY-Jawa Tengah masih dianggap belum aman untuk dikunjungi wisatawan,” kata Dedy Pranowo di Yogyakarta, Sabtu.

Menurut dia, pembatalan rencana kunjungan Obama tersebut juga mempengaruhi citra pariwisata Yogyakarta dan Jawa Tengah karena di mata internasional kedua wilayah itu dinilai belum memberikan rasa aman bagi wisatawan mancanegara (wisman). “Pembatalan kunjungan Obama ke DIY dan Jateng diduga kuat berkaitan dengan faktor keamanan. Ini harus menjadi renungan kita bersama, bukan saja pelaku dunia pariwisata saja,” katanya.

Ia mengatakan, masyarakat DIY dan Jawa Tengah dan seluruh pemangku kebijakan yang terlibat dalam dunia pariwisata harus belajar banyak dari masyarakat Bali tentang perilaku, sikap dan keterbukaan serta kearifan lokal masyarakat bagi para wisman termasuk memberikan penghormatan kepada kepala negara ketika mereka berkunjung ke daerahnya.

“Wisatawan dapat merasakan aman, nyaman dan bahagia. Di Bali pernah terjadi teror bom dengan korban ratusan nyawa wisatawan namun mereka dapat bangkit dan menyakinkan dunia bahwa tempat mereka aman untuk dikunjungi,” katanya. Dedy mengatakan, pariwisata DIY-Jateng sendiri dengan pembatalan kunjungan Obama tidak bisa berbuat banyak dan tidak bisa berbicara karena faktanya Bali yang menjadi tujuan Obama dalam rangkaian kunjungannya ke Indonesia. “Kami tidak bisa berbuat banyak, namun yang jelas masyarakat DIY-Jawa Tengah harus belajar banyak dari masyarakat Bali,” katanya.(ant)

Sumber: http://www.serambinews.com

Bertemu Napoleon di Bawah Laut Ambon

Oleh A Ponco Anggoro

”Ambon Manise”. Ungkapan itu tidak hanya mencerminkan keindahan Maluku di daratan, tetapi juga di lautan. Keindahan, keragaman, dan kesuburan biota lautnya sungguh menakjubkan.

Bukan sesuatu yang mengherankan jika semakin banyak orang yang hobi menyelam di Ambon.

Ini merupakan kali kedua Nahoya Mitsui, ekspatriat di Jakarta asal Jepang, datang ke Ambon. Kenangan indah akan kunjungannya yang pertama, November 2009, mendorong dia datang kembali ke Ambon akhir Februari lalu.

Kenangan indah itu sama sekali bukan terkait fasilitas hotel berbintang yang serba wah, melainkan lebih karena biota laut di bawah permukaan laut di perairan sekitar Ambon.

”Saya pernah menyelam di Bali, Kepulauan Seribu (Jakarta), dan Manado (Sulawesi Utara), tetapi flora dan fauna bawah laut di Ambon jauh lebih indah. Hal itu sulit diungkapkan dengan kata-kata,” papar Mitsui.

Ia bersama 13 penyelam lain dari Singapura dan Jakarta mengarungi perairan Ambon dengan menyewa jasa operator selam Blue Rose Divers. Operator selam ini bermarkas di Pantai Santai, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, Maluku, sekitar 1,5 jam perjalanan darat dari Bandar Udara Pattimura, Ambon.

Blue Rose Divers merupakan satu dari dua operator selam di Ambon. Satu lagi, Maluku Divers, yang bermarkas di Latuhalat, Ambon, tidak jauh dari Bandara Pattimura. Para penyelam biasanya menginap di salah satu penginapan yang berada di kedua tempat tersebut.

Beragam

Ahli lingkungan dan oseanografi dari Universitas Pattimura, Ambon, Abraham Samuel Khouw, menceritakan, selain terumbu karang yang masih lestari dan topografi datar dari perairan bawah laut di sekitar Ambon, hewan laut yang dapat ditemui di sana sangat beragam dan unik.

Nudibranchia, misalnya. Hewan berwarna pelangi ini bentuknya seperti siput, tetapi tidak ada cangkangnya.

Selain itu, ada ikan mandarin (Synchiropus splendidus) yang berwarna-warni dan hanya keluar dari terumbu karang saat senja hari. Ikan mandarin ini dijadikan ikon wisata bahari Maluku.

”Ada juga ikan napoleon wrasse (Cheilunus undulatus), salah satu hewan langka dan dilindungi di dunia,” ujar pemilik Blue Rose Divers, Agustinus.

Ikan napoleon adalah ikan karang besar yang panjangnya bisa mencapai 1,5 meter dan beratnya 180 kilogram. Keunikan lain dari napoleon adalah lingkar bola matanya yang dapat melihat arah sudut pandang sampai 180 derajat.

Abraham menambahkan, keragaman dan kesuburan biota laut di Ambon, antara lain, karena terumbu karang sebagai tempat ikan-ikan bersarang terjaga dengan baik. Di samping itu, proses pertukaran mata air juga lancar dari Samudra Pasifik. Air itu juga mengandung zat-zat hara yang dibutuhkan biota laut.

Menurut Agustinus, untuk melihat keindahan biota laut tidak sulit. ”Bisa dijumpai tidak jauh dari pesisir pantai Ambon,” katanya.

Dengan menggunakan kapal cepat milik dua operator selam di Ambon itu, lokasi penyelaman bisa dijangkau hanya dalam waktu 5-15 menit.

Keindahan itu dapat dilihat lebih sempurna jika masuk ke kedalaman 30 meter. ”Karena tidak terlalu dalam, kami menyebutnya fun dive. Namun, tetap saja mereka yang menyelam harus memiliki lisensi menyelam dan surat pertanggungjawaban diri jika terjadi apa-apa saat menyelam. Tanpa itu, kami tidak perbolehkan menyelam,” ujar Agustinus.

Dari begitu banyak titik penyelaman, lokasi terfavorit di antaranya adalah Pintu Kota. Di sana ada goa alami di bawah laut dengan lebar sekitar 100 meter dan panjang 300 meter.

Tahun 2005

Menyelam di perairan sekitar Ambon mulai marak sekitar 2005. ”Sejak tahun lalu, peminatnya terus meningkat. Jika sebelumnya wisatawan yang datang tidak sampai 10 orang setiap bulan, sekarang sudah sekitar 30 orang. Promosi melalui website dan dari mulut ke mulut mampu meningkatkan jumlah kunjungan,” kata Agustinus menambahkan.

Bagaimana jika tak memiliki lisensi menyelam? Jangan gusar! Keindahan biota laut masih bisa dinikmati dengan cara snorkeling. Hal ini bisa dilakukan di sekitar Pantai Namalatu dan Pantai Santai di Kecamatan Nusaniwe. Atau sekadar melihatnya dari pantai karena jernihnya air laut memungkinkan kita melihat terumbu karang atau ikan di laut dari permukaan.

”Lestarinya biota laut ini tidak terlepas dari peran serta warga pinggir pantai. Mereka sadar akan pentingnya kelestarian ekosistem laut sehingga tidak ada lagi eksploitasi,” ujar Abraham.

Jika ada yang ketahuan mengeksploitasi, lanjutnya, warga pinggir pantai tak segan-segan melaporkannya kepada aparat penegak hukum.

Sumber: http://travel.kompas.com