Sabtu, 04 September 2010

Presiden Mendapat Gelar Adat Kesultanan Ternate

Ternate: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendapat gelar adat Kesultanan Ternate. Ia mendapat gelar Makokuta atau pemimpin yang bersih, bijaksana dan memiliki kekuatan untuk mengendalikan bumi yang diberikan langsung oleh Sultan Ternate Mudhafar Syah.

Upacara penobatan di Ballrom Halmahera, Hotel Amara, sempat diwarnai kepanikan akibat gempa, Selasa (3/8). Sejumlah undangan berlarian keluar ruangan akibat kuatnya gempa yang berkekuatan 6,4 skala Richter menguncang Kota Ternate pada sekitar pukul 22.26 WIT atau 19.26 WIB.

Sebelum diberikan gelar adat, Presiden bersama Ibu Ani Yudhoyono mengikuti prosesi adat Ternate, yaitu Joko Kaha atau injak tanah. Prosesi adat ini digelar bagi orang yang baru pertama kali mengjinjak kakinya di Bumi Moloku Kieraha atau wilayah Maluku Utara. Presiden dan Ibu Ani diminta menginjakan tanah yang ditempatkan di bejana kecil. Kaki kemudian dicuci oleh dua remaja putri dengan air yang sudah disediakan dalam bejana yang lain.

Usai mengikuti upacara Joko Kaha, Sultan Mudhafar Syah memberikan jubah kebesaran Kesultanan Ternate dan menyematkan penutup kepala atau Takoa kepada SBY. Acara ini sekaligus menobatkan SBY dengan gelar Alam Makokuta.(Burhanuddin Arsyad/BEY)

Sumber : http://www.metrotvnews.com

Syair Lampung Karam, Dokumen Langka

JAKARTA, - Kenangan manusia terhadap letusan Krakatau tahun 1883, telah diabadikan orang dalam berbagai macam bentuk karya ilmiah, sastra dan seni, melebihi reaksi dan kenangan terhadap banyak bencana alam lainnya yang pernah terjadi sepanjang sejarah Indonesia dan dunia.

Sekarang di Indonesia kenangan itu ditransformasikan dalam bentuk paket budaya dan turisme seperti Festival Krakatau, yang rutin digelar tiap tahun. Dan yang menjadi kejutan, ditemukan salah satu laporan pandangan mata tentang letusan Krakatau tahun 1883, yang ditulis penduduk pribumi, bernama Muhammad Saleh.

Ia selain saksi mata, juga seorang korban letusan Gunung Krakatau. Demikian dikatakan peneliti dan dosen dari Universiteit Leiden, Suryadi, Kamis (29/7) di Jakarta, menjelang peluncuran buku Syair Lampung Karam, Sebuah Dokumen Pribumi tentang Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883 (penerbit Komunitas Penggiat Sastra Padang, 2010), di Newseum Indonesia, Jalan Veteran 1 No 31, Jakarta Pusat.

"Walau sudah banyak kajian mengenai Gunung Krakatau, tapi tampaknya laporan yang ditulis Muhammad Saleh dalam genre syair Melayu itu lama terabaikan dan luput dari pandangan para peneliti," ujar Suryadi.

Syair Lampung Karam ditemukan dukumennya pada enam negara, dan karena menggunakan aksara Arab-Melayu (Jawi), tentu hanya dikenal amat terbatas dalam lingkungan peneliti dan peminat sastra Melayu klasik. Agaknya dapat dipahami, dalam banyak kajian sejarah dan teks ini tidak pernah dijadikan rujukan. Banyak sejarawan buta aksara Jawi dan lebih cenderung merujuk kepada sumber-sumber Eropa.

Dalam buku yang akan diluncurkan nanti malam, Suryadi menyajikan alik aksara (transliterasi) Syair Lampung Karam yang didasarkan atas satu edisi cetak batu (lithography) teks itu yang diterbitkan di Singapura pada seperempat terakhir abad ke-19.

"Dalam buku juga diberikan uraian singkat tentang berbagai aspek yang terkait tentang berbagai aspek yang terkait dengan kepengarangan Syair Lampung Karam," jelas Suryadi. Menurut dia, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Syair Lampung Karam adalah sebuah dokumen historis yang langka, yang di dalamnya dapat dikesan persepsi orang pribumi sendiri mengenai letusan Gunung Krakatau 1883, yang tentu saja dapat diperkirakan sangat berbeda dengan kesan-kesan yang sudah begitu banyak diungkapkan dalam laporan-laporan orang Barat.

"Alih aksara Syair Lampung Karam ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan kita tentang sejarah negeri kita, Indonesia, yang tak henti-hentinya diguncang gempa (kuat dan lemah), seperti letusan Gunung Krakatau yang tercatat sebagai salah satu bencana terhebat dalam sejarah dunia," papar Suryadi.

Sejarah letusan Gunung Krakatau memberikan pelajaran kepada kita ahat yang tinggal di Indonesia selalu waspada terhadap bencana alam yang memang menjadi langganan negeri-negeri yang berada dalam lingkaran cincin api Pasifik seperti Indonesia.

Sumber : http://oase.kompas.com

Kapal Convergence Juara Sail Banda

AMBON- Kapal Layar Convergence dari Amerika Serikat menjuarai kegiatan pelayaran internasional Sail Banda 2010, dan berhak atas trofi dari Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad.

Trofi itu diserahkan oleh Wakil Gubernur Maluku Said Asagaff kepada pemenang pada upacara penyambutan peserta di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Tantui, Kota Ambon, Selasa (3/8) malam.

Kapal Convergence bertipe multiholl yang dinakhodai Randolph Kent Repass itu merupakan satu-satunya kapal yang tiba di Pulau Banda, Kabupaten Maluku Tengah, pada Senin (26/7) pukul 16.45 WIT setelah flag off dari Dermaga Cullen Bay Darwin, Australia Utara, 24 Juli lalu.

Juara kedua pada even internasional itu yakni Kapal Layar Pegasus (Inggris) dengan kapten Jason Charles Lawrence yang berada di posisi kedua dan berhak atas Piala Gubernur Maluku.

Kapal Firts Light III (Australia) yang dinakhodai Bernard John McGoldrick yang tiba pada Selasa (27/7) sekitar pukul 08.00 WIT ditetapkan sebagai juara III dan mendapatkan piala panitia Sail Banda.

Selain ketiga kapal itu, lima kapal layar lainnya, yakni Catspaw (Inggris) dengan kapten Peter Richard Whitby, Kapal Magnetic (Selandia Baru/Trevor Clifford Clark), dan Kapal Erica (Selandia Baru/Erick Frederik Gray).

Berikutnya, Kapal Umbra Luna (Australia/Dale Lynn Clemons) serta Kapal Layar Miranda I (Australia) dengan kapten Goyffrey Philip Rawlins Birch menerima plakat sebagai partisipan yang finish paling cepat.

Said Assagaff, Ketua Panitia Lokal Sail Banda, mengatakan, hingga Selasa malam tercatat baru 24 kapal layar yang tiba di
PPN Tantui. Mereka lantas mengikuti upacara penyambutan dan penyerahan hadiah kepada delapan kapal layar yang menjadi juara.

"Mungkin karena cuaca yang tidak mendukung sehingga peserta lainnya terlambat tiba di Ambon," katanya.

Dia berharap para peserta lainnya akan tiba di teluk Ambon hingga 7 Agustus mendatang.

LOmba layar dalam rangkaian kegiatan Sail Banda 2010 yang diikuti 49 kapal layar dari lima negara itu bertujuan mengembalikan kepercayaan dunia internasional terhadap kondisi keamanan di Maluku.

Peserta dilepas oleh Menko Kesra, Agung Laksono dan Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad dari Dermaga Cullen Bay Darwin, Australia Utara, 24 Juli.

Kemudian, mereka tiba di Banda untuk menikmati keindahan pariwisata di kepulauan penghasil pala itu. Selanjutnya, mereka berangkat dari Banda menuju Ambon pada 30 Juli 2010 sekitar pukul 15.00 WIT.

Assagaf mengatakan peserta Sail Banda yang telah tiba lebih awal akan mengikuti kegiatan darmawisata ke berbagai objek wisata di Kota dan Pulau Ambon. (Ant/OL-3)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

Keajaiban Dunia Ayo Pilih Komodo!

JAKARTA, — Pulau Komodo adalah pulau yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur atau NTT. Pulau tersebut menjadi habitat asli hewan komodo. Oleh karena itu, pulau ini merupakan kawasan Taman Nasional Komodo dan dikelola Pemerintah Indonesia. Unesco mengakui kawasan itu sebagai Situs Warisan Dunia pada tahun 1986. Pada 2009, Taman Nasional Komodo menjadi salah satu dari 28 finalis New Seven Wonders of Nature atau 7 Keajaiban Alam Dunia sebagai satu-satunya wakil Indonesia.

Untuk itu, Mal Ciputra Jakarta menyediakan sarana bagi para pengunjung dan masyarakat Indonesia untuk menggunakan hak pilihnya secara online dalam mendukung Pulau Komodo menjadi bagian dari New Seven Wonders of Nature dan menunjukkan keajaiban pulau milik Indonesia itu ke seluruh dunia. Kegiatan Mal Ciputra itu diadakan dalam rangka menyambut hari ulang tahun ke-65 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut pun didukung oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI.

Kegiatan berlangsung dalam acara One Man One Note for Komodo National Park, Kamis (4/8/2010) di Area Center Court, Mal Ciputra, Jalan Arteri S Parman, Grogol, Jakarta Barat. Menurut Rublic Relations Mal Ciputra, Rida Kusrida, acara dimeriahkan dengan Flores Dance, Bandanaira Band, serta bintang tamu kakak beradik Marcella dan Olivia Zalianty.

Sumber : http://travel.kompas.com

Bali Tetap Eksis Hadapi Gempuran Pengaruh Global

Denpasar - Bali sebagai daerah tujuan wisata yang setiap tahunnya menerima kunjungan lebih dari lima juta wisatawan dalam dan luar negeri, diharapkan tetap eksis dalam menghadapi gempuran pengaruh global, akibat dari perkembangan pariwisata yang pesat itu.

"Pembangunan Jangka Menengah Daerah (PJMD) Bali 2008-2013 menuntut perhatian lebih, tidak hanya menghadapi permasalahan yang belum terselesaikan, namun juga mengantisipasi perubahan di masa yang akan datang sebagai dampak dari perkembangan pariwisata," kata Kabag Publikasi dan Dokumentasi pada biro Humas dan Protokol Pemprov Bali I ketut Teneng di Denpasar Rabu.

Ia mengatakan, hal itu dilakukan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) sesuai tugas dan tanggung jawab yang diemban masing-masing.

Bali menghadapi sejumlah permasalahan, tantangan, ancaman yang sangat kompleks dengan berbagai ragam persoalan dan tantangan. Permasalahan tersebut mulai dari bidang pendidikan, kesehatan, kemiskinan dan pengangguran.

Selain itu juga menyangkut sarana, prasarana insfrastruktur, pemerataan hasil-hasil pembangunan, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, kualitas lingkungan hidup, ketentraman dan ketertiban serta pergeseran nilai-nilai budaya.

Ketut Teneng menambahkan, memperhatikan potensi, tantangan dan peluang serta dengan mempertimbangkan kearifan lokal yang hidup dan berkembang dalam kehidupan masyarakat Pulau Dewata diharapkan permasalahan itu dapat diatasi dengan baik.

"Visi yang hendak dicapai dalam PJMD Bali 2008-2013 di bawah kendali Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Wagub AAN Puspayoga diharapkan mampu mewujudkan Bali yang maju, aman, damai dan sejahtera (Bali Mandara," ujar Ketut Teneng.

Visi tersebut dijabarkan Bali Maju adalah Bali yang dinamis, Bali yang terus bergerak menurut dinamika pergerakan dan perkembangan dunia.

Bali senantiasa bergerak dan maju dengan tetap menjunjung kesucian dan keiklasan demi tegaknya kebaikan (Dharma). "Bali yang Maju adalah Bali yang harus tetap `Metaksu` yang senantiasa meningkatkan diri sebagai daerah tujuan wisata yang handal, berkharisma dan religius," ujar Ketut Teneng.

Demikian pula Bali yang modern menurut ukuran dan tuntutan nilai-nilai universal yang tidak menyimpang atau bertentangan dengan nilai-nilai Agama Hindu serta adat istiadat Bali.

Kemodernan itu sangat penting dalam meningkatkan kualitas hidup dan peradaban sebagai masyarakat yang berada di "perkampungan" dunia yang terbuka, tutur Ketut Teneng. (ANT/K004)

Sumber : http://www.antaranews.com

Dari Lakse hingga Lemang Mulai Semarakkan Batam

Oleh : Rumbadi Dalle

Batam - Menjelang Ramadan, dagangan beragam kue dan makanan dijajakan di pinggir jalan. Di JalanTeuku Umar, Nagoya, Batam, tepatnya berhadapan dengan BII Batam ditutup selama bulan puasa.

Bagi warga Batam yang tidak mau repot, cukup menghampiri pedagang kue dan makanan di situ. Sebab bisa ditemukan baik makanan khas, maupun makanan sehari-hari.

Makanan khas Batam yang disebut makanan khas Melayu adalah Lakse. Makanan khas ini sulit ditemukan di hari biasa. Kebanyakan yang dijual adalah Lakse jenis lain yang namanya pun berubah menjadi Laksa.

Laksa jenis ini dicampur dengan mie kuning dan mie putih, ada pula irisan tahu dan telur ayam. Sedangan Lakse tidak ada mie kuning dan mie putih, dan bentuknya tidak memanjang, tapi melingkar.

Lakse yang konon makanan Raja Melayu tempo doeloe, terbuat dari sagu. Bentuknya menyerupai kerupuk yang belum kering. Kuahnya agak kemerah-merahan, dan lucunya sambal Lakse ini adalah teri halus. Jadi waktu dimakan terasa asam, meski pedas.

Lakse asli bisa ditemukan di Tanjungpinang dan Tarempa Kabupaten Anambas serta Lingga. Ada pula makanan yang disebut "pohon buruk". Warnanya kuning menyerupai kuning telur, dilipat bulat menyerupai pohon. Di dalamnya ada daging dan bumbu lainnya.

Lemang pun menjadi makanan khas di bulan puasa. Penjaja makanan ini kebanyakan orang Minang. Lemang terbuat dari ketan yang ditanak dalam bambu. Airnya adalah air santan kelapa. Ketika makan lemang terasa santan dan sedikit asin.

Hampir di semua penjuru Batam ada pasar dadakan khusus menjual makanan dan beragam kue di bulan puasa. Di Batu Aji, Batam Center, Sekupang, Tembesi, dan Bengkong digelar dagangan musiman ini.Tak ketinggalan air tebu.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com

Malut Kaya Wisata Budaya dan Bahari

TERNATE, - Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudbar) Maluku Utara (Malut) memprogramkan pelaksanaan kegiatan wisata bertaraf internasional sebagai salah satu upaya lebih memperkenalkan potensi wisata daerah ini kepada wisatawan mancanegara.

"Kami memprogramkan paling lambat dua tahun ke depan sudah ada kegiatan wisata bertaraf internasional yang digelar di Malut," kata Kepala Disbudbar Malut, Nurlaela Armaiyn di Ternate, Selasa (3/8/2010).

Disbudbar Malut ingin mencontoh penyelengaraan Sail Bunaken di Sulawesi Utara dan Sail Banda di Maluku. Kegiatan wisata bertaraf internasional di ke dua daerah itu sangat efektif dalam memperkenalkan potensi wisata daerah setempat.

Nurlaela mengatakan, Malut memiliki banyak potensi objek wisata menarik, terutama objek wisata budaya dan peninggalan sejarah, objek wisata bahari serta objek wisata ilmiah, khususnya yang terkait dengan keanekaragaman flora dan fauna.

Objek wisata budaya dan peniggalan sejarah yang menarik di Malut di antaranya Kesultanan Ternate, benteng peninggalan kolonial di Ternate, Tidore dan Bacan serta bekas pangkalan Sekutu pada Perang Dunia II di Kabupaten Pulau Morotai.

Sedangkan objek wisata bahari yang menarik di Malut, menurut Nurlaela, di antaranya panorama bawah laut dan keindahan pantai pasir putih. Khusus panorama bawah laut di antaranya di objek wisata Guraici, Teluk Jailolo dan Kepulauan Widi.

Sedangkan objek wisata ilmiah, di antaranya beranekaragam burung di sejumlah kawasan hutan di Ternate dan pulau Halmahera. Burung tersebut ada yang endemik Halmahera yakni burung bidadari atau biasa juga disebut cendrawasih Halmahera.

"Objek wisata tersebut selama ini belum banyak di kenal, terutama luar negeri, oleh karena itu melalui penyelenggaraan kegiatan wisata bertaraf internasional nanti diharapkan potensi objek wisata lebih dikenal di luar negeri," katanya.

Disbudbar Malut selama ini sebenarnya telah berupaya mempromosikan potensi objek wisata tersebut baik melalui jasa internet maupun melalui pameran wisata di berbagai daerah di Indonesia, tapi karena keterbatasan dana sehingga hasilnya belum maksimal.

Nurlaela menambahkan, Disbudbar Malut pada 30-31 Juli 2010 menggelar Festival Guraici di Kabupaten Halmahera Selatan. Kegiatan itu juga merupakan salah satu upaya untuk mempromosikan potensi objek wisata daerah ini.

Sumber : http://travel.kompas.com

Karawang Bangun Miniatur Budaya 300 Kerajaan Nusantara

Oleh : Nanang Sutisna

Karawang - Pemerintah Kabupaten Karawang, Jawa Barat, merilis rencana pembangunan miniatur budaya 300 kerajaan se-nusantara di daerahnya.

“Para raja di 300 kerajaan yang ada di Indonesia kini sedang melakukan rapat-rapat intensif untuk segera mewujudkannya,” kata Dadang S Muchtar, Bupati Kabupaten Karawang, saat dihubungi Tempo, Rabu (4/8).

Jika rencana rinci pembangunan miniatur budaya 300 kerajaan tersebut dinilai sudah selesai pengkajiannya, lanjut Dadang, para raja akan segera menghadap Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono untuk merestuinya.

Tapi, Dadang masih belum bisa memastikan kapan waktu pembangunan miniatur budaya tersebut akan direalisasikan.

Menurut Dadang, pembangunan miniatur budaya 300 kerajaan tersebut akan menjadi suguhan karya monumental era kepemimpinan Presiden SBY.

“Jika pada zaman Pak Sokearno di bangun Monas, zaman Pak Harto dibangun Taman Miniatur Indonesia Indah, maka pada zaman Pak SBY dibangun monumen budaya 300 kerajaan itu,” papar Dadang.

Rencana pembangunan miniatur budaya 300 kerajaan di wilayah Karawang tersebut, ujar Dadang, akan memerlukan areal lahan sedikitnya seluas 300 hektare.

Lokasinya berada di lingkungan sabuk kawasan industry dan bisnis Karawang, di areal lahan tadah hujan dan sebagian lahan milik Perhutani. “Kami, kini sedang mengajukan permohonan tukar guling lahan ke pihak Perhutani,” kata Dadang.

Keberadaan lokasi mniatur budaya 300 kerajaan se-Nusantara tersebut, jika terealisasi nantinya akan berada satu kawasan dengan komplek pemakaman modern Sandiago Hills.

Akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas termasuk pusat perbelanjaan modern yang kini berkembang dengan pesat.

Sumber : http://www.tempointeraktif.com

Festival Keraton Nusantara Digelar November

Palembang, Zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin memastikan festival keraton nusantara akan berlangsung pada 27-29 November di kota tersebut. "Kami sepakat dengan raja-raja yang akan menjadi peserta pelaksanaan Festival Keraton Nusantara (FKN) akhir November," katanya, di Palembang, Jumat.

Menurut dia, FKN tersebut mundur dibandingkan dengan rencana semula pada September 2010. Namun, pengunduran waktu tersebut telah disepakati bersama-sama dalam pertemuan raja-raja nusantara di Jakarta, pada 3 Agustus, tambahnya.

Ia mengatakan, meskipun mengalami pengunduran, tetapi formasi acara tetap seperti yang telah ditentukan.

Festival keraton nusantara akan diisi dengan beragam kegiatan, seperti seminar, pameran benda pusaka dan kirap, katanya.

Dia menjelaskan, festival menjadi salah satu upaya kesultanan di seluruh Indonesia memperkenalan adat, budaya dan kesenian yang sampai kini masih dipertahankan.

Dipertahankannya warisan lelulur diharapkan mampu meningkatkan jati diri bangsa sehingga tidak tergilas oleh modernisasi, ujarnya.

Iskandar menambahkan, FKN tersebut akan diikuti sekitar 100 kesultanan dari seluruh Indonesia, seperti Kesultanan Yogyakarta dan Siak.

Pihaknya optimistis kegiatan tersebut akan berjalan sukses dan meningkatkan kunjungan wisata ke Palembang, tambah dia. (Ant)

Sumber : http://nusantara.tvone.co.id

Tari Sondong Buka "Gawai Seni Melayu"

TANJUNGPINANG, -Grup tari Sondong dari Sanggar Seni Warisan Budaya Penyengat, tampil sebagai pembuka Gawai Seni Melayu ke-8 Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang digelar di Lapangan Pamedan, Tanjungpinang, Rabu malam.

Tari yang menceritakan keseharian nelayan dalam menangkap udang dengan sondong tersebut, mendapat sambutan yang meriah dari ratusan penonton, termasuk Wali Kota Tanjungpinang, Suryatati A Manan.

Suryatati mengatakan, dengan kesenian bisa memberikan manfaat tentang budi pekerti dan budaya daerah kepada masyarakat.

"Selain itu, juga untuk melestarikan kebudayaan," kata Suryatati yang membuka Gawai Seni ke-8 Tanjungpinang..

Menurut dia, hasil kesenian menjadikan keindahan dalam pergaulan masyarakat yang harus selalu ditingkatkan.

"Dengan berkesenian juga diharapkan bisa menjadikan keindahan dalam pergaulan agar terhindar dari pergaulan bebas," ujar Wali Kota.

Gawai Seni ke-8 Tanjungpinang, dilaksanakan dari 4 Agustus sampai 7 Agustus 2010, diikuti sebanyak 103 orang penyanyi Melayu dan 52 orang tim tari Melayu tradisi.

Usai pembukaan, perlombaan tarik suara dan tari Melayu tersebut dimulai dengan penampilan penyanyi-penyanyi cilik dari siswa SD sampai tingkat SLTP putra-putri.

"Kami berharap dengan Gawai Seni ini bisa melestarikan kebudayaan Melayu, khususnya di Tanjungpinang," kata Kabid Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Tanjungpinang, Syaparuddin.

Sumber : http://oase.kompas.com

Suku Sahu, Proyek Percontohan Penelitian Adat

TERNATE- Suku Sahu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, terpilih menjadi salah satu dari dua suku di Indonesia yang menjadi proyek percontohan penelitian seni dan adat yang dilakukan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

"Satu suku lainnya yang juga menjadi proyek percontohan penelitan itu, berada di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan," kata Sekretaris Kabupaten Halmahera Barat Sofyang Abjan, di Jailolo, Kamis (5/8).

Suku Sahu terpilih menjadi proyek percontohan penelitian adat di Indonesia karena masyarakat suku itu konsisten melestarikan warisan leluhurnya, baik berupa warisan adat istiadat maupun benda-benda peninggalan para leluhur mereka.

Selain itu, kata Abjan, karena Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Halmahera Barat juga memiliki kepedulian dalam melestarikan keberadaan suku-suku di daerah setempat, termasuk suku Sahu, yang di antaranya mengeluarkan peraturan daerah (Perda) mengenai pelestarian adat di daerah setempat.

Pemkab setempat juga aktif memperkenalkan keberadaan suku-suku yang ada di kabupaten ini kepada masyarakat luas, baik di Indonesia maupun luar negeri melalui penyebaran informasi mengenai keberadaan suku-suku di daerah itu.

"Penyelenggaraan Festival Teluk Jailolo setiap tahun, dimana dalam festival ini ditampilkan berbagai kekhasan budaya setempat, termasuk budaya suku Sahu, juga merupakan sarana bagi masyarakat luas untuk lebih mengenal keragaman budaya dan suku di kabupaten tersebut," katanya.

Suku lainnya di Kabupaten Halmahera Barat yang juga konsisten melestarikan warisan leluhurnya adalah suku Tobaru dan Gamkonora. Kedua suku ini telah pula dikenal luas, baik di dalam maupun luar negeri, bahkan telah tercatat di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Abjan mengatakan sebagai penghargaan atas terpilihnya suku Sahu menjadi proyek percontohan, maka Bupati Halmahera Barat Namto Hui Rob pada Oktober 2010 diundang ke Amerika Serikat untuk menghadiri peresmian website komunitas adat di Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia.

Website tersebut berisi berbagai informasi mengenai suku-suku di Indonesia, dengan harapan akan mendorong para wisatawan mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. "Tetapi kemungkinan bupati tidak bisa menghadiri undangan itu karena bertepatan dengan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pemilu kada) Kabupaten Halmahera Barat. Bupati merupakan salah satu peserta dalam pemilu kada ini," katanya. (Ant/OL-2)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com
Rata Penuh

Layang-layang Hiasi Langit Sanur

DENPASAR, -Puluhan layang-layang tradisional dan kreasi baru yang diterbangkan serempak di arena Festival Sanur (SVF) 2010, Kamis, membuat langit Pantai Mertasari, Sanur, Bali tampak berwarna-warni.

Koordinator Lomba Layang-Layang Kadek Dwi Armika di Sanur, Kamis mengatakan, kegiatan tahunan itu diikuti sekitar 732 peserta lokal, nasional, dan mancanegara.

"Antusias peserta lokal maupun dari sejumlah negara cukup tinggi. Itu artinya kegiatan ini sudah semakin diperhitungkan di kancah nasional maupun internasional," katanya.

Jenis layang-layang tradisional yang dilombakan meliputi janggan (filosofi naga), pucukan dua sudut bermakna lambang Dewa Siwa, bebean dua dimensi, kreasi baru dua dan tiga dimensi.

Selain layang-layang yang diterbangkan siang hari, pada festival kali ini juga diterbangkan layangan malam hari yang dihiasi lampu warna-warni.

Dwi Armika menjelaskan, Sanur telah dikenal sebagai barometer layang-layang di dunia, karena sudah sejak 32 tahun lalu menjadi tempat penyelenggaraan "Bali Kite Festival".

"Kami berharap festival layang-layang nanti dapat meningkatkan motivasi masyarakat guna terus menumbuhkembangkan kreativitas dalam penciptaan layang-layang. Ini sebagai salah satu daya tarik pariwisata Pulau Dewata," katanya.

"Nampaknya langit Sanur bagai sedang berwarna-warni," ucap Morgan Vianio, wisatawan asal Jerman.

Siang itu, kawasan Sanur menjadi teduh karena layang-layang berukuran yang diterbangkan serentak menghalangi sinar matahari.

Ketua Panitia SVF 2010 Ida Bagus Gede Sidharta Putra mengatakan, Desa Sanur dikenal dengan tradisi layang-layang sebagai wujud kegembiraan masyarakat saat musim panen yang didukung kondisi angin pantai yang kencang.

"Mengibarkan layang-layang di angkasa sudah menjadi identitas Desa Sanur. Festival layang-layang yang sudah digelar sejak SVF pertama tahun 2006 dan selalu mendapat respons luar biasa," katanya.

Pengunjung bukan saja dapat melihat keindahan gerak layang-layang di angkasa, namun bagaimana sekumpulan orang yang menerbangkannya dituntut memiliki kebersamaan.

"Mereka dipandu oleh alunan musik tradisonal, seperti baleganjur yang terasa menyatu, ditandai penuh keriangan," kata Gede Sidharta.

Kelompok penggemar dan profesional pemain layang-layang yang dijadwalkan akan menerbangkan layangannya berasal dari Prancis, China, Jepang, Thailand, Filipina, Korea, Malaysia, Singapura, Selandia Baru, Belanda, Inggris, Australia, dan Swedia.

Sumber : http://oase.kompas.com

2010 Sail Indonesia, Tahun Depan Giliran Wakatobi

KABUPATEN Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), pantas menjadi tuan rumah penyelenggaraan Sail Indonesia 2011 karena sudah memiliki pengalaman dan potensi alam lautnya yang menjanjikan. Sejak 2009 Wakatobi sudah menjadi daerah tujuan wisatawan asing pengguna kapal pesiar sehingga sudah cukup dikenal dan masyarakatnya sudah terbiasa.

Menurut Wakil Ketua DPRD Sultra Muh Endang di Kendari mengatakan visi dan misi pemerintah dan rakyat Wakatobi untuk mengoptimalkan pembangunan sektor wisata laut harus didukung karena memiliki pesona terumbu karang dan biota laut terbaik.

“Pemerintah Provinsi Sultra sudah melayangkan surat kesiapan menjadi tuan rumah Sail Indonesia 2011 kepada Menteri Kelautan dan Perikanan (KP). Kami pemerintah dan masyarakat Wakatobi siap menjadi tuan rumah Sail Indonesia 2011, apalagi kegiatan itu mendapat dukungan penuh dari Gubernur Sultra," kata Bupati Wakatobi Hugua.

Jika Kementerian KP menyetujui usulan Gubernur Sultra maka masyarakat Wakatobi akan memeriahkan kegiatan berskala internasional itu dengan berbagai atraksi budaya tradisional masyarakat setempat.

Berbagai atraksi budaya tradisional tersebut yakni tradisi Bangka Mbungka-mbunga dan tradisi Kabuenga. Tradisi Bangka Mbungka-mbunga merupakan tradisi masyarakat Suku Bajo melarung sesajen di laut.

Melalui penampilan tradisi tersebut, kata Hugua, masyarakat Suku Bajo meminta kepada penguasa laut agar diberi rezeki yang melimpah dan menjauhkan para nelayan dari bahaya badai gelombang laut.

Inti dari tradisi ritual ini, masyarakat memohon kepada penguasa alam laut agar diberi kemudahan dalam mencari nafkah dan menjauhkan mereka dari bahaya badai gelombang laut. Pelaksanaan ritual ini diikuti ribuan perahu nelayan, katanya.

Sedangkan tradisi Kabuenga atau ayunan merupakan tradisi muda-mudi Wakatobi dalam mencari jodoh. Dalam ritual Kabuenga, sepasang muda-mudi didudukkan di tempat ayunan lalu diayun pemangku adat. Biasanya, tidak lama setelah duduk di Buenga, seorang gadis atau pemuda langsung menemukan jodoh dan menikah.

“Wakatobi sangat layak menjadi tuan rumah Sail Indonesia sebab wilayah tersebut memiliki kawasan terumbu karang seluas 1,3 juta hektar yang bisa menjadi area penyelaman. Kawasan tersebut sudah ditetapkan sebagai Taman Laut Nasional Wakatobi sejak tahun 1996,” ujarnya.

Perairan laut Wakatobi dengan terumbu karangnya yang indah tepat berada di pusat segi tiga karang (coral triangle) dunia. Dengan keragaman jenis terumbung karang sebanyak 750 jenis atau sekitar 80% dari seluruh jenis terumbu karang dunia, maka menyelam di perairan laut Wakatobi sesungguhnya sudah menaklukkan terumbu karang dunia.

Sumber : http://traveltextonline.com

Harta Karun Keindahan Dunia Tertuang Dalam JFC

Jember - Harta karun keindahan dunia melalui busana akan ditampilkan 600 peserta Jember Fashion Carnaval ke-9 digelar di Kabupaten Jember, Jawa Timur, dengan mengangkat tema utama "World Treasure".

Presiden JFC, Dynan Fariz, di Jember, Minggu, mengatakan, busana yang unik dan spektakuler akan ditampilkan dalam JFC tahun ini karena masing-masing peserta berusaha menampilkan yang terbaik untuk masyarakat.

"Banyak keindahan di dunia yang menjadi sebuah harta karun terpendam yang direfleksikan dalam busana," ujarnya.

Ratusan peserta akan mencoba membuat busana yang kreatif dan unik sesuai dengan sembilan tema yang ditentukan oleh panitia JFC.

Sebanyak 600 peserta yang terdiri atas pelajar, mahasiswa, dan umum memeriahkan acara JFC yang merupakan agenda tahunan yang sudah menjadi kegiatan pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat.

"Tahun ini JFC Council meresmikan JFC Kids yang dimeriahkan sebanyak 40 anak-anak dari Taman Kanak-Kanak (TK) Al-Irsyad," paparnya.

Menurut dia, sebanyak 600 peserta membuat busana sendiri, kemudian menampilkannya di hadapan puluhan ribu penonton di "catwalk" sepanjang 3,6 kilometer, dari alun-alun kota Jember menuju ke Gedung Olahraga (GOR) Kaliwates Jember.

"Yang menjadi beda dengan karnaval mode pada umumnya adalah busana yang digunakan oleh peserta adalah hasil rancangannya sendiri, sehingga peserta berpikir kreatif untuk menciptakan sebuah harta karun melalui busana," ujarnya.

Dalam parade fashion itu, kata dia, ada sembilan defile yang ditampilkan JFC, seperti defile "Dream Sky", Toraja, "Butterfly", Thailand, "Cactus", Kabuki, Mongol, Apocalypse, dan Voyage.

"Masing-masing defile memiliki makna tersendiri, sehingga peserta harus mampu membuat busana yang unik dan kreatif sesuai dengan sembilan defile itu," tuturnya menjelaskan.

Defile "Dream Sky" mencoba membawa penonton untuk bermimpi dan bercita-cita seluas dan setinggi langit, dengan tata warna yang fantastik.

Defile Toraja merupakan salah satu tema untuk mengangkat kebudayaan Indonesia di Sulawesi Selatan karena konsep ritual pemakaman Toraja menjadi inspirasi etnik dan tren fashion dunia.

Defile "Butterfly" merupakan simbol makna kehidupan karena dari kupu-kupu bisa belajar makna kehidupan yang sebenarnya karena proses kehidupan kupu-kupu dari kepompong menjadi kupu-kupu indah melalui tahapan yang sempurna.

Defile Thailand mengingatkan tentang negara yang gemerlap dengan cahaya emas yang sempurna. Pagoda bertebaran dimana-mana menjulang seakan membelah angkasa, itulah keajaiban yang menjadi bagian Thailand, sehingga menjadi salah satu tema defile JFC tahun ini.

Defile "Cactus" merupakan simbol hidup yang bisa bertahan dalam kondisi apapun, dengan pohon yang keras dan penuh duri.

Defile Kabuki merupakan salah satu defile yang mewakili negara Jepang dengan sebuah pertunjukan yang diperagakan seperti boneka diam yang tidak dapat berbicara. Kabuki menjadikan Jepang memiliki sebuah pertunjukan yang membangunkan imajinasi semua orang di dunia.

Defile Mongol menggambarkan peperangan yang dilakukan bangsa Mongol dengan banyaknya korban yang berjatuhan, namun bangsa tersebut bisa meraih kejayaan dan menjadikan Mongol bagian dari sejarah harta karun di dunia.

Defile Apocalypse menggambarkan suku Maya yang dikenal dengan ramalannya, sehingga peninggalan ramalan tersebut dikenang sepanjang masa oleh masyarakat di dunia.

Defile Voyage merupakan defile kesembilan yang menggambarkan sejarah kelautan yang merupakan pembuktian bahwa bumi itu bulat, saat Christoper Colombus berhasil mengarungi lautan luas dalam perjalanan mengelilingi dunia.

"Busana ratusan peserta dalam sembilan defile itu berasal dari kreasi anak muda dari berbagai kabupaten/kota di Indonesia. Ada enam peserta dari Makasar yang menjadi peserta defile Toraja dan ada empat peserta dari Jakarta," katanya.

Acara JFC ke-9 tersebut diabadikan oleh sekitar 600 fotografer dari berbagai media dan pecinta hobby memotret dari lokal, nasional dan internasional. Bahkan sejumlah wisatawan mancanegara terlihat hadir dalam acara tersebut.

Istri mantan Ketua DPR, Krisnina Maharani Akbar Tandjung terlihat asyik menikmati karnaval mode Jember di alun-alun kota setempat.

"Luar biasa busana yang ditampilkan ratusan peserta JFC, saya kagum atas kreasi dan inovasi yang dilakukan oleh JFC. Ini akan membuat Jember menjadi kota terkenal di dunia," katanya.

Menurut Nina Tanjung, kedatangannya ke Jember khusus untuk melihat Festival Gerak Jalan Egrang di Ledokombo dan Jember Fashion Carnaval.

"Saya tidak pernah melihat secara langsung atraksi JFC selama ini, namun hari ini saya melihat kreasi yang unik dari generasi muda di Jember yang membanggakan serta harus ditiru oleh kota lain," ujarnya.(*)

Sumber : http://www.antaranews.com

Festival Palembang Darusalam di Buka

Palembang - Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, H Marzuki Alie, membuka festival Palembang Darusalam XII di halaman Museum Sultan Mahmud Badarudin II, Minggu malam.

Dalam sambutannya, kegeiatan yang demikian dapat melibatkan raja-raja dari daerah lain, bahkan kerajaan melayu seperti Malaysia dan Brunei Daruslam.

"Kegiatan seperti harus ditingkatkan lagi, dan juga dislenggarakan dengan meriah yang melibatkan para raja-raja di tanah air dan juga raja melalyu di negara tetangga," tuturnya di hadapan Wali Kota Palembang H Eddy Santana Putra dan Gubernur Sumatera Selatan H Alex Noerdin dan tokoh masyarakat Kota Palembang.

Kegiatan tersebut, merupakan acara tahunan yang dislengrakan oleh Pemerintah Kota Palembang bekerjasama dengan Kerukunan Keluarga Palembang, dalam menyambut bula suci Ramadhan.

H Eddy Sanata Putra, Wali Kota Palembang mengatakan, kesiapannya dalam meramaikan kota tertua itu, pihaknya telah menyiapkan areal yang dapat dipergunakan untuk melakukan acara yang ada kaitannya dengan seni dan budaya.

Ia berharap, kedepan kegiatan kegiatan yang demikian itu akan dioptimalkan dnegan menganggarkan melalui anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) Kota Palembang, sehingga dapat terselenggara dengan lebih baik lagi.

Sementara Gubernur Suumsel, H Alex Noerdin menyampaikan, kegiatan fastival untuk tahun depan bakal di geser pelaksanaannya.

Menurut dia, tujuan pergeseran dilakukan guna ikut merayakan pembukaan SEA Games XXVI tahun 2011.

"Dengan demikian kesenian daerah kita, dapat di saksikan oleh mereka yang datangnya dari negara tetangga, yang turut dalam kontigen olehraga tingkat Asia Tenggara," paparnya.(*)

Sumber : http://www.antaranews.com

Buletin Warkah Marwah Resmi Beredar

Pontianak. Melayu Kalbar sudah lama mengimpikan lahirnya koran khusus Melayu. Sebab, koran yang banyak beredar saat ini tidak satupun secara eksklusif memublikasikan segala persoalan Melayu di Kalbar. Buletin mingguan Warkah Marwah (WM) telah di-launching 6 Agustus di Matahari Mall untuk menjawab persoalan tersebut.

“Alhamdulillah, koran atau buletin khusus Melayu telah terbit di Kalbar. Mungkin inilah koran pertama khusus Melayu di Bumi Khatulistiwa. Koran ini merupakan jawaban terhadap sedikitnya pemberitaan mengenai Melayu Kalbar,” kata Pemimpin Redaksi WM, H Iswan M Isa di sela-sela launching WM di Matahari Mal Pontianak, Jumat (6/7) lalu.

Dijelaskan Iswan, kelahiran WM selain untuk mendokumentasikan dan memublikasikan segala hal mengenai Melayu, juga ingin menjembatani berbagai organisasi Melayu. Banyak organisasi Melayu, tapi berjalan sendiri-sendiri. Dengan adanya WM ini, akan menjadi sarana atau mediator untuk mengajak berdialog, berkomunikasi, dan bersilaturahmi antarorganisasi yang ada.

“Sejauh ini sambutan seluruh pemimpin atau ketua organisasi Melayu sangat tinggi. Mereka memberikan dukungan penuh atas lahirnya Marwah ini. Semoga ini menjadi langkah awal untuk mendokumentasikan segala khazanah Melayu Kalbar,” harapnya.

Iswan yang juga Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Singkawang ini menambahkan, WM bukanlah lahir di bawah organisasi Melayu ada seperti MABM, LAMS, Lembayu, Permak, DMDI, maupun yang lain. WM berdiri secara independen dari orang-orang yang merasa peduli terhadap Melayu.

“Buletin Marwah ini dipasarkan secara internal di kalangan Melayu saja. Tidak diecerkan di pasar-pasar, melainkan untuk pelanggan saja. Walaupun khusus Melayu, bukan berarti etnis lain tidak boleh berlangganan. Siapa saja boleh berlangganan, toh isinya juga untuk meningkatkan wawasan rakyat Kalbar juga,” ujarnya.

Di tempat sama, wartawan senior Kalbar, Halim Ramli menyambut baik peluncuran WM. Paling tidak kehadiran WM memberikan andil untuk pencerahan pemikiran maupun wawasan orang Melayu. Dengan adanya WM juga pasti banyak mendokumentasikan seni dan budaya Melayu itu sendiri.

Tidak ketinggalan, Ketua MABM Kubu Raya, Drs Jipridin M Si ikut memberikan dukungan terhadap lahirnya WM. Selama ini, media massa lebih banyak bersifat umum. Jarang yang secara khusus bicara soal Melayu.

“Warkah Marwah diharapkan bisa meningkatkan pemahaman nilai-nilai Melayu bagi orang Melayu sendiri. Banyak orang Melayu justru tidak tahu jati dirinya. Adanya Marwah ini diharapkan bisa secara kontinu mempublikan seperti apa jati diri Melayu itu,” harapnya.

Ternyata, tidak hanya eksklusif Melayu yang hadir dalam acara launching itu. Ketua Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT), Harso Suwito ikut hadir. Dalam kesempatan itu, dia juga didaulat memberikan tanggapan terhadap lahirnya WM.

“Saya mewakili etnis Tionghoa menyambut baik terbitnya Buletin Marwah ini. Dengan adanya buletin ini, kami tentunya akan memahami apa itu Melayu. Kalau kita sudah paham, tentunya akan menimbulkan sifat saling pengertian,” kata Harso disambut tepuk tangan seluruh hadirin yang memadati lantai I Matahari Mal.

Sejumlah tokoh Melayu hadir dalam acara tersebut. Setelah terbit perdana, WM akan terus terbit setiap minggu. Untuk sementara lebih banyak beredar di Kota Pontianak dan sekitarnya. (ros/*)

Sumber : http://www.equator-news.com

Kesenian Berdah Masuk Sekolah

TEMBILAHAN, — Pemerintah Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, mengupayakan kesenian tradisonal berdah dimasukkan dalam kurikulum ekstrakurikuler di sekolah-sekolah di kecamatan tersebut.

"Langkah ini dalam upaya melakukan regenerasi seni tradisi berdah," kata Camat Mandah, Muhibuddin, kepada Antara, di Mandah, Jumat (6/8/2010).

Ia mengharapkan, dengan adanya kegiatan pelajaran ini di kalangan para pelajar, akan menimbulkan kecintaan dan semangat untuk belajar serta melestarikan tradisi kesenian berdah. Saat ini, kesenian berdah hanya dimainkan kalangan tua sehingga memerlukan regenerasi.

Menurut dia, masuknya kesenian tradisional tersebut sebagai kegiatan ekstrakurikuler sekolah juga untuk menjaga agar kesenian tradisional islami ini tidak punah.

Selain itu, dalam upaya menimbulkan kecintaan dan melestarikan kesenian berdah tersebut, Pemerintah Kecamatan Mandah bersama Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir akan menggelar Festival Berdah se-Indragiri Hilir yang akan dipusatkan di Kelurahan Khairiah Mandah, Kecamatan Mandah.

"Diperkirakan, helat seni ini akan digelar sekitar bulan September dan Oktober mendatang," katanya.

Berdah merupakan seni islami yang hampir merata di daerah Riau, yakni berupa pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW yang dibawa secara bersenandung dengan diiringi pukulan rebana. Biasanya, ketika kisah menceritakan nabi masuk kota Madinah, maka seniman berdah berdiri sebagai tanda memberi hormat kepada nabi. Kesenian ini biasanya digelar ketika ada acara pernikahan dan acara penting lainnya.

Kesenian tradisional ini telah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu dan bagian dari media penyebaran agama Islam di Kecamatan Mandah.

Berdasarkan bukti yang ada dan fakta sejarah, tokoh yang menyebarkan Islam di Kecamatan Mandah adalah Datuk Geronggang. Makam penyebar Islam ini terdapat di Desa Bente, Kecamatan Mandah. Kompleks makam ini juga menjadi tujuan wisata sejarah kaum Muslim di Indragiri Hilir.

Sumber : http://oase.kompas.com

Pelajar Inggris Nyanyikan Lagu "Burung Kakak Tua"

London - Lagu "Burung Kakak Tua" dinyanyikan remaja berkulit putih dan bermata biru asal Inggris di lapangan Queens Park Community School London dalam acara Summer Proklamasi Gathering yang digelar KBRI London bersama Wadah Indonesia pada akhir pekan lalu.

"Para peserta kursus Indonesia yang ditujukan masyarakat Inggris yang ada di London itu ingin mempraktekkan kebolehan dengan bernyanyi," ujar Ketua Perhimpunan Wadah Masyarakat Indonesia, Aidinal Alrasyid kepada koresponden Antara London, Senin.

Peserta kursus bahasa Indonesia yang digelar setiap Minggu itu unjuk kemahiran dalam bernyanyi lagu berbahasa Indonesia. Mereka mendapat sambutan masyarakat Indonesia yang hadir dalam acara pesta rakyat termasuk Dubes RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia dan Ny Sandra Thamrin.

Sekitar 500 masyarakat Indonesia yang datang dari berbagai kota di Inggris seperti Manchester, Birmingham, Leed, Nothingham dan London sekitarnya tidak saja menikmati hiburan band yang dimainkan kelompok musik binaan KBRI London itu juga menikmati beragam makanan yang dijual oleh masyarakat Indonesia.

Acara pesta rakyat yang disponsori KBRI Inggris Raya dan Irlandia bersama perwakilan kantor Bank Negara Indonesia London, perwakilan Bank Indonesia London, dan perwakilan Bank Mandiri serta Atase Pendidikan dan Kebudayaan berlangsung meriah meskipun hujan membasahi lapangan bekas sekolah Indonesia London.

"Acara pesta rakyat ini memang dari masyarakat untuk masyarakat," ujar Aidinal Alrasyid yang juga aktif dalam memperkenalkan pencak silat di kalangan masyarakat Inggris.

Dikatakannya acara ini bukan hanya untuk orang Indonesia, tapi untuk orang yang punya kepentingan atau ketertarikan kepada Indonesia.

Pesta Rakyat yang digelar dalam rangkaian memperingati ulang tahun RI ke 65 antara lain diisi dengan berbagai kegiatan lomba olahraga seperti bola volley, ping pong, sepak bola, futsal dan tarik tambang yang diikuti dengan pesta rakyat yang digelar di Queens Park Community School, Aylestone Avenue, London

Bazaar yang menjual makakan Indonesia mulai dari bakso, pempek, siomai, lontong sayur, nasi Padang campur serta sate Padang serta rujak serut itu habis dibeli masyarakat yang rindu akan makanan Indonesia.

Kang Ardhy yang menjual bakso serta rendang padang dan dendeng cabe ijo, sambal balado jengky , dagangannya sudah habis dipesan sebelum acara dimulai.

Begitupun dagangan Tiwi Pryce yang baru merintis usaha menjual makanan ringan Indonesia dengan Indo Direct Foods Ltd (?IDF?) perusahaan yang dimiliki dan dioperasikan di Indonesia berusaha untuk memperkenalkan makanan ringan seperti rempeyek kacang, tempe dan ikan teri serta bubur instant itu .

Misi kami adalah untuk diakui sebagai pemasok terpercaya kualitas makanan dan minuman Indonesia produk yang dijual langsung ke publik melalui internet, ujar Tiwi yang sehari hari bekerja di daerah perkantoran bergensi Canary Wharf.

Tiwi yang berusaha memperkenalkan makanan Indonesia di Inggris itu memberikan pelayanan dengan cara pemesanan online.

Sementara itu, Dian Pangestuti Neilson yang ikut meramaikan dengan menjual rujak serut dan nasi uduk serta lapis Surabaya mengakui merasa senang mendapat kesempatan untuk ikut berjualan makanan.

Menurut Dian, acara pesta rakyat terkesan kurang dirancang dengan rapih selain cuaca yang tidak memungkinkan yang sebentar bentar hujan itu seharusnya panitia menyediakan tenda yang cukup besar untuk yang jualan.

Diakuinya, untuk ikut meramaikan pesta rakyat ia membutuhkan kerja ekstra, persiapan seminggu sebelum masak tidak mudah sambil mengurus tiga anak laki-laki di rumah yang sedang libur sekolah, saat di dapur ada-ada saja yang mereka inginkan, kadang harus melerai ketika mereka berkelahi di tengah-tengah kesibukan memasak.

"Saya benar benar sangat menghargai seorang yang mata pencahariannya berdagang, yang ketar-ketir menunggu pembeli, sungguh penuh harapan," ujar Dian.

Peringatan HUT RI ke-65 bertema "Dengan Semangat Proklamasi 17 Agustus 1945, Kita Sukseskan Reformasi Gelombang Kedua, Untuk Terwujudnya Kehidupan Berbangsa Yang Makin Sejahtera, Makin Demokratis dan Makin Berkeadilan".

Koordinator Umum HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan RI, Nurchahyanto Subandi, Atase Pertahanan, mengatakan, upacara Pengibaran Bendera yang akan diselenggarakan pada Selasa, 17 Agustus 2010 bertempat di Wisma Nusantara, Bishop`s Grove, The Bishop`s Avenue, London.(*)

Sumber : http://www.antaranews.com

Prof Inggris Akui Kajian Sastra di Indonesia Lebih Humanistis

London - Profesor dari University of the Arts London, mengakui kajian dan teori sastra yang diajarkan di universitas di Indonesia melalui pendekatan humanistis sangat mendalam ketimbang yang ditemuinya di universitas di Inggris.

Hal ini diakui Prof Ray M Lucas yang menjadi pembimbing one-to-one-class untuk kandidat doktor Mutmainnah Mustofa yang tengah melakukan kajian buku ajarnya bersama Prof Ray Lucas yang berjudul "How to Analyze Poet, Poetry and Drama."

Dra Hj Mutmainnah Mustofa MPd, dalam keterangannya kepada koresponden Antara London, Senin mengatakan dosen pembimbingnya itu mendapat banyak masukan mengenai teori sastra dan kajian khususnya pengkajian karya sastra secara umum melalui pendekatan humanitis yang diperolehnya.

Mutmainnah yang mendapat kesempatan menjalani proyek pelatihan Overseas non degree training dari Direktorat Pendidikan Tinggi kementerian Pendidikan melalui Universitas Islam Malang (Unisma) selama tujuh minggu bersama Prof Ray guna menyiapkan materi pelajaran untuk mahasiswa di Inggris.

Menurut Mutmainnah yang meraih SI di Fakultas Sastra Inggris Universitas Negeri Jember, kajian sastra yang diajarkan di universitas di indonesia ternyata lebih mendalam ketimbang apa yang diajarkannya di Universitas di Inggris.

Selama mengikuti kajian di Universitas Arts London, Mutmainnah Mustofa mengakui sering kali ia mendapat kesempatan memperkenalkan tentang keragaman budaya dan keunikan Indonesia yang kaya akan multi etnik.

Ia memberi contoh budaya tari Bali yang memiliki Philosopi yang mendalam begitupun dengan kain Batik tidak saja memiliki keindahan yang keragaman tetapi juga terdapat etika dan norma dalam setiap jenis Batik.

Mutmainnah yang meraih S2 dan S3 di Universitas Negeri Malang selama di Inggris mendapat kesempatan tampil memperkenalkan budaya Indonesia dihadapan mahasiswa dari berbagai negara seperti mahasiswa dari Madrid, Spanyol, Roma, Italia, Turki, Maroko, Pakistan, China Thaiwan, Jepang, dan Ukraina.

"Mereka sangat tertarik dengan kajian budaya Indonesia dan berencana akan melanjutkan kajian budaya dan agama di Indonesia," ujar ibu satu putri hasil perkawinannya dengan Dr. H. Dahlan Tamrin, M.Ag dosen Pasca Sarjana UIN Malang.

Dikatakannya para mahasiswa itu menemukan hal hal yang baru dan unik serta menarik yang tidak mereka temukan di negara mereka seperti tari Bali, dan mereka langsung tertarik dengan Indonesia yang sebelumnya tidak mereka ketahu sama sekali dan bahkan tertarik untuk mempelajarinya lebih dalam.

Mahasiswa mancanegara itu juga merasa kagum dan mengakui kekayaan dan keragaman dari Indonesia, ujar Mutmainnah yang setiap hari diminta memprestasikan keberagaman budaya Indonesia di hadapan para pelajar internasional.

Mereka sangat mengagumi akan keberagamanan dan keunikan budaya Indonesia dan juga multi etnik yang dimiliki Indonesia yang membuat mereka ingin melakukan kajian lebih lanjut di Indonesia, ujarnya.

Menurut Mutmainnah, dalam riset yang dilakukannya terhadap karya sastra ditemui empat nilai yang diakui Prof Ray sangat menarik dan unik yaitu yang pertama memiliki nilai nilai agama, kedua nilai philosiphis , ketiga nilai etika dan keempat estetika.

Prof Ray , sangat menggumi keempat teori tersebut yang ditemui dalam saat bersamaan dalam proses pembelajaran/ belajar mengajar di kelas. Selama ini Ray menilai bahwa pengajaran karya sastra itu kurang mendalam dan tidak mencapai dasar.

Prof mengakui empat kajian itu akan dikaji dalam bentuk pengajaran langsung dan selanjutnya akan diterapkan langsung di dalam kelas, ujar Mutmainnah yang menjadi Koordinator Bidang Hukum dan HAM Pusat Studi Wanita (PSW)Univeritas Islam Malang.

Hal yang menarik, menurut Mutmainnah, dari segi religi, Prof Ray sangat tertarik dengan konsep halal food yang diterapkan dalam Islam dan baginya sangat menarik untuk dipelajari kenapa dalam Islam ada istilah halal dan juga pengunaan air dalam berwudhu yang dilakukan sebelum sholat.

Setiap kali membeli makanan Prof Ray pasti akan mencari label halal, demikian Mutmainnah Mustofa MPd. (ZG/K004)

Sumber : http://www.antaranews.com

Universiti Kebangsaan Malaysia Dibidani Akademisi Indonesia

Oleh : Chaidir Anwar Tanjung

Selangor - Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), salah satu kampus terkemuka di Malaysia, telah berusia 40 tahun. Pihak kampus tidak mengapus sejarah penting, bahwa UKM awalnya dibidani akademisi asal Indonesia.

Tepatnya 7 Agustus 2010, kampus UKM telah berusia 40 tahun dan telah melaksanakan wisuda yang ke 38. Kampus ini berdiri megah di Selangor dengan diapit rerimbunan hutan yang indah. Kini kampus itu memiliki sekitar 26 ribu mahasiswa, sekitar 2600 merupakan mahasiswa dari 56 negara asing, termasuk Indonesia. UKM kini berkembang pesat sebagai kampus alternatif di Malaysia setelah Universiti Malaysia.

Kampus ini dibangun pada tahun 1970 oleh Kerajaan Negeri Sembilan, Selangor. Pembangunannya merupakan sumbangan dari masyarakat setempat. Cita-cita luhur membangun kampus ini, ingin menunjukan jati diri anak Melayu selaku daerah jajahan Inggris.

Kampus tersebut dibangun demi menyaingi Universiti Malaysia yang dulu hanya menerima mahasiswa yang mahir dalam bahasa Inggris. Dari sanalah ihwal masyarakat setempat untuk membangun kampus sendiri tanpa harus menghapus bahasa ibu mereka.

"Inilah semangat awal kampus ini berdiri. Kita bertujuan, berkuliah tidak mesti harus meninggalkan bahasa ibu kita. Perjuangan menuju ke arah sana, tentulah bukan hal yang mudah. Karena saat itu kita sendiri baru terbebas dari penjajah," kata Ketua Kominikasi (Humas-red) UKM, Abdul Razak Hussin dalam perbincangan dengan detikcom.

Berangkat dari semangat jiwa nasionalis inilah, pihak UKM kemudian mencari cara memajukan kampus tersebut. Di awal pendiriannya, UKM mengundang para akedemisi dari Indonesia. Sebagian dari para dosen itu berasal dari Jakarta dan Sumatera.

Pihak kampus menyadari betul, bahwa di era itu dunia pendidikan mereka jauh tertinggal dari Indonesia. Selaku negara yang berdampingan dan memiliki bahasa Melayu serumpun, hal itu menjadi pertimbangan khusus mengapa kampus ini awalnya dibidani akedemik dari Indonesia. Akademik Indonesia yang membidani kampus UKM yang kini tersohor itu, khusus dalam bidang matematika, bioligi, kimia serta bahasa, ilmu islam dan budaya/sastra. Kesamaan bahasa Melayu Serumpun menjadikan akademisi Indonesia dianggap lebih mudah untuk menyampaikan bahasa pengantar dalam kampus tersebut.

"Kedekatan bahasa Melayu serumpun inilah, mengapa awalnya akademisi Indonesia yang banyak berkiprah di kampus UKM. Kita sejak awal memang bercita-cita, bahasa bahasa pengantar di kampus harus menggunakan bahasa Melayu," kata Abdul Razak.

Dengan hadirnya para pengajar dari Indonesia, maka lambat laun UKM mendapat perhatian khusus dari masyarakat setempat. Sejarah penting berdirinya kampus ini, membuat pihak UKM tidak pernah melupakan jasa baik akademisi Indonesia. Sejumlah nama-nama besar para dosen di UKM itu, masih mereka catat, yakni Teuku Iskandar Alibansah, Prof Ahmad Amirudin, Kardinal Kusnaini, BD Djonoputro, Moch Bunjamin, Prof S Sartono, Tji Hong Djin, Waloejo Loeksmanto, Muhamad Ansjar, Roehajat Emon Soeriatmadja, Teuku Ibrahim Alfian dan Soerastopo Hadisoermano.

"Mereka adalah pelopor yang mengemudikan haluan kampus UKM yang membidangi di sejumlah fakultas sain, sastra, pengkajian islam dan dasar-dasar pendidikan. Kita sangat menghormati jasa-jasa mereka. Dan itu tidak akan pernah dilupakan," kata Abdul Razak.

Kendatipun awalnya kampus ini penyampainnya dalam bahasa Melayu, namun bukan berarti harus mengharamkan bahasa internasional. Kini pihak kampus menggunakan bahasa pengantar internasional bagi mahasiswa dari luar Malaysia. Namun demikian, kampus ini tetap mewajibkan sebuah bidang studi bahasa Melayu.

Sementara itu menurut DR Moh Izham Moh Hamzah Ketua Jurusan Fak Ilmu Pendidikan, UKM menyebut, para akademik Indonesia itu telah berhasil mengemas UKM sebagai tempat pendidikan yang bermutu di Malaysia. Era tahun 1970 itu, dosen asal Indonesia menguasai kampus lebih dari 60 persen. Para akademisi itu menyalurkan berbagai ilmunya sehingga UKM kini menjadi universitas terkemuka di Malaysia.

"Ada sekitar 10 tahun para akademisi Indonesia tetap menjadi pelopor di UKM ini. Dan masyarakat kami sendiri, di era itu banyak belajar ke Indonesia. Setelah para pelajar berhasil menimba ilmu ke Indonesia, mereka kembali ke tanah airnya. Dan sebagian mereka menjadi akademik di tempat kami sendiri," kata Izham.

Namun di era tahun 1980-an, UKM tidak lagi ketergantungan dari akademisi Indonesia. Para mahasiswa mereka sebagian besar tidak lagi menimba ilmu ke Indonesia, tapi beralih ke Inggris. Sementara itu UKM terus berkemas menjadi kampus bertaraf internasional. Kini masyarakat Indonesia banyak belajar ke Malaysia. Tercata sekitar 450 mahasiswa Indonesia menimba ilmu di UKM.

"Sungguh kami tidak akan pernah melupakan para pelopor akademik dari Indonesia. Di antara mereka juga sudah ada yang menetap di Malaysia. Pelajaran ilmu dari mereka tidak akan pernah terhapus di UKM ini. Kami tidak akan pernah menghilangkan sejarah penting para akademik asal Indonesia di kampus ini," tutup Izham.

Sumber : http://www.detiknews.com

Defile Toraja Meriahkan Jember Fashion Carnaval

Jember - Ribuan orang memadati jalan raya utama di Kabupaten Jember sepanjang 3,6 kilometer, Minggu (8/8/2010). Ribuan orang tersebut ingin menyaksikan Jember Fashion Carnaval (JFC) ke-9 yang kini mengambil tema 'World Treasure'.

Sembilan defile dipertontonkan oleh para model yakni Dream Sky, Toraja, Butterfly, Thailand, Cactus, Kabuki, Mongol Apocalypse dan Voyage.

Karnaval dibuka dengan perkenalan JFC Kids yang ditampilkan oleh 40 anak-anak dengan dandanan unik dan penuh warna.

"Kami mengenalkan JFC Kids sebagai proses regenerasi," kata Presiden JFC, Dynand Fariz.

Setelah penampilan JFC Kids, defile pertama menggebrak dengan warna biru dan putih, Dream Sky yang diiringi olej JFC Marching Band. Nuansa langit, awan dan bintang ditampilkan oleh puluhan model dalam defile ini. Awan ditampilkan dengan warna nuansa putih dan langit dengan warna biru.

Penampilan yang menarik penonton adalah defile Toraja yang mengangkat kebudayaan dan tradisi masyarakat Tana Toraja - Sulawesi Selatan. JFC, selalu identik dengan kostum yang unik dan berbagai macam bentuk penutup kepala. Dalam defile ini, miniatur rumah Toraja menjadi mahkota para peserta.

Secara berturut-turut setelah Toraja, Butterfly, Thailand, Cactus, Kabuki, Mongol, Apocalypse dan Voyage.

"Untuk JFC kali ini diikuti oleh 600 peserta, kami ingin menyuguhkan karnaval dunia meski berada di Jember," tukas Dynand.

Sumber : http://surabaya.detik.com

Suku Enggano Ikuti Hari Masyrakat Adat Se-Dunia

Bengkulu: Masyarakat adat Enggano yang mendiami Pulau Enggano, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu, mewakili provinsi tersebut untuk menghadiri peringatan Hari Masyarakat Adat se-Dunia yang digelar Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Jakarta, Senin (9/8).

"Kami membawa masyarakat adat Enggano yang mendiami Pulau Enggano untuk mengikuti peringatan Hari Masyarakat Adat se-Dunia yang diperingati setiap 9 Agustus," kata Koordinator Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Bengkulu, Haitami saat dihubungi lewat telepon selular.

Ia mengatakan masyarakat adat Enggano yang terbagi dalam lima suku, yaitu Kaitora, Kauno, Kaharuba, Kaahua, dan Kaarubi memiliki persoalan penting yang harus dibahas di tingkat nasional terkait rencana pembangunan stasiun peluncur satelit oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Negara (LAPAN) di pulau itu.

Menurutnya, rencana pembangunan itu tidak pernah dikomunikasikan pemerintah dengan pemangku adat dan tokoh masyarakat Enggano.

"Padahal rencana pembangunan itu sudah sampai pada tahap penandatanganan nota kesepakatan antara LAPAN dengan Pemprov Bengkulu,"terangnya.

Haitami mengatakan Pulau Enggano yang dihuni lebih dari 2.600 jiwa masyarakat adat merupakan wilayah strategis dengan ekosistem unik.

Berdasarkan penelitian berbagai pihak kata dia, pulau itu terbentuk dari batu karang sehingga sangat terbatas terhadap pembangunan berskala besar.

"Masyarakat adat ingin mengetahui dengan jelas bagaimana dampak pembangunan hulu ledak itu terhadap kelestarian pulau mereka, karena tidak ada pulau terdekat yang bisa dihuni orang Enggano jika terjadi sesuatu hal buruk,"jelasnya.

Sementara itu Koordinator Kepala Suku Enggano yang disebut Pa`buki Rafli Zen Kaitora mengatakan pembangunan stasiun peluncur di Pulau Enggano sangat meresahkan masyarakat setempat.

"Kami juga sangat menyesalkan karena mengetahui rencana pembangunan itu dari media lokal, sama sekali tidak ada komunikasi pemerintah dengan masyarakat Enggano,"katanya.

Ia berharap dengan peringatan Hari Masyarakat Adat se-Dunia, pemerintah lebih menghargai hak-hak masyarakat adat dan mengakui serta menegakkan hukum adat di tengah-tengah masyarakat adat. (Ant/RIZ)

Sumber : http://www.metrotvnews.com

Ribuan Warga Lakukan Tradisi "Ngelop" Jelang Puasa

Kalianda, Lampung Selatan - Ribuan warga Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung melakukan tradisi "ngelop" di Pantai Ketang Kecamatan Kalianda dalam rangka menyambut datangnya bulan puasa, Selasa sore.

Warga Kelurahan Wayurang Kecamatan Kalianda, Yuliana, mengatakan, di Kalianda, Selasa, tradisi "ngelop" yakni kegiatan mandi di laut secara bersama-sama dengan niat mensucikan diri karena akan melaksanakan ibadah puasa.

"Ngelop dilakukan saat sore hari bertepatan dengan pergantian kalender hijriyah memasuki bulan Ramadhan," kata dia.

Dia mengatakan, tradisi ngelop ini diikuti oleh ribuan warga yang ada di Kecamatan Kalianda dan sekitarnya dengan titik lokasi mandi di Pantai Ketang Kalianda.

Menurutnya, dengan melakukan ini, selain mensucikan diri, mitosnya, agar warga dapat menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh tanpa adanya ganguan apapun.

Ridhoe, warga di kelurahan yang sama, mengatakan tradisi ngelop ini dilakukan sejak bertahun-tahun lalu hingga saat ini telah menjadi kebiasaan warga menjelang puasa secara turun-menurun.

Dia mengatakan, para warga yang mengikuti ngelop ini tidak pandang bulu dari anak kecil, kaum muda-mudi dan para oarang tua dengan harapan dapat mensucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa.

Menurutnya, ngelop dilakukan menjelang pertengah sore atau sekitar pukul 15.00 hingga matahari terbenam sebelum tiba waktu shalat magrib.

Dia menyebutkan, selain warga Kalianda sendiri, ngelop tersebut diikuti oleh warga diluar Kalianda hingga memenuhi pantai tersebiut.

Dalam rangkaian tradisi ngelop tu sendiri sejumlah warga hanya mandi dan membasahi seluruh tubuh dari ujung kepala sampai ujung kaki, setelah itu bermain dipantai seperti biasa.

Sementara itu, Gunawan, warga pesisir pantai Ketang sendiri, Khairul, mengatakan mandi dipantai itu merupakan tradisi orang tua dulu, selain itu juga sebagai ungkapan rasa gembira atas datangnya bulan Ramadan yang dianggap penuh barokah dan pengampunan bagi umat Islam.

"Kebiasaan ini memang sudah menjadi kepercayaan warga Kalianda bertahun-tahun lalu menjelang puasa," ujar dia menambahkan. (ANT048/K004)

Sumber : http://www.antaranews.com

Tradisi mandi pangir masih digemari

MEDAN - Tradisi lama mandi ramuan tradisional biasa disebut pangir yang dilakukan sore pada H-1 menjelang Ramadhan, masih banyak diminati warga Medan dan sekitarnya.

Para pedagang musiman yang menjual bahan tradisional untuk mandi yang sudah menjadi tradisi turun-temurun tersebut bermunculan di berbagai pasar tradisional pada H-1 menjelang Ramadhan.

Menurut Rahma, pedagang pangir di Pusat Pasar Medan, harga pangir yang berisikan daun jeruk, pandan, serei dan beberapa daun lainnya dijual Rp2.000 hingga Rp3.000 per bungkus.

Cara memakainya sederhana dan ringkas, yakni pangir cukup direndam dengan air panas beberapa saat saja, setelah air warna air panas berubah kekuningan dan suhu panasnya mulai turun menjadi hangat maka siap dibasuhkan ke kepala saat mandi sore, ujarnya.

Rahma mengatakan, omset penjualan ramuan pangir yang dikemas terbungkus dengan dedaunan tersebut juga lumayan, yakni sejak dimulai pada H-2 telah mendapat untung hingga Rp250 ribu setelah dihitung biaya keperluan saat berdagang, ujarnya.

Pembuatan ramuan dari daun-daunan tersebut dilakukan sendiri dengan membeli berbagai bahan-bahan yang diperlukan, karena sudah terbiasa dari tahun ke tahun mengumpulkannya tidak sulit.

Neneng salah seorang ibu rumah tangga warga Jaan Brigjen Katamso mengatakan, kebiasaan mandi pangir atau disebut mandi limau bagi sebagian etnik lainnya sudah merupakan kebiasaan turun-temurun yang biasa dilakukan menjelang Ramadhan.

“Rasanya ibadah puasa kurang semarak dimulai tanpa melakukan mandi sore dengan ramuan yang mengeluarkan aroma harum tersebut,” ujarnya.

Sumber : http://www.waspada.co.id
Rata Penuh

Warga Gelar Festival Kampung Ramadhan

Makassar - Warga di kawasan Boulevard menyambut datangnya bulan suci Ramadhan dengan menggelar festival kampung Ramadhan.

Menurut panitia pelaksana, Haris, di Makassar, Selasa, festival ini akan diadakan selama bulan Ramadhan, dan berakhir pada tanggal 10 September 2010.

Ia mengatakan, dalam festival ini tersedia berbagai jajanan khas bulan Ramadhan, yaitu hidangan berbuka puasa, seperti es kelapa muda, kue-kue khas Sulsel, dan sebagainya.

"Selain menyediakan hidangan kuliner, pada festival ini juga terdapat berbagai produk busana, mulai dari pakaian Muslim, hingga pakaian anak-anak," tuturnya.

Untuk semakin memeriahkan festival kampung Ramadhan, pihak panitia juga menyediakan fasilitas panggung hiburan dan juga berbagai perlombaan.

"Untuk menghibur pengunjung yang datang, panggung hiburan ini akan dimeriahkan oleh artis-artis ibukota dan juga dari Makassar," imbuhnya.

Sedangkan untuk perlombaan juga cukup bervariasi, dan lebih dikhususkan bagi anak-anak yang datang berkunjung pada festival ini.

"Kami mengharapkan agar warga Makassar bisa datang mengunjungi dan ikut meramaikan festival ini," tandasnya. (ANT103/K004)

Sumber : http://www.antaranews.com

Masyarakat Adat Kalteng Hadapi Masalah

PALANGKARAYA, -Masyarakat adat di Kalimantan Tengah (Kalteng) sampai saat ini masih menghadapi berbagai persoalan yang kebanyakan berhubungan dengan hak atas penguasaan tanah mereka, wilayah, dan sumber-sumber penghidupan.

Hal itu dikatakan Sekretaris Pengurus Harian Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalteng, Mariaty A Niun di Palangkaraya, Rabu.

Menurutnya, di beberapa wilayah Kalteng masih terdapat permasalahan menyangkut tumpang-tindih kepentingan atas lahan-lahan masyarakat adat.

Kasus yang kerap terjadi, katanya, adalah ketika industri pertambangan dan perusahaan perkebunan mengembangkan usaha mereka di wilayah kelola masyarakat adat.

Menyebut contoh, ia bercerita tentang konflik antara masyarakat adat dengan pihak pengembang perkebunan sawit di beberapa wilayah seperti Kabupaten Kapuas, Seruyan, dan Kotawaringin Timur.

Dikatakan, pengakuan atas hak kelola masyarakat adat yang harus berbenturan dengan pihak pemilik modal seperti itu sering kali membuat pihak masyarakat adat kalah karena mereka tidak memiliki bukti fisik sebagai bukti kepemilikan tanah adat yang telah mereka kelola secara turun temurun.

Selain itu, katanya ada kerancuan antara pengertian tanah adat di tingkat masyarakat dengan istilah hutan adat pada Undang-Undang (UU) No. 41/1999 tentang Kehutanan.

Yang kemudian menjadi permasalahan adalah wilayah kelola masyarakat yang selama ini disebut sebagai tanah adat dalam UU tersebut dirujuk sebagai hutan negara walaupun masih diakui keberadaanya berada dalam wilayah masyarakat hukum adat.

Mariaty mengatakan, khusus lingkup Kalteng memang telah ada peraturan daerah (Perda) tentang masyarakat adat namun lebih banyak bicara tentang teknis kelembagaan adat Dayak di Kalteng.

Peraturan itu katanya masih belum mampu menjadi landasan hukum yang akan melindungi kawasan kelola masyarakat adat beserta sumber-sumber penghidupan mereka yang sedang terancam perluasan industri dan perkebunan skala besar.

Dalam rangka memperjuangkan hak-hak masyarakat adat, dikatakan bahwa AMAN Kalteng telah membentuk aliansi bersama dengan masyarakat adat Borneo dari seluruh pulau Kalimantan termasuk yang dari Malaysia dalam sebuah aliansi.

Aliansi itu disebut BIPA atau Borneo Indigenous Peoples Alliance yang merupakan kesatuan aksi kelompok masyarakat adat yang bekerja bersama-sama untuk menyusun program menghadapi persoalan-persoalan masyarakat adat, demikian Mariaty.

Sumber : http://oase.kompas.com

Pemerintah kurang peduli permainan tradisional

MEDAN - Pemerintah diminta segera melakukan revitalisasi berbagai permainan anak tradisional karena selain berasal dari budaya bangsa sendiri, secara perlahan namun pasti saat ini mereka lebih mengenal permainan modern.

Analis sosial Universitas Sumatera Utara, Yos Rizal di Medan, malam ini mengatakan, berbagai suku di Indonesia memiliki berbagai ragam permainan tradisional anak seperti patok lele, galasin, sambar elang dan aneka permainan tradisional lainnya.

Banyak permainan anak tradisional itu memiliki berbagai keunggulan yang tidak terdapat pada permainan modern.

Keunggulan itu antara lain adalah tumbuhnya rasa solidaritas atau setiakawan, rasa empati pada sesama, keakraban dengan alam serta menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas.

Namun sayangnya, dewasa ini sebagian besar anak-anak di Indonesia sudah tidak mengenal lagi aneka permainan tradisional tersebut dan lebih memilih permainan modern seperti video games, play station, nintento, PC games ataupun televisi.

Berbagai permainan anak tradisional juga sudah banyak yang punah dan sebagian besar terancam hilang digantikan permainan anak modern. Untuk itu pemerintah harus segera melakukan revitalisasi misalnya dengan memasukkan dalam kurikulum muatan lokal.

"Revitaslisasi harus segera dilakukan karena banyak permainan anak tradisional yang mengandung unsur-unsur edukatif. Berbeda halnya dengan permainan anak modern yang lebih cenderung membuat anak lebih egois apalagi semuanya dibuat oleh pabrik," katanya.

Menurut dia, permainan moderen juga cenderung menjadikan anak individualis dan berbasis materi karena anak setiap saat akan meminta uang untuk membeli alat permainannya.

Permainan moderen potensial menjadikan anak sebagai generasi yang hanya menuntut, meminta, kurang usaha, tidak inovatif dan tidak kreatif, untuk memproduksi dan mereproduksi apa yang dibutuhkannya.

Berbeda halnya dengan permainan anak tradisional yang memungkinkan timbulnya inisiatif, kreatifitas dan inovatif untuk memproduksi sendiri, mencari, mendesain, mengadaptasi permainan yang mereka butuhkan.

"Permainan anak tradisional juga menjauhkan anak dari sikap konsumtif, menampilkan kegembiraan, gerak tubuh yang ekspressif, disamping juga melatih tingkat kecerdasan dan logika," katanya.

Sumber : http://www.waspada.co.id

Disbudpora Bakal Gelar Event di Tanjung Belandang

KETAPANG—Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ketapang dalam waktu dekat akan menyelenggarakan berbagai event perlombaan di Objek wisata Tanjung Belandang. Event itu dilakukan bertepatan dengan peringatan Hari Pariwisata Dunia dan Nasional .

Menurut Yudo Sudarto, SP. M. Si Kepala Dinas Budparpora Kabupaten Ketapang mengatakan penyelenggaraan disamping itu berkaitan pula dengan moment peringatan Hari Kemerdekaan dan Peringatan Hari Olahraga Nasional.“Rencananya akan kita gelar setelah Lebaran Idul Fitri dimana rangkaian kegiatan event tersebut akan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan perlombaan,” kata Yudo Sudarto SP, M.Si.

Kegiatan yang akan digelar diantaranya sepeda santai, lomba sampan, lomba layang-layang dan lomba permainan tradisional rakyat lainnya. Kegiatan itu merupakan event tetap atau setiap tahunnya Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ketapang menyelenggarakan kegiatan tersebut.

“Kegiatan ini bukan hanya sekedar ajang lomba akan tetapi merupakan ajang promosi Potensi Pesona Objek Wisata,” tuturnya.

Suatu objek wisata dapat ramai di kunjungi, jika event baik atraksi wisata maupun atraksi budaya. Elain itu terdapat juga hiburan refreshing untuk di nikmati, sehingga turis atau wisatawan menjadi betah.(ndi)

Sumber : http://www.pontianakpost.com

Ekspansi dan Imaji Superior Malaysia

* Oleh Toto Suparto

Dari apa yang dilakukan Malaysia selama ini, sebenarnya tergambarkan karakter bangsa jiran itu: ekspansionis!

HUBUNGAN Indonesia-Malaysia kian menegang. Perkembangan terakhir, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyurati Perdana Menteri Malaysia. Di Malaysia, reaksi keras juga bermunculan. Menteri Luar Negeri Datuk Seri Anifah Aman menyatakan Malaysia telah kehilangan kesabaran dan mengirimkan surat protes ke Indonesia menyusul demonstrasi yang dipicu oleh masalah maritim, dan kotoran manusia dilemparkan ke Kedutaan Malaysia di Jakarta. Bahkan Anifah mengancam jika memang diharuskan, Malaysia akan mengeluarkan imbauan bagi warganya untuk tidak bepergian ke Indonesia (suaramerdeka.com, 27/08/10). Tetapi bagi Indonesia travel advisory itu bukanlah hal yang merisaukan.

Reaksi ataupun ancaman terhadap Indonesia menunjukkan ketidakpatutan Malaysia. Semestinya yang lebih bereaksi adalah Indonesia mengingat negeri jiran sewenang-wenang menginjak kedaulatan kita. Kasus penangkapan tiga petugas Indonesia hanya bagian dari akumulasi arogansi mereka. Sebelumnya ada kasus tari pendet, Ambalat, sengketa Sipadan-Ligitan. Kemudian, klaim terhadap pulau-pulau di wilayah perairan Sulawesi, dan teraktual adalah klaim Pulau Jemur di Riau yang masuk wilayah Selangor.

Ironisnya aksi klaim itu dilengkapi dengan tindak kekerasan terhadap warga Indonesia di Malaysia. Kasus Manohara mirip sinetron (akhirnya disinetronkan), lalu TKW yang babak belur dihajar majikan, dan baru-baru ini beredar di internet TKI yang dihajar oleh aparat kepolisian di sana.

Dari apa yang dilakukan Malaysia selama ini, sebenarnya tergambarkan karakter bangsa jiran itu: ekspansionis! Jika menilik sejarah Malaysia, puncak ekspansionis itu terjadi pada 31 Agustus 1963 dengan nama Kerajaan Malaysia, dan perdana menteri pertama dijabat Tengku Abdurrahman.

Kelahiran Kerajaan Malaysia ini dipandang oleh Presiden Soekarno sebagai proyek neokolonialisme ala Inggris. Soekarno menentangnya sampai timbul konfrontasi kedua negara. Semangat konfrontasi itu diwujudkan dengan teriakan, ”Ganyang Malaysia!” Teriakan ini akrab didengar sepanjang 1963-1965, dan terhenti seiring kejatuhan Soekarno. Memasuki awal Orde Baru konfrontasi berakhir dengan ditandatangani pakta perdamaian Indonesia-Malaysia oleh Tun Abdul Razak dan Adam Malik.

Ada beberapa pemicu nafsu ekspansi itu. Pertama, imaji superior. Imaji ini terkait dengan watak neokolonialisme itu. Dalam kajian budaya ada sebuah teori yang disebut poskolonial. Secara sederhana poskolonial ini ingin melihat hubungan hegemonik antara superior dan inferior. Malaysia dijangkiti imaji superior. Ia merasa lebih super. Terlebih setelah krisis moneter pada 1998.

Saat itu, Mahathir Mohammad menolak campur tangan IMF, tetapi Soeharto menerima uluran IMF. Ternyata tanpa IMF Mahathir mampu membawa Malaysia keluar dari krisis, bahkan pertumbuhan ekonominya terus melaju. Sebaliknya Soeharto gagal, uluran IMF tak mampu mengentas Indonesia dari kubangan krismon.
Sebuah Ironi Kasus IMF membuat mereka merasa lebih hebat dari Indonesia, kemudian kian menggila nafsu ekspansi itu. Malaysia yang superior bermaksud menempatkan Indonesia sebagai inferior. Beragam cara ditempuh untuk mewujudkan imaji ini.

Kedua, di balik imaji superior itu, terdapat pula sifat paranoid. Malaysia sesungguhnya takut terhadap Indonesia, mengingat wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang jauh lebih banyak. Apalagi serbuan SDM ke Malaysia kini kian membesar. Kampus di sana banyak memakai tenaga pengajar dari Indonesia, anak-anak jenius banyak belajar di perguruan tinggi Malaysia, dan diperhitungkan juga aliran TKI. Nafsu ekspansi juga dilampiaskan lewat budaya. Selain klaim sejumlah budaya Indonesia, diam-diam Malaysia mempraktikkan imperialisme budaya. Contoh paling nyata adalah animasi Malaysia yang ditayangkan beberapa televisi, di antaranya ”Ipin dan Upin”.

Mulanya tayangan itu merupakan dampak dari globalisasi kapitalisme yang memungkinkan produk Malaysia masuk ke Indonesia, tetapi tesis homogenisasi budaya menyatakan globalisasi macam itu menyebabkan hilangnya keragaman budaya. Pengkaji budaya mengingatkan globalisasi kapitalisme bukan sekadar ekspor komoditas melainkan juga terkait nilai, prioritas, dan cara hidup. (Robins, 1991:25). ”Ipin dan Upin” tak luput untuk mengekspor nilai maupun cara hidup Malaysia kepada pemirsa di Indonesia.

Kemudian yang terjadi, peduli amat orang-orang memprotes atau mendemo Malaysia, tetapi ”aku tetap terpesona Ipin dan Upin”. Inilah representasi, ”aku tetap terpesona Malaysia”. Jadinya sebuah ironi, satu sisi bangsa ini ada yang terhina oleh Malaysia, sisi lain masih saja terpesona. (10)

— Toto Suparto, pengkaji etika di Pusat Kajian Agama dan Budaya Yogyakarta

Sumber : http://suaramerdeka.com

Mahasiswa Asing Tampilkan Tarian Tradisional Jatim

Oleh : Natalia Trijaji

Sebanyak sebelas mahasiswa asing menampilkan tarian tradisional Sprakling Surabaya dan Glipang di Surabaya Plaza Hotel, Senin (30/8). Mereka berasal dari Timor Leste, Thailand, Vietnam, Fiji, Vanuatu, Solomon Island, Samoa, Tuvalu, Afsel, Jerman dan Rusia.

Kesebelas mahasiswa tersebut plus seorang dari Indonesia merupakan sebagian dari mahasiswa yang menerima Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI) dari Kementrian Luar Negeri Indonesia untuk mengikuti program tersebut selama tiga bulan.

Mereka memperlihatkan kemampuan menampilkan dua tarian tradisional sebagai bagian dari evaluasi pendidikan dan pelatihan seni budaya yang diterima selama menjalani program BSBI di Surabaya. Program ini telah berlangsung sebulan.

Penampilan mereka dibagi dua kelompok. Enam mahasiswi menampilkan tari Sprakling Suroboyo yang merupakan ikon Surabaya dan enam mahasiswa menampilkan tari Glipang dari Probolinggo yang menggambarkan ungkapan syukur prajurit atas perlindungan Tuhan selama perang.

Mereka lincah dan bersemangat menampilkan kedua tarian tersebut dengan iringan irama musik tradisional yang rancak, meskipun beberapa tampak agak kaku dalam menggerakkan tangan dan kaki. Misalnya Skolovsky Alexei dari Rusia. Sebaliknya George Ribbs Waigugu dari Afsel tampak paling luwes. Toh penampilan mereka mendapat aplaus para tamu.

Menurut Diaztiarni Azhar, pimpinan produksi dalam pelatihan dan pengenalan seni budaya Jatim, penamplan mereka cukup bagus untuk orang asing yang baru sebulan mengenal Indonesia dan mempelajari tarian tradisional.

“Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu. Hanya enam orang yang punya basic menari. Lain-lainnya ada yang penyanyi, pelukis, komposer dan mahasiswa bahasa. Tapi mereka antusias dan tekun berlatih. Ini patut dihargai,” ujarnya.

Skolovsky Alexei, mahasiswa dari Rusia, mengaku senang dan bangga bisa ikut menari Glipang. Ia mengatakan, ini pertama kalinya ia menari. Menurutnya, semula terasa sulit belajar menari, namun lama-lama ia justru menyukainya.

Alexei berpendapat, musik dan tarian Rusia jauh berbeda dengan musik dan tarian di Indonesia yang lebih kompleks dan dinamis dengan banyak gerakan tangan, kaki, bahu dan kepala serta lirikan mata.

“Ini sesuatu yang baru dan tantangan untuk saya. Tapi saya bisa menari, kan?” ujarnya dalam Bahasa Inggris campur Bahasa Indonesia yang patah-patah. Selama sebulan di Surabaya, membuatnya bisa mengucapkan sedikit kata-kata dalam Bahasa Indonesia dan ia berupaya menerapkannya dalam percakapan sehari-hari. (*)

Sumber : http://www.kabarindonesia.com

Jumat, 03 September 2010

Tradisi Megibung Kampung Islam Kepaon Bali

VIVAnews – Untuk tetap menjaga rasa persaudaraan warga muslim Kepaon Denpasar, tradisi Megibung masih setia dilakukan setiap 10 hari di bulan puasa.

Megibung merupakan upacara selamatan warga dan jama’ah Masjid Al Muhajirin Kepaon Denpasar usai melakukan pembacaan 30 Juz Al-quran atau Khataman. Tradisi unik ini dilakukan dengan cara makan bersama dalam satu wadah.

"Dalam bahasa Bali megibung itu kan artinya makan bersama atau makan dalam satu tempat. Maka dari itu kami menyebut tradisi ini Megibung," jelas Zaenudin, pengurus Masjid, Senin malam.

Sebelum melakukan tradisi ini, terlebih dahulu para jama’ah mengawalinya dengan takjil atau membatalkan puasa, kemudian salat Magrib berjamaah.

Setelah itu, barulah para jama’ah menyerbu makanan tersebut. Umumnya dalam satu baki makanan disantap empat hingga enam orang.

Jenis makanannya pun beragam, namun biasanya yang menjadi makanan pokok yakni nasi tumpeng yang dihidangkan dengan berbagai lauk pauk seperti ayam goreng, sayur, telur dan buah-buahan dan berbagai jenis minuman.

"Tradisi ini ada sejak umat muslim ada di Bali di mana Kepaon merupakan pecahan dari Kampung Bugis di Pulau Serangan," katanya.

Menurut Mujianto, salah seorang warga atau jama’ah yang hadir, tradisi ini menyenangkan karena merupakan kegiatan yang dapat menjalin tali silaturahmi.

"Ya.. seru aja bisa berbuka puasa bersama-sama. Apalagi dengan kegiatan seperti ini hubungan silahturahmi kami dengan warga yang lain tetap terjalin" ungkapnya. (umi)

Sumber : http://cangkang.vivanews.com

Sail Morotai 2012 Mulai Digemakan

TERNATE - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Morotai, Maluku Utara, mulai menyosialisasikan penyelenggaraan Sail Morotai pada 2012 kepada masyarakat dan berbagai pihak terkait lainnya di daerah itu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pulau Morotai, Ismail, ketika dihubungi dari Ternate, Selasa (31/8), mengatakan, tujuan dari sosialisasi tersebut adalah mendorong masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan penyelenggaraan kegiatan itu. Partisipasi masyarakat itu di antaranya menjaga keamanan dan ketertiban, menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan, serta tidak lagi melakukan kegiatan yang dapat merusak kelestarian lingkungan laut.

Selain itu, kata Ismail, masyarakat di Pulau Morotai diharapkan mendukung program pemkab setempat dalam penanaman pohon bakau di sepanjang pesisir pantai Pulau Morotai dan Pulau-pulau kecil lainnya di daerah itu. Sementara partisipasi yang diharapkan dari berbagai pihak terkait lainnya di Pulau Morotai seperti para pengusaha dalam melaksanakan aktivitas usahanya tidak merusak kelestarian lingkungan, terutama lingkungan laut.

Ia mengatakan penyelenggaraan Sail Morotai akan memberi kontribusi besar bagi Kabupaten Pulau Morotai, khususnya dalam upaya memperkenalkan potensi pariwisata dan investasi di darah itu. Kegiatan bertaraf internasional tersebut akan dihadiri peserta dari berbagai negara. Selain itu, akan diliput pula oleh media massa nasional dan asing. Itu semua sangat membantu Pulau Morotai dalam mempromosikan potensi pariwisata dan investasinya.

"Kabupaten/kota lainnya di Maluku Utara juga akan ikut menikmati manfaat dari penyelenggaraan Sail Morotai tersebut. Posisinya dalam mempromosikan potensi pariwisata dan investasinnya. Untuk itu, mereka diharapkan ikut berpatisipasi dalam menyukseskan penyelenggaraan kegiatan itu, " katanya.

Masalah mendasar yang di hadapi Pemkab Pulau Morotai untuk menyukseskan penyelenggaraan Sail Morotai adalah terbatasnya infrstruktur penunjang, seperti jalan dan jembatan, pelabuhan, bandara, hotel, listrik, dan berbagai fasilitas umum lainnya. (Ant/OL-5)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

Mahasiswa Jepang Teliti Budaya Indonesia

Semarang - Mahasiswa Nagoya University Jepang melakukan kunjungan lapangan ke berbagai daerah di Jawa Tengah bekerja sama dengan Universitas Diponegoro Semarang.

"Kegiatan field trip itu untuk memberikan kesempatan mahasiswa Jepang tersebut tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat Indonesia," kata Pembantu Rektor I Undip, Prof. Ign. Riwanto, di Semarang, Selasa.

Ia menyebutkan, mahasiswa Jepang yang mengikuti kegiatan tersebut berjumlah 11 orang dan memulai kegiatannya pada Senin (30/8) hingga satu bulan mendatang, didampingi dua guru besar Nagoya University Jepang.

Menurut dia, kegiatan mahasiswa Jepang selama satu bulan tersebut di Indonesia bisa menjadi ajang perkenalan dan penelitian budaya dan bahasa Jepang kepada masyarakat Indonesia, demikian juga sebaliknya.

"Apabila dikerjakan serius ini (kegiatan `field trip`, red.) akan menjadi sebuah hasil riset yang menarik bagi pengembangan ilmu budaya Indonesia dan juga dunia pada umumnya," kata Riwanto.

Pembantu Rektor III Undip, Sukinta, mengatakan, sebanyak 11 mahasiswa itu dibagi di beberapa daerah yakni lima orang di Kota Semarang, tiga orang di Kabupaten Semarang, dan tiga mahasiswa lainnya di Kabupaten Demak.

"Mereka akan melakukan riset yang ditindaklanjuti dengan seminar nasional tentang hasil penelitian tersebut sekembalinya para mahasiswa tersebut ke Jepang," katanya.

Ia mengatakan, para mahasiswa tersebut akan didampingi mahasiswa Undip saat melakukan riset seperti mengunjungi sekolah-sekolah di Jateng, mulai jenjang sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah atas (SMA).

"Mereka (mahasiswa Jepang,) nantinya juga akan mengikuti kuliah singkat di Undip dan mempelajari unit kegiatan mahasiswa (UKM), terutama yang berkaitan dengan kebudayaan dan kesenian tradisional," katanya.(*)

Sumber : http://www.antaranews.com

Rumah Singkawang Dianggarkan Rp700 Juta

SINGKAWANG, --Pembangunan Rumah Adat Melayu di Jalan Alinyang, Singkawang Barat, hingga saat ini masih terbengkalai meski telah dianggarkan sebesar Rp700 juta.

"DPRD Singkawang telah memasukkan biaya tersebut dalam APBD 2010," kata Anggota DPRD Kota Singkawang, Sumian, Minggu.

Dia berharap dana itu dapat melanjutkan kembali pembangunan Rumah Adat Melayu tersebut.

Ia menjelaskan, tahun 2007 proyek pembangunan Rumah Adat Melayu itu mendapatkan anggaran sekitar Rp500 juta.

Namun dana tersebut tidak mencukupi karena saat dilakukan pembangunan harga bahan bangunan sudah melambung tinggi akibat krisis ekonomi.

Ia menambahkan, semua elemen masyarakat sangat mendukung pembangunan Rumah Adat Melayu di Kota Singkawang.

Dia berharap adanya tambahan dana dari APBD Singkawang sehingga pembangunan Rumah Adat Melayu itu dapat terus berjalan.

Menurut Anggota Komisi A DPRD Kota Singkawang itu, pemkot setempat sudah mendukung sepenuhnya terhadap pembangunan Rumah Adat Melayu karena semakin menambah kekayaan aset budaya di kota tersebut.

Sumian berharap dana tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bangunan yang diperlukan. "Memang dana tersebut masih kurang untuk mewujudkan pembangunan Rumah Adat Melayu. Tetapi secara bertahap untuk tahun-tahun mendatang, diupayakan untuk dianggarkan kembali sesuai kemampuan keuangan daerah," katanya.

Dia menyadari semua pihak menginginkan agar pembangunannya dapat segera terwujud.

Pembangunan Rumah Adat Melayu di Kota Singkawang yang dimulai sejak Januari 2009 untuk sementara terhenti karena ketiadaan dana.

Ketua Pelaksana Pembangunan Rumah Melayu Kota Singkawang, Elmin, mengatakan dana bantuan dari Pemkot Singkawang yang diterima panitia pembangunan pada tahun 2007 yang lalu sebesar Rp500 juta.

Pada awalnya dana pembangunan itu untuk membangun pondasi dan pendirian tiang. Pembangunan baru dilakukan pada tahun 2009 dan harga barang bangunan naik. "Bantuan itu hanya bisa membangun pondasi," kata Elmin.

Sumber : http://oase.kompas.com

Unta Raksasa Incar Juara

BANJARMASIN - CUACA panas di Senin (30/8/2010) siang, tak mengurangi semangat lima personel Pangkalan Udara (Lanud) Syamsudin Noor mengerjakan pembuatan kerangka tanglong di halaman Masjid Nurul Iman, Banjarbaru.

Kerangka berbentuk masjid tersebut selanjutnya dihias dan kemudian diikutkan pada Festival Tanglong dan Bagarakan Sahur, Sabtu malam 4 September mendatang di Lapangan Murdjani Banjarbaru.

"Kami siap mengirimkan tim tanglong dan bagarakan sahur. Kami optimistis meraih salah satu gelar juara," kata Lettu Sus Sundoko mewakili Komandan Pangkalan TNI AU Syamsudin Noor, Letkol Pnb Singgih Hadi.

Demi memenuhi ambisi itu, tim lanud telah menyiapkan tema muslim dalam melestarikan budaya Banjar.

Tak hanya mengandalkan tim tanglong, regu bagarakan sahur pun disiapkan secara serius.

"Kami sudah siapkan beragam alat musik, perpaduan dari tradisional dan modern juga perkakas, seperti galon air, aneka alat musik kentongan, angklung, dan alat musik bambu lainnya. Pokoknya bakal ramai," katanya.

Sementara itu, pantauan Metro di tempat lain, persiapkan juga sedang dilakukan tim tanglong peraih gelar terbaik pertama pada 2009, Langgar At-Taqwa Kompleks Beringin Simpang Empat Banjarbaru.

Kendaraan hias didesain bermandikan cahaya. Suasana padang pasir begitu kental lewat sebuah boneka unta raksasa. Yang menarik unta tersebut bisa bergerak-gerak.

"Unta itu nantinya bisa beraksi seperti makan sesuatu, lalu ada boneka penunggangnya yang bisa naik sendiri. Unta tersebut terkesan berjalan di atas mobil hias," ujar Irianto, kreator kendaraan hias tim Langgar At-Taqwa Kompleks Beringin.(kur)

Sumber : http://www.banjarmasinpost.co.id

Turis Jepang Minati Barong dan Rangda

GIANYAR, KOMPAS.com - Hiasan kerajinan tangan jenis barong dan rangda yang dipercayai oleh umat Hindu di Bali sebagai simbol kebaikan dan kejahatan banyak diminati oleh wisatawan Jepang.

I Made Sukawana, salah satu perajin barong di Banjar Mawang, Delodtunduh, Ubud, Kabupaten Gianyar, Selasa (31/8/2010) menjelaskan, setiap bulan pihaknya bisa menjual empat sampai enam kerajinan tangan jenis barong dan rangda.

"Umumnya wisatawan Jepang datang langsung ke rumah atau toko kami untuk membeli kerajinan tangan khas Bali itu," ucapnya.

Ia menjelaskan, untuk ukuran barong mini yang dibuat dari kulit sapi bulu prasok (jenis tumbuhan) lengkap dengan tapel (topeng) dijual dengan harga Rp 600.000.

"Satu barong mini dengan panjang 55 cm sangat diminati wisatawan karena mudah dibawa sebagai cinderamata dari Pulau Bali," ujarnya.

Sedangkan kerajinan untuk jenis rangda, kata Sukawana, dijual dengan harga Rp 2 juta sampai Rp 3 juta lebih mahal dari barong ukuran mini.

"Mahalnya harga kerajinan rangda, karena mempergunakan rambut bulu kuda serta topengnya terbuat khusus dari kayu pule," katanya.

Selain itu, proses pembuatannya juga membutuhkan waktu sampai dua minggu lebih. Kalau kerajinan tangan topeng rangda dengan ukuran rambut sampai 100 cm membutuhkan waktu dua minggu untuk membuatnya.

Saat ini, kata Suwana, dari 35 karyawan yang dimilikinya, pihaknya mampu memproduksi setiap harinya 10 kerajinan tangan jenis barong mini, sedangkan untuk rangda tergantung pemesanan.

"Karena kerajinan tangan jenis rangda lebih mahal harganya kami hanya membuat sesuai dengan pesanan," ujarnya.

Sumber : http://travel.kompas.com

Dubes Jepang: Pesantren Aset Besar Budaya Indonesia

BOGOR-: Duta Besar Jepang untuk Indonesia Kojiro Shiojiri menilai pesantren merupakan aset besar yang membuat kebudayaan Indonesia semakin kaya dan beragam.

Dalam siaran pers Kedubes Jepang, Kamis (2/9), Kojiro Shiojiri mengemukakan pihaknya mengagumi dan mengapresiasi keberadaan pesantren sebagai simbol kebudayaan Islam khas Nusantara.

"Pesantren membuat budaya Indonesia semakin kaya dan beragam," kata Kojiro Shiojiri.

Dalam bingkai budaya Nusantara, pesantren merupakan fenomena yang sangat unik. Dalam bahasa Abdurrahman Wahid, pesantren merupakan subkultur dari kultur Indonesia yang sangat heterogen.

Oleh karena itu, setelah mengikuti rangkaian perjalanan ke sejumlah pesantren dalam dua tahun terakhir, Dubes Kojiro Shiojiri mengakui keberadaan pesantren sebagai faktor penting dalam kebudayaan Indonesia.

"Kami memiliki program prioritas membina hubungan dengan komunitas pesantren, karena itu selain melakukan kunjungan, kami juga melakukan berbagai program kemitraan dengan kalangan pesantren," paparnya.

Setelah sekian lama melakukan pengamatan terhadap eksistensi pesantren, pihaknya dapat memahami ternyata budaya Indonesia sangat beragam, luas, dan dalam.

"Kami ingin belajar dari keragaman budaya Indonesia yang sangat luas dan dalam," terangnya.

Komitmen kuat Kojiro Shiojiri dalam mempelajari budaya Indonesia, terutama budaya pesantren, membuat keberadaannya sangat diterima kalangan pesantren.

Program tahunan yang digagas Kedubes Jepang berupa pemberangkatan kiai pesantren ke Jepang semakin memperkuat kemitraannya dengan kalangan pesantren.

Menurut dia, hal tersebut diharapkan menjadi salah satu faktor penting yang dapat memperkuat hubungan kerja sama bilateral antara Indonesia dan Jepang ke depan.

"Indonesia dan Jepang merupakan dua negara sahabat yang saling melengkapi dan membutuhkan. Dengan hati, hubungan kerja sama kedua negara kita perkuat lagi untuk kepentingan bersama ke depan," tutur Kojiro Shiojiri.

Di Surabaya, Konsul Jepang Masaaki Takano menggelar buka bersama dengan kalangan pimpinan pesantren se-Jatim guna mempererat tali silaturahmi antara Konsulat Jepang dengan para ulama dari provinsi yang merupakan "basis" pesantren di Indonesia itu. (Ant/Ol-3)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

Wali Kota Tutup Festival Ramadan

BONTANG-Gelaran Festival Ramadan 1431 H yang diselenggarakan oleh Pemkot Bontang bersama Korps Garesi & LH Kota Bontang di Lapangan Parikesit atau eks arena MTQ Bontang berakhir Senin (30/8) malam. Festival yang berlangsung tiga malam berturut-turut itu mempertandingkan dua kategori perlombaan yakni, gerebek sahur dan kasidah modern.

Sebagai Juara I untuk kasidah modern adalah grup Family dari Kelurahan Tanjung Laut. Sementara Juara II diraih perwakilan Masjid Agung Al-Hijrah dan Juara III diraih Rhodatul Khasanah dari Kelurahan Loktuan. Untuk kategori gerebek sahur, Juara I diraih kelompok Al-Misbah dari Kelurahan Bontang Kuala, Juara II kelompok Mendadak Sahur, dan Juara III dimenangkan kelompok Nurul Iman.

Selain mendapatkan piala bergilir, pemenang juga mendapatkan piala tetap dan uang pembinaan. Untuk kelompok Juara I masing-masing kategori mendapatkan uang pembinaan Rp 5 juta, Juara II Rp 2 juta, dan Juara III Rp1.750.000.

Wali Kota Bontang Sofyan Hasdam dalam sambutannya sesaat sebelum menutup Festival Ramadan ini mengucapkan selamat kepada para pemenang dan memberi apresiasi yang tinggi kepada panitia pelaksana dan seluruh peserta lomba serta masyarakat yang terus hadir menyaksikan festival tersebut. “Upaya untuk mewujudkan salah satu motto kota yaitu agamis harus terus di tumbuhsuburkan.

Salahsatu kegiatan yang dapat membantu pencapaian motto tersebut melalui event-event seperti Festival Ramadan ini,” katanya seraya menambahkan festival ini selain sebagai ajang silaturrahmi antarsesama dan antarumat beragama juga menjadi sarana untuk syiar Islam.(hms9/kpnn)

Sumber : http://www.metrobalikpapan.co.id