Rabu, 25 November 2009

Film Dokumenter Pemberdayaan Suku Kubu Diluncurkan

Jambi - LSM Kelompok Peduli Suku Anak Dalam (Kopsad) akan meluncurkan dua film dokumenter berbentuk cakram (VCD) tentang pembinaan dan pemberdayaan Suku Anak Dalam (Suku Kubu) yang tinggal di kawasan hutan Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Kabupaten Sarolangun, Jambi.

"Film dokumenter yang pertama dibuat Kopsad ini masing-masing berjudul "Surat Cinta Dari Bukit Duabelas" dan "Jejak Islam di Belantara Bukit Duabelas", kata Direktur Eksekutif LSM Kopsad Budi Vrihaspati Jauhari di Jambi, Selasa.

Film tersebut menggambarkan kondisi hutan yang semakin rusak atau tak lagi rindang serta potret kehidupan SAD atau dikenal juga dengan orang rimba, baik yang tradisional maupun yang muslim dan sangat kontradiktif.

Menurut Budhi, dalam film tersebut Kopsad secara terbuka ingin memperlihatkan kondisi warga SAD tradisional yang memprihatinkan dan sering dijadikan ’objek’ dan ’diobjekan’ oleh pihak-pihak tertentu".

Klimaks dari film dokumenter ini diakhiri dengan masuknya tokoh SAD TNBD Tumenggung Tarib dan istrinya Putri Jilja Sanggul menjadi seorang pemeluk Islam (mualaf).

Tumenggung Tarib merupakah tokoh SAD yang menerima "Kehati Award" dan Kalpataru dari Presiden.

Apa yang dimunculkan dalam film ini bukan cerita fiksi tetapi kondisi objektif soal kehidupan Orang Rimba, dengan harapan dunia, termasuk beberapa pihak di Provinsi Jambi dan nasional akan lebih memperhatikan nasib suku terasing ini.

Bertindak sebagai produser eksekutif film ini Hendrianto S.Sos dengan asisten pengarah Melly Septiana S.Pd. Sementara Budhi bertindak sebagai pengarah acara.

Menurut rencana film dokumenter ini akan dikirimkan secara gratis kepada sejumlah duta besar dan perwakilan negara sahabat, Komisi HAM PBB perwakilan Indonesia, sejumlah menteri terkait dan pihak-pihak yang peduli dengan komunitas adat terpencil.

"Kita juga akan menyerahkan kepada Pemprov Jambi dan sejumlah pemerintah kabupaten di Jambi yang daerahnya memiliki warga Suku Anak Dalam, seperti Bungo, Sarolangun, Muarojambi dan Tebo.

Kopsad berharap, kedepan semua pihak saling bersinergi dalam membina SAD, karena sebagai warga negara mereka juga perlu dibina kehidupannya agar tidak termarjinalkan, tambah Budhi V Jauhari. (JY)

Sumber: http://oase.kompas.com