BENGKEL tari Gumilang Kaca Taman Budaya Kalsel, Rabu (25/11) pagi hingga siang terlihat berbeda. Bunyi musik kenong, babun, gendang dan gong terdengar nyaring mengiringi gerakan para penari.
Kali ini bukan penari biasa yang sedang menunjukkan talentanya itu. Para penari ini warga asli Dayak yang berasal dari Desa Warukin Kecamatan Tanta Kabupaten Tabalong.
Tampak, tujuh penari di bawah pimpinan Andreas Boje dari Suku Dayak Warukin, Sirajul Huda (penari gaek asal Banua) sedang membawakan tarian giring-giring. Tidak hanya menari sendiri, mereka mengajari mahasiswa yang secara khusus diundang ke sana untuk mengikuti pelatihan.
Malam sebelumnya, para penari ini sudah mentas di Aula Balairungsari Taman Budaya dan berdiskusi. Tidak hanya berbicara saat diskusi, ulasan tari giring-giring pun berlanjut dengan pelatihan (workshop) untuk para mahasiswa STKIP PGRI dan FKIP Unlam.
Tari giring-giring ini awalnya memang berada dalam satu rumpun yakni dibawakan warga Dayak, namun karena masing-masing daerah memiliki ciri khas juga maka, bukan tidak mungkin berbeda. Giringgiring sendiri dari Kalteng, di Kalsel disebut tari Gintung, smeentara Kaltim lebih nyaman menyebutnya Gantang.
Namun, tetap prinsipnya sama. Tarian yang lebih berkembang untuk menyambut tamu-tamu ini memiliki gerakan dasar yang sama.
(anita k wardhani)
Sumber : http://banjarmasinpost.co.id


