Rabu, 25 November 2009

Garuda Mulai Terbang ke Eropa Juni 2010

Jakarta-PT Garuda Indonesia akan membuka rute penerbangan ke Eropa mulai 1 Juni 2010. Rute pertama yang akan dibuka adalah Jakarta – Amsterdam.

Penerbangan rute tersebut dilakukan setiap hari. Garuda berangkat dari Jakarta (CGK) pukul 21.00 WIB (GA88), tiba di Dubai (DXB) pukul 02.09 LT. Berangkat kembali pukul 03.15 LT, dan tiba di Amsterdam (SPL) pukul 08.00 LT.

Keberangkatan dari Amsterdam (SPL) pukul 10.00 LT (GA88), tiba di Dubai (DXB) pukul 18.30 LT. Berangkat kembali pukul 10.45 LT, tiba di Jakarta (CGK) pukul 07.10 WIB.

Penerbangan ke Amsterdam tersebut akan dilayani oleh pesawat jenis A330-200 dengan satu persinggahan di Dubai, Uni Emirat Arab.

Pesawat A330-200 dapat mengangkut sebanyak 222 penumpang terdiri dari 36 penumpang di kelas bisnis dan 186 penumpang di kelas ekonomi.

Pesawat tersebut dapat menempuh jarak hingga 12.500 km. Penumpang di kelas bisnis dapat merebahkan tempat duduknya hingga 180 derajat. “Ini bagian dari strategi perseroan memenuhi tingginya kebutuhan wisata dan bisnis antarkedua negara”, ujar Juru Bicara Garuda Pudjobroto, di Jakarta, Selasa (13/10).

Penerbangan ke Eropa dapat dilakukan karena Uni Eropa telah membuka embargonya. Sayangnya untuk penerbangan ke Amerika Serikat (AS) masih terkendala karena otoritas penerbangan sipil AS (FAA) sejak 2007 memasukkan maskapai nasional di kategori II.

Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengatakan kategori II bagi dunia penerbangan Indonesia diterapkan karena FAA menilai banyak temuan yang masih harus diperbaiki.

“Kondisi ini mengakibatkan, jika pun ada penerbangan Indonesia ke Amerika, mereka belum mengizinkan mengangkut penumpang dari negara itu, tetapi hanya menurunkan saja”, katanya.
Dikatakannya, pemerintah Indonesia mulai tahun depan meminta Amerika Serikat untuk melakukan audit langsung ke Indonesia.

PENDAPATAN GMF
PT Garuda Maintenance Facility (GMF) memperkirakan pendapatan usahanya tahun ini yang ditargetkan sebesar 195 juta dollar AS hanya tercapai 165 juta dollar AS atau kurang 15 persen.

Direktur Utama DMF Richard Budihardiyanto menjelaskan tidak terealisasinya target perseroan karena jumlah maskapai yang dirawat mengalami penurunan akibat krisis ekonomi global.

“Maskapai banyak yang memilih meng-grounded pesawatnya daripada mengoperasikannya”, ujarnya.

Namun, katanya, meski pendapatan tak mencapai target, keuntungan bersih tetap akan tercapai. Pada 2008, keuntungannya mencapai 67 miliar rupiah, tahun ini diperkirakan bisa mencapai 90 miliar rupiah.

“Hingga September, keuntungan bersih telah mencapai 60 miliar rupiah. Kita terus melakukan efisiensi dan mudah-mudahan target akan tercapai”, tuturnya.

Richard menambahkan, GMF dalam dua tahun mendatang akan membangun satu hanggar lagi senilai 50 juta dollar AS. Hanggar yang memiliki fasilitas maintenance repair and overhaul (MRO) itu akan diperuntukkan bagi pesawat jenis Airbus. FAA sudah mengakui kemampuan GMF merepasi Airbus. (KJ/c)

Sumber: http://hariansib.com