EMPAT gadis cilik terlihat gemulai bergerak diiringi musik tak kalah lembutnya. Tangan dan kaki mereka bergerak selaras seolah menggambarkan satu aktivitas.
Sesekali mereka duduk bersimpuh, setengah membungkuk kemudian berdiri lagi. Tidak lama mereka berputar. Tampak sepadan dengan baju bodo yang mereka kenakan itu.
Ya, kalau dilihat dari bajunya para penari ini sedang membawakan tarian khas Sulawesi Selatan. Empat gadis cilik itu memang sedang menarikan tarian khas dari daerah angin mamiri ini berjudul Patthennung.
Tari ini menggambarkan kelihaian keterampilan perempuan Bugis menenun kain sutera. Kain yang ditenun asli dari alat tradisional bukan mesin itu memang sudah sangat tersohor.
Saking terkenalnya, kerajinan ini menjadi bagian yang terpisahkan dari kehidupan perempuan Sulawesi Selatan. Mereka ini sejak remaja, seperti dikatakan Iskandar Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) di Kalsel, sudah sangat terbiasa memilin benang, menjadikan satu hingga berbentuk kain.
Kain yang sudah menjadi home industry bagi masyarakat Wajo dan Bone ini pun sudah go nasional. Ya, ibaratkan batik atau kain sasirangan yang bermula dari usaha rumahan masyarakat.
Karena itu pula, ramai dan gembiranya perempuan Bugis menenun kain diwujudkan dalam satu tarian. Tari patthenung ini artinya menenun sehingga gerakannya pun mirip orang yang sedang memproduksi kain tenunan.
Tarian ini tidak spesifik untuk dibawakan pada acara-acara tertentu. Sebab menggambarkan bagaimana perempuan asal Sulsel menenun kain sutera yang dijadikan sarung atau baju, maka dimana pun bisa dibawakan.
"Ini murni hiburan khas yang menggambarkan kearifan tradisional masyarakat Sulsel," jelas Iskandar.
Tarian ini pula yang dibawakan saat acara halalbihalal KKSS di Gedung Sultan Suriansyah, awal Oktober tadi. Tak sedikit warga Sulsel seolah terbawa dalam suasana kampung halaman.
Sudah diduga, penari yang khusus dibawa dari daerah asalnya itu pun mendapatkan sambutan luar biasa. Tepuk tangan meriah tak berhenti mengiringi gerak lembut dan lincahnya para penari.
Menurut Iskandar, pihaknya masih memegang teguh seni budaya ini meski berada di perantauan. Buktinya, tak sedikit diantara mereka yang melatih anak-anak dan generasi penerus orang Sulsel di banua Kalsel untuk bisa menguasai sejumlah tarian khas daerah asal nenek moyangnya.
Maka, saat perhelatan akbar seperti halalbihalal yang rutin digelar tahunan itulah mereka akan tampil. Mengobati kerinduan akan kampung halaman di saat ada di daerah orang.
Ucapan Selamat Datang
SEJATINYA, tidak hanya Patthennung saja yang dibawakan saat acara itu, kata Iskandar. Masih ada tarian lain yang akan ditampilkan dari Sulsel yakni tari paddhuppa.
Tarian ini merupakan tari persembahan untuk menyambut tamu. Ucapan selamat datang, sama halnya dengan tarian baksa kambang dari Kalsel.
Gadis-gadis Bugis digambarkan memberikan sambutan yang ramah akan tamu-tamu yang datang. Nah, saat itu karena semangatnya peleburan, maka jadilah tamu-tamu halalbihalal disambut dengan tarian baksa kambang saja yang merupakan tarian asli banjar.
Sumber : http://banjarmasinpost.co.id

