Selasa, 01 Desember 2009

10 Teater Terpilih Tampil pada Invitasi Teater FTI 2009

Jakarta - Selama hampir tiga dekade belakangan, mesti diakui dengan jujur, belum ada pencapaian artistik yang signifikan dalam perkembangan seni teater di Indonesia. Bukan saja standar teater masih mengacu pada nama-nama lama seperti Rendra, Teguh Karya, Arifin C Noer atau Putu Wijaya, teater juga belum berhasil memposisikan dirinya sebagai bagian tak terpisah dari masyarakat. Teater Indonesia masih terasa asing bahkan mengasingkan publik, begitupun sebaliknya.

Hal itu terjadi antara lain karena minimnya prasarana gedung maupun dukungan finansial bagi terselenggaranya sebuah pertunjukan. Di samping itu juga tiadanya ajang-ajang kualitatif yang dapat menjadi standar atau barometer bagi tingkat perkembangan teater modern Indonesia, baik di tingkat lokal maupun nasional. Lebih dari itu, sangat minimnya media-media pelatihan, bimbingan, referensi, dan hal-hal yang berkaitan dengan teknik dan estetika dasar perteateran.

Untuk mengatasi hal itu, Federasi Teater Indonesia (FTI) akan menyelenggarakan sebuah ajang baru untuk mencari dan menjaring karya-karya teater mutakhir terbaik, yang diharapkan bisa menjadi tolok ukur atau salah satu standar perkembangan teater di negeri ini. Ajang yang bernama Invitasi Teater (Inter) FTI 2009 ini merupakan pentas prestasi kualitatif dari grup-grup teater terbaik di semua wilayah.

Menurut penggiat teater Irmansyah, Senin (30/11) di Jakarta, beberapa hal baru muncul dalam ajang ini, seperti sistem kurasi yang dilakukan oleh teaterawan senior berdasarkan grup- grup yang ada di 10 wilayah seputar Jabodetabek.

Dari hasil kurasi ketat dengan standar yang ditetapkan Dewan Kurator FTI, Nano Riantiarno, Adi Kurdi dan Aspar Paturusi, akhirnya dipilih 10 grup teater yang mewakili 10 wilayah, masing-masing: Teater Mode (Jakarta Timur), Teater Amoeba (Jakarta Barat), Teater Ema (Jakarta Utara), Teater Indonesia (Jakarta Pusat), Teater Ciliwung (Jakarta Selatan), Teater UKM UI (Depok), Teater Getapri (Bogor), Teater Elnama (Tangsel), Teater Sanggar Matahari (Bekasi), dan Teater Studio Indonesia (Banten).

Ke-10 grup teater terpilih ini akan mendapatkan pendampingan, bimbingan, dan pewarisan ilmu secara langsung dan cukup intensif oleh ketiga Dewan Kurator di atas, sebelum hari pementasannya yang akan diselenggarakan pada tanggal 1-5 Desember 2009 di Auditorium Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan. Dalam pelaksanaan acara Inter-FTI 2009, seluruh pementasan akan dinilai oleh sebuah Dewan Penjurian yang beranggotakan 40 orang anggota masyarakat terpilih, yang berasal dari kalangan/lingkungan/disiplin yang berbeda.

Dari penilaian Dewan Penjurian dan proses penghitungan yang independen itulah akan dipilih beberapa teaterawan terbaik Jabodetabek 2009, untuk beberapa kategori, seperti: Grup Terbaik, Sutradara Terbaik, Penata Artistik Terbaik, Penata Musik Terbaik, Aktor Terbaik dan Artistik Terbaik. Kelima teaterawan terbaik ini akan memperoleh hadiah berupa uang, plakat, piagam dan lain-lain yang penyerahannya akan dipadukan dengan penyerahan FTI Award 2009, tepat pada hari ulang tahun FTI ke-5, 27 Desember 2009, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Jadwal Pertunjukan

Selasa 1 Des 2009, pukul 14.00-17.00: UKM Teater UI pentaskan Limbuk Jaluk Married.
Pukul 19.30-21.30: Teater Getapri, pentaskan Rekaman Terakhir Krapp.
Rabu 2 Des 2009, pukul 14.00-17.00: Teater EMA pentaskan Bila Malam Bertambah Malam Setiap Malamnya.
Pukul 19.30-21.30: Teater Ciliwung pentaskan Selamat Jalan Anak Kufur.
Kamis 3 Des 2009, pukul 14.00-17.00: Teater Mode pentaskan Bianglala.
Pukul 19.30-21.30: Teater El-Nama pentaskan Rashomon.
Jumat 4 Des 2009, pukul 14.00-17.00: Teater Amoeba pentaskan Sssst... .!!!
Pukul 19.30-21.30: Teater Studio Indonesia pentaskan Bicaralah Tanah.
Sabtu, 5 Des 2009, pukul 14.00-17.00: Sanggar Matahari pentaskan Kebinasaan.
pukul 19.30-21.30: Teater Indonesia pentaskan RT nol RW nol. (NAL)