Untuk kesenian lain seperti pantun dan teater memang ditampilkan di Tanjungpinang. Namun sifatnya hanya berupa even berkala dan berbentuk perlombaan saja. ‘’Tidak ada agenda tetap seperti kesenian. Hal inilah yang menimbulkan pertanyaan kami kepada dinas pariwisata dan kebudayaan Tanjungpinang,’’ tegasnya.
Jika hal ini terus dilakukan, sambung Lawen, maka dikhawatirkan adanya jurang pemisah yang cukup besar antara satu kesenian dengan kesenian lain. Padahal, Tanjungpinang seharusnya memiliki ajang kesenian yang lebih beragam lagi ke depannya.
Untuk itu, ia meminta kepada Disbudpar Tanjungpinang dalam menyusun setiap programnya memperhatikan masukan dari seniman-seniman yang ada. ‘’Idealnya program kerjanya melibatkan seluruh seniman. Saya kira kepala dinasnya harus lebih peka lagi,’’ sindirnya.
Lebih lanjut, Lawen juga menilai beberapa acara kesenian yang ada saat ini seperti pentas seni yang diselenggarakan setiap akhir pekan di Ocean Corner gagal total. Padahal, sambungnya dana-dana yang dikucurkan untuk menjalankan program tersebut tidak sedikit.
‘’Kalau mau jujur, setiap acara tersebut dilangsungkan nyaris sepi dan tidak ada penontonnya. Padahal mereka berencana mendatangkan turis. Sekarang turis mana yang dimaksud mereka,’’ ketusnya.
Untuk itu, seniman yang berjuluk Batu Api ini meminta kepada Wali Kota Tanjungpinang untuk lebih memperhatikan kesenian Tanjungpinang. ‘’Sebagai Wali Kota yang memilik darah seni, saya rasa Wali Kota dapat luas lagi berpikir memajukan kesenian kota Tanjungpinang ini,’’ harapnya.
Sumber: http://tribunbatam.co.id


