1. STATUS
Kawasan Morowali ditunjuk sebagai kawasan cagar alam, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 133/Kpts/Um/3/1980 tanggal 3 Maret 1980 Dengan luas 209.400 ha.
2. FISIK
Luas
Luas cagar alam ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 237/Kpts-II/1999 tanggal 24 Nopember 1986 adalah 225.000 ha. Dengan keliling total sepanjang 265,84 km yang terdiri dari batas alam 36,36 km, batas buatan 229,48 km, dan jumlah pal batas sebanyak 3.197 buah.
Batas Kawasan
Adapun batas-batas cagar alam dengan kawasan sekitarnya adalah sebagai berikut :
Sebelah Barat : HPH. Tri Tunggal nEboni dan HPH. Wahana Sari Sakti
Sebelah Timur : Ds. Ula Bangka dan Ds. Baturabe
Sebelah Utara : Ds. Tolo, dan
Sebelah Selatan : Teluk Tolo
Sebagai tindak lanjut untuk menguatkan status hukum kawasan cagar alam tersebut, telah dilakukan:
pelaksanaan penataan batas kawasan di lapangan dan hasilnya: Berita Acara Penataan Batas Hutan Cagar Alam Morowali tanggal 31 Agustus 1985, tanggal 28 Januari 1986, dan tanggal 29 Januari 1986 dengan luas terhitung 225.000 ha. berdasarkan pada Berita Acara tersebut, maka kawasan Cagar alam Morowali dikukuhkan luasnya menjadi 225.000 ha. Melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 374/Kpts-VII/1986 tanggal 24 Nopember 1986.
Keadaan Fisik Kawasan
Kondisi fisik umum kawasan Cagar Alam Morowali adalah sebagai berikut :
Letak, luas dan batas Cagar Alam Morowali berdasarkan letak administrasi pemerintah berada pada 2 (dua) wilayah kecamatan , Kabupaten Dati II Poso, Propinsi Dati I Sulawesi Tengah.
Geografis
Sacara astronomis/geografis kawasan acara alam ini berada pada koordinat 1° 20' - 1° 35' Lintang Selatan dan 121° 15' 30" - 121° 38' 0" Bujur Timur.
Topografi
Kawasan Cagar Alam Morowali memiliki bentuk topografi datar (sepanjang pantai bagian Selatan dan sebagian pantai bagian Barat) sampai dengan bergunung-gunung ke arah bagian Utara dengan puncak tertinggi ± 2.835 meter dari permukaan laut.
Tanah dan Geologi
Berdasarkan Peta Tanah Bagian Indonesia skala 1 : 2.500.000 (LPT Bogor, 1968) kawasan cagar alam Morowali termasuk dalam 2 kelompok besar, yaitu :
Tanah alluvial dengan bentuk datar sampai berombak dan berfisiografi dataran yang meliputi pantai Selatan dan dataran Morowali ; Tanah kompleks dengan bentuk wilayah berbukit-bukit sampai bergunung- gunung dengan fisiografis berupa pegunungan kompleks ; Berdasarkan Peta Geologi Indonesia skala 1 : 2.000.000 dari Direktorat Geologi Bandung, 1964 sebagai bahan induk penyusun tanah cagar alam Morowali terdiri dari batuan sedimen alluvium, undak, dan kerumbu koral, serta batuan pluton (bahan batuan basa dan batuan ultra basa).
Iklim
Berdasarkan data yang dihimpun dari stasiun pengamatan curah hujan di Kecamatan Bungku Utara (Kecamatan Bungku Utara Dalam Angka, 1993) menurut metode Schmidt dan Ferguson, maka kawasan cagar alam Morowali termasuk dalam tipe iklim A dengan nilai Q sebesar 9,97 %. Dengan jumlah curah hujan tahunan tercatat sebesar 3.846 mm dan jumlah hari hujan rata-rata tahunan 87 hari. Angin musim Barat biasanya bertiup mulai dari bulan Desember sampai dengan Maret, sedangkan angin musim Timur bertiup mulai bulan Juli sampai dengan September.Masa/musim peralihan terjadi antara bulan April sampai Juni dan bulan Oktober sampai dengan Nopember.
Hidrologi
Kawasan Cagar Alam Morowali di sebelah Utara (bagian atas) merupakan daerah hulu dari beberapa anak sungai yang mengalir ke bawah (sebelah Barat dan Selatan) saling menyatu dalam 5 (lima) buah sungai penting, yaitu Sungai Sumara, Sungai Morowali, Sungai Tiworo, Sungai Salato, dan Sungai Ula.
Sungai-sungai tersebut mempunyai peranan penting dalam menunjang kelangsungan hidup bagi kehidupan satwa liar dan masyarakat di dalam dan sekitar cagar alam. Disamping itu juga terdapat 2 (dua) buah danau yang cukup besar di dataran rendah Morowali, yaitu Danau (Rano) Amba dan Danau Kodi. Kedua danau ini mengalir ke arah bawah dan bermuara di perairan laut Teluk Towori.
3. BIOLOGI
Potensi
Ekosistem
Beberapa tipe ekosistem yang terdapat di kawasan ini, yaitu :
Hutan mangrove/ bakau; Tersebar di sepanjang pantai selatan yang berlumpur dari muara Sungai Salato dengan lebar garis pantai kurang lebih 1 km. Hutan rawa; Tersebar di sekitar Danau Ranu Besar dan Blok Hutan Ranu dan sepanjang Sungai Morowali. Hutan alluvial dataran rendah; Daerah ini berada di bagian dataran rendah Morowali dan pada musim hujan kadang-kadang terendam air. Hutan perbukitan dan pegunungan; Kawasan ini berada di bagian Tengah dan Utara kawasan cagar alam dan kondisinya hampir 70 % dinilai masih utuh. Hutan lumut (Sub alpin); Tipe hutan ini memiliki ketinggian di atas 1.600 meter dari permukaan laut ditandai dengan tumbuhan lumut yang menutup/ membalut tegakan yang ada terutama dari jenis Vaccinium sp. Hutan Sekunder; Daerah ini relatif sangat sempit dan merupakan lahan bekas perladangan yang sudah ditinggalkan . Jenis tumbuhannya terutama berupa rumput alang-alang dan lokasi berada di sekitar Sungai Morowali (perjalanan antara Morowali dan Kayu Poly).
Flora
Keanekaragaman tipe ekosistem hutan yang ada di kawasan cagar alam merupakan kekayaan alam khas dengan dicirikan berupa berbagai kekayaan jenis flora yang tumbuh secara alami/asli pada tipe ekosistem yang bersangkutan. Hutan mangrove dicirikan oleh; bakau (Rhizophora mucronata, R. apiculata, dan R. alba), Bruguiera sp, Lumitzera sp, Ceriops sp, coropa sp, dan beberapa jenis lain seperti paku gajah (Acrostichum sp), pandan (Pandanus sp), beringin (Ficus sp), dan Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). Hutan Rawa; Palqium sp, Ponteria sp, Manilkara sp, Mimusop sp, Calophyllum soulatri, Panirani corymbosa, Haplolobus celebicus, Pinang (Pinanga sp), dan Rotan (Calamus sp). Hutan alluvial dataran rendah : Pandan (Pandanus sp), Alstoria scholaris, Callophyllum soulatri, Gonystylus macrophyllus, Palaqium sp, dan Bambu (Bambussa sp). Hutan perbukitan dan pegunungan; Ponteria firma. Litsea sp, Mimusops elengi, Manilkara sp, Kjellbergirdendron celebicum, Haplolobus celebicus, Tonna sureni, Pometia pinnata, Terminalia sp, Agathis philippinensis, Podocarpus neriifolius, Alstonia scholaris, Dracontomeles mangiferum dan Parinari corymbosa. Hutan lumut ; Dicirikan dengan jenis flora yang pertumbuhannya kerdil dan batang berukuran kecil sampai sedang, seperti Lithecarpus sp, Pasang (Quercus sp), Trestania sp, dan Pandanus sp. Pada pohon-pohon tersebut batang, cabang dan rantingnya ditutupi lumut yang tebal.
Fauna
Berbagai jenis fauna yang hidup disini cukup bervariasi sebagai perwakilan di ekosistem hutan dataran rendah sampai pegunungan di Sulawesi, mulai dari kelas mammalia, reptilia, burung sampai kelas serangga. Beberapa mammalia endemik yang terdapat disini, yaitu: Babirusa (Babyrousa babirussa), Anoa (Bubalus quarlesi), Kera hitam Sulawesi (Macaca tonkeana), Musang coklat Sulawesi (Macrogalidia musschebroeki), Kuskus (Phalanger celebensis dan P. ursinus) yang perlu dipertahankan kelestariannya. Mammalia jenis lainnya, seperti: rusa (Cervus timorensis), musang (dan Bambu (Bambussa sp). Musang (Vivera tangalanga), babi hutan (Sus sp), Tikus (Rattus sp) dan beberapa jenis dari keluarga kelelawar dan kalong. Berdasarkan laporan survey Operation Drake tahun 1980 di kawasan ini terdapat 225 jenis burung, dari sejumlah jenis tersebut 52 diantaranya merupakan jenis endemik dan 3 jenis berdasarkan ICBP sudah termasuk kategori terancam, yaitu jenis Accipiter nanus, Macrocephalon maleo, dan Scolopax celebensis. Berdasarkan habitatnya, burung-burung tersebut dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu : Jenis burung air/laut : elang laut (Heliaeetus leucogaster), itik pohon (Dendrocygna sp), itik liar (Anas gibberfrons), pecuk ular (Anhinga melanogaster), cangak merah (Ardea pupurea), dan lain-lain. Jenis burung darat; burung butbut (Centropus celebensis), raja udang (Pelargopsis melanorhyncha), rangkong badak (Buceros rhinoceros), rangkong sulawesi (Rhyticus cassidic), yove (Ducula forsteni), buta (Ducula luctuosa), Ptilinopus sp, burung hantu (tyto rosenbergii, Nynox sp), Jiokaka (Malia grata), katio (Trichastoma celebensis), keli (prionturus platurus), vae (Trichoglossus ornatus), sipili (T. flavoviridis), pinski (Loriculus stignatus), maleo (Macrocephalon maleo), burung gosong (Megapodius freycinet). Reptil yang sering dijumpai di kawasan ini, yaitu soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), biawak (Varanus celebensis), ular phyton (Phyton sp), Natryx sp, Psamoradinaster sp, dan Tromersurus wagleri).
4. WIASATA
Potensi Wisata
Beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi, antara lain:
2 (dua) buah air terjun yang letaknya disebelah utara Danau Amba dan di hulu Sungai Salato.
1 (satu) buah sumber api di daerah hulu Sungai Morowali.
3 (tiga) buah batu tilam yang terletak di hulu Sungai Salato, Kayu Poly dan perjalanan antara Posangke _ Uewaju.
1 (satu) buah gua kapur/karst yang berada dekat Desa Torongo.
Aksesibilitas
Untuk dapat mencapai kawasan Cagar Alam Morowali dapat ditempuh melalui beberapa jalur, yaitu :
Berangkat dari Palu - Poso menggunakan pesawat udara perintis ± 30 menit. Dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan kendaraan darat dari Poso - Kolonodale ditempuh selama 5 - 6 jam perjalanan. Dari Kolonodale ke kawasan cagar alam (Desa Morowali) dapat dipergunakan speed - boat dengan charter selama ± 30 menit. Berangkat dari Palu - Luwuk menggunakan pesawat udara perintis selama ± 60 menit. Dari Luwuk langsung ke kawasan cagar alam menggunakan speed boat lewat laut selama ± 4 jam perjalanan. Berangkat dari Palu - Poso - Tentena menggunakan pesawat udara perintis selama ± 1 jam. Dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan darat ke Kolonodale selama ± 2 - 3 jam. Kemudian untuk mencapai kawasan cagar alam dapat dipakai speed boat dari Kolonodale selama ± 30 menit. Berangkat dari Palu - Poso - Tentena - Kolonodale dengan kendaraan darat dapat ditempuh selama 10 - 12 jam perjalanan. Dari Kolonodale ke kawasan cagar alam dapat ditempuh dengan speed boat atau perahu motor.
5. PENGELOLA
Balai KSDA Sulawesi Tengah
Jln. Prof M yamin N0 19
Palu 94121
Tlp. 0451-481106
Sumber: http://74.125.153.132
Kawasan Morowali ditunjuk sebagai kawasan cagar alam, melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 133/Kpts/Um/3/1980 tanggal 3 Maret 1980 Dengan luas 209.400 ha.
2. FISIK
Luas
Luas cagar alam ini berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 237/Kpts-II/1999 tanggal 24 Nopember 1986 adalah 225.000 ha. Dengan keliling total sepanjang 265,84 km yang terdiri dari batas alam 36,36 km, batas buatan 229,48 km, dan jumlah pal batas sebanyak 3.197 buah.
Batas Kawasan
Adapun batas-batas cagar alam dengan kawasan sekitarnya adalah sebagai berikut :
Sebelah Barat : HPH. Tri Tunggal nEboni dan HPH. Wahana Sari Sakti
Sebelah Timur : Ds. Ula Bangka dan Ds. Baturabe
Sebelah Utara : Ds. Tolo, dan
Sebelah Selatan : Teluk Tolo
Sebagai tindak lanjut untuk menguatkan status hukum kawasan cagar alam tersebut, telah dilakukan:
pelaksanaan penataan batas kawasan di lapangan dan hasilnya: Berita Acara Penataan Batas Hutan Cagar Alam Morowali tanggal 31 Agustus 1985, tanggal 28 Januari 1986, dan tanggal 29 Januari 1986 dengan luas terhitung 225.000 ha. berdasarkan pada Berita Acara tersebut, maka kawasan Cagar alam Morowali dikukuhkan luasnya menjadi 225.000 ha. Melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 374/Kpts-VII/1986 tanggal 24 Nopember 1986.
Keadaan Fisik Kawasan
Kondisi fisik umum kawasan Cagar Alam Morowali adalah sebagai berikut :
Letak, luas dan batas Cagar Alam Morowali berdasarkan letak administrasi pemerintah berada pada 2 (dua) wilayah kecamatan , Kabupaten Dati II Poso, Propinsi Dati I Sulawesi Tengah.
Geografis
Sacara astronomis/geografis kawasan acara alam ini berada pada koordinat 1° 20' - 1° 35' Lintang Selatan dan 121° 15' 30" - 121° 38' 0" Bujur Timur.
Topografi
Kawasan Cagar Alam Morowali memiliki bentuk topografi datar (sepanjang pantai bagian Selatan dan sebagian pantai bagian Barat) sampai dengan bergunung-gunung ke arah bagian Utara dengan puncak tertinggi ± 2.835 meter dari permukaan laut.
Tanah dan Geologi
Berdasarkan Peta Tanah Bagian Indonesia skala 1 : 2.500.000 (LPT Bogor, 1968) kawasan cagar alam Morowali termasuk dalam 2 kelompok besar, yaitu :
Tanah alluvial dengan bentuk datar sampai berombak dan berfisiografi dataran yang meliputi pantai Selatan dan dataran Morowali ; Tanah kompleks dengan bentuk wilayah berbukit-bukit sampai bergunung- gunung dengan fisiografis berupa pegunungan kompleks ; Berdasarkan Peta Geologi Indonesia skala 1 : 2.000.000 dari Direktorat Geologi Bandung, 1964 sebagai bahan induk penyusun tanah cagar alam Morowali terdiri dari batuan sedimen alluvium, undak, dan kerumbu koral, serta batuan pluton (bahan batuan basa dan batuan ultra basa).
Iklim
Berdasarkan data yang dihimpun dari stasiun pengamatan curah hujan di Kecamatan Bungku Utara (Kecamatan Bungku Utara Dalam Angka, 1993) menurut metode Schmidt dan Ferguson, maka kawasan cagar alam Morowali termasuk dalam tipe iklim A dengan nilai Q sebesar 9,97 %. Dengan jumlah curah hujan tahunan tercatat sebesar 3.846 mm dan jumlah hari hujan rata-rata tahunan 87 hari. Angin musim Barat biasanya bertiup mulai dari bulan Desember sampai dengan Maret, sedangkan angin musim Timur bertiup mulai bulan Juli sampai dengan September.Masa/musim peralihan terjadi antara bulan April sampai Juni dan bulan Oktober sampai dengan Nopember.
Hidrologi
Kawasan Cagar Alam Morowali di sebelah Utara (bagian atas) merupakan daerah hulu dari beberapa anak sungai yang mengalir ke bawah (sebelah Barat dan Selatan) saling menyatu dalam 5 (lima) buah sungai penting, yaitu Sungai Sumara, Sungai Morowali, Sungai Tiworo, Sungai Salato, dan Sungai Ula.
Sungai-sungai tersebut mempunyai peranan penting dalam menunjang kelangsungan hidup bagi kehidupan satwa liar dan masyarakat di dalam dan sekitar cagar alam. Disamping itu juga terdapat 2 (dua) buah danau yang cukup besar di dataran rendah Morowali, yaitu Danau (Rano) Amba dan Danau Kodi. Kedua danau ini mengalir ke arah bawah dan bermuara di perairan laut Teluk Towori.
3. BIOLOGI
Potensi
Ekosistem
Beberapa tipe ekosistem yang terdapat di kawasan ini, yaitu :
Hutan mangrove/ bakau; Tersebar di sepanjang pantai selatan yang berlumpur dari muara Sungai Salato dengan lebar garis pantai kurang lebih 1 km. Hutan rawa; Tersebar di sekitar Danau Ranu Besar dan Blok Hutan Ranu dan sepanjang Sungai Morowali. Hutan alluvial dataran rendah; Daerah ini berada di bagian dataran rendah Morowali dan pada musim hujan kadang-kadang terendam air. Hutan perbukitan dan pegunungan; Kawasan ini berada di bagian Tengah dan Utara kawasan cagar alam dan kondisinya hampir 70 % dinilai masih utuh. Hutan lumut (Sub alpin); Tipe hutan ini memiliki ketinggian di atas 1.600 meter dari permukaan laut ditandai dengan tumbuhan lumut yang menutup/ membalut tegakan yang ada terutama dari jenis Vaccinium sp. Hutan Sekunder; Daerah ini relatif sangat sempit dan merupakan lahan bekas perladangan yang sudah ditinggalkan . Jenis tumbuhannya terutama berupa rumput alang-alang dan lokasi berada di sekitar Sungai Morowali (perjalanan antara Morowali dan Kayu Poly).
Flora
Keanekaragaman tipe ekosistem hutan yang ada di kawasan cagar alam merupakan kekayaan alam khas dengan dicirikan berupa berbagai kekayaan jenis flora yang tumbuh secara alami/asli pada tipe ekosistem yang bersangkutan. Hutan mangrove dicirikan oleh; bakau (Rhizophora mucronata, R. apiculata, dan R. alba), Bruguiera sp, Lumitzera sp, Ceriops sp, coropa sp, dan beberapa jenis lain seperti paku gajah (Acrostichum sp), pandan (Pandanus sp), beringin (Ficus sp), dan Cemara Laut (Casuarina equisetifolia). Hutan Rawa; Palqium sp, Ponteria sp, Manilkara sp, Mimusop sp, Calophyllum soulatri, Panirani corymbosa, Haplolobus celebicus, Pinang (Pinanga sp), dan Rotan (Calamus sp). Hutan alluvial dataran rendah : Pandan (Pandanus sp), Alstoria scholaris, Callophyllum soulatri, Gonystylus macrophyllus, Palaqium sp, dan Bambu (Bambussa sp). Hutan perbukitan dan pegunungan; Ponteria firma. Litsea sp, Mimusops elengi, Manilkara sp, Kjellbergirdendron celebicum, Haplolobus celebicus, Tonna sureni, Pometia pinnata, Terminalia sp, Agathis philippinensis, Podocarpus neriifolius, Alstonia scholaris, Dracontomeles mangiferum dan Parinari corymbosa. Hutan lumut ; Dicirikan dengan jenis flora yang pertumbuhannya kerdil dan batang berukuran kecil sampai sedang, seperti Lithecarpus sp, Pasang (Quercus sp), Trestania sp, dan Pandanus sp. Pada pohon-pohon tersebut batang, cabang dan rantingnya ditutupi lumut yang tebal.
Fauna
Berbagai jenis fauna yang hidup disini cukup bervariasi sebagai perwakilan di ekosistem hutan dataran rendah sampai pegunungan di Sulawesi, mulai dari kelas mammalia, reptilia, burung sampai kelas serangga. Beberapa mammalia endemik yang terdapat disini, yaitu: Babirusa (Babyrousa babirussa), Anoa (Bubalus quarlesi), Kera hitam Sulawesi (Macaca tonkeana), Musang coklat Sulawesi (Macrogalidia musschebroeki), Kuskus (Phalanger celebensis dan P. ursinus) yang perlu dipertahankan kelestariannya. Mammalia jenis lainnya, seperti: rusa (Cervus timorensis), musang (dan Bambu (Bambussa sp). Musang (Vivera tangalanga), babi hutan (Sus sp), Tikus (Rattus sp) dan beberapa jenis dari keluarga kelelawar dan kalong. Berdasarkan laporan survey Operation Drake tahun 1980 di kawasan ini terdapat 225 jenis burung, dari sejumlah jenis tersebut 52 diantaranya merupakan jenis endemik dan 3 jenis berdasarkan ICBP sudah termasuk kategori terancam, yaitu jenis Accipiter nanus, Macrocephalon maleo, dan Scolopax celebensis. Berdasarkan habitatnya, burung-burung tersebut dibagi ke dalam 2 kelompok, yaitu : Jenis burung air/laut : elang laut (Heliaeetus leucogaster), itik pohon (Dendrocygna sp), itik liar (Anas gibberfrons), pecuk ular (Anhinga melanogaster), cangak merah (Ardea pupurea), dan lain-lain. Jenis burung darat; burung butbut (Centropus celebensis), raja udang (Pelargopsis melanorhyncha), rangkong badak (Buceros rhinoceros), rangkong sulawesi (Rhyticus cassidic), yove (Ducula forsteni), buta (Ducula luctuosa), Ptilinopus sp, burung hantu (tyto rosenbergii, Nynox sp), Jiokaka (Malia grata), katio (Trichastoma celebensis), keli (prionturus platurus), vae (Trichoglossus ornatus), sipili (T. flavoviridis), pinski (Loriculus stignatus), maleo (Macrocephalon maleo), burung gosong (Megapodius freycinet). Reptil yang sering dijumpai di kawasan ini, yaitu soa-soa (Hydrosaurus amboinensis), biawak (Varanus celebensis), ular phyton (Phyton sp), Natryx sp, Psamoradinaster sp, dan Tromersurus wagleri).
4. WIASATA
Potensi Wisata
Beberapa objek wisata yang dapat dikunjungi, antara lain:
2 (dua) buah air terjun yang letaknya disebelah utara Danau Amba dan di hulu Sungai Salato.
1 (satu) buah sumber api di daerah hulu Sungai Morowali.
3 (tiga) buah batu tilam yang terletak di hulu Sungai Salato, Kayu Poly dan perjalanan antara Posangke _ Uewaju.
1 (satu) buah gua kapur/karst yang berada dekat Desa Torongo.
Aksesibilitas
Untuk dapat mencapai kawasan Cagar Alam Morowali dapat ditempuh melalui beberapa jalur, yaitu :
Berangkat dari Palu - Poso menggunakan pesawat udara perintis ± 30 menit. Dilanjutkan dengan perjalanan menggunakan kendaraan darat dari Poso - Kolonodale ditempuh selama 5 - 6 jam perjalanan. Dari Kolonodale ke kawasan cagar alam (Desa Morowali) dapat dipergunakan speed - boat dengan charter selama ± 30 menit. Berangkat dari Palu - Luwuk menggunakan pesawat udara perintis selama ± 60 menit. Dari Luwuk langsung ke kawasan cagar alam menggunakan speed boat lewat laut selama ± 4 jam perjalanan. Berangkat dari Palu - Poso - Tentena menggunakan pesawat udara perintis selama ± 1 jam. Dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan darat ke Kolonodale selama ± 2 - 3 jam. Kemudian untuk mencapai kawasan cagar alam dapat dipakai speed boat dari Kolonodale selama ± 30 menit. Berangkat dari Palu - Poso - Tentena - Kolonodale dengan kendaraan darat dapat ditempuh selama 10 - 12 jam perjalanan. Dari Kolonodale ke kawasan cagar alam dapat ditempuh dengan speed boat atau perahu motor.
5. PENGELOLA
Balai KSDA Sulawesi Tengah
Jln. Prof M yamin N0 19
Palu 94121
Tlp. 0451-481106
Sumber: http://74.125.153.132


