Selasa, 26 Januari 2010

Pengabdian Tajam Untuk Anak Rimba Talang Mamak Riau

Krak..krakk, takk..., suara buah para yang berjatuhan tidak mengusik keasyikan puluhan anak-anak Talang Mamak belajar di bawah rimbunan pohon karet di tengah rimba pemukiman suku asli Riau itu.

Tempat belajar mereka amatlah sederhana tidak berdinding, berlantai tanah dan hanya beratap daun rumbia yang ditopang beberapa batang kayu.

Saat hujan tetesan air mengenai anak-anak yang sedang belajar bahkan sekali-kali buah para sebesar kelereng yang jatuh dari pohon karet juga mengenai ke tempat mereka.

Meja dan kursi yang diandalkan sebagai tempat duduk dan menulis terbuat dari pancangan kayu yang disusun berderet lima dalam dua jajaran. Tiap jajaran meja kursi yang terbuat dari kayu mahang itu diduduki empat sampai lima anak.

Papan tulis 1,5 x 2 meter terikat diantara tiang penopang atap dan didekatnya ada satu pancangan meja dan kursi tempat duduk guru.

"Di seluruh dunia, sekolah kami lah yang terbaik. Beratapkan langit, berlantaikan bumi dan berdinding kayu-kayan (pepohonan)," ujar Tajam (37), guru yang mengajarkan anak-anak Talang Mamak saat dijumpai di Desa Sungai Jirak, Kecamatan Rakit Kulim, Kabupaten Indragiri Hulu, pekan lalu.

Tajam adalah satu-satunya pemuda suku Talang Mamak yang dapat menikmati pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) walau hanya sampai kelas dua.

Meski tidak memiliki bekal ijazah guru namun ia dapat berperan sebagai guru di tengah sukunya yang masih hidup terbelakang itu.

"Saya tidak mau anak-anak Talang Mamak terus tenggelam dalam liang kebodohan. Cukup orang tua kami yang tidak pandai baca tulis," katanya.

Pria berperawakan sedang, berkulit putih ini dalam sepuluh tahun terakhir mengajar anak-anak Talang Mamak. Pelajaran yang diberikannya semula hanyalah sebatas pengetahuan agar anak-anak suku asli itu dapat membaca, menulis dan berhitung.

Dari hanya lima anak yang diajarkannya yakni adik-adik dan keponakannya, berselang tahun makin banyak anak-anak yang datang walau dari lokasi rimba yang berbeda karena umumnya orang Talang Mamak bermukim berpencar-pencar dalam satu ikatan kelompok.

Tidak hanya anak-anak yang diajarkannya tetapi juga beberapa orang tua dari anak-anak tersebut ikut belajar membaca dan menulis di bawah bimbingan Tajam.

Tempat belajar pun berpindah dari selasar rumah panggungnya ke halaman rumah di bawah rimbunan pohon karet karena makin banyaknya anak-anak yang datang tidak lagi sebatas adik dan kemanakan. Ia juga tidak memungut dana dari anak-anak yang diajarkannya.

"Kami di sini hidup susah, tidak mungkin pula menyusahkan orang tua anak-anak ini untuk kumpulkan uang buat saya. Ilmu yang saya berikan semata-mata untuk mengajarkan mereka agar jangan dibodohi orang," katanya.

Lokasi sekolahnya pun sempat pindah ke desa tetangga di Sungai Ekok karena pemukiman Talang Mamak di daerah itu lebih ramai dan tempat kedudukan Patih (pimpinan suku Talang Mamak).

Lima tahun dia mengajar dengan 27 siswa, kemudian pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu membangun gedung sekolah dasar sebagai kelas jauh dari SDN di Rakit Kulim.

Selain dibangun gedung sekolah juga ditempatkan dua orang guru. Berpindahnya anak-anak didik ke sekolah yang baru dengan pengajar yang benar-benar mengemban pendidikan guru menyebabkan sosok Tajam "tersingkir".

Melanjutkan Pendidikan
Ia mengaku semula kecewa tidak lagi dapat mengajar anak-anak sukunya itu karena ada guru dari luar. Namun, kekecewaannya itu terobati dengan melanjutkan pendidikan kejar Paket B dan saat ini ia sedang menekuni pendidikan Paket C setara sekolah lanjutan tingkat atas. Ia bertekad mendapatkan ijazah guru dengan tetap melanjutkan pendidikan formal.

Sambil melanjutkan pendidikan di Paket C, Tajam juga tetap mengajar anak-anak sukunya yang berada di Sungai Jirak, karena di Sungai Ekok telah ada sekolah dan guru baru.

"Saya kembali membuka sekolah di Sungai Jirak atas permintaan SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) Inhu," katanya.

Menurut dia, di kampung kelahirannya itu masih banyak orang Talang Mamak yang buta huruf, tidak ada sekolah formal dan itu sebabnya kembali membuka sekolah di halaman rumahnya mengajarkan kejar Paket A, program pemberantasan buta huruf dari SKB Inhu.

Jika dalam tahun-tahun sebelumnya Tajam tidak ada yang memperhatikan baik perihal honor maupun kelengkapan belajar, namun dalam dua tahun terakhir sekolah yang didirikannya itu di bawah binaan SKB Inhu.

Tajam mendapat honor mengajar Rp300.000/bulan yang kadang diterimanya sekali dalam empat atau enam bulan. peralatan sekolah seperti buku, papan tulis serta alat tulis disediakan SKB.

"Minat anak-anak untuk belajar sangat tinggi, walau mereka ada yang tinggal jauh jaraknya mencapai 10 kilometer, namun anak-anak tetap datang," ungkap Tajam.

Ia membuka kelas pada siang hari karena saat pagi kebiasaan anak-anak Talang Mamak membantu orang tua mereka menakik getah dan berladang.

Mata pelajaran yang diajarkannya tidak lagi baca tulis tapi lima pelajaran pokok seperti yang diamanatkan SKB yakni yakni Bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).

"Saat ini ada 42 siswa yang ikut paket A ini. Dari umur tujuh tahun hingga 20 tahun," ungkap Tajam.

Ia menjelaskan, walau generasi muda Talang Mamak itu bersemangat untuk belajar namun sifat pemalu kaumnya itu selalu membuatnya kesal saat mengajar. Karena antara anak laki-laki dan perempuan jika disatukan maka mereka akan saling diam dan mengakibatkan suasana kelas kaku.

Untuk menghindari kekakuan muridnya itu, Tajam sengaja membagi hari belajar mereka agar anak-anak laki-laki dan perempuan tidak bertemu. Jika hari ini anak laki-laki yang belajar maka keesokan harinya anak perempuan dan pada saat-saat tertentu saja anak-anak tersebut disatukan saat belajar.

"Anak-anak perempuan kami penyegan, sedangkan anak laki-laki ingin cepat `bertandang` (memilih jodoh)," katanya seraya tergelak.

Pembebas Buta Huruf
Tampilnya Tajam sebagai pendidik anak-anak Talang Mamak diakui Patih Laman (87), sesepuh masyarakat Talang Mamak, telah membuka jalan bagi generasi suku tersebut untuk terbebas dari buta huruf.

Walau Laman sendiri tidak pandai baca tulis namun ia berharap anak cucu dari kaumnya itu dapat menerima pelajaran yang telah diberikan Tajam.

"Dulu kampung kami ini benar-benar di tengah hutan rimba, nak kemana-mana susah. Walau kini juga di tengah hutan tapi jalan lintas banyak dan orang banyak datang kemari. Alam sudah terbuka jika tidak pandai maka kita akan tenggelam," ujar Laman saat dijumpai di kediamannya di Sungai Ekok.

Lelaki renta yang selalu memakai ikat kepala untuk menutupi rambut putihnya yang panjang itu mengharapkan makin banyak orang-orang Talang Mamak yang paham membaca dan bersekolah tinggi.

"Kelak akan ada Tajam-Tajam yang lain," katanya.

Sementara itu, Kepala SKB Inhu Abdur Rahim saat dijumpai ditempat terpisah mengatakan peran Tajam sebagai pelopor pendiri sekolah marginal di daerah itu patut diakui karena tingkat buta huruf di kalangan masyarakat Talang Mamak masih tinggi.

Menurut dia, Tajam dengan kesadarannya sendiri membuka sekolah marginal mengajarkan baca tulis pada masyarakatnya walaupun dia sendiri tidak berpendidikan tinggi.

"Melihat kesungguhan Tajam, kami bina dia dengan menempatkan dia di sekolah marginalnya itu untuk memberantas buta huruf sebab masyarakat suku terasing itu lebih senang menerima apa yang disampaikan oleh kaumnya sendiri," kata Rahim.

Kepiawaian Tajam dalam mengajar juga diakui anak didiknya seperti Kopianan(12), Batasan (10) dan Baung (15). Ketiga pelajar ini bermukim di Desa Sungai Ekok yang berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi sekolah Tajam di Sungai Jirak.

Mereka adalah anak didik tajam saat ia membuka sekolah marginal di Sungai Ekok. Walau di desa tetangga itu telah ada gedung sekolah yang bagus dan guru, namun anak-anak tersebut lebih senang mengikuti Tajam.

"Pak Tajam pandai mengajar kami mudah paham dan dia penyabar," ujar Kopianan.

Lokasi sekolah marginal Tajam itu berada diantara hamparan hutan belukar Sungai Jirak berjarak sekitar 150 kilometer dari Rengat, ibukota Kabupaten Indragiri Hulu.

Dengan menyusuri jalan lintas timur Sumatra kearah Belilas kemudian menyusuri areal perkebunan perusahaan PT Meganusa Inti Sawit.

Menyusuri jalan di tengah perkebunan sawit ke arah hutan Sungai Jirak akan ditemui jalan masuk yang masih bisa dilewati kendaraan mobil sementara di perbatasan kebun sawit dengan hutan belukar jalan hanya dapat dilalui berjalan kaki.

Di ujung jalan setapak sekitar 500 meter, terdapat sebuah rumah panggung besar dengan halaman yang luas.

Pada sudut kanan rumah tidak jauh dari "batang" (sungai) Jirak, terdapat sekolah tempat tajam mengajar di bawah rimbunan pohon karet, durian, rambutan, petai, mahang, cempedak dan berbagai jenis tanaman hutan lainnya.

Sumber : http://beritadaerah.com