Senin, 11 Januari 2010

Pengelolaan Museum di Palembang Perlu Perbaikan

Palembang - Beberapa kalangan mengharapkan perlunya dilakukan perbaikan dalam sistem pengelolaan museum yang menyimpan benda-benda penting dan bersejarah di beberapa tempat di Kota Palembang, Sumatra Selatan (Sumsel).

"Perlu perbaikan pengelolaan, sehingga lebih terpelihara dan menarik dikunjungi masyarakat. Kalau museum itu kotor dan kurang terawat, siapa yang tertarik untuk datang," kata Aprilia, seorang mahasiswa, di Palembang, Sabtu.

Dia mengaku telah beberapa kali berkunjung ke sejumlah museum di kota itu, sambil mengajak adik-adik dan keluarganya dari luar kota. Namun beberapa kali pula mengalami kekecewaan menyaksikan kondisi sebagian besar museum yang cenderung kurang terawat.

Beberapa pelajar dan mahasiswa serta guru di Palembang membenarkan bahwa berkunjung ke museum merupakan hal yang penting untuk membuktikan adanya peninggalan sejarah di masa lalu, seperti yang sempat dipelajari siswa di sekolah.

Karena itu, mereka berharap pemerintah dan dinas teknis terkait dapat lebih memperhatikan keberadaan museum, termasuk menyiapkan petugas yang diperlukan serta melengkapi fasilitas yang dimiliki museum yang telah ada.

Beberapa museum terkenal yang berada di Palembang, antara lain Museum Balaputra Dewa (dikelola Pemprov/Dinas Pendidikan Sumsel), Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (dikelola Pemkot Palembang), Museum Tekstil, Museum Sriwijaya (dalam kompleks Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya/TPKS) dikelola Dinas Pendidikan Provinsi, juga terdapat Monumen Amanat Perjuangan Rakyat (Monpera).

Sejumlah objek bersejarah, seperti Bukit Siguntang, makam sultan-sultan di Palembang, Bukit Siguntang, Benteng Kuto Besak, dan beberapa peninggalan sejarah lain terdapat di ibukota Sumsel ini.

Kondisi pada beberapa museum itu umumnya kurang terawat, seperti Museum Sriwijaya di kompleks TPKS, Jalan Sakyakirti Karang Anyar, Museum Tekstil, dan Museum Balaputra Dewa.

Di Museum Sriwijaya sering tidak beroperasi dan tutup, serta kondisi sekitarnya nampak kotor serta kumuh.

Museum Balaputra Dewa juga terlihat koleksi rumah limas dan bangunan di sekitarnya memerlukan perbaikan, karena nampak mulai keropos dimakan usia dan rayap. Kondisi penerangan lampu museum pada malam hari juga perlu mendapatkan tambahan yang lebih terang.

Beberapa pengunjung museum itu, membandingkan dengan kondisi Museum Sultan Mahmud Badaruddin di dekat Benteng Kuto Besak (BKB) pinggir Sungai Musi dan Monpera yang tidak berjauhan lokasinya, relatif banyak dikunjungi masyarakat termasuk turis mancanegara dan domestik dengan petugas yang selalu siaga melayani para pengunjung.

Seharusnya pemeliharaan dan perawatan museum dan peninggalan sejarah itu menjadi perhatian pemprov dan dinas terkait, termasuk upaya promosi agar banyak dikunjungi wisatawan.

Beberapa waktu lalu, sempat heboh kasus kehilangan sejumlah koleksi penting di Museum Balaputra Dewa.

Gubernur Sumsel Ir H Alex Noerdin pernah menjanjikan segera membenahi keberadaan museum dan peninggalan bersejarah yang menjadi tanggung jawab Pemprov Sumsel.

Pembenahan itu dimaksudkan untuk mencegah koleksi hilang, merawat dan memelihara koleksi yang ada, melengkapi sarana dan fasilitas yang diperlukan, membenahi personelnya dan mendorong berbagai aktivitas menarik pengunjung datang ke museum.

Namun hingga saat ini, pembenahan yang dijanjikan itu belum terlihat dilaksanakan.

Tahun 2010 telah dicanangkan pemerintah menjadi Tahun Kunjungan Museum di seluruh Indonesia.

Dengan pencanangan itu, keberadaan museum diharapkan dapat lebih dikenal dan lebih banyak dikunjungi masyarakat, terutama kalangan generasi muda. Keberadaan museum itu juga perlu terus dipelihara dan dirawat sebagaimana mestinya.

Sumber: http://news.id.finroll.com