Selasa, 26 Januari 2010

Wisata Rohani Masjid Kubah Emas

Masjid Dian Al-Mahri atau yang dikenal dengan Masjid Kubah emas yang dibangun untuk pengembangan agama Islam, semakin lama justru lebih menonjol sebagai tujuan wisata keagamaan dan menjadi penanda kota Depok.

“Saya tahunya Depok itu terkenal dengan Masjid Kubah Emasnya yang indah dan mempesona,” kata Farida, warga Palembang, yang datang melihat masjid itu pada liburan tahun baru hijriah.

Selama ini kata dia, masjid itu hanya dapat dia disaksikan pada televisi saja. “Mumpung lagi libur kerja saya sempatkan untuk datang ke sini,” ujarnya.

Farida yang datang bersama dengan keluarganya itu menyatakan rasa kagum dengan dengan arsitektur masjid tersebut, dan juga taman yang luas dan indah di sekelilingnya. “Pertama kali melihat saya langsung tertegun, indah sekali, apalagi kubahnya dari emas,” katanya.

Depok selain dikenal dengan Masjid Kubah Emas tersebut, kata Farida, juga dikenal dengan kampus yang menjadikan kebanggaan yaitu Universitas Indonesia (UI). “Saya juga ingin jalan-jalan lihat UI, siapa tahu anak saya bisa kuliah di UI,” kata dia.

Beberapa warga lainnya dari berbagai daerah selama liburan banyak yang mengunjungi masjid yang disebut-sebut sebagai masjid termegah di Asia Tenggara tersebut.

Syamsinar, misalnya, yang datang dari Bima, Nusa Tenggara Barat juga sengaja datang ke Depok hanya untuk menyaksikan masjid milik pribadi Hj Dian Djuriah Maimun Al-Rasyid, pengusaha dari Serang, Banten, dan pemilik Islamic Center Yayasan Dian Al-Mahri.

Keberadaan masjid dengan kubah emasnya tersebut, kata Syamsinar, menimbulkan pertanyaan mengenai besarnya biaya yang dihabiskan untuk membangun kompleks masjid tersebut.

Dia mengatakan, taman yang mengelilingi masjid tersebut juga sangat tertata dengan baik, bunga, rumput dan pot tertata rapi dan indah. “Tamannya luas sekali membuat saya betah berlama-lama di sini, karena hawanya yang sejuk,” katanya.

Sementara itu, Sutia, pengunjung asal Kalimantan, mengaku kagum dengan megahnya masjid itu. Pasalnya, di Indonesia belum pernah ada bangunan masjid seperti itu. “Ini merupakan kebanggaan bangsa kita,” ujarnya.

Dipertahankan
Humas Masjid Kubah Emas Yudiarto mengatakan, kompleks Masjid Dian Al-Mahri itu akan tetap dipertahankan sebagai daerah wisata religi bagi masyarakat umum. “Memang tujuan awal dibangunnya kompleks masjid tersebut adalah sebagai pusat pengembangan Islam,” kata dia.

Namun, lanjutnya, dalam perkembangan dan kenyataannya, Allah menakdirkan lain, kompleks Masjid Kubah emas tersebut berubah menjadi tujuan wisata religi bagi umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan mancanegara.

Menurut dia, menjadi daerah wisata religi tersebut merupakan efek lain dari sebuah niat yang suci dari pendiri masjid tersebut Dian Al-Mahri Maimunah Djuariah.

Sebagai pusat pengembangan Islam, kompleks Masjid Kubah emas mempunyai tiga fungsi yaitu fungsi ibadah, fungsi pendidikan karena di situ akan didirikan pesantren dari mulai Taman Kanak-kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi, dan fungsi dakwah karena berdiri gedung-gedung dakwah.

Untuk itu Yudiarto mohon doa restu dari segenap umat Islam agar pembangunan pusat pegembangan Islam di lokasi tersebut terwujud. “Kami akan mewujudkannya dalam bertahap,” katanya.

Sebagai daerah wisata religi tersebut Masjid Kubah Emas biasa dikunjungi sekitar 10 ribu orang setiap harinya dan meningkat pada Sabtu dan Minggu menjadi 20 ribu sampai 30 ribu orang.

Ketika Lebarankunjungan semakin tinggi hingga mencapai lebih dari 70 ribu orang per hari atau mencapai 500 ribu orang selama Lebaran.

Menurut Yudiarto, pada hari Lebaran kedua biasanya jumlah pengunjung mulai membludak dan akan berkurang mulai seminggu setelah Lebaran.

“Mereka biasanya datang dari daerah Jabodetabek, dan warga dari berbagai daerah yang kebetulan berlebaran di Jabodetabek,” katanya.

Sejarah
Masjid Kubah Emas dibangun oleh Hajjah Dian Djuriah Maimun Al Rasyid, pengusaha asal Banten, yang membeli tanah itu pada 1996.

Masjid itu mulai dibangun sejak tahun 2001 dan selesai sekitar akhir tahun 2006. Masjid dibuka untuk umum pada 31 Desember 2006, bertepatan dengan Idul Adha yang kedua kalinya pada tahun itu.

Dengan luas kawasan 50 hektare, bangunan masjid menempati luas sebesar 60 x 120 meter atau sekitar 8000 meter persegi. Masjid itu sendiri dapat menampung sekitar kurang lebih 20.000 orang.

Masjid tersebut berdiri di atas lahan 5.000 meter persegi yang dikelilingi taman hias seluas 50 hektare. Juga dibangun aula, villa serta berbagai fasilitas lainnya yang bisa menampung 10.000 orang.

Kemegahan interior masjid Dian Al-Mahri ini tidak hanya pada kubah dan menara berlapis emas 18 karat, yang disainnya seperti Masjid Nabawi.

Lampu kristal dan dinding masjidnya pun berlapiskan emas yang dipesan dari Austria. Batu marmer pada dinding masjid dipesan dari Brasil, dan tulisan kaligrafi yang menghiasi bagian dalam masjid bentuknya melingkar itu dipesan dari Roma.

Bagian halaman juga tidak kalah menarik. Tanaman hias yang berada di lingkungan masjid terdiri atas sejumlah pot antik yang konon juga dikirim daru luar negari.

“Tanaman-tanaman ini harus selalu segar dan tidak boleh layu. Kalau ditemukan ada tanaman yang layu pasti dimarahi. Pokoknya semua yang ada di masjid ini harus rapih dan segar,” kata seorang penjaga kebun.(*an/z)

Sumber: http://matanews.com