Selasa, 09 Februari 2010

Butet, "Kearifan Lokal Justru Dianggap sebagai Dongeng"

Semarang - Seniman serba bisa asal Yogyakarta, Butet Kertaredjasa mengatakan, masyarakat Indonesia banyak yang justru menganggap kearifan lokal yang terkandung dalam berbagai dongeng rakyat, hanyalah dongeng semata.

"Padahal, berbagai dongeng rakyat dan cerita tradisional seperti kisah Si Kancil dan Malin Kundang kaya akan nilai kearifan lokal yang nyata," katanya saat menyampaikan orasi dalam Dies Natalis Unika Soegijapranata Semarang ke-XXVII, Rabu (5/8).

Ia mengatakan, nilai-nilai kearifan lokal tersebut di antaranya adalah kebijaksanaan, akal budi, dan pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman bagi manusia dalam bersikap, sehingga akan terwujud masyarakat yang sejahtera.

Namun, kata dia, masyarakat justru lebih memercayai hal-hal bersifat fiksi yang ada dalam kisah-kisah tersebut, sehingga akhirnya menjebak pola pikir dan pandangan masyarakat dalam menyikapi sesuatu, terutama percaya hal-hal yang bersifat tahayul.

"Dalam kisah Bandung Bondowoso, masyarakat justru lebih percaya bahwa jalan cerita mengenai pembangunan Candi Prambanan dalam satu malam merupakan kisah nyata," katanya.

Pada akhirnya, pola pikir masyarakat akan terpengaruh, sehingga masyarakat lebih percaya dengan ramalan-ramalan yang tidak bersifat nyata dan ilmiah.

"Buktinya, saat ini banyak iklan-iklan yang menawarkan jasa meramal," kata Butet.

Selain itu, kata dia, pola pikir masyarakat yang seperti itu juga akan melahirkan "kebijakan" ganjil, antara lain percaya bahwa air dapat dibuat sebagai bahan bakar (blue energy) dengan begitu saja.

Menurut dia, dari kesalahan tersebut sebenarnya dapat diambil pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya, terutama dengan memandang sejarah bangsa secara kritis.

Selain itu, Butet juga memandang bahwa pola pikir masyarakat yang lebih memercayai para dukun dan tukang ramal tersebut akan semakin menggeser peran kalangan akademisi yang cenderung berpikir ilmiah. (das)

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com