Rabu, 10 Februari 2010

Carita Rakyat Semakin Dilupakan

MEDAN--MI: Ratusan cerita rakyat yang didongengkan secara turun temurun semakin dilupakan karena tergeser oleh film dan dongeng dari Barat yang diakses melalui televisi.

"Padahal cerita-certia rakyat yang merupakan salah satu bentuk kearifan lokal penuh dengan nasihat-nasihat dan mendidik yang sangat bermanfaat untuk generasi muda kita,"kata peneliti Balai Bahasa Medan (BBM) Agus Bambang Hermanto di Medan, Sumatra Utara, Rabu (10/6).

Menurutnya, cerita rakyat bagi bangsa Indonesia sudah menjadi kekayaan budaya sejak dahulu dan selama ini kekayaan itu terpendam dalam komunitas terbatas, seperti dalam ingatan orang tua atau para tukang cerita dalam lingkungan mereka sendiri.

Sama seperti bahasa Indonesia, cerita-cerita rakyat itu juga merupakan salah satu identitas bangsa, karena pada umumnya cerita-cerita rakyat diangkat dari budaya luhur bangsa Indonesia.

Selain itu, katanya, keberagaman suku dan bahasa di Indonesia juga turut memperkaya cerita rakyat yang ada. Namun, seiring pergeseran budaya, cerita-cerita rakyat yang jumlahnya mencapai ratusan itu secara perlahan mulai terancam punah dari sejarah peradaban Indonesia.

Selain semakin sedikitnya penutur cerita rakyat, ujar Agus, arus globalisasi yang semakin gencar juga turut andil besar dalam proses pemusnahan cerita rakyat itu.

"Dewasa ini di telivisi yang banyak diputar hanya cerita-cerita yang berasal dari luar, padahal belum tentu cerita dari luar itu sesuai dengan budaya Indonesia. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk menangkal kehilangan identitas diri dan budaya bangsa adalah menggali dan
memopulerkan kembali cerita rakyat Indonesia," katanya.

Sehubungan itu, tambahnya, Balai Bahasa Medan pada tahun ini akan menyelenggarakan sayembara penulisan cerita rakyat. Kegiatan itu diharapkan akan membangkitkan kembali gairah kecintaan masyarakat kepada cerita rakyat.

"Dengan demikian, kekhawatiran terhadap efek negatif era globalisasi dan pasar bebas yang menyerbu negeri kita dapat ditangkal dengan penuh kepercayaan diri dan tanpa rasa takut akan
kehilangan identitas budaya yang menjadi kebanggaan bangsa," katanya.

Selain itu, sayembara ini diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat terhadap budaya bangsa, khususnya cerita rakyat, mendorong kreativitas masyarakat dalam menulis cerita rakyat, mengumpulkan cerita rakyat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia dan mentransformasikannya dari lisan ke tulisan.

Selain itu, sayembara juga diharapkan membuat bangsa Indonesia menyiapkan diri agar tidak kehilangan identitas budaya bangsa dalam era globalisasi dan pasar bebas.

Sayembara ini terbuka untuk umum, minimal berusia 17 tahun, tulisan tidak mengandung unsur SARA dan cerita bersumber dari cerita rakyat yang masih dilisankan dan belum pernah dipublikasikan secara nasional. (Ant/OL-01)

Sumber : http://www.blogger.com