Rabu, 10 Februari 2010

Kain Tradisional NTT Masih Tebal dan Mudah Luntur

Kupang - Kain tenun ikat asal Nusa Tenggara Timur masih tebal, keras, berbulu, dan mudah luntur. Hanya sebagian kecil usaha yang sudah memenuhi standar permintaan konsumen. Padahal, kegiatan tenun ikat merupakan warisan nenek moyang sejak ratusan tahun silam. Pembinaan terhadap usaha tenun ikat tradisional ini masih sangat terbatas.

Demikian antara lain terungkap dalam pameran tenun ikat tradisional dari empat kabupaten yang disponsori Yayasan Pembina Keterampilan atau IKK bekerja sama dengan Yayasan Peduli Sesama di Kupang, Selasa (9/2/2010). Pameran itu dipadukan dengan pameran tenun ikat dari kain sutra dan kain katun dari empat kabupaten, dan seminar yang dibawakan desainer nasional Oscar Lawalata, Ny Regina Lawalata, dan desainer Wigyo Rahardi. Peserta seminar adalah kelompok tenun ikat dari empat kabupaten, yakni Kupang, Ende, Sumba Timur, dan Timor Tengah Selatan.

Ny Maria Naben dari Kefamenanu, misalnya, menuturkan bahwa kain tenun ikat yang dihasilkan sejumlah kelompok tenun ikat belum memenuhi permintaan pasar. Harga mahal karena dikerjakan secara manual, dan butuh waktu lama. Satu kain tenun ikat dikerjakan dalam 1-2 bulan. "Dalam sejumlah pameran, konsumen mengeluh kain yang dihasilkan dan dipamerkan itu masih tebal, berbulu, dan mudah luntur setelah dicuci. Sementara harga kain dinilai tinggi, antara Rp 100.000-Rp 2 juta, tergantung bahan,waktu tenun, dan nilai adat istiadatnya," katanya.

Karena itu, Ny Naben minta pemda setempat lebih memberi perhatian terhadap para kelompok tenun ikat agar usaha itu benar-benar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (KOR)

Sumber: http://regional.kompas.com