Kamis, 11 Februari 2010

Seto Mulyadi: Anak di Lokasi Bencana Lebih Agresif

Tangerang - Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengatakan, anak-anak yang bermukim di lokasi bencana lebih agresif karena mereka merasakan langsung dampak dari peristiwa tersebut.

"Anak-anak di lokasi bencana karena langsung merasakan, maka tindakannya lebih agresif dibandingkan dengan anak lainnya," kata Seto Mulyadi di Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, Selasa (31/3).

Mulyadi mengatakan hal tersebut seusai memberikan aneka permainan untuk menghibur puluhan anak korban bencana Situ Gintung, Ciputat, di Posko Muhammadyah.

Dia mengatakan, orangtua harus lebih peduli terhadap kondisi anak di lokasi bencana karena tindakan mereka lebih emosional dan kadang suka marah serta bertindak yang aneh.

Bahkan, anak-anak korban Situ Gintung enggan sekolah karena melihat kejadian itu dan ada pula di antara rekan mereka yang meninggal diterjang air bah akibat jebolnya tanggul Situ Gintung menerjang ratusan rumah penduduk dan 98 warga meninggal dunia.

Menurut dia, para orangtua jangan menumpahkan kemarahan akibat emosi bencana kepada anak-anak mereka karena anak tidak cukup untuk menahan derita tersebut.

Dia mengibaratkan anak yang kena bencana seperti luka yang harus diobati. Jika tidak diobati, kondisi itu akan bertambah parah dan bahkan emosi akan meluap serta sulit untuk dikendalikan.

Kendati begitu, Komnas Perlindungan Anak, katanya, sangat peduli terhadap anak-anak yang terkena bencana sehingga menjalin kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia untuk memberikan konseling.

Walau demikian, pihaknya akan terus melakukan pemantauan terhadap perilaku anak-anak setelah bencana dan menganjurkan agar mereka mau lagi ke sekolah.

Dalam laporan yang diterima orangtua, anak-anak mengalami trauma dan mereka tidak mau belajar karena jiwanya merasa terganggu.

Untuk mengatasi masalah anak, dia memberikan terapi kejiwaan, salah satunya cara melupakan peristiwa bencana dengan permainan dan mendengarkan cerita yang dapat menghibur mereka.

Sumber: http://kesehatan.kompas.com