Senin, 02 Agustus 2010

Atraksi Budaya Pukau Peserta

BANDA, - Peserta reli kapal layar Sail Banda dari sejumlah negara disuguhi budaya Banda dalam upacara penyambutan di Pulau Naira, Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Rabu (28/7/2010). Tidak hanya dalam bentuk tarian, tetapi juga kuliner berbagai menu khas masyarakat Banda.

Dua jenis tarian adat asli Banda dipertunjukkan dalam acara tersebut, yaitu tarian Ulufatu yang bercerita tentang keseharian masyarakat Banda dan tarian Wanare yang berkisah tentang perjalanan empat raja dan satu imam menuju tanah suci Mekkah.

”Tariannya unik, makanannya sedikit pedas, dan jenisnya bervariasi. Sangat sulit saya menemukan hal seperti ini, apalagi ditambah panorama alamnya yang indah,” kata Karin (62), peserta kapal layar asal Swiss yang berlayar bersama suaminya dengan kapal ”Intiaq”.

Mereka juga terkesan dengan keramahan masyarakat dan sejarah masa lalu Banda. ”Ini menjadi pelajaran berharga buat kedua anak saya,” kata Scott Armstrong (48), peserta asal Australia yang membawa istri dan dua anaknya dalam pelayaran.

Upacara penyambutan para peserta dari 21 kapal layar yang singgah di Banda sejak Senin lalu itu dihadiri Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu, dan Bupati Maluku Tengah Abdullah Tuasikal.

Selain tarian, acara itu dimeriahkan lomba perahu tradisional Banda, belang atau kora-kora, dari lima kampung adat dan 11 kampung nasional. Setiap belang memuat 31 pendayung. Belang dari Kampung Adat Ai memenangi lomba belang kampung adat. Adapun belang Desa Tanah Rata memenangi lomba belang kampung nasional.

Seusai upacara penyambutan, para peserta kapal layar disuguhi makanan khas Banda. Kebanyakan berupa masakan dari ikan, seperti sate ikan, ikan bakar bumbu, dan ikan kuah santan. Sirup pala, komoditas utama warga Banda, juga disajikan.

Di Kepulauan Banda terdapat lima benteng yang dibangun Belanda, Inggris, dan Portugis sekitar abad ke-16. Selain itu, banyak bangunan berarsitektur Eropa abad ke-17. Bangunan yang dulu kebanyakan digunakan oleh pemilik kebun pala kini dimanfaatkan sebagai kafe, motel, dan tempat tinggal. Ada pula yang dibiarkan kosong tak terawat.

Di tengah upacara penyambutan, Fadel Muhammad mengalungkan pala kepada sembilan peserta kapal layar. Pala merupakan komoditas utama Banda yang membuat bangsa-bangsa di Eropa berlomba memperebutkan daerah itu sejak abad ke-15.

Momentum untuk dikenal
Fadel menilai Sail Banda merupakan momentum bagi Banda untuk dikenal kembali oleh dunia. ”Saya datang bersama tim yang beranggotakan 22 orang. Mereka nanti akan mendata hal-hal yang dibutuhkan oleh masyarakat Banda untuk maju. Pemerintah akan berupaya agar Banda bisa dikenal kembali oleh dunia,” katanya.

Gubernur Maluku juga berjanji akan memberikan perhatian lebih besar untuk memajukan Banda. Tidak hanya di sektor perikanan, tetapi juga pariwisata.

Salah satu tokoh masyarakat Banda, Prof Dr Hamadi Husain, berharap janji itu benar-benar ditepati oleh pemerintah. Peyebabnya, saat ini Banda seperti dilupakan oleh pemerintah. ”Pariwisatanya terus meredup, sektor perikanan tidak berkembang. Ironis sekali kondisi Banda saat ini dengan besarnya potensi yang dimilikinya,” katanya. (APA)

Sumber : http://travel.kompas.com