KOMUNITAS Al-Kalam, kelompok yang mencintai peninggalan adat dari kebudayaan Bugis dan Makassar, memperingati Israk Mikraj Nabi Muhammad SAW dengan menampilkan nuansa kebudayaan yang kental.
Peringatan ini digelar di gedung Tamarunang, Jl Sunu, Makassar, Minggu (11/7) lalu. Peringatan Israk Mikraj ini dihadiri sekitar 400 anggota Al-Kalam dan keluarganya dari berbagai daerah.
Pada umumnya mereka memakai pakaian adat Bugis Makassar yang dilengkapi keris dan badik di pinggang.
Sesuasana khas kerajaan Bugis Makassar menghiasi interior sekitar panggung dan di atas panggung acara. Berbagai tombak, keris, dan badik tersusun rapi. Setiap susunan dikawal laskar yang berpakaian tubarani.
Seorang yang dituakan duduk bersila dengan dikawal dua orang pada sisi kiri dan kanan bagai seorang raja yang duduk di atas tahta.
Terdengar suara pembacaan ayat Suci Al Quran. Suasana hening. Aroma dupa menyeruak di dalam ruangan. Seusai pembacan ayat suci, Ustad Zulkifli membawakan ceramah hikmah Israk Mikraj.
Tidak ada kepanitiaan dalam acara ini. Jelang acara perayaan, para anggota Al-Kalam hanya saling berkordinasi untuk menentukan kata sepakat tanggal kumpul dan pelaksanaannya.
Dahlan, pembawa acara, mengatakan, anggota Al-Kalam berjumlah sekitar 2.000 orang. Umumnya dari kabupaten/kota, bahkan ada juga yang dari Sulawesi Tenggara.
"Para anggota ini adalah orang-orang yang mencintai pelestarian kebudayaan Bugis dan Makassar. Makanya mereka datang dengan berpakaian adat, lengkap dengan senjata pusakanya," katanya.
Selain bertujuan melestarikan adat Bugis Makassar, perayaan ini juga bertujuan memberi warna pada setiap peringatan Israk Mikraj agar tidak monoton. Selain itu kata Dahlan, ini akan bernilai pariwisata.(mda)
Sumber : http://www.tribun-timur.com
Peringatan ini digelar di gedung Tamarunang, Jl Sunu, Makassar, Minggu (11/7) lalu. Peringatan Israk Mikraj ini dihadiri sekitar 400 anggota Al-Kalam dan keluarganya dari berbagai daerah.
Pada umumnya mereka memakai pakaian adat Bugis Makassar yang dilengkapi keris dan badik di pinggang.
Sesuasana khas kerajaan Bugis Makassar menghiasi interior sekitar panggung dan di atas panggung acara. Berbagai tombak, keris, dan badik tersusun rapi. Setiap susunan dikawal laskar yang berpakaian tubarani.
Seorang yang dituakan duduk bersila dengan dikawal dua orang pada sisi kiri dan kanan bagai seorang raja yang duduk di atas tahta.
Terdengar suara pembacaan ayat Suci Al Quran. Suasana hening. Aroma dupa menyeruak di dalam ruangan. Seusai pembacan ayat suci, Ustad Zulkifli membawakan ceramah hikmah Israk Mikraj.
Tidak ada kepanitiaan dalam acara ini. Jelang acara perayaan, para anggota Al-Kalam hanya saling berkordinasi untuk menentukan kata sepakat tanggal kumpul dan pelaksanaannya.
Dahlan, pembawa acara, mengatakan, anggota Al-Kalam berjumlah sekitar 2.000 orang. Umumnya dari kabupaten/kota, bahkan ada juga yang dari Sulawesi Tenggara.
"Para anggota ini adalah orang-orang yang mencintai pelestarian kebudayaan Bugis dan Makassar. Makanya mereka datang dengan berpakaian adat, lengkap dengan senjata pusakanya," katanya.
Selain bertujuan melestarikan adat Bugis Makassar, perayaan ini juga bertujuan memberi warna pada setiap peringatan Israk Mikraj agar tidak monoton. Selain itu kata Dahlan, ini akan bernilai pariwisata.(mda)
Sumber : http://www.tribun-timur.com


