Kain tenun warna-warni yang menyelimuti langit-langit, seakan menyinari ruang-ruangnya, sehingga kian gemerlap. Semakin menampakkan kemewahan nenek moyang di zaman keemasan di bumi Minangkabau. Warna-warni berbagai kain tenun itulah yang membuat tamu Istana Baso Pagaruyung tidak bisa melupakannya.
Kini kemeriahan dan sinar gemerlap telah lenyap. Petir yang menyambar di malam hari, tanggal 28 Februari 2007, membuat istana terbakar ludes. Meski sudah tidak berbekas, namun kesan indah itu tetap membekas bagi yang pernah mengunjunginya.
Keindahan itu pula yang telah membuat banyak pengunjung istana yang ingin berfoto bersama di tahta dengan baju bangsawan Minangkabau. Juga berfoto dengan latar belakang ratusan lembar kain bordir yang tertata rapi.
Saat KR mengikuti rombongan Komisi E DPRD DIY tahun 2006 berkunjung ke istana ini, banyak yang memanfaatkan momentum indah itu dengan berfoto menggunakan busaha bangsawan. Disamping itu, ruangan yang begitu luas, dapat digunakan untuk santai sejenak. Sambil mencermati keramik peninggalan pendahulu.
Musibah memang tak henti menimpa Istana Baso Pagaruyung. Bangunan yang terbakar ini, sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istana yang asli dulu terletak di atas Bukit Batu Patah. Naasnya, juga terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804.
Proses pembangunan kembali istana dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat (waktu itu) Harus Zain. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum.
Tiang yang ditanam ini, menjadi pusat dari kekokohan bangunan. Antar tiang dari berbagai penjuru bertemu di satu titik di dalam tanah. Meski bangunan ini dianggap kokoh terhadap goyangan seperti gempa bumi, namun demikian sangat rentan terhadap api. Sebagian besar bangunan istana memang terbuat dari bahan kayu yang mudah terbakar.
Terpukul
Akibat terbakarnya Istana Baso Pagaruyung ini, cukup memukul kalangan pelaku parawisata setempat. Apalagi kemudian disusul gempa bumi 5,8 SR yang berpusat di daratan 6 Maret 2007 lalu.
Salah seorang pelaku usaha pariwisata di Padang, Purwanto mengungkapkan, saat ini merupakan masa sulit.
”Istana Baso Pagaruyung merupakan salah satu tujuan utama wisatawan ke Sumatera Barat. Terbakarnya istana ini membuat kami mengalami kesulitan untuk membuat jadual bagi wisatawan. Terutama untuk Kabupaten Batusangkar,” kata Purwanto.
Bagaimana pun, istana ini memberikan kenangan yang indah. Tidak hanya bagi yang pernah mengunjunginya, tetapi juga bagi para tokoh masyarakat, bahkan juga pimpinan negara.
Di istana ini, selain Sri Sultan Hamengku Buwono X, juga Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dinobatkan sebagai tokoh Minangkabau.
Sebetulnya, di sekitar istana ini ada banyak objek wisata unik yang dapat dikunjungi. Seperti misalnya kompleks pemakaman raja dan bangsawan Minang. Ada beberapa kompleks makam, dan yang paling terkenal adalah Kubur Rajo, sedikit di luar kota ke arah Padang Panjang.
Kompleks makam bangsawan menampilkan batu nisan yang unik. Selain terbuat dari batu besar utuh yang dipahat, batu nisan itu mempunyai bentuk berdasarkan jabatan orang yang dimakamkan. Ada pula sekelompok batu prasasti yang menceritakan tidak saja sejarah Minang. Tapi sepenggal sejarah Nusantara secara utuh.
Dari buku panduan yang disediakan dan juga dari paparan seorang pemandu, kita jadi tahu bahwa batu-batu prasasti yang disebut ‘Prasasti Adityawarman’ itu menghubungkan Nusantara secara keseluruhan.
Jejak Sejarah Minang
Tamu yang mengunjungi Istana Pagaruyung seakan diajak untuk menelusuri jejak sejarah masyarakat Minang. Di dalam istana ini dapat dilihat benda-benda peninggalan sejarah. Di sini bisa mempelajari sejarah, politik hingga budaya. Istana Pagaruyung dibangun oleh keluarga kerajaan Pagaruyung di Batusangkar yang mempunyai ciri khas Minangkabau.
Di dalam istana terdapat barang-barang peninggalan kerajaan yang masih terpelihara dengan baik. Di sekitar istana ini keindahan alam dengan udara yang sejuk pun dapat dinikmati. Istana Pagaruyung yang terbakar ini berbentuk Rumah Gadang dengan arsitektur tradisional Minangkabau.
Istana ini merupakan replika dari istana aslinya yang musnah terbakar. Pembangunannya dilakukan pada 1976 di atas sebidang tanah yang diwakafkan oleh keturunan keluarga kerajaan Pagaruyung.
Pada dinding luarnya dipenuhi ukiran kayu khas Ranah Minang dan atapnya menjulang berbentuk tanduk kerbau. Dinding bagian samping dan belakang terbuat dari kulit ruyung atau buluh betung. Unik dan memiliki daya seni tinggi ini yang membuat istana ini sangat menarik.
Berdasarkan kalkulasi, untuk membangun kembali istana ini membutuhkan dana sekitar Rp 27 miliar. Namun dalam rencananya, kompleks Istana Pagaruyung di areal seluas tiga hektar tersebut juga akan sekaligus dikembangakan sebagai pusat budaya Minangkabau sehingga untuk itu total dana yang dibutuhkan mencapai Rp 92 miliar.
Sumber: http://www.kr.co.id
Kini kemeriahan dan sinar gemerlap telah lenyap. Petir yang menyambar di malam hari, tanggal 28 Februari 2007, membuat istana terbakar ludes. Meski sudah tidak berbekas, namun kesan indah itu tetap membekas bagi yang pernah mengunjunginya.
Keindahan itu pula yang telah membuat banyak pengunjung istana yang ingin berfoto bersama di tahta dengan baju bangsawan Minangkabau. Juga berfoto dengan latar belakang ratusan lembar kain bordir yang tertata rapi.
Saat KR mengikuti rombongan Komisi E DPRD DIY tahun 2006 berkunjung ke istana ini, banyak yang memanfaatkan momentum indah itu dengan berfoto menggunakan busaha bangsawan. Disamping itu, ruangan yang begitu luas, dapat digunakan untuk santai sejenak. Sambil mencermati keramik peninggalan pendahulu.
Musibah memang tak henti menimpa Istana Baso Pagaruyung. Bangunan yang terbakar ini, sebenarnya adalah replika dari yang asli. Istana yang asli dulu terletak di atas Bukit Batu Patah. Naasnya, juga terbakar habis pada sebuah kerusuhan berdarah pada tahun 1804.
Proses pembangunan kembali istana dilakukan dengan peletakan tunggak tuo (tiang utama) pada 27 Desember 1976 oleh Gubernur Sumatera Barat (waktu itu) Harus Zain. Pada akhir 1970-an, istana ini telah bisa dikunjungi oleh umum.
Tiang yang ditanam ini, menjadi pusat dari kekokohan bangunan. Antar tiang dari berbagai penjuru bertemu di satu titik di dalam tanah. Meski bangunan ini dianggap kokoh terhadap goyangan seperti gempa bumi, namun demikian sangat rentan terhadap api. Sebagian besar bangunan istana memang terbuat dari bahan kayu yang mudah terbakar.
Terpukul
Akibat terbakarnya Istana Baso Pagaruyung ini, cukup memukul kalangan pelaku parawisata setempat. Apalagi kemudian disusul gempa bumi 5,8 SR yang berpusat di daratan 6 Maret 2007 lalu.
Salah seorang pelaku usaha pariwisata di Padang, Purwanto mengungkapkan, saat ini merupakan masa sulit.
”Istana Baso Pagaruyung merupakan salah satu tujuan utama wisatawan ke Sumatera Barat. Terbakarnya istana ini membuat kami mengalami kesulitan untuk membuat jadual bagi wisatawan. Terutama untuk Kabupaten Batusangkar,” kata Purwanto.
Bagaimana pun, istana ini memberikan kenangan yang indah. Tidak hanya bagi yang pernah mengunjunginya, tetapi juga bagi para tokoh masyarakat, bahkan juga pimpinan negara.
Di istana ini, selain Sri Sultan Hamengku Buwono X, juga Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, dinobatkan sebagai tokoh Minangkabau.
Sebetulnya, di sekitar istana ini ada banyak objek wisata unik yang dapat dikunjungi. Seperti misalnya kompleks pemakaman raja dan bangsawan Minang. Ada beberapa kompleks makam, dan yang paling terkenal adalah Kubur Rajo, sedikit di luar kota ke arah Padang Panjang.
Kompleks makam bangsawan menampilkan batu nisan yang unik. Selain terbuat dari batu besar utuh yang dipahat, batu nisan itu mempunyai bentuk berdasarkan jabatan orang yang dimakamkan. Ada pula sekelompok batu prasasti yang menceritakan tidak saja sejarah Minang. Tapi sepenggal sejarah Nusantara secara utuh.
Dari buku panduan yang disediakan dan juga dari paparan seorang pemandu, kita jadi tahu bahwa batu-batu prasasti yang disebut ‘Prasasti Adityawarman’ itu menghubungkan Nusantara secara keseluruhan.
Jejak Sejarah Minang
Tamu yang mengunjungi Istana Pagaruyung seakan diajak untuk menelusuri jejak sejarah masyarakat Minang. Di dalam istana ini dapat dilihat benda-benda peninggalan sejarah. Di sini bisa mempelajari sejarah, politik hingga budaya. Istana Pagaruyung dibangun oleh keluarga kerajaan Pagaruyung di Batusangkar yang mempunyai ciri khas Minangkabau.
Di dalam istana terdapat barang-barang peninggalan kerajaan yang masih terpelihara dengan baik. Di sekitar istana ini keindahan alam dengan udara yang sejuk pun dapat dinikmati. Istana Pagaruyung yang terbakar ini berbentuk Rumah Gadang dengan arsitektur tradisional Minangkabau.
Istana ini merupakan replika dari istana aslinya yang musnah terbakar. Pembangunannya dilakukan pada 1976 di atas sebidang tanah yang diwakafkan oleh keturunan keluarga kerajaan Pagaruyung.
Pada dinding luarnya dipenuhi ukiran kayu khas Ranah Minang dan atapnya menjulang berbentuk tanduk kerbau. Dinding bagian samping dan belakang terbuat dari kulit ruyung atau buluh betung. Unik dan memiliki daya seni tinggi ini yang membuat istana ini sangat menarik.
Berdasarkan kalkulasi, untuk membangun kembali istana ini membutuhkan dana sekitar Rp 27 miliar. Namun dalam rencananya, kompleks Istana Pagaruyung di areal seluas tiga hektar tersebut juga akan sekaligus dikembangakan sebagai pusat budaya Minangkabau sehingga untuk itu total dana yang dibutuhkan mencapai Rp 92 miliar.
Sumber: http://www.kr.co.id


