Festival Seni Tari Melayu Nusantara kelima digelar di Palembang, Sumatera Selatan, 5-8 September. Acara ini diikuti 13 peserta dari beragam daerah, dengan menampilkan tarian tradisional dan tari kreasi khas Melayu.
Acara itu diselenggarakan di dua lokasi. Adapun pembukaan festival tersebut diadakan di Hotel Horizon, Selasa (5/9), dilanjutkan dengan pergelaran festival di Mal Palembang Trade Center, 6-8 September. Jumlah peserta tahun ini menurun dibandingkankan dengan jumlah peserta tahun lalu sebanyak 14 peserta.
Berbeda dengan festival sebelumnya, ketika seluruh peserta mewakili provinsi, kali ini beberapa peserta mewakili kabupaten/kota. Beberapa peserta, antara lain, Kabupaten Batanghari, dan Kabupaten Jabung Timur dari Provinsi Jambi, Palembang, dan Kabupaten Banyuasin (Sumatera Selatan), serta Pangkal Pinang dan Kabupaten Bangka (Bangka Belitung).
Selain itu, peserta juga berasal dari Kabupaten Tanah Datar di Sumatera Barat, Kabupaten Aceh Tamiang dari Nanggroe Aceh Darussalam, serta Provinsi Banten, Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Bangka Belitung. Para penari rata-rata berusia belasan tahun hingga di bawah 30 tahun.
Koordinator Bidang Teknis dan Pergelaran Festival Seni Tari Melayu Nusantara Ke-5, Marah Adiel, mengatakan, festival tari tradisional dan kreasi Melayu itu merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kesenian Melayu. Selain itu, untuk mempererat persaudaraan antar-rumpun Melayu. "Pergelaran tarian kreasi juga diharapkan meningkatkan kreativitas seniman dalam mengembangkan seni tari melayu," katanya.
Dalam festival itu, Kabupaten Tanah Datar, Sumut, dan Jambi meraih penghargaan sebagai peserta berpenampilan terbaik. Sementara itu, Aceh Tamiang dinyatakan sebagai tim favorit.
Penghargaan juga diberikan untuk penata tari, musik, dan penampilan. Penata tari terbaik diraih Kabupaten Bangka, penata musik dari Banten, sedangkan penata rias dan kostum terbaik adalah Banyuasin.
"Ke depan, kesenian Melayu diharapkan lebih sering ditampilkan, tidak hanya pada acara-acara besar dan festival, tetapi secara rutin pada kegiatan-kegiatan di sekolah dan masyarakat," ujar Marah. Ia menilai, saat ini terjadi degradasi minat generasi muda terhadap seni tari melayu. Seni tari itu tidak lagi populer di kalangan mereka, sehingga minat untuk mempelajari kesenian itu semakin menurun.
Penyelenggaraan di mal, kata Marah, merupakan upaya untuk merangkul kalangan pengunjung berusia belia. Mal dinilai menjadi salah satu tujuan wisata bagi generasi muda saat ini.
Saat pergelaran berlangsung, kursi-kursi penonton terisi penuh, sehingga sebagian penonton berdiri. Para penonton, mulai anak-anak sampai dewasa, memadati lantai-lantai mal, menyaksikan pergelaran itu. (lkt)
Sumber: Kompas.com
Acara itu diselenggarakan di dua lokasi. Adapun pembukaan festival tersebut diadakan di Hotel Horizon, Selasa (5/9), dilanjutkan dengan pergelaran festival di Mal Palembang Trade Center, 6-8 September. Jumlah peserta tahun ini menurun dibandingkankan dengan jumlah peserta tahun lalu sebanyak 14 peserta.
Berbeda dengan festival sebelumnya, ketika seluruh peserta mewakili provinsi, kali ini beberapa peserta mewakili kabupaten/kota. Beberapa peserta, antara lain, Kabupaten Batanghari, dan Kabupaten Jabung Timur dari Provinsi Jambi, Palembang, dan Kabupaten Banyuasin (Sumatera Selatan), serta Pangkal Pinang dan Kabupaten Bangka (Bangka Belitung).
Selain itu, peserta juga berasal dari Kabupaten Tanah Datar di Sumatera Barat, Kabupaten Aceh Tamiang dari Nanggroe Aceh Darussalam, serta Provinsi Banten, Riau, Jambi, Sumatera Utara, dan Bangka Belitung. Para penari rata-rata berusia belasan tahun hingga di bawah 30 tahun.
Koordinator Bidang Teknis dan Pergelaran Festival Seni Tari Melayu Nusantara Ke-5, Marah Adiel, mengatakan, festival tari tradisional dan kreasi Melayu itu merupakan salah satu upaya untuk melestarikan kesenian Melayu. Selain itu, untuk mempererat persaudaraan antar-rumpun Melayu. "Pergelaran tarian kreasi juga diharapkan meningkatkan kreativitas seniman dalam mengembangkan seni tari melayu," katanya.
Dalam festival itu, Kabupaten Tanah Datar, Sumut, dan Jambi meraih penghargaan sebagai peserta berpenampilan terbaik. Sementara itu, Aceh Tamiang dinyatakan sebagai tim favorit.
Penghargaan juga diberikan untuk penata tari, musik, dan penampilan. Penata tari terbaik diraih Kabupaten Bangka, penata musik dari Banten, sedangkan penata rias dan kostum terbaik adalah Banyuasin.
"Ke depan, kesenian Melayu diharapkan lebih sering ditampilkan, tidak hanya pada acara-acara besar dan festival, tetapi secara rutin pada kegiatan-kegiatan di sekolah dan masyarakat," ujar Marah. Ia menilai, saat ini terjadi degradasi minat generasi muda terhadap seni tari melayu. Seni tari itu tidak lagi populer di kalangan mereka, sehingga minat untuk mempelajari kesenian itu semakin menurun.
Penyelenggaraan di mal, kata Marah, merupakan upaya untuk merangkul kalangan pengunjung berusia belia. Mal dinilai menjadi salah satu tujuan wisata bagi generasi muda saat ini.
Saat pergelaran berlangsung, kursi-kursi penonton terisi penuh, sehingga sebagian penonton berdiri. Para penonton, mulai anak-anak sampai dewasa, memadati lantai-lantai mal, menyaksikan pergelaran itu. (lkt)
Sumber: Kompas.com


