Selasa, 26 Januari 2010

Asyiknya Menyatu dengan Alam di Kampung Rusa

Bagi masyarakat yang menyukai kehidupan dengan alam, Kampung 99 pepohonan atau yang dikenal dengan Kampung Rusa di Jalan KH. Muhasan II, Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok, Jabar, atau tepatnya berada di Depan Masjid Kubah Emas, bisa menjadi pilihan.

Sepintas daerah Kampung 99 Pepohonan atau yang sering disebut dengan Kampung Rusa, hanya berbentuk rimbunan pepohonan, hamparan rumput yang hijau, kolam ikan, dan rumah-rumah yang terbuat dari kayu.

Namun begitu setelah dijelaskan bahwa 20 keluarga hidup di areal seluas lima hektare tersebut, dengan memanfaatkan alam setempat membuat banyak dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah bahkan dari manca negara.

“Konsep yang saya tawarkan adalah menyatu dengan alam sekitar, ini yang mungkin menjadi daya tarik masyarakat yang ingin tahu,” kata Penggagas Kampung 99 Pepohonan, Eddy Djamaluddin Suaidy.

Bukan hanya warga Depok atau daerah lainnya di Indonesia yang mengunjungi daerah tersebut tapi juga dari Malaysia, Singapura, Inggris, Rusia, Selandia Baru, Australia, Denmark, dan lainnya, datang mengunjungi tempat tersebut.

Keberadaan Kampung 99 Pepohonan di Depok ini memang unik, kepedulian semua anggota keluarga terhadap kelestarian lingkungan menjadikan lahan mereka sebagai tempat pembelajaran dan wisata untuk masyarakat.

Divisi Outbound Kampung 99 Pepohonan, Yani Nur Santi, mengatakan, di alam tersebut pengunjung bisa melakukan banyak aktivitas yang berkaitan dengan alam seperti menanam padi, kangkung, bayam, membuat yoghurt, dan menangkap ikan.

Selain itu pengunjung bisa memberi makan rusa, mencukur rambut domba, memeras susu sapi, memandikan kerbau, hingga naik sampan. Pengunjung dilarang menebang pohon, memetik daun, apalagi membuang sampah sembarangan. “Kami ingin alam di sini lestari,” katanya.

Di sini, para pengunjung tak hanya menikmati keindahan alam, namun juga menambah ilmu pengetahuan dan pengalaman dari aktivitas membajak sawah, memandikan kerbau, dan sebagainya.

Di areal tersebut hidup antara lain binatang rusa jenis timorensis, kambing etawa, sapi, kerbau, tupai, burung, dan ayam mutiara. Beragam macam pohon pun ada, seperti pohon maja, trembesi, jati putih, rengas, kemang, dan karet.

Selain itu, ada juga pengobatan alternatif dengan sengat lebah. Di sini juga dijual yoghurt buah (sukun, kiwi, orange, strawberry, anggur), carcade (teh arab), susu kambing jahe. Menu makanan dan minuman yang dijual sifatnya alami dan hasil kebun sendiri.

Untuk memasak, kata Santi, dia menggunakan bahan yang ada di alam sekitar seperti kayu bakar dari ranting yang patah, tanpa perlu pusing menghadapi minyak tanah yang langka atau melambungnya harga gas elpiji.

Santi mengatakan biaya paket per `event` dengan empat kegiatan Rp100 ribu untuk anak-anak, dan Rp150 per orang dewasa. “Kalau satu anak didampingi dengan satu orang pemandu dikenakan biaya Rp135 ribu,” kata Santi.

Kubah Hijau
Eddy menceritakan dia pertama kali pindah ke daerah tersebut pada 2004, setelah membeli tanah seluas 500 meter per segi pada 1989. Kemudian dia memperluas areal tersebut hingga mencapai lima hektare, dengan menanam berbagai macam pohon, sehingga seperti kubah hijau. “Kalau di seberang sini ada Masjid Kubah Emas, di sini sebagai Kubah Hijau,” katanya.

Mulai tahun 1998 tanah tersebut digarap dengan menanam berbagai macam pohon. “Tadinya lahan tersebut sangat gersang, sawah kering, dan empang yang tidak terurus,” kata mantan pegawai Jasa Marga tersebut.

Pertama kali pindah, kata dia, Eddy membawa enam ekor rusa yang telah mendapat izin dari Departemen Kehutanan sebagai tempat penangkaran. Mungkin karena ada rusa masyarakat sekitar sini pun menjulukinya dengan nama Kampung rusa.

Dengan telah tumbuhnya berbagai macam pohon yang rindang, hewan yang tadinya tidak ada kemudian perlahan-lahan datang ke tempat ini. Muncullah kehidupan binatang mulai dari ular, biawak, berang-berang, bunglon, cecak, tupai, dan lain sebagainya.

“Kita tidak pernah menjadikan binatang tersebut musuh, tapi merupakan satu kesatuan alam yang perlu dilestarikan. Asal kita tidak mengganggu binatang tersebut tentunya kita tidak akan diganggu,” ujarnya.

Pohon-pohon yang tumbuh dengan ridang pun memberikan oksigen sehingga menyejukkan udara sekitarnya. “Tadinya udara di sini panas, tapi sekarang sudah sejuk,” ujarnya.

Dari 20 rumah tersebut masing-masing penghuninya ditugaskan menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari, misalnya satu rumah ditugaskan untuk menjadi tempat cuci piring atau pakaian, rumah yang lainnya jadi pusat memasak makanan. “Biar efektif, kami membuat sistemnya terpusat seperti itu,” ujarnya.

Eddy juga menjelaskan tadinya keluarga di sini banyak yang bekerja di luar seperti dosen, pegawai bank dan lainnya, tetapi setelah tinggal di sini mereka keluar dan beraktivitas sehari-hari di lingkungan tersebut.

Ia berharap pola hidup yang diterapkannya ini bisa menjadi inspirasi bagi orang lain dan juga bisa menerapkannya dalam kehidupannya. “Indonesia ini kaya dengan alam, jadi kita sebenarnya sanggup mandiri jika alam ini dikelola dengan benar,” katanya.

Dalam menjalani hidup sehat kata Eddy tidak hanya dalam tataran konsep sehat saja tetapi juga bagaimana tempat juga sehat dan prilaku hidup yang sehat.(*an/z)

Sumber: http://matanews.com