Jumat, 03 September 2010

Bahasa Indonesia Tetap Eksis di Antara Bahasa Asia Lainnya

Oleh : Fajar Nugraha

CANBERRA - Bahasa Indonesia tetap eksis meski sempat mengalami penurunan drastis di beberapa tahun terakhir di sekolah-sekolah di Australia.

Dulu, sebelum tahun 2000, di sebagian besar dari negara bagian Australia, popularitas pembelajaran bahasa Indonesia cukup berbeda diantara negara bagian.

Secara umum, dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa yang populer. Namun, beberapa tahun terakhir, jumlah murid yang belajar bahasa Indonesia telah menurun. Sebagai contoh, di negara bagian Victoria, jumlah murid yang belajar bahasa Indonesia telah menurun hingga 30 persen antara tahun 2000 dan 2006.

Dalam suatu kesempatan ketika berkunjung ke salah satu sekolah di Canberra, Australia, di ruangan bahasa Indonesia terpampang jelas foto-foto kenangan siswa di negara yang dekat Indonesia (baca: bukan Indonesia).

Dan ketik saya menanyakan kepada guru bahasa Indonesia tentang hal itu, dia menjawab dengan nada sangat menyesalkan, “karena pada saat itu adanya travel warning dari pemerintah untuk mengunjungi Indonesia,” terangnya.

Di Australia, siswa yang mengambil mata pelajaran bahasa asing, seperti bahasa Indonesia, sudah menjadi hak mereka untuk mengunjungi negara yang bahasanya mereka pelajari.

Jadi ketika negara yang bahasanya mereka pelajari tidak bisa dikunjungi, akhirnya akan menjadi kekecewaan yang menular untuk generasi mereka berikutnya dalam mempelajari bahasa Indonesia.

Faktor tersebut menjadi salah satu penyebab menurunnya jumlah murid yang belajar bahasa Indonesia di Australia. Bergejolaknya isu teroris di Indonesia, hubungan yang kurang harmonis Indonesia-Australia juga ikut andil besar yang pada akhirnya mengakibatkan sebagian besar dari para pengajar dan pelajar Australia tidak diperbolehkan berkunjung ke Indonesia, baik dalam rangka studi atau wisata.

Para pengajar Bahasa Indonesia tidak dapat meningkatkan kemampuan bahasa, dan juga menyebabkan para pelajar tidak tertarik pada Indonesia. Demikian dalam tulisan Fahmi Riadl, S.Pd. Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Tarakan, Kaltim yang dikirim ke okezone di Jakarta, Kamis (2/9/2010).

Di Canberra, pemerintah Indonesia dalam hal ini KBRI bidang Atase Pendidikan Nasional (Atdiknas) telah bekerjasama dengan pihak Departemen Pendidikan Australia Capital Territory, The Department of Education and Training (DET) untuk mempromosikan pengajaran bahasa Indonesia melalui Program Guru Bantu Bahasa Indonesia.

Dalam program tersebut, orang Indonesia yang sedang tinggal di Canberra, misalnya mahasiswa Indonesia, ditempatkan di sekolah yang mengajarkan bahasa Indonesia selama satu hari per minggu. Tugas guru bantu tersebut adalah untuk membantu guru tetap dengan mengajarkan budaya dan bahasa Indonesia.

Program Guru Bantu Bahasa Indonesia telah dimulai sejak tahun 2008. Pada tahun 2009, 14 sekolah telah mengikuti program tersebut dan diharapkan pada tahun 2010 ini kurang lebih 20 sekolah akan mengikuti program yang sama.

Dalam hal ini, peran guru bantu sangat aktif dalam meningkatkan kualitas pengajaran Bahasa Indonesia sekaligus meningkatkan ketertarikan murid pada budaya dan bahasa Indonesia. Dan sampai saat ini ada 25 sekolah di Canberra, dari total 150 sekolah, telah mengajarkan bahasa Indonesia.

Kesimpulan saya, menurunnya minat siswa yang memilih mata pelajaran bahasa Indonesia sangat ditentukan oleh tercapai atau tidaknya hak mereka untuk mengunjungi negara yang bahasanya mereka pelajari.

Mereka memilih bahasa Indonesia, tentu menjadi hak mereka untuk berkunjung ke Indonesia sebagai bahan studi dan praktik langsung.

Oleh karena itu, peran kita lah, sebagai warga negara, baik pemerintah maupun masyarakat umum untuk membantu menciptakan suhu keamanan dan politik yang kondusif sebagai prasyarat utama demi berkembangnya bahasa tercinta di belahan dunia.

Sumber : http://international.okezone.com