Senin, 15 November 2010

Desa Tanjung Darat, Perkampungan Arab Pertama di Pontianak

Pontianak- Penyebaran Islam mencapai kejayaannya di Kesultanan Pontianak, tak dapat dipisahkan dari hadirnya ulama besar Al-ulama Al Habib Muhamad bin Abdullah bin Abdurahman Al Muthahar. Pada jaman ulama ini, terbentuk juga sebuah perkampungan arab pertama kali di Kesultanan Pontianak. Sejumlah pedagang dari Hendralmaut (Yaman Selatan) berdatangan ke Pontianak.

Menurut H Ishak Ali Al-Muthahar S.Sos M.Si, kampung arab pertama itu adalah Tanjung Darat yang terletak di Kecamatan Sungai Kakap. Kedatangan Al-Habib Muhamad bin Abdullah bin Abdurahman Al-Muthahar ke Pontianak. Pada waktu itu ulama ini dipanggil Sultan Pontianak Kadriyah, yakni Sultan Usman bin Abdurahman Al-Qadrie untuk menyebarkan Agama Islam di Kota Pontianak. Ketika itu ulama besar ini menyebarkan Islam di Kerajaan Makassar sehingga mendapatkan istri orang Bugis. Diceritakan sejak umur 20 tahun, ulama besar ini sudah meninggalkan Hendramaut (Yaman Selatan) untuk menyebarkan Islam ke nusantara.

Penyebaran Islam di Kerajaan Pontianak dilakukan Al-Habib Muhamad bin Abdullah bin Abdurahman Al-Muthahar, mulai dari pemerintahan Sultan Usman sampai Sultan Muhamad Al-Qadrie. Wilayah penyebaran Islam yang dilakukan diantaranya Sungai Kakap, Teluk Pakedai, Sungai Berembang, sampai Mempawah. "Pada waktu itulah, banyak ulama-ulama dari Hendralmaut yang datang ke Pontianak, mampir di rumah Al-Habib Muhamad bin Abdullah bin Abdurahman Al-Muthahar," imbuh H Ishak Ali Al-Muthahar S.Sos M.Si kepada Pontianak Post.

Pada waktu itu, mereka yang datang dri arab diantaranya bin Syueb, Hatami, Al-Muthahir, Al Hadad, dan lainnya. Pada waktu itu, tak dapat dipungkiri Kesultanan Pontianak sebagai pusat pembelajaran Islam. "Beliau juga ahli niaga garam," cerita H Ishak Ali Al-Muthahar didampingi H Yahya Ali Al-Muthahar.

Karena banyak warga arab yang berdatangan ke Kesultanan Pontianak, akhirnya terbentuklah perkampungan arab pertama, yang terletak di Kampung Tanjung Darat, Sungai Kakap. Di perkampungan ini pula Al-Habib Muhamad bin Abdullah bin Abdurahman Al-Muthahar dimakamkan. Sampai saat ini sebuah masjid yang ditinggalkan terletak di segi tiga sungai, yaitu Masjid Darul Ibada. Masjid tua yang diurus Sy Ahmad Salim bin Al-Idrus, sudah pernah direhab dan rencananya akan mengalami perluasan. "Insya Allah kepemilikan tanah wakaf akan kita serahkan ke pengurus masjid," tambah H Yahya Ali Al-Muthahar.

Sumber : www.pontianakpost.com