Minggu, 31 Januari 2010

Tarif Visa Naik, Wisatawan India Batal Masuk Batam

Batam - Sebanyak 38 turis India batal masuk ke Batam, Provinsi Kepulauan Riau, karena tarif visa kedatangan mencapai 25 dollar AS untuk jangka waktu satu bulan. Pemberlakuan tarif visa itu dapat menghambat upaya menarik wisatawan mancanegara ke Indonesia, khususnya Batam.

Hal itu dikemukakan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam Guntur Sakti di Batam, Kamis (28/1).

Direktur perusahaan travel PT Vital Idola Pesona Tours and Travel, Andika Lim, menuturkan, tanggal 26 Januari sebanyak 38 turis India yang akan datang ke Batam melalui Singapura membatalkan kedatangan mereka.

Penyebabnya adalah adanya perubahan tarif visa kedatangan untuk jangka waktu satu bulan menjadi 25 dollar AS. ”Tarif visa kedatangan sebesar 10 dollar AS untuk satu minggu dihapus,” katanya.

Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Batam Yudi Kurniadi mengakui ada perubahan tarif visa kedatangan berdasarkan kebijakan pemerintah pusat.

”Sejak 26 Januari 2010 diberlakukan tarif tunggal visa kedatangan, yaitu 25 dollar AS untuk satu bulan,” katanya.

Menurut Yudi, dengan perubahan tarif itu, pengelola perusahaan travel perlu menyesuaikan kontrak dengan mitra bisnis di negara lain.

Jika sudah berjalan lama, tarif itu dinilai tidak menjadi persoalan. ”Turis-turis yang bermain golf di Batam tetap datang sejak 26 Januari. Di negara lain, visa kedatangan ada yang mencapai 45 dollar AS,” kata Yudi.

Guntur mengatakan, turis dari mancanegara yang berada di Singapura umumnya masuk ke Batam dengan jangka waktu tinggal dua hari sampai tiga hari. Karena itu, tarif visa kedatangan sebesar 25 dollar AS tidak dapat menjadi insentif untuk menarik turis.

Menurut Guntur, pemerintah seharusnya tetap memberlakukan tarif sebesar 10 dollar AS selama satu minggu di Batam. Dengan dembikian, turis memiliki alternatif untuk memilih visa kedatangan dan menjadi insentif untuk menarik wisatawan.

Andika menambahkan, Malaysia saat ini memberlakukan tarif visa kedatangan sebesar 12 dollar Singapura untuk turis China dan 24 dollar Singapura untuk turis India.

”Tarif itu lebih murah. Potensi Malaysia, seperti Johor, menarik wisatawan dari Singapura menjadi lebih besar daripada Indonesia, khususnya Batam,” katanya. (FER)

Sumber: http://cetak.kompas.com

Sejumlah Dubes Akan Hadir di Sumsel

Palembang - Sebanyak 16 Duta Besar (Dubes) dari berbagai negara sahabat dijadwalkan hadir di Sumatra Selatan (Sumsel), pada 26 Februari 2010 untuk melihat berbagai objek wisata di provinsi itu.

Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin di Palembang, Kamis mengatakan, Dubes yang akan hadir itu antara lain dari Amerika Serikat, Singapura, Australia dan berbagai negara besar di dunia lainya.

Menurut dia, para Dubes itu selama di Sumsel antara lain akan mengunjungi "Pulau Kamaro", berwisata di Sungai Musi dan meninjau kampung tenun di daerah yang memiliki aneka budaya tersebut.

Bahkan para Dubes itu juga akan menghadiri perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro yang hanya sekitar lima KM dari jembatan Ampera Palembang, kata dia.

Selain melihat berbagai objek wisata, para Dubes itu juga akan menikmati berbagai makanan khas daerah yang ada di Sumsel.

Namun, kehadiran para Dubes tersebut akan dimanfaatkan semaksimal mungkin terutama dalam mendukung berbagai program pembangunan yang ada di Sumsel, ujar dia.

Menurut dia, dalam kesempatan itu nantinya pemrintah provinsi Sumsel akan menyampaikan potensi yang dimiliki daerah yang terdiri atas 11 kabupaten dan empat kota tersebut.

Kunjungan para Dubes itu diharapkan dapat bermanfaat untuk pengembangan pembangunan di daerah sekaligus meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat, kata dia.

Kedatangan Dubes itu nantinya akan dijamu makan malam di Griya Agung Palembang (rumah dinas gubernur-red) sekaligus melaksanakan ramah tamah.

Selain dijamu Gubernur Sumsel, para dubes itu juga akan makan bersama Walikota Palembang, Eddy Santana Putra. (ant)

Sumber: http://www.sinarharapan.co.id

Indonesia Pemasok Terbesar Kedua Wisatawan ke Malaysia

Medan - Indonesia masih tetap menjadi pemasok wisatawan terbesar kedua ke Malaysia ditengah semakin meningkatnya kunjungan pelancong ke negara itu atau mencapai 23,65 juta orang pada 2009.

"Benar, Indonesia menjadi pemasok wisatawan terbesar ke Malaysia setelah Singapura dengan angka kunjungan 2,405 juta orang di tahun 2009. Tahun 2010 diperkirakan kunjungan dari Indonesia masih akan bertambah," kata Director of Tourism Malaysia di Medan, Noor Azman Samsudin, di Medan, Jumat.

Dia berbicara usai pengenalan Konsul Jenderal Malaysia yang baru bertugas di Medan, Norlin Othman sekaligus penyerahan penghargaan kepada perusahaan penerbangan dan biro perjalan wisata di Sumut sebagai apresiasi atas dukungan yang berdampak pada terus meningkatnya kunjungan wisatawan asal Sumut maupun nasional ke Malaysia.

Menurut dia, selain berwisata, wisatawan Indonesia yang ke Malaysia juga melakukan pemeriksaan kesehatan atau berobat ke rumah sakit yang dewasa ini menjadi salah satu andalan pemasukan devisa negara itu.

"Potensi wisatawan Indonesia khususnya asal Sumatera masih sangat besar karena itu Malaysia berupaya terus meningkatkan promosi ke Indonesia termasuk Sumatera yang menjadi pemasok terbesar," katanya.

Dia menjelaskan, kunjunga wisatawan ke Malaysia yang sebanyak 23,65 juta pada tahun 2009 itu bertambah 7,2 persen dari tahun 2008, bahkan di atas target yang hanya 21 juta orang pada tahun 2009.

"Dengan potensi yang masih besar di Indonesia dan Singapura maupun China, maka tahun 2010, Malaysia menaikkan target kunjungan wisatawannya menjadi 24 juta orang," katanya.

Konsul Jenderal Malaysia di Medan, Norlin Othman, mengatakan, meningkatnya kunjungan wisatawan Indonesia ke Malaysia dan termasuk sebaliknya menunjukkan hubungan yang semakin bagus antara kedua negara itu.

"Bukan hanya di sektor pariwisata, tetapi di sektor investasi dan hubungan politik-pun antara Indonesia dan Malaysia cukup bagus dan itu diharapkan bisa terus ditingkatkan," katanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Hj Nurlisa Ginting, mengatakan, bukan hanya kunjungan wisatawan Indonesia yang naik ke Malaysia, tetapi juga sebaliknya.

Di Sumut misalnya, pertumbuhan kunjungan wisatawan Malaysia hingga November 2009 mencapai 24,65 persen atau dari 72.805 orang tahun 2008 menjadi 90.311 orang.

"Sumut sendiri aktif melakukan promosi dan kerja sama dengan Malaysia untuk meningkatakan kunjungan wisatawan termasuk investasi," kata Nurlisa.

Tahun ini, Sumut menargetkan bisa mendapat kunjungan wisatawan sebanyak 200 ribu orang dari target tahun lalu hanya 175.000 orang dengan prakiraan Malaysia masih menjadi pemasok utama.

Sumber: http://www.antaranews.com

Perlu Akses Jalan Cepat ke Objek Wisata Pantai Selatan DIY

Yogyakarta - Objek wisata pantai selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yang membentang dari wilayah Kabupaten Gunungkidul, Bantul hingga Kabupaten Kulonprogo, cukup potensial dan layak jual, kata Ketua Forum Silaturahmi Insan Pariwisata (Fosipa) Indonesia Sarbini.

"Jika akses jalan menuju objek wisata tersebut sudah memadahi, diyakini objek wisata di sepanjang pantai selatan DIY akan banyak dikunjungi wisatawan, baik nusantara maupun wisatawan mancanegara," katanya di Yogyakarta, Kamis.

Menurut dia, selama ini akses jalan menuju objek wisata tersebut sebagian belum bisa dilewati bus besar, padahal akses jalan yang memadai akan memudahkan wisatawan berkunjung ke objek wisata itu.

Ia menyebutkan sejumlah objek wisata pantai di wilayah Gunungkidul yang dinilai cukup menarik dikunjungi terutama pantai dengan pasir putih dan lingkungannya yang masih alami karena belum tercemar, di antaranya Pantai Sundak, Wedi Ombo, dan Pantai Siung.

Kemudian di Bantul terdapat Pantai Parangtritis dan Depok. Di Kabupaten Kulonprogo ada Pantai Glagah dan Trisik.

Menurut dia, objek wisata pantai selatan tersebut jika dikembangkan dan dikelola dengan baik, bisa menjadi objek wisata unggulan di provinsi ini dan layak jual bagi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.

"Promosi objek wisata pantai di DIY harus digalakkan, baik di dalam maupun luar negeri guna menarik minat wisatawan mengunjungi objek wisata tersebut," kata Sarbini.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata DIY Tazbir mengatakan potensi keindahan objek wisata pantai selatan DIY khususnya Gunungkidul, selama ini belum tergarap optimal.

Bahkan, kata dia, promosi objek wisata itu sangat kurang, dan pembangunan infrastruktur jalan masih menghadapi banyak kendala. "Umumnya jalan menuju objek wisata pantai selatan Gunungkidul sempit dan berkelok-kelok," katanya.

Selain itu, jarak tempuh dari kota Yogyakarta juga sangat jauh. "Dari kota Yogyakarta menuju beberapa pantai di Gunungkidul dibutuhkan waktu tempuh sekitar tiga jam dengan mobil," katanya.

Meski demikian, kata dia, pemandangan alam yang ditawarkan beberapa objek wisata pantai di kabupaten ini sangat indah, sehingga diyakini akan menarik minat wisatawan berkunjung ke objek wisata yang ada, seperti Pantai Siung, Wedi Ombo, Sadeng, Pantai Drini, dan sejumlah pantai lainnya yang berpasir putih.

"Bagi investor, peluang untuk menanamkan modalnya di objek wisata pantai di Gunungkidul dinilai tidak rugi. Apalagi saat ini pengurusan perizinannya semakin dipermudah," katanya.

Sumber: http://www.antaranews.com

Upacara 'Ya-Qowiyyu' Sebar 4,5 Ton Kue Apem

Klaten - Sebanyak 4,5 ton kue apem disebarkan dalam upacara adat "Yaa-Qowiyyu" yang diselenggarakan di Sendang Plampeyan, Kelurahan/Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Jumat.

Upacara "Yaa-Qowiyyu" yang merupakan tradisi sejak zaman Mataram Islam oleh Kiai Ageng Gribig dalam penyebaran agama itu dihadiri puluhan ribu orang yang akan memperebutkan kue apem tersebut.

Massa mulai berdatangan dan berkumpul di Sendang Plampeyan Jatinom sejak pukul 11:00 WIB. Mereka dengan sabar menunggu hingga dimulainya acara sebar kue apem yang digelar sekitar pukul 14:00 WIB atau sehabis shalat Jumat di Masjid Gede di Jatinom.

Dua gunungan kue apem yang akan disebarkan diarak dari Masjid Gede hingga ke lokasi di Sendang Plampeyan dan secara simbolis dibuka Bupati Klaten Sunarna. Para santri mengenakan baju warna putih lalu mulai menyebarkan kue apem yang sudah dipersiapkan di dua panggung di lokasi tersebut.

Massa yang datang dari berbagai daerah di Surakarta tersebut sudah menunggu di bawah panggung untuk merebutkan kue apem yang totalnya sekitar 4,5 ton.

Lurah Jatinom Suharji mengatakan, upacara adat Yaa-Qowiyuu yang berarti Maha Kuat ini, sudah menjadi tradisi yang dilakukan masyarakat setempat setiap pertengahan bulan Sapar, mengikuti apa yang dilakukan seorang ulama Kiai Ageng Gribig.

Menurut Suharji, tradisi Yaa-Qiwiyyu dengan penyebaran kue apem dilakukan ketika Kiai Ageng Gribig datang dari shalat Jumat di Mekah dengan membawa oleh-oleh sepasang kue apem. Padahal, dua kue itu, jika dibagikan kepada para santrinya tidak akan cukup.

Oleh karena itu, dua kue apem tersebut dihancurkan dengan adonan tepung beras lalu dibuat kue apem yang dibagikan kepada para santrinya dan tradisi itu dilakukan masyarakat setempat hingga sekarang. "Kue apem yang disebarkan kepada masyarakat tahun ini, sebanyak 4,5 ton atau sekitar 38 ribu kue apem," katanya.

Menurut dia, tradisi Yaa-Qiwiyyu menurut keyakinan warga sekitar, jika mereka mendapatkan kue apem sebagai barokah. Kue apem itu, lalu dibawa pulang untuk ditanam di sawah mereka supaya menjadi subur sehingga kehidupan mereka menjadi sejahtera dan makmur.

Salah seorang pengunjung, Wagiman (39) warga Desa Padas, Jatinom mengatakan, dirinya selalu menghadiri upacara tradisi sebar kue apem yang disebut Yaa-Qowiyyu untuk merebutkan kue tersebut. "Saya yakin jika mendapatkan kue apem yang disebarkan oleh para kerabat Kiai Ageng Gribig akan mendapat barokah.

"Kue apem ini akan saya tanam di lahan tanaman padinya agar dapat hidup subur dan menghasilkan gabah yang melimpah," kata Wagiman.

Camat Jatinom, Jaka Purwanta selaku panitia kegiatan Yaa-Qowiyyu menjelaskan, jumlah pengunjung diperkirakan sekitar 50 ribu orang, tidak hanya dari Klaten, tetapi masyarakat dari luar daerah juga banyak menghadiri acara ini.

Oleh karena itu, pihaknya meminta bantuan aparat kepolisian setempat dengan menurunkan sekitar 100 personel untuk berjaga-jaga dalam upacara penyebaran apem tersebut. Selain itu juga melibatkan puluhan personel Linmas untuk membantu pengamanan.

Sementara massa selain merebutkan kue apem, mereka sebagian juga ada yang melakukan ziarah di makam Kiai Ageng Gribig yang terletak di sekitar Masjid Gede di desa tersebut. Mereka sampai berdesak-desakan untuk mendapatkan tempat antrean untuk berziarah di makam itu.

Sumber: http://oase.kompas.com

Bali Perlu Media Berekspresi Untuk Lestarikan Seni

Bali perlu mengembangkan media untuk berekspresi sebagai upaya mendorong dan menggairahan anak-anak maupun remaja dalam merestarikan seni budaya Bali, di tengah kekhawatiran semakin derasnya pengaruh budaya asing di Pulau Dewata.

"Sanggar Belege yang didukung Pemerintah Kabupaten Gianyar, misalnya, merupakan salah satu contoh yang telah mampu mengembangkan media tersebut, yakni dengan menggelar lomba seni tari anak-anak dan remaja se Bali belum lama ini," kata Kadek Suartaya SSKar MSI, dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Jumat.

Lomba yang digelar sanggar tersebut tercatat diikuti tidak kurang dari 300 peserta.

Suartaya yang juga pengamat masalah seni di Pulau Dewata, menilai rintisan yang dilakukan Sanggar Blege pekan lalu, merupakan sebuah media baru yang mampu membangkitkan kegairahan anak-anak dan remaja dalam melestarikan warisan leluhurnya.

"Anak-anak dan remaja tentu akan mempersiapkan diri secara matang sebelum mengikuti perlombaan itu," ujar Suartaya.

Tanpa ada kegiatan lomba, tentu mereka kurang bergairah untuk belajar atau berlatih seni. Oleh sebab itu, ia mengharapkan setiap sanggar maupun pemerintah kabupaten/kota se Bali dapat mengembangkan media lomba sebagai salah satu pola pembinaan seni budaya Bali.

"Kalau hanya mengandalkan Pesta Kesenian Bali (PKB), baik tingkat kabupaten/kota maupun provinsi yang hanya sekali dalam setahun, anak-anak dan remaja akan kekurangan media untuk mengapresiasikan kemampuannya," katanya.

Mengingat itu, kegiatan lomba tari anak-anak dan remaja se Bali yang dirintis Sanggar Belege Gianyar dapat dilanjutkan secara berkesinambungan oleh sanggar-sanggar seni lainnya.

"Gagasan dan inisiatif dari berbagai kalangan dalam membangkitkan minat seni di kalangan masyarakat, perlu mendapat sambutan secara positif," harap Suartaya.

Ia menilai, seni budaya yang kini masih eksis di tengah perkembangan pariwisata Bali yang cukup pesat, merupakan seni yang erat kaitannya dengan kepentingan ritual dan adat yang dilaksanakan masyarakat Pulau Dewata.

"Tiada hari tanpa kegiatan ritual di Bali, dan setiap pelaksanaan upacara keagamaan di tingkat rumah tangga dan desa adat itu dilengkapi dengan pementasan kesenian," tutur Kadek Suartaya. (srs/SRS/ant)

Sumber: http://vibizdaily.com

Kamis, 28 Januari 2010

PEMERINTAH tengah membangun sekitar 16 kebun raya di 14 provinsi. Pembangunan kebun raya ini akan dilakukan pemerintah daerah bekerja sama dengan Keme


PEMERINTAH tengah membangun sekitar 16 kebun raya di 14 provinsi. Pembangunan kebun raya ini akan dilakukan pemerintah daerah bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Ke 16 kebun raya ini akan melengkapi empat kebun raya yang telah lama ada yakni Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi dan Kebun Raya Eka Karya Bali yang berada di bawah pengelolaan LIPI," ujar Kepala LIPI Umar Anggara Z, Senin (25/1) di Bogor.

Bertambahnya jumlah kebun raya ini dikarenakan tingginya antusiasme daerah untuk membangun kebun raya, mengingat arti penting keberadaan kebun raya sangat baik untuk kelestarian lingkungan.

"Keberadaan kebun raya sebagai salah satu upaya untuk mengurangi penurunan emisi sebesar 20 persen. Kita sangat mendukung daerah-daerah yang ingin membangun kebun raya," ujar Wakil Menteri Perkerjaan Umum, Ahmad Hermanto Dardar.

Sementara itu Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Endang Sukara mengatakan, keberadaan kebun raya di berbagai daerah di Indonesia sebagai salah satu solusi strategis bagi upaya penyelamatan tumbuhan Indonesia dari ancaman kepunahan.

"Keberadaan kebun raya di provinsi nantinya dapat menyelamatkan flora endemik di daerahnya, selain itu kebun raya juga berfungsi sebagai tempat riset, pendidikan dan wisata," ujarnya.

Umar menambahkan, dengan pembangunan 16 kebun raya baru ini, diharapkan di masa yang akan datang ada lebih banyak kebun raya baru yang dibangun, mengingat besarnya keanekaragaman hayati dimiliki Indonesia.

"Tumbuhan yang menghuni bumi Indonesia mencapai 38.000 jenis tumbuhan berbunga atau kurang lebih 10 persen dari yang ada di dunia, dan begitu luasnya wilayah yang kita miliki serta besarnya manfaat yang ditimbulkan dengan adanya kebun raya," ujarnya.

Saat ini ada tiga kebun raya yang penyusunan master plannya sudah selesai tahun ini, yaitu Kebun Raya Solok, Kebun Raya Minahasa dan Kebun Raya Kendari.

Lokasi pembangunan Kebun Raya Solok terletak di wilayah Negeri Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak, Kebupaten Solok Provinsi Sumatera Barat. Berlokasi pada ketinggian 599 - 665 meter diatas permukaan laut, di atas lahan seluas 112 hektare dengan tema utama konservasi dan pengembangan tumbuhan rempah.

Kebun Raya Minahasa terletak di kelurahan Marawas, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawasi Utara. Tedapat pada ketinggian 925 - 1100 meter di atas permukaan laut. Dibangun pada lahan seluas 186 hektare dengan terma konservasi dan pengembangan tumbuhan dataran tinggi Wallaceae.

Sedangkan Kebun Raya Kendari terletak di Desa Nanga-Nanga Kecamatan Kuasia, Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Terdapat pada ketinggian 90-196 meter di atas permukaan laut dilahan seluas 113 hektare. Dengan tema utama konservasi dan pengembangan tumbuhan daerah ultrabasic atau daerah dengan bebatuan yang berkompetensi sangat basah.(Ant/Ol-5)

Sumber : http://www.blogger.com

Banten Lama Siap Sukseskan Tahun Kunjungan Museum

DINAS Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemerintah Provinsi Banten siap mensukseskan tahun kunjungan museum 2010-2014, dengan menyiapkan salah satu objek wisata Banten Lama di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten Egi Djanuswati mengatakan, situs Banten Lama atau komplek makam keluarga Sultan Maulana Hasanuddin termasuk di dalamnya Mesjid Agung Banten Lama, memiliki nilai sejarah yang besar khususnya dalam perkembangan Islam di tanah air.

Karena hingga saat ini, ribuan warga setiap bulan dari berbagai pelosok tanah air yang mengunjungi lokasi tersebut atau berziarah tidak pernah surut.

"Banten Lama akan kami tata dan benahi khusunya terkait keterangan-keterangan benda bersejarah yang ada di lokasi tesebut, untuk menyukseskan tahun kunjungan museum 2010-2014 di Banten," kata Egi di Serang, Selasa (26/1).

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) tahun 2010 sebanyak 25 ribu orang dan 27 juta kunjungan wisatawan nusantara.

Menurutnya, salah satu upaya untuk menarik kunjungan wisatawan tersebut, Disbudpar Banten akan mengembangkan objek wisata di Pantai Barat Banten, khususnya kawasan wisata Pantai Carita dan Anyer.

Salah satu upaya mengembangkan objek wisata di kawasan tersebut diantaranya membangun beberapa rest area yang memadai, perbaikan penerangan jalan umum (PJU) serta infrastruktur lainnya.

"Kami juga meminta pihak pengelola objek wisata meningkatkan pelayanan berupa pertunjukan kesenian tradisional khas Banten seperti debus, angklung dan tarian khas lainnya serta makanan tradisional," kata Egi.

Peningkatan pelayanan objek wisata tersebut, juga merupakan bagian dari aspirasi wisatawan dari survey wisman yang pernah datang ke Banten pada 2009.

Egi mengatakan, Pantai Anyer dan Carita merupakan dua lokasi wisata di Banten yang paling banyak dikunjungi wisatawan sepanjang tahun 2009. Sehingga pada 2010 pihaknya akan kembangkan objek wisata tersebut untuk meningkatkan daya tarik para wisatawan nusantara maupun mancanegara.

"Kami juga bekerjasama dengan pihak PT Garuda Indonesia untuk lebih mengenalkan budaya atau wisata Banten termasuk makanan khas daerah, merupakan bagian dari corporate social responsibility (CSR) dan program kemitraan bina lingkungan," kata Egi.(Ant/Ol-5)

Sumber : http://www.blogger.com

Menengok Kampung Kusta Sitanala Di Banten

Sekilas tak ada yang tampak tak lazim pada pemukiman penduduk yang bermula di belakang kompleks Rumah Sakit Kusta dr Sitanala, Desa Karang Sari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten.

Hanya ada deretan rumah petak kecil yang berdiri berjajar dengan jalanan tanah berbatu yang becek, pagar bambu di pinggir jalan, masjid, beberapa warung kecil dan pohon-pohon buah yang basah oleh hujan yang mengguyur kampung sejak pagi.

"Tapi coba perhatikan orang-orang yang tinggal di sini, tukang becak yang mangkal di ujung jalan," kata JP Handoko Soewono, dokter yang bertugas di Rumah Sakit Kusta Sitanala sejak tahun 1987.

Dua tukang becak yang mangkal di ujung jalan menuju kampung, beberapa jari tangannya tidak utuh, tiga kakek yang duduk di depan kopel mereka juga demikian, bahkan ada yang jari kaki dan tangannya rusak.

Mereka adalah mantan penderita kusta. Dulu bakteri Mycobacterium leprae menginfeksi tubuh mereka, membuat beberapa bagian tubuh mati rasa sehingga tak sadar benda-benda di sekitar melukai tubuh dan akhirnya meninggalkan kecacatan.

Menurut Muhammad Mitam (55), Ketua RT 01/RW 13 di kampung itu, sebagian besar warga kampung adalah mantan penderita kusta yang sebelumnya menjalani pengobatan di Rumah Sakit Kusta Sitanala.

Dari 300 kepala keluarga yang tinggal di RT 01/RW 13, kata dia, 210 kepala keluarga diantaranya adalah mantan penderita kusta.

"Asalnya dari mana-mana, dari 27 provinsi ada semua, ada yang dari Ambon, Manado, Sumatera dan lain-lain," katanya.

Laki-laki asal Subang, Jawa Barat, yang ketika berusia 17 tahun dirawat di Sitanala karena terserang lepra itu menuturkan, dulu orang-orang yang pernah sakit kusta tidak diterima di warga kampung sehingga tetap tinggal di rumah sakit meski masa pengobatan telah usai.

"Kusta masih dianggap penyakit kotor, kutukan akibat macam-macam perbuatan jahat yang pernah dilakukan. Orang kampung biasanya tidak mau terima. Makanya mantan penderita tidak kembali ke kampung," katanya.

Pihak rumah sakit pun menyediakan rumah untuk transit bagi mantan penderita sampai mereka bisa membangun rumah sendiri di lahan kosong di dekat rumah sakit.

"Awalnya hanya ada sekelompok rumah tapi kemudian bertambah padat. Sampai sekarang ada lima RT yang sebagian besar penghuninya mantan penderita kusta," kata Mitam.

Ia menjelaskan pula bahwa stigma buruk pada mantan penderita kusta pada masa itu membuat mereka sulit mendapatkan pekerjaan sehingga akhirnya hanya bisa bekerja di lingkungan rumah sakit, menjadi tukang sapu di kantor kotamadya, atau mengayuh becak untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Mitam, yang sekarang sudah punya tiga anak dan tiga cucu, juga bekerja di rumah sakit setelah sembuh dari penyakit yang membuat punggung dan tangannya hingga kini penuh bekas luka.

"Dulu saya di bagian pembuatan sandal dan kaki palsu. Sekarang di bagian tata usaha," kata Mitam yang berbangga akhirnya bisa menjadi pegawai pemerintah dan mendapat rumah dinas meski hanya lulusan Sekolah Dasar.

Ali Nurdin (57), yang kaki, tangan dan beberapa bagian tubuhnya rusak akibat kusta, juga bekerja di lingkungan rumah sakit setelah sembuh dari kusta.

Sebagai mantan penderita kusta yang tangan dan kakinya sudah cacat, dia tidak bisa kembali bekerja menjadi kuli angkut di Tanjung Priok. Dia juga tidak bisa pulang ke kampungnya di Bangkalan, Madura, dan tidak pernah mencoba melakukannya.

"Adik saya perempuan jadi sejak awal saya tidak bilang ke keluarga kalau sakit kusta, apalagi kembali ke sana dalam keadaan begini. Takutnya keluarga disebut macam-macam dan mengalami kesulitan. Saya menganggap diri saya anak hilang saja sejak itu," katanya.

Setelah menjalani pengobatan dan terapi selama dua tahun lebih, Ali tinggal di rumah transit dan menjadi pesuruh di rumah sakit. Kadang dia mengecat rumah petugas rumah sakit dan mendapatkan upah sekedarnya.

Pada masa itu, kata Ali, tidak mudah bagi orang-orang seperti dia mendapatkan pekerjaan di luar lingkungan rumah sakit.

"Jangankan bekerja, belanja di toko saja, pelayan mengambil uang dari kami dengan kertas. Saya ingat benar saat itu. Padahal kalau sudah berobat, meski tubuh cacat kami sudah tidak bisa menularkan penyakit, yang bahaya justru yang kelihatannya sehat tapi tubuhnya mengandung basil," katanya.

Namun Ali tidak pernah menyalahkan orang-orang yang takut atau jijik melihat kondisi tubuhnya.

"Karena saya sendiri, yang juga sakit, agak takut saat melihat kawan-kawan lain yang kena kusta, saat reaksi muka, tangan dan kaki bengkak semua. Rasanya seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum," kata Ali yang siang itu hanya mengenakan celana panjang hitam yang warnanya telah pudar dengan kaus kaki biru berlubang, membuat bekas luka akibat kusta pada tubuh, tangan dan sebagian kakinya terlihat.

Berubah Bersama Waktu
Dulu kampung itu eksklusif karena tidak ada warga luar yang berani keluar masuk kecuali petugas rumah sakit. Mantan penderita kusta masih dikucilkan.

Tapi stigma buruk terhadap penderita dan mantan penderita kusta di kampung itu memudar perlahan bersama pergerakan waktu.

Kata Mitam, setelah tahun 1988 penderita kusta tidak lagi dikucilkan masyarakat. Mereka bisa membaur dengan masyarakat lain. Anak-anak mereka juga tidak mendapat perlakuan buruk di sekolah.

"Banyak anak-anak eks penderita di sini yang kemudian menjadi orang sukses, ada yang jadi tentara dengan pangkat letnan, perawat, pekerja di bandara atau pedagang," kata Mitam.

Warga kampung lain juga sering bertandang ke kampung itu, bahkan ada yang mengontrak rumah di sana. Kampung itu tidak menyendiri lagi.

"Ada juga orang dari luar yang menikah dengan anak-anak mantan penderita kusta di sini dan kemudian tinggal di sini. Anak-anak mereka tidak ada yang kena kusta," katanya.

Orang sakit kusta yang selesai menjalani pengobatan di Rumah Sakit Sitanala sekarang juga tidak tinggal di kampung itu, tapi kembali ke keluarga dan kampung mereka sendiri.

"Sekarang keluarga bersama mereka. Selama pengobatan mereka kebayakan bersama keluarga, setelah selesai mereka pulang bersama keluarga," katanya.

Namun kondisi itu tampaknya belum merata di seluruh wilayah.

Hasil penelitian Yayasan Transformasi Lepra Indonesia (YTLI) di 15 perkampungan mantan penderita kusta di Indonesia selama November 2007-Februari 2008 menunjukkan bahwa meski mantan penderita kusta sudah bisa hidup membaur dengan masyarakat namun stigma buruk masih dilekatkan pada mereka, membuat mereka rentan terdiskriminasi.

Penelitian yang melibatkan 502 warga kampung kusta di Papua Barat, Sulawesi Selatan, NTT, Bali, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat,Kalimantan Selatan dan DKI Jakarta juga menunjukkan bahwa hidup mereka belum banyak berubah, masih miskin dan terpinggirkan.

Turun Tapi Masih Tinggi
Dulu 550 bangsal di Rumah Sakit Sitanala hampir selalu penuh dengan pasien kusta. "Mulai tahun 2000 jumlahnya turun, selalu di bawah 100 pasien. Sekarang ini hanya ada 70 pasien," kata dr.Handoko.

Secara nasional, kejadian penyakit kusta juga mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir namun angkanya masih tinggi jika dibandingkan dengan kejadian kusta di negara lain.

Kementerian Kesehatan mencatat, sampai akhir 2008 ada 17.441 kasus baru kusta baru di Indonesia, terbanyak nomor tiga di dunia.

Sebanyak 1500-1700 kasus kecacatan akibat kusta setiap tahunnya juga masih ditemukan karena kebanyakan penyakit terlambat terdeteksi sehingga terlanjur menyebabkan kerusakan organ tubuh.

"Itu karena ada daerah-daerah yang masih menjadi kantong kusta. Kebanyakan daerah-daerah terpencil yang belum punya akses ke sarana kesehatan," kata Handoko.

Menurut data Kementrian Kesehatan, saat ini masih ada 14 propinsi yang punya beban kusta yang tinggi dengan angka penemuan kasus baru lebih dari 10 per 100 ribu atau penemuan kasus barunya melebihi seribu kasus per tahun.

Daerah yang memiliki beban kusta tinggi antara lain DKI Jakarta, Jawa tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, seluruh Sulawesi, seluruh Papua dan Maluku.

Pemerintah menjalankan program berkesinambungan untuk menurunkan kejadian penyakit menular yang paling sulit menular ini menjadi kurang dari 10 per 10 ribu penduduk di semua kabupaten yang ada di Indonesia.

Upaya itu antara lain dilakukan dengan melakukan deteksi dini kasus kusta dan pengobatan dengan obat ganda (Multi Drug Therapy/MDT) untuk mencegah kecacatan.

"Obat kusta gratis dari pemerintah," kata Handoko.

Pemerintah juga berusaha mengubah pandangan masyarakat luas tentang kusta dan mantan penderita kusta serta meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang penyakit itu supaya kasusnya bisa terdeteksi dan tertangani sejak dini.

Namun kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam pengendalian penyakit kusta belum memberikan perubahan nyata pada perbaikan kondisi epidemiologi penyakit tersebut.

Pemerintah di daerah kantung harus bekerja lebih keras dan menerapkan program-program inovatif untuk menurunkan penemuan kasus dan kecacatan pada tahun-tahun mendatang sebab bila program kusta tidak berjalan baik, maka dikhawatirkan dalam tahun-tahun mendatang jumlah penderita kusta akan bertambah secara mengejutkan.

Upaya terobosan yang dibutuhkan untuk mempercepat eliminasi kusta antara lain peningkatan dan perluasan pelayanan kesehatan terpadu, penyediaan pelayanan kusta pada satu hinga tiga puskesms per kabupaten, pengobatan cuma-cuma bagi penderita dengan MDT sesuai rekomendasi WHO serta penguatan sistem rujukan.

"Yang tak kalah penting adalah mengintensifkan edukasi kepada masyarakat supaya tidak ada lagi stigma sosial. Kasus kusta juga bisa ditemukan dan ditangani sejak dini sehingga kecacatan bisa dicegah dan basil-basil penyebab lepra tidak menyebar dan menular kemana-mana," kata Handoko.

Dokter yang sejak tahun 1980 sudah menangani kasus kusta itu menjelaskan pula bahwa sebenarnya kusta akan dengan sendirinya tiada kalau kondisi ekonomi penduduk baik.

"Obat MDT yang bisa menyembuhkan kusta baru dipakai WHO tahun 1981 tapi di Eropa kusta sudah tidak ada tahun 1952. Jadi saya yakin, kalau masalah kemiskinan bisa diatasi kejadian penyakit ini akan terus turun dan akhirnya habis," demikian JP Handoko Soewono.

Sumber : http://beritadaerah.com

Candi Syiwa yang Ditemukan di Area Kampus UII Diusulkan Namanya Candi Pustakasala

SLEMAN - Candi Syiwa yang ditemukan di area kampus UII Jogjakarta kian menarik perhatian. Tiap jam istirahat, 12.00-13.00, candi berupa lingga, yoni, dan arca Ganesha tersebut selalu ramai dikunjungi warga sekitar.

UII turut meramaikan dengan mengusulkan sebuah nama baru untuk candi yang sementara diberi nama Kimpulan itu. Nama Kimpulan diambil dari daerah penemuan candi tersebut, Dusun Kimpulan.

Ketua Tim Ekskavasi dari Badan Wakaf UII Suwarsono menyatakan, lembaganya mengusulkan nama baru Pustakasala. Menurut dia, nama tersebut muncul setelah berdiskusi dengan beberapa arkeolog.

Pustakasala berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti perpustakaan. "Ini masih berupa usul secara informal. Nama itu muncul dan disesuaikan dengan momentum saat hendak membangun perpustakaan di lokasi penemuan candi tersebut," papar mantan dekan Fakultas Ekonomi UII itu kemarin (26/1).

Hal tersebut dikuatkan dengan rencana Badan Wakaf UII untuk menjadikan candi itu sebagai halaman depan perpustakaan. Lembaga yang dipimpin Luthfi Hasan tersebut awalnya mengusulkan empat bakal nama candi. Yakni, Ganesha, Kala, Padma, dan Pustakasala. "Nama yang terakhir itulah yang dipilih Badan Wakaf," ungkapnya.

Selanjutnya, kata Suwarsono, Badan Wakaf UII akan melakukan pembicaraan lebih dalam dengan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata terkait dengan penamaan candi yang ditemukan pada Jumat, 11 Desember 2009, tersebut.

Kapokja Pemugaran Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jogjakarta Budhy Sancoyo tidak mempermasalahkan soal usul penamaan candi. "Boleh-boleh saja. Itu kan keinginan Badan Wakaf. Tapi, kalau ada temuan prasasti, ya harus dibicarakan lagi. Termasuk jika ditemukan tulisan-tulisan pendek pada batu-batuan kuno."

Jika ada tulisan yang menunjukkan jati diri candi tersebut, sangat mungkin, penamaan disesuaikan dengan isi dalam tulisan itu. Budhy memaparkan, prasasti yang ditemukan pada suatu situs kuno biasanya menjadi dasar penelusuran asal benda yang ditemukan. Termasuk candi.

Hingga kemarin, tim ekskavasi masih melanjutkan penggalian untuk mencari delapan Lingga Pathok yang diperkirakan tersebar di delapan penjuru mata angin. "Hari ini (kemarin, Red) lapisan budaya candi (maeveld) sudah kelihatan hingga pagar halaman," ungkapnya. Tim masih akan mencari denah pagar halaman untuk mengetahui luas candi secara keseluruhan. (yog/jpnn/end)

Sumber : http://www.jawapos.com

India Akan Berpartisipasi pada Pesta Danau Toba 2010 ; Parlindungan Purba: Dijajaki Kerjasama yang Lebih Luas

ndia akan berpartisipasi pada Pesta Danau Toba tahun ini. Kepastian ini disampaikan Konsul Jenderal India di Medan R Sukumaran saat menerima kunjungan anggota Dewan Perwakilan daerah (DPD) RI yang juga

Ketua Panitia Pesta Danau Toba 2010 Parlindungan Purba di ruang kerjanya, Rabu (27/1).

"Sampaikan pada kami kapan pesta itu digelar serta kegiatan-kegiatan apa saja yang bisa diisi sehingga kami bisa segera mempersiapkan diri," ujar R Sukumaran dengan antusias.

Parlindungan mengungkapkan Pasta Danau Toba yang akan digelar tahun ini pasti akan berubah dibanding tahun-tahun sebelumnya. "Selama ini pesta itu sangat monoton karena hanya menggelar tari tradisional dan olahraga tradisional sehingga kurang diminati wisatawan terutama asing," ungkapnya.

Untuk tahun ini kata Parlindungan Purba, Pesta Danau Toba sifatnya internasional karena melibatkan negara lain seperti India yang berjanji akan berpartisipasi.

Di samping itu lanjutnya, kegiatan-kegiatan yang digelar juga tidak semata tari dan olahraga tradisional tapi juga pertemuan antara pengusaha baik lokal maupun asing. "Jadi sifatnya kegiatan internasional dalam segala bidang termasuk investasi," ujarnya.

Karena itu ujar Parlindungan Purba yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, semua kabupaten/kota khususnya yang wilayahnya merupakan bagian dari Danau Toba akan dilibatkan. "Sasaran kita tidak hanya wisatawan saja tapi juga investor khususnya asing," ujarnya.

R Sukumaran sendiri yang mengaku sudah pernah ke Danau Toba merasa terkesan dengan keindahan danau. Namun ia menyarankan agar wisata di Danau Toba benar-benar dikelola dengan baik agar banyak dikunjungi wisatawan.

Kerjasama yang Lebih Luas
Pada pertemuan itu Parlindungan juga menjajaki kemungkinan kerjasama yang lebih luas antara Sumatera Utara dengan India.

Parlindungan Purba mengakui India memiliki teknologi yang jauh berkembang dibanding Indonesia. "Karena itu bagaimana caranya agar bisa dijalin kerjasama paling tidak ada transfer teknologi yang bisa dimanfaatkan Sumatera Utara," ujarnya.

Menurut Parlindungan, pihaknya berencana membawa pengusaha dan pejabat Sumatera Utara untuk melihat potensi kerjasama antara kedua belah pihak. "Karena itu saya akan bertanya ke Bappeda, potensi kerjasama di bidang apa yang bisa dijalin," ujarnya.

R Sukumaran sendiri menawarkan, pada setiap November di New Delhi digelar India International Trade Festival yang diikuti pelaku bisnis dari seluruh dunia.

Ia berharap rombongan atau delegasi dari Sumatera Utara bisa mengikuti festival ini sehingga bisa melihat secara langsung bidang-bidang apa yang bisa dijajaki untuk kerjasama.

Parlidungan Purba menyambut baik tawaran ini. Namun ia mengatakan masih akan dibahas dulu dengan para pengusaha dan pemerintah Sumatera Utara. "Kalau tidak ikut festival itu mungkin kita bisa membawa rombongan pada lain waktu asal difasilitasi dan dibantu pihak Konjen atau Kedutaan Besar India," ujarnya.

Menurut Parlindungan Purba sedikitnya ada tiga sektor yang sangat potensial untuk dikembangkan di Sumatera Utara dan bisa belajar dari India yaitu sektor infrastruktur, energi dan kesehatan.

"Kita berharap jalinan kerjasama seperti yang diharapkan Pak Gubernur bisa terjalin dengan baik," harapnya. (rrs)

Sumber : http://www.analisadaily.com

Batik dan Komodo Ikon Indonesia di Matka

LONDON-I: Batik Indonesia dan Komodo menjadi ikon anjungan Indonesia pada pameran pariwisata 'Matka Nordic Travel Trade Fair 2010' yang diselenggarakan di Helsinki 'Conference and Fair Center'.

Kedua ikon tersebut dipilih dalam rangka memperkenalkan Batik secara luas kepada masyarakat Finlandia sebagai warisan budaya yang memperoleh pengakuan UNESCO, dan mendukung upaya Pemerintah Indonesia dalam menominasikan Pulau Komodo sebagai salah satu dari New 7 Wonders of Nature.

Sekretaris Ketiga Fungsi Sosbudpen KBRI Helsinki, Andy Aron, Kamis (28/1), mengatakan bahwa hal itu sejalan dengan tema utama MATKA 2010 Travel as a Preserver of Culture.

KBRI Helsinki menampilkan promosi wisata Indonesia dengan tema Indonesia: A Land of Precious Cultural Heritage, menampilkan koleksi Batik Indonesia (Batik Corner) dan miniatur hewan komodo.

Selain itu, anjungan Indonesia menawarkan informasi tentang warisan kebudayaan Indonesia, seperti Keris, Wayang, Candi Borobudur, Tana Toraja, dan pusat pariwisata Indonesia, seperti Bali, Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

Dubes RI untuk Republik Finlandia dan Estonia Harry Purwanto, membuka anjungan Indonesia dengan pemotongan pita dan pemukulan gong. Acara pembukaan dihadiri Dubes/Kepala Perwakilan negara-negara ASEAN di Helsinki dan wakil dari industri pariwisata Finlandia dan Estonia, serta mitra KBRI.

Partisipasi Indonesia pada Matka mendapat dukungan Panorama Tours, yang memberikan penawaran paket tur wisata dan hotel di Bali, Lombok, dan Pulau Komodo, serta bisnis spa dan wellness dengan memperkenalkan produk spa Indonesia.

Matka merupakan ajang pameran terbesar di kawasan Nordik dan Baltik, berlangsung selama empat hari dihadiri sekitar 81.537 pengunjung, yang 14.296 di antaranya dari industri pariwisata dan profesional.

Pameran yang diikuti 1.231 peserta 78 di antaranya dari negara asing, termasuk Indonesia, sedangkan negara ASEAN lainnya berasal dari Thailand (Tourism Authority of Thailand), Malaysia (Malaysia Tourism Board), dan Vietnam (Vietnam Travel Agency Association).

Menurut Andy Aron, minat dari kalangan masyarakat Finlandia untuk mengetahui tujuan wisata di Indonesia makin meningkat. Hal ini tergambar dengan makin banyaknya enquiries dan kunjungan terhadap anjungan Indonesia pada Matka Fair.

Diperkirakan lebih dari seribu pengunjung mendatangi anjungan Indonesia, baik untuk secara langsung meminta informasi tentang pusat tujuan wisata, maupun paket berlibur wisata dan paket tur.

Finlandia pasar potensial, dimana minat masyarakatnya bepergian ke luar negeri cukup tinggi, karena tingkat kesejahteraan dan daya beli cukup tinggi, serta kebiasaan melakukan wisata ke luar negeri khususnya pada musim dingin.

Secara statistik, terdapat peningkatan kunjungan wisman Finlandia ke Indonesia yang cukup signifikan, tahun 2007 hanya sekitar 8.500, dan akhir 2009 meningkat menjadi 11.500 dari 5,3 juta penduduk.

Setidaknya, enam tour operator terbesar di Finlandia menjual paket wisata dan tur Indonesia, yakni Kaleva Travel, Suomen-Seuran Matkat, Lomamatkat, Helinmatkat, E-Bookers, dan Matkaporssi. Kaleva Travel, tour operator terbesar di Finlandia, memuat profil tentang Bali dan Jawa sepanjang lima halaman pada majalah empat bulanan yang diterbitkan pada bulan Januari 2010.

Profil wisata Bali-Jawa di majalah Kaleva merupakan keberhasilan KBRI Helsinki mempromosi Indonesia melalui penyelenggaraan FAM Trip Jawa-Bali yang diikuti 10 travel agents dan travel writers tergabung pada PATA Finland Chapter tahun lalu.

Production Manager Helinmatkat Jaana Nystrom mengungkapkan bahwa Bali menduduki peringkat keenam dari daftar tujuan wisata yang menghasilkan return terbesar bagi perusahaannya.

"Bali sudah dikenal luas oleh masyarakat Finlandia, dan menjadi salah satu tempat favorit untuk menyelenggarakan perkawinan dan honeymoon (bulan madu) bagi pasangan muda Finlandia," ujarnya.

Selain Bunaken, Lombok, Wakatobi, dan Raja Ampat menjadi salah satu tujuan wisata alternatif bagi masyarakat Finlandia yang hendak menghabiskan masa liburannya di tempat yang jauh dari keramaian turis mancanegara.

Seorang pasangan Finlandia memiliki diving cottages bernama "Living Colors" di Bunaken, Sulawesi Utara, yang menjadi pusat tujuan wisatawan pecinta selam (diving).

Dibukanya penerbangan langsung Jakarta-Amsterdam melalui Garuda Indonesia pada bulan Juni 2010, diharapkan mampu membuka keran arus masuk wisatawan Eropa, termasuk Finlandia, ke Indonesia, demikian Andy Aron. (Ant/OL-02)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

Raja Ampat Gelar Festival Bahari 2-9 Mei

Kabupaten Raja Ampat di Provinsi Papua Barat sepertinya ingin tetap mempertahankan pamornya sebagai kawasan bahari yang kaya akan potensi alam, budaya, dan seni. Pada ulang tahun Kabupaten Raja Ampat ke-7, pemda setempat menggelar Festival Bahari pada 2-9 Mei 2010.

Ketua Panitia Festival Bahari, Becky Rahawarin, Rabu (27/1/2010) kepada Kompas, mengatakan Festival Bahari digelar di sekitar ibu kota kabupaten di Waisai, sekitar 3 jam menumpang speedboat dari Kota Sorong. Festival ini mengundang kabupaten lain di Papua yang memiliki pantai untuk berpartisipasi. Selain itu, kabupaten tetangga seperti Wakatobi juga turut diminta memeriahkan kegiatan ini.

Beberapa rincian festival yaitu Lomba Foto Bawah Laut, Lomba Perahu Dayung, orientasi bawah air, olahraga pantai seperti voli dll, dan atraksi budaya lokal. Atraksi budaya lokal akan ditampilkan oleh masyarakat Raja Ampat dan peserta dari kabupaten lain.

Khusus Raja Ampat, Becky mengatakan masyarakat setempat siap mempertontonkan perahu tradisionalnya yang digunakan nenek moyangnya untuk mengarungi lautan. Masyarakat Raja Ampat juga akan mempertontonkan kebiasaan mengonsumsi buah mangrove. "Masih banyak atraksi khas yang mungkin baru pertama kali dipertontonkan," ujarnya berpromosi.

Becky yang juga Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Raja Ampat ini mengakui Waisai tidak memiliki banyak tempat penginapan di daratan. Namun, panitia berusaha menyediakannya melalui kerja sama dengan operator-operator kapal, semacam live aboard sebagai hotel terapung.

Usai menikmati festival, lanjut Becky, wisatawan dapat melanjutkan kunjungan dengan mendatangi berbagai lokasi wisata alam Raja Ampat yang terkenal sebagai untaian jamrud di Papua. Ini karena Raja Ampat terdiri dari ratusan pulau-pulau kecil.

Festival Bahari Raja Ampat diagendakan menjadi kegiatan tahunan untuk meningkatkan arus wisatawan. Saat ini, di Papua terdapat Festival Lembah Baliem di Wamena Kabupaten Jayawijaya, Festival Asmat, Festival Kamoro di Timika, dan Festival Danau Sentani di Jayapura.

Sumber: http://travel.kompas.com

Rabu, 27 Januari 2010

Wisata Pesisir Jakarta Terhalang Infrastruktur

Jakarta - Wali kota Jakarta Utara (Jakut) Bambang Sugiyono menyayangkan Pengembangan 12 destinasi wisata pesisir di wilayahnya masih terganjal dengan infrastruktur pendukung yang masih kurang.

“Masih banyak kendala, khususnya infrastruktur pendukung masih sangat kurang,” katanya di Jakarta Utara, Jumat.

Infrastruktur yang masih kurang adalah akses jalan, drainase dan pertamanan.

Ia menyebutkan, salah satu destinasi menuju Masjid Luar Batang yang sangat diminati wisatawan untuk berziarah. Kondisi jalannya masih minim, selain sempit jalannya mesti berputar-putar melintasi perkampungan penduduk.

“Menuju ke rumah Si Pitung di Marunda, pengunjung harus berjalan kaki. Dan juga kondisi Gereja Tugu masih jauh dari yang diharapkan sebagai tujuan objek wisata,” ujarnya.

Padahal Wali kota Jakut itu ingin gencar melakukan promosi 12 destinasi wisata pesisir di wilayahnya.

Sebanyak 12 destinasi tersebut adalah Pelabuhan Sunda Kelapa, Masjid dan Makam Luar Batang, Central Grosir Manggadua, Taman Margasatwa Muara Angke, Central Perikanan Muara Angke, Taman Impian Jaya Ancol, Olahraga Air Bahtera Jaya, Stasiun KA Tanjungpriok, Masjid Jakarta Islamic Center, Kampung Tugu (Gereja Tugu), Museum Bahari, dan Mall Kelapagading.

Namun demikian, Bambang tetap berusaha optimistis dengan kekurangan tersebut untuk melakukan promosi dengan mengajak masyarakat dan para pemangku kepentingan yang ada di Jakarta Utara.

Ia mengatakan, setiap kelurahan dan kecamatan dimintanya memasang spanduk banner di depan kantornya. Bahkan spanduk dipasang di pintu keluar tol di kawasan Jakarta Utara.

Menurut mantan pejabat Kesbang DKI tersebut, jika 12 destinasi objek wisata pesisir ini bisa berjalan sesuai dengan harapan dapat mendongkrak potensi ekonomi warga yang ada di dalam destinasi.

“Mereka bisa berjualan makanan, minuman, dan suvenir,” paparnya.

Untuk memperbaiki infrastruktur tersebut, Pemkot Jakarta Utara memperoleh kucuran dana Rp25 miliar yang ditujukan memperbaiki jalan, drainase, dan taman. “Dengan anggaran itu masih kurang, namun kita tetap optimistis mengembangkannya secara simultan. Dan kami juga menggandeng setiap potensi yang ada di Jakarta Utara,” terangnya.

Rumah Si Pitung, rencananya pihak Pemkot Jakarta Utara akan menambahkan ornamen maupun barang-barang yang berhubungan dengan sang legendaris jawara Betawi tersebut. Pasalnya, selama ini pengunjung mengeluh ketika berkunjung hanya didapati rumah panggung Si Pitung yang kosong melompong.

Selain itu, Pemkot Jakut juga akan mendirikan kantor Sekretariat 12 destinasi wisata pesisir di daerah Sunda Kelapa yang juga salah satu destinasi.

Rencananya di pelabuhan itu akan digelar seni budaya etnis yang ada di Jakarta Utara secara terjadwal. “Dengan begitu adanya `event` (kegiatan) itu diharapkan bisa menarik wisatawan nusantara dan mancanegara,” katanya. (*an/ham)

Sumber: http://matanews.com

Turis Buru Minuman Rumput Laut

Written by anton

Tanjungpinang - Ramainya suasana kejuaraan Dragon Boat Race yang digelar oleh Pemerintah Kota Tanjungpinang yang digelar dari tanggal 6 - 9 November 2009 dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat serta UKM dengan menggelar jualan aneka panganan dan kerajinan yang berciri khas dari Kepri.

Satu di antaranyanya stand pameran yang menjajakan makanan dan minuman yang berasal dari rumput laut.

Stand yang hanya berukuran dua kali tiga meter persergi ini dikelola para ibu rumah tangga yang berdomisili di Jalan Perikanan, Kelurahan Kampung Baru, Tanjungpinang. Mereka tergabung dalam kelompok usaha bersama (Kube) Sari Rumput Laut. Hasil olahan rumput laut itu disajikan dalam bentuk makanan dan minuman seperti bakso, kerupuk, dodol bahkan jus dan sirup.

Menurut pengurus Kube Sari Rumput Laut, Yanti, pameran makanan dan minuman yang bersumber dari rumput laut ini sebagai bentuk usaha serta promosi sekaligus mengenalkan hasil rumput laut ke masyarakat umum. “Kita mencoba mengenalkan dan mempromosikan semua panganan dan minuman bersumber dari rumput laut hasil buatan kami dalam pameran ini,” kata Yanti.

Yanti menambahkan, usaha budidaya rumput laut ini dipandang sangat menjanjikan dan menguntungkan dilihat dari hasilnya. Untuk ke depan para ibu rumah tangga ini merencanakan akan membuat makanan yang bersumber dari rumput laut ini dalam jumlah besar dan akan langsung memasarkan ke supermarket dan beberapa tempat lainya.

“Ke depannya, sambil menunggu adanya ijin dari Dinas Kesehatan Tanjungpinang serta menunggu uluran modal, kita akan mempromosikan makanan ini hingga masuk ke supermarket dan beberapa tempat lainya,” kata Yanti.

Yanti mengatakan bahwa panganan hasil rumput laut ini nantinya tidak hanya untuk di konsumsi lokal saja, namun juga akan segera mempromosi produk ini sebagai salah makanan khas asal Tanjung pinang dalam bentuk bingkisan. “Biasanya para turis dan wisatawan baik lokal maupun mancanegara suka akan makanan jenis itu,” kata Yanti. (isu)

Sumber: http://tribunbatam.co.id

Tim Kesenian Paser Raih Juara Umum

TANAH GROGOT –Warga Kabupaten Paser patut berbangga dengan tim kesenian Kabupaten Paser yang ikut serta dalam festival Kemilau Seni Budaya Benua Etam Kaltim 2009 yang laksanakan di Samarinda, Kamis-Sabtu (5-7/11). Pasalnya, kontingen Paser keluarga sebagai juara umum dalam festival budaya, kesenian dan olahraga tradisional tersebut.

Tim kesenian Paser yang berjumlah 30 penari dan kelompok pemusik serta ditambah 60 orang yang terlibat dengan berbagai kegiatan yang dilombakan dan termasuk pameran yang secara khusus saat bertolak ke Samarinda dilepas Bupati HM Ridwan Suwidi, Rabu (4/11) lalu, dipimpin langsung Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Paser Abdul Azis Maulana.

Menurut Azis Maulana saat dihubungi melalui telpon selulernya Minggu kemarin, keberhasilan tim kesenian Paser keluar sebagai juara umum setelah mampu mendulang beberapa gelar juara yang dilombakan dalam festival Kemilai Seni Budaya yang resmi ditutp Gubernur Kaltim, Sabtu (7/11) malam.

Dalam beberapa kegiatan lomba jelaas Azis Maulana, untuk parade tari tim Paser keluar sebagai juara kedua dan masing-masing untuk musik serta tari keluar sebagai juara satu, feshion harapan satu, pameran juara harapan dua , vokali terbaik serta lomba masak harapan kedua.

“Kita mampu menggungguli 12 kabupaten/kota di Kaltim yang turut serta dalam festivak Kemilau Seni Budaya Kaltim ini, dan juara umum ini sangat istimewa karena diperoleh setelah sekian tahun kita selalu berada berada dibawah. Yang jelas, kesuksesan ini menjadi prestasi dan sangat luar biasa bagi daerah Paser,” kata Azis Maulana.

Prestasi tim kesenian Paser memang sudah ditunjukan saat tampil dalam pagelaran seni dan budaya di anjungan Kaltim Tamin Mini Indonesia Indah (TMII) Oktober lalu, dan hal itu diakui pengelola anjungan Daerah Kaltim TMII Faturracham yang menurutnya penampilan Paser termegah dan termeriah dari tampilan –tampilan Kabupaten/kota wilayah Kaltim selama ini.

Atas prestasi yang sangat luar biasa yang juga disampikan para duta besar yang hadir saat itu, salah satu dari tiga tarian yang ditampilkan akan mewakili Kaltim pada festival tari nasional dalam rangka Hut Taman Mini 2010 nanti. Tarian tersebut adalah tari Gawi Gata Ulun Bawe yang merupakan tarian pesisir yang menceriatakan suka cita wanita dalam kehidupan sehari-hari dalam mengerjakan pekerjaan rumah seperti menampi beras dan mencuci pakaian.

Saat tampil festival Kimilau, tim Paser yang mempunyai moto Paser Buen Kesong ini, menampilkan tiga tarian yang sama, yakni tari keraton berjudul Seleloi Ulet, tari Pedalaman Mamolio Olo Bulan serta tari Pesisir Gawi Gata Ulun Bawe yang dipersembahkan masing-masing 13 penari dan didukung grup musik yang juga binaan Disbudparpora.(hp9/kpnn)

Sumber: http://www.metrobalikpapan.co.id

Hah, Berwisata ke Tempat Sampah

Banjarbaru - Kepala Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Tata Ruang Kota Banjarbaru, Ogi Fajar Nuzuli, membuka wacana menjadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Hutan Panjang menjadi tempat wisata dan rekreasi.

"Wacana menjadikan TPA Hutan Panjang sebagai tempat wisata memang sengaja kami angkat agar masyarakat mengetahui, TPA bukanlah tempat menakutkan yang dipenuhi sampah maupun barang buangan lain," ujarnya, Minggu (8/11).

Wacana itu muncul setelah melihat kondisi geografis kawasan sekitar TPA yang nyaman dan indah dipandang mata, karena berlatar panorama alam pegunungan Meratus sehingga cocok dijadikan kawasan wisata alam.

Selain pemandangan yang indah, TPA yang terletak di Jalan Transad Gunung Kupang, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru berbatasan dengan Desa Mandi Angin Barat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar juga ditata sehingga tampak asri dan menarik.

Di depan gerbang TPA ditanami bunga hias aneka jenis dan warna membentuk taman, dan di sepanjang sisi ruas jalan mulai tumbuh pohon peneduh jenis Ketapang.

"Jadi, bagi yang pernah datang ke sana, seakan-akan merasa bukan memasuki kawasan TPA yang kurang nyaman karena dipenuhi sampah dan bau busuk, tetapi justru merasa datang ke tempat wisata yang teduh dan asri dihiasi pemandangan alam yang indah," ungkapnya.

Dari sisi pengelolaan, TPA yang semula luasnya hanya 10 hektar tetapi kini bertambah menjadi 40 hektar itu, dikelola dengan baik, karena tanah bekas timbunan sampah sudah diolah menjadi pupuk organik.

Selain mampu menghasilkan pupuk organik, pengolahan beraneka jenis sampah juga menghasilkan pupuk cair yang bisa dimanfaatkan untuk menyirami tanaman terutama sayuran yang sudah dibudidayakan di areal setempat.

Pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama dengan penanam modal yang berminat mengembangkan budidaya perikanan memanfaatkan areal sekitarnya termasuk pengembangan tanaman perkebunan seperti pisang dan jagung.

Jika kerja sama itu terjalin, masyarakat setempat yang jumlahnya mencapai 150 KK akan diajak menggarap. Mereka juga diberi keahlian bercocok tanam padi menggunakan pupuk organik tanpa pestisida yang produktivitas dan harga jual lebih mahal dibanding beras.

"Sudah ada penanam modal yang berminat dan tengah penjajakan untuk menjalin kerjasama. Jika semua konsep itu terwujud dan terealisasi di lapangan, pelan-pelan baru dipromosikan kawasan TPA sebagai tempat yang cocok baik untuk wisata maupun rekreasi," katanya.

Sumber: http://travel.kompas.com

Jejak Sejarah Seni Rupa Jatim Pikat Wisatawan

Surabaya - Jejak sejarah seni rupa khas Jawa Timur kian memikat sejumlah wisatawan domestik dan manca negara seiring upaya Pemerintah Provinsi Jatim dalam meningkatkan kunjungan mereka ke beberapa objek wisata yang menyebar di berbagai wilayah.

Konsultan seni asal Surabaya, Freddy H. Istanto, menjelaskan, Jawa Timur memiliki basis potensi sejarah budaya lokal yang panjang. Bahkan, ada banyak ragam seni yang dapat ditelaah lebih lanjut oleh pencinta seni secara nasional dan internasional.

"Untuk merangkum sejumlah karya seni itu, kami merangkul Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim dan `House of Sampoerna/HOS` melaksanakan pameran seni bertema `Mengurai Akar Budaya`," katanya, di Surabaya.

Dalam penyelenggaraan pameran seni rupa yang biasa disebut Biennale Jatim III, lokasi pameran itu akan menempati Galeri Seni "House of Sampoerna/HOS" di Jalan Taman Sampoerna Surabaya.

"Puluhan karya seni tradisional perupa Jawa Timur akan kami hadirkan di sana," katanya.

Secara terpisah, kurator Agus Koecink, membenarkan, akan menampilkan karyanya di sana. Pihaknya mencontohkan, beragam karya seninya dan perupa lain seperti lukisan kaca Tulungagung, damar kurung Gresik keramik malo Bojonegoro, patung kayu punokawan Lawang, wayang beber Pacitan, dan lainnya direncanakan menghiasi ruang pamer tersebut.

"Puluhan karya seni kontemporer lain juga dipamerkan di empat galeri seni di Surabaya antara lain di Galeri Seni Orasis, Galeri Sozo, Galeri Surabaya, dan Seni Galeri di AJBS," katanya.

Ia mengaku, kegiatan itu merupakan seni rupa kontemporer dengan alur konsistensi penyelenggaraan setiap dua tahun sekali. Sementara, penyelenggaraan ke-3 itu dilaksanakan sejak 2005. Perhelatan seni rupa ini mempresentasikan perkembangan seni rupa di Jatim.

"Kegiatan ini bisa mengenalkan masyarakat terhadap sejarah bergulirnya kebudayaan di pelosok Jatim," katanya.

Tujuan kegiatan ini, kata dia, mengeksplorasi idiom budaya lokal sebagai semangat penciptaan karya seni rupa bersifat kekinian atau seni kontemporer dalam pengertian bukan sebuah mashab.

"Selama ini kesenian tradisi sebagai akar budaya telah dilupakan, terpinggirkan dan tidak dikelola. Padahal, budaya lokal dapat memberi kita pelajaran hidup tentang kearifan, kepandaian, dan kejeniusan lokal," katanya.

Ia mencontohkan, seni rupa pada masa lalu itu terlihat menarik di beberapa bangunan kuno, relief candi, lukisan kaca, wayang beber, damar kurung, topeng tradisi, batik tulis, dan lainnya. Ia optimistis benang-benang akar itu akan menumbuhkan semangat karya seni rupa kontemporer yang berdasarkan kearifan lokal.

"Semoga seluruh karya tersebut dapat memberi inspirasi tersendiri bagi perupa pemula dan masyarakat Jatim," katanya.

Pameran tersebut, lanjut dia, tidak lepas dari campur tangan instansi pemerintah dan "HOS" untuk memperkenalkan dan meningkatkan apresiasi masyarakat provinsi ini terhadap karya seni para seniman di Jatim.

Sumber: http://www.antaranews.com

Water World Mekarsari Siap Beroperasi

Taman Wisata Mekarsari (TWM) di Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, siap meluncurkan wahana baru berupa arena wisata air Mekarsari Amazing Water World dalam beberapa pekan ke depan. "Dalam minggu-minggu ini kita siap soft launching," kata General Manajer TWM Hari Tanjung di Bogor, Rabu (9/12).

Ia mengatakan pembangunan wahana air di taman wisata yang menggabungkan unsur rekreasi, edukasi dan konservasi tersebut sudah 90 persen selesai. "Untuk grand launching kemungkinan baru dua atau tiga bulan ke depan," katanya.

Wahana seluas tujuh hektare tersebut akan menjadi wahana wisata air terbesar di Indonesia yang juga dilengkapi dengan wisata adrenalin yang juga berada di sekitar danau, seperti Sabut Kelapa Outbound, Paintball, Banana Boat, Kano, Angsa Air, Perahu Naga.

Hari mengatakan, pihaknya juga berencana membangun resor di seberang Danau Mekarsari untuk mengakomodasi kebutuhan pengunjung taman wisata terutama yang berasal dari luar daerah.

"Saya seringkali mendapat pertanyaan, kalau mau ke Mekarsari bisa menginap dimana. Sementara di sini kami hanya mempunyai empat unit Rumah Pohon, tidak cukup untuk mengakomodasi pengunjung dalam rombongan besar," katanya.

Pembangunan resor tersebut diperkirakan bisa dimulai tahun depan setelah pembangunan arena wisata air selesai.

Water Sport Academy
Sementara itu, juru bicara TWM Catherina W Day mengatakan, pada tahun 2010 berencana membuka institusi pendidikan independen bernama Water Sport Academy dalam upaya mencari bibit-bibit handal di bidang olah raga air. ''Ide ini diharapkan bisa terealisir pada bulan April 2010,'' katanya.

Ada tiga cabang olah raga air yang bakal dijadikan andalan di Water Sport Academy, yaitu Jet Ski, Ski Air dan Wakeboarding. "Pada Sabtu (18/11), ketiga cabang ini mulai test drive di Danau Mekarsari," katanya.

Kegiatan test drive ini dibuka secara umum, sehingga para pengunjung Taman Wisata Mekarsari juga dapat menyaksikan atraksi-atraksi spektakuler dari berbagai kelas yang nantinya bakal ada di Water Sport Academy.

Catherina mengatakan, Water Sport Academy direncanakan menjadi bagian dari masyarakat umum. Ini berarti siapa saja dapat mencoba, belajar dan mendalami ketiga jenis olah raga air tadi di Danau Mekarsari yang luas totalnya mencapai 27,5 hektare.

Instruktur yang nantinya diturunkan adalah para atlet terbaik Indonesia yang akan memberikan pola pelatihan dan pengajaran terbaik kepada para peserta pelatihan.(Ant/Ol-5)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com

Tarik Wisatawan Mancanegara, Visa 10 Hari Dihapuskan

Medan - Demi menarik wisatawan mancanegara berkunjung ke dalam negeri, Pemerintah RI menghapuskan izin fasilitas visa on arrival selama 10 hari. Kebijakan ini mulai berlaku Selasa (26/1) pukul 00.00 WIB.

Begitu ditegaskan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Departemen Hukum dan Hak Azasi Manusia (Depkumham) Sumut, Drs Mashudi BcIP MAP didampingi Kepala Kantor Imigrasi (Kakanim) Klas I Polonia, Abdul Rachman SH, kemarin.

Katanya, hal itu sesuai Pasal 3 tentang visa, kunjungan saat kedatangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 diberikan untuk jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari dengan ketentuan. Izin tinggal 30 hari tidak diperbarui lagi. Sehingga rata-rata wisatawan yang tinggal di Indonesia 10 hari menjadi 30 hari sudah cukup.

Pemberian fasilitas ini, menurut Mashudi, salah satu cara memudahkan wisatawan asing datang ke Indonesia, sehingga kemungkinan bisa memperbesar atau mengejar target enam juta wisatawan asing berkunjung ke Indonesia tahun 2010 ini.

Prosedur visa on arrival yang katanya selalu membingungkan, sebelumnya U$10 untuk tujuh hari, kini diberlakukan $25 untuk 30 hari dinilai mengakibatkan terjadinya antrean. Hal ini, tegas Mashudi akan ditertibkan demi memberikan kemudahan pelayanan kepada turis yang masuk ke Indonesia .

Visa kunjungan saat kedatangan dapat diberikan kepada orang asing warga negara atau wilayah tertentu yang bermaksud mengadakan kunjungan ke Indonesia dalam rangka wisata, sosial budaya, usaha, atau tugas pemerintahan dengan mempertimbangkan asas manfaat, saling menguntungkan serta tidak menimbulkan gangguan keamanan.

Orang asing warga negara atau wilayah tertentu itu yakni Amerika Serikat, Australia, Afrika Selatan, Argentina, Brazil, Denmark, Emirat Arab, Finlandia, Hongaria, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Norwegia, Perancis, Polandia, Swiss, Selandia Baru (New Zealand), Taiwan dan Korea Selatan. (dn)

Sumber: http://www.analisadaily.com

Pengembangan Pariwisata Pandeglang Melalui Pendekatan Ekonomi

Bupati Pandeglang, Erwan Kurtubi menjelaskan, pengembangan pariwisata di daerah itu akan dilakukan melalui pendekatan pertumbuhan dan pemerataan ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat dengan berorientasi pada pengembangan wilayah.

"Pengembangan ekonomi juga harus bertumpu pada masyarakat dan bersifat memberdayakan warga yang mencakup berbagai aspek seperti sumber daya manusia, pemasaran, destinasi, ilmu pengetahuan, dan teknologi, keterkaitan lintas sektor dan kerja sama antar negara," katanya di Pandeglang.

Yang juga tidak kalah pentingnya, kata dia, pengembangan pariwisata juga harus mampu memberdayakan usaha kecil serta tanggung jawab dalam pemanfaatan sumber daya alam dan budaya yang ada.

Sedang untuk pemasaran, kata dia, harus dilaksanakan secara bersama-sama, terpadu dan berkesinambungan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dengan tetap mengedepankan tanggung jawab dalam membangun citra Pandeglang dan citra Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Pandeglang menjadikan sektor pariwisata sebagai andalan dalam meningkatkan perekonomian daerah itu selain bidang pertanian secara luas.

Di kabupaten tersebut cukup banyak obyek wisata dan kebudayaan dengan ciri dan kekhasan tersendiri yang bisa dijadikan sebagai modal untuk menarik wisatawan berkunjung ke darah itu.

Kebudayaan yang hingga kini masih "hidup" dan bisa menarik wisatan untuk berkunjung di antaranya, rampak bedug, debus, pandidang pandeglang, peninggalan sejarah pubakala yang jumlahnya cukup banyak.

Sedangkan obyek wisata di antaranya Pantai Carita, Pulau Umang, wilayah wisata Tanjung Lesun, Pulau Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon, Situ Cikeudal dan Cas Waterpark yang di dalamnya ada penangkaran rusa. (rs/RS/ant)

Sumber: http://beritadaerah.com

Belitung Jadi Destinasi Wisata

Pangkalpinang - Dinas kebudayaan dan pariwisata (Dikbudpar), menggelar forum konsolidasi dan koordinasi pemasaran pariwisata, Senin (25/1) di hotel Bumi Asih Pangkalpinang.

Forum tersebut menghadirkan nara sumber Sekretaris Dirjen Pemasaran Depbudpar, Drs Noviendri Makalam MA, Kepala Dikbudpar Babel Yan Megawandi dan Ketua Umum Kadin Babel, Johnnie Sugiarto, serta tamu undangan yang berasal dari pelaku usaha, instansi terkait, dan dinas kabupaten/kota .

Kadisbudpar Babel, Yan Megawandi mengungkapkan visit Babel Archipelago 2010 sudah diluncurkan oleh Menteri Kebudayaan Pariwisata pada Desember 2009.

"Pak Menteri sangat antusias sekali, dimana Belitung akan dijadikan destinasi bersama dengan Lombok," ungkap Yan, Senin kemarin.

Ia mengungkapkan, dalam hal strategi pemasaran dilakukan bermacam cara, dengan membuat paket yang sedikit berbeda dari yang biasanya seperti wisata tambang, wisata religi, dan wisata alam.

"Untuk objek wisata sejarah itu ada tempat pembuangan founding fathers seperti wisma ranggam, gunung menumbing. Situs kota kapur, rumah Mayor Cina Muntok, lokasi kapalkapal tenggelam, museum timah Indonesia dan Museum Geologi Belitung," kata Yan, yang menambahkan saat ini untuk aksesibilitas di Babel sudah tersedia kapal cepat seperti dari PalembangMuntok, Tanjung PandanPangkalpinang dan untuk penerbangan terdapat 10 kali penerbangan perhari.

Sementara itu, Sekretaris Dirjen Pemasaran Depbudpar, Drs Noviendi Makalam MA mengungkapkan sebagai daerah wisata diperlukan peningkatan destinasi melalui revitalisasi objek wisata, diversifikasi produk, dan pengembangan paket yang unik.

Ciptakan Multi Produk

Terpisah Johnnie Sugiarto CEO, Eljohn Indoensia saat dikonfirmasi Grup Bangka Pos, baru- baru ini menyatakan, Babel jangan memfokuskan menjadi single produck karena sangat berbahaya.

"Kalaupun kita seratus persen berharap pasca timah adalah pariwisata juga tidaklah benar. Kita mesti menciptakan multi produk dengan perkebunan, perikanan, industri jasa, dan lainnya untuk menjadi Babel sebagai destinasi pariwisata," kata Johnnie.

Di tanya kesiapan Babel dalam rangka Visit Babel Archi, Johnnie menyatakan, Babel siap, namun soal kematangan tetap memerlukan proses dan membutuhkan banyak waktu. Seperti Bali menurutnya sampai bisa terkenal membutuhkan waktu 50 tahun.

"Setelah 50 tahun kemudian, Bali baru Launching menjadi destinasi pariwisata. Bahkan dari zaman Belanda, Bali sudah dipromosikan sebagai objeknya wisata. Untuk Babel, boleh saja pariwisata nantinya menjadi sektor yang terdepan untuk menarik sektor yang lain, tapi tidak boleh sepenuhnya hanya mengandalkan sektor pariwisata, seperti pertanian yang bagus bisa menjadi agrowisata,h)dan lainnya," jelas Johnnie.

Meurutnya, ada beberapa kunci agar pariwisatanya lebih terangkat, yakni pejabat yang memimpin. Kalau pejabat yang memimpin tidak tertarik dengan dunia pariwisata atau tidak support, maka destinasi itu tidak akan terjadi atau perkembangan wisatanya akan berjalan lambat. (I4/sas)

Sumber: http://www.bangkapos.com

Upacara Adat Saparan Bekakak di Sleman

Sleman - Upacara adat Saparan bekakak yang dijadwalkan digelar Jumat 29 Januari di Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), akan dimeriahkan ratusan badut pada saat kirab budaya.

"Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, upacara adat Saparan bekakak pada tahun ini mengusung tema tradisional moderen," kata ketua panitia upacara ini, Frans Haryono, Senin.

Menurut dia, selain menampilkan berbagai potensi dan kesenian tradisional daripuluhan "bregada" (pasukan) prajurit, panitia juga mengundang berbagai komunitas moderen seperti komunitas mobil Willis, Vespa, sepeda "onthel" (genjot), dan mobil hias.

"Bahkan pada tahun ini Saparan bekakak diperkirakan akan lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya, karena dalam kirab budaya yang akan menempuh jalan sepanjang empat kilometer dari Balai Desa Ambarketawang menuju Gunung Gamping ini, dimeriahkan pula dengan ratusan badut, disamping "ogoh-ogoh" dan ’gendruwo’," katanya.

Ia mengatakan upacara adat Saparan bekakak akan diawali dengan upacara pembukaan di Balai Desa Ambarketawang yang dimeriahkan fragmen dengan lakon "Prasetyaning Sang Abdi".

Setelah itu dilanjutkan dengan kirab sepanjang empat kilometer menuju Gunung Gamping sebagai tempat penyembelihan bekakak. "Kirab akan menampilkan tiga kelompok yaitu kelompok prakirab, kirab adat, dan kirab pendukung," katanya.

Menurut dia, kelompok prakirab akan menyajikan komunitas mobil Willis, komunitas Vespa, sepeda "onthel", kelompok tonti (peleton inti) dari sejumlah sekolah menengah atas (SMA) di wilayah Gamping.

Kemudian kelompok kirab adat menampilkan kelompok dari muspika, pasukan berkuda, sejumlah bregada prajurit, serta komunitas kesenian tradisional.

Sedangkan kelompok kirab pendukung meliputi komunitas dari luar Ambarketawang seperti 10 "bregada" dari wilayah Bantul, di antaranya Pedes, Kalipakis, Banguntapan, Imogiri, dan "bregada" Anggabayan.

Kepala Dinas Kebudayan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Sleman Untoro Budiharjo mengatakan Saparan Bekakak merupakan kegiatan besar budaya, dan bahkan gaungnya sudah nasional, sehingga kehadirannya sangat dinanti-nantikan warga Yogyakarta dan sekitarnya, bahkan oleh wisatawan domestik serta mancanegara yang sedang berada di Yogyakarta.

"Kemasan penampilannya yang dipadukan dengan nuansa badut, tentu akan lebih menarik bagi warga masyarakat dan wisatawan," katanya.

Ia mengatakan terkait dengan kegiatan tersebut pihaknya minta maaf kepada masyarakat umum khususnya para pemakai jalan di jalur yang terpaksa ditutup sementara untuk kirab, termasuk sebagian ruas jalan "ring-road" (jalan lingkar) barat yang juga digunakan untuk kirab ini.

Sumber: http://oase.kompas.com

16 Kebun Raya Daerah segera Dibangun

Pemerintah tengah membangun sekitar 16 kebun raya di 14 provinsi. Pembangunan kebun raya ini akan dilakukan pemerintah daerah bekerja sama dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

"Ke 16 kebun raya ini akan melengkapi empat kebun raya yang telah lama ada yakni Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi dan Kebun Raya Eka Karya Bali yang berada di bawah pengelolaan LIPI," ujar Kepala LIPI Umar Anggara Z, Senin (25/1) di Bogor.

Bertambahnya jumlah kebun raya ini dikarenakan tingginya antusiasme daerah untuk membangun kebun raya, mengingat arti penting keberadaan kebun raya sangat baik untuk kelestarian lingkungan.

"Keberadaan kebun raya sebagai salah satu upaya untuk mengurangi penurunan emisi sebesar 20 persen. Kita sangat mendukung daerah-daerah yang ingin membangun kebun raya," ujar Wakil Menteri Perkerjaan Umum, Ahmad Hermanto Dardar.

Sementara itu Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Endang Sukara mengatakan, keberadaan kebun raya di berbagai daerah di Indonesia sebagai salah satu solusi strategis bagi upaya penyelamatan tumbuhan Indonesia dari ancaman kepunahan.

"Keberadaan kebun raya di provinsi nantinya dapat menyelamatkan flora endemik di daerahnya, selain itu kebun raya juga berfungsi sebagai tempat riset, pendidikan dan wisata," ujarnya.

Umar menambahkan, dengan pembangunan 16 kebun raya baru ini, diharapkan di masa yang akan datang ada lebih banyak kebun raya baru yang dibangun, mengingat besarnya keanekaragaman hayati dimiliki Indonesia.

"Tumbuhan yang menghuni bumi Indonesia mencapai 38.000 jenis tumbuhan berbunga atau kurang lebih 10 persen dari yang ada di dunia, dan begitu luasnya wilayah yang kita miliki serta besarnya manfaat yang ditimbulkan dengan adanya kebun raya," ujarnya.

Saat ini ada tiga kebun raya yang penyusunan master plannya sudah selesai tahun ini, yaitu Kebun Raya Solok, Kebun Raya Minahasa dan Kebun Raya Kendari.

Lokasi pembangunan Kebun Raya Solok terletak di wilayah Negeri Aripan, Kecamatan X Koto Singkarak, Kebupaten Solok Provinsi Sumatera Barat. Berlokasi pada ketinggian 599 - 665 meter diatas permukaan laut, di atas lahan seluas 112 hektare dengan tema utama konservasi dan pengembangan tumbuhan rempah.

Kebun Raya Minahasa terletak di kelurahan Marawas, Kecamatan Tondano Utara, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawasi Utara. Tedapat pada ketinggian 925 - 1100 meter di atas permukaan laut. Dibangun pada lahan seluas 186 hektare dengan terma konservasi dan pengembangan tumbuhan dataran tinggi Wallaceae.

Sedangkan Kebun Raya Kendari terletak di Desa Nanga-Nanga Kecamatan Kuasia, Kota Kendari Provinsi Sulawesi Tenggara. Terdapat pada ketinggian 90-196 meter di atas permukaan laut dilahan seluas 113 hektare. Dengan tema utama konservasi dan pengembangan tumbuhan daerah ultrabasic atau daerah dengan bebatuan yang berkompetensi sangat basah.(Ant/Ol-5)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com

Banten Lama Siap Sukseskan Tahun Kunjungan Museum

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Pemerintah Provinsi Banten siap mensukseskan tahun kunjungan museum 2010-2014, dengan menyiapkan salah satu objek wisata Banten Lama di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten Egi Djanuswati mengatakan, situs Banten Lama atau komplek makam keluarga Sultan Maulana Hasanuddin termasuk di dalamnya Mesjid Agung Banten Lama, memiliki nilai sejarah yang besar khususnya dalam perkembangan Islam di tanah air.

Karena hingga saat ini, ribuan warga setiap bulan dari berbagai pelosok tanah air yang mengunjungi lokasi tersebut atau berziarah tidak pernah surut.

"Banten Lama akan kami tata dan benahi khusunya terkait keterangan-keterangan benda bersejarah yang ada di lokasi tesebut, untuk menyukseskan tahun kunjungan museum 2010-2014 di Banten," kata Egi di Serang, Selasa (26/1).

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) tahun 2010 sebanyak 25 ribu orang dan 27 juta kunjungan wisatawan nusantara.

Menurutnya, salah satu upaya untuk menarik kunjungan wisatawan tersebut, Disbudpar Banten akan mengembangkan objek wisata di Pantai Barat Banten, khususnya kawasan wisata Pantai Carita dan Anyer.

Salah satu upaya mengembangkan objek wisata di kawasan tersebut diantaranya membangun beberapa rest area yang memadai, perbaikan penerangan jalan umum (PJU) serta infrastruktur lainnya.

"Kami juga meminta pihak pengelola objek wisata meningkatkan pelayanan berupa pertunjukan kesenian tradisional khas Banten seperti debus, angklung dan tarian khas lainnya serta makanan tradisional," kata Egi.

Peningkatan pelayanan objek wisata tersebut, juga merupakan bagian dari aspirasi wisatawan dari survey wisman yang pernah datang ke Banten pada 2009.

Egi mengatakan, Pantai Anyer dan Carita merupakan dua lokasi wisata di Banten yang paling banyak dikunjungi wisatawan sepanjang tahun 2009. Sehingga pada 2010 pihaknya akan kembangkan objek wisata tersebut untuk meningkatkan daya tarik para wisatawan nusantara maupun mancanegara.

"Kami juga bekerjasama dengan pihak PT Garuda Indonesia untuk lebih mengenalkan budaya atau wisata Banten termasuk makanan khas daerah, merupakan bagian dari corporate social responsibility (CSR) dan program kemitraan bina lingkungan," kata Egi.(Ant/Ol-5)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com

Wisata Religi 'Nguras' Enceh

Oleh Eny Prihtiani

Saat Sultan Agung sedang bertapa mencari petunjuk lokasi yang tepat bagi makam raja, ia kesulitan mendapatkan air untuk berwudu. Ia lantas menancapkan tongkatnya ke tanah yang terkenal dengan sebutan Bengkang, dan keluarlah air dari dalam tanah. Air inilah yang digunakan untuk mengisi enceh atau padasan di Makam Raja Imogiri.

Pada acara nguras enceh, pertengahan Desember, air dari dalam enceh menjadi rebutan para pengunjung. Mereka menganggapnya sebagai air suci seperti halnya air zamzam di Mekkah. ”Saya datang jauh-jauh dari Kebumen ke sini khusus untuk mendapatkan air enceh. Tujuannya supaya kehidupan keluarga saya mendapat berkah,” kata Taufan, seorang pengunjung yang ikut berebut air.

Untuk mendapatkan sebotol air dari enceh, Taufan harus menaiki 454 anak tangga dari total 554 anak tangga untuk mencapai lokasi. Karena kelupaan tidak membawa botol, ia pun membeli satu botol plastik ukuran 1 liter seharga Rp 1.000 yang dijajakan para penjual di sekitar makam. Tak hanya air enceh yang diperebutkan, tetapi juga nasi gurih sesaji.

”Jauh-jauh hari saya sudah mengumpulkan botol plastik untuk dijual. Jumlah yang saya sediakan sekitar 20 botol. Lumayanlah hasilnya bisa untuk belanja keperluan dapur,” kata Nuryanti, seorang penjual botol plastik.

Tak hanya menguntungkan bagi pedagang botol, mitos keampuhan air enceh juga mendatangkan rezeki dari sekitar 200 juru kunci makam. Sejumlah pengunjung memberikan uang kepada para juru kunci yang menuangkan air ke dalam botol dengan besaran sekitar Rp 1.000 per botol.

Rezeki itu cukup memberikan angin segar bagi para juru kunci makam mengingat honor yang mereka terima selama ini sangat rendah, yakni Rp 9.000 per bulan.

Meski budayawan Kuntowijoyo meletakkan mitos dalam periode awal evolusi pemikiran manusia, toh mitos akan kesakralan air enceh tetap bertahan hingga saat ini. ”Percaya enggak percaya, tetapi air enceh memang banyak dicari orang. Motifnya beragam sesuai dengan doa yang mereka panjatkan,” kata Rohmat, salah satu juru kunci Makam Raja Imogiri.

Empat enceh
Ada empat enceh yang terletak di depan pintu gerbang I, dua di bagian kiri dan dua enceh di bagian kanan. Bagian kiri bernama Kiai Mendung dan Kiai Siyem (milik makam raja-raja Surakarta). Bagian kanan bernama Kiai Danumurti dan Kiai Danumaya (milik makam raja Yogyakarta).

Keempat enceh tersebut adalah simbol kejayaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Enceh-enceh itu adalah upeti yang diberikan kerajaan Aceh, Palembang, Siam (Bangkok), dan Ngerum (Istanbul), setelah mereka dikalahkan oleh Sultan Agung.

Awalnya kerajaan-kerajaan itu mau memberikan upeti berupa perhiasan dan harta benda lainnya. Namun, Sultan Agung adalah sosok yang sederhana. Mereka pun memberikan enceh karena tahu Sultan Agung adalah penyiar agama. ”Enceh itu pun digunakan untuk tempat berwudu saat kerajaan Mataram masih di bawah kendali Sultan Agung. Setelah beliau wafat, lalu dibawa ke sini,” kata Wasim, juru kunci makam lainnya.

Makam Imogiri merupakan kompleks makam bagi raja-raja Mataram dan keluarganya. Kompleks ini berada di Girirejo, Imogiri. Makam ini didirikan oleh Sultan Agung antara tahun 1632 dan 1640. Sultan Agung wafat pada tahun 1645.

Enceh yang terbuat dari tanah liat itu dikuras selama setahun sekali pada Jumat Kliwon bulan Sura, jika tidak ada akan diganti dengan Selasa Kliwon. Jumat Kliwon menjadi pilihan karena, menurut perhitungan orang Jawa, Jumat Kliwon sangat sakral. Meski dikuras setahun sekali, airnya tetap bersih. Tidak ada lumut atau jentik di dalamnya.

Menurut Wasim, tradisi menguras enceh sebenarnya memiliki arti mendalam. Nguras berarti membersihkan, yakni membuang hal-hal jelek dan menggantinya dengan kebaikan. Karena itu sangat tepat bila dilangsungkan pada tahun baru Jawa. Bagi masyarakat timur, tahun baru lebih dimaknai sebagai wahana reflektif kehidupan selama setahun terakhir.

Wasim mengatakan, juru kunci akan melayani pengunjung yang meminta air hingga sore. ”Selama masih ada yang minta, akan terus kami layani. Kalau sudah sore, enceh baru kami penuhi lagi,” katanya.

Satu hari sebelum acara nguras enceh, masyarakat Imogiri menggelar acara kirab budaya. Kirab itu mengantarkan siwur (gayung) menuju makam yang akan digunakan untuk menguras enceh.

Siwur sengaja dipakai karena memiliki makna suci. Konkretnya adalah menjadi manusia berilmu dan berakhlak.

Siwur berasal dari bahasa Jawa, si dan wur yang berarti wis berisi aja ngawur. Maksudnya, bila seseorang telah menguasai banyak ilmu pengetahuan, jangan digunakan serampangan atau ngawur. Siwur dibuat dari batok kelapa.

Kirab diawali dari halaman kantor Kecamatan Imogiri menuju kediaman juru kunci makam Surakarta untuk mengambil siwur, lalu dilanjutkan ke kediaman juru kunci makam Yogyakarta dengan kegiatan yang sama.

Meski sudah berusia ratusan tahun, keempat enceh di Makam Raja Imogiri masih berdiri kokoh. Tak ada satu pun bekas rekahan. Kekokohan itu sekaligus bukti proses akulturasi budaya Islam dan Hindu-Buddha.

Enceh sebagai tempat berwudu adalah perangkat bagi ajaran Islam, sementara kepercayaan terhadap kesucian air enceh adalah bagian animisme/dinamisme, yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi Hindu-Buddha.

Sumber: http://cetak.kompas.com

Selasa, 26 Januari 2010

Babel Rutin Gelar Kegiatan Seni dan Budaya

Pangkalpinang - Pemerintah Provinsi Bangka Belitung (Babel) akan menggelar kegiatan seni dan budaya secara rutin, untuk mengembangkan dan melestarikan kesenian tradisional serta budaya daerah.

"Kami mendorong pemerintah kabupaten dan kota di Babel untuk menggelar kegiatan seni dan budaya secara rutin, sehingga bisa dilestarikan, dikembangkan dan terus diwariskan kepada generasi muda," kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Babel, Yan Megawandi di Pangkalpinang, Selasa.

Ia mengatakan, Pemprov Babel siap menyediakan anggaran Rp1,5 juta setiap minggu bagi daerah kabupaten dan kota yang menggelar kegiatan seni dan budaya.

"Suntikan dana Rp1,5 juta itu merupakan motivasi bagi daerah kabupaten agar mereka lebih kreatif dengan menggelar kegiatan seni dan budaya daerahnya masing-masing," ujarnya.

Menurut dia, pergelaran seni dan budaya daerah merupakan daya tarik pariwisata selain sejumlah objek wisata yang menarik dan eksotis.

"Kami mengharapkan kesenian dan kebudayaan daerah Babel memiliki daya tarik bagi wisatawan baik nusantara dan mancanegara, sehingga mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisata ke Babel," ujarnya.

Selain itu, kata dia, pergelaran kesenian dan kebudayaan daerah merupakan upaya melestarikan, mengembangkan dan mewariskan kepada generasi muda.

"Dengan terus digelar pertunjukan kesenian dan kebudayaan tradisional akan semakin lengket di tengah generasi muda sehingga kesenian dan kebudayaan daerah tidak tergilas oleh perkembangan zaman," ujarnya.

Yan juga mengatakan, digelarnya kesenian dan kebudayaan secara rutin juga memiliki efek terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

"Setidaknya kegiatan tersebut dapat menghidupkan perekonomian masyarakat kecil, jadi orientasinya tidak hanya kepada sektor kepariwisataan tetapi juga menyentuh sektor lainnya," katanya.

Sumber: http://oase.kompas.com

Masyarakat Lampung Timur Lestarikan Tari Legong

Sukadana, Lampung Timur - Masyarakat keturunan Bali di Desa Jembrana, Kecamatan Waway Karya, Lampung Timur, terus melestarikan seni Tari Legong yang dipentaskan setiap tahun di daerah itu.

"Warga di Desa Jembrana memiliki keanekaragaman seni budaya yang telah ada sejak zaman dahulu, dan masih tetap terjaga hingga kini," kata Bupati Lampung Timur Satono, di Desa Jembrana, Senin.

Menurut dia, dengan mengadakan pentas seni budaya Tari Legong dan lainnya, maka hak dan kebebasan memeluk agama tetap terjaga dan berjalan baik tanpa mengganggu pemeluk agama lain, dan itu akan memacu kehidupan yang harmonis. "Kekayaan seni budaya harus senantiasa dijaga, jangan sampai punah," katanya.

Pada kesempatan itu, Bupati Satono memberikan bantuan kepada sesepuh tokoh adat umat Hindu di Desa Jembrana.

"Pemerintah daerah berupaya dalam melestarikan kebudayaan yang ada di Kabupaten Lampung Timur dan diharapkan tokoh adat setempat dapat membina dan menjaga keanekaragaman seni budaya," katanya.

Bupati juga mengimbau kepada masyarakat agar jangan mudah terprovokasi yang mengakibatkan perpecahan antarsuku dan agama.

"Semoga masyarakat dapat hidup berdampingan secara damai meski memiliki banyak perbedaan, namun tetap bisa menjaga nilai persatuan ban kesatuan bangsa," katanya.

Sementara itu, kampung masyarakat Bali di Kabupaten Lampung Timur cukup banyak jumlahnya, di antaranya di Desa Rejobinangun Kecamatan Raman Utara, Desa Melaris Kecamatan Sekampung Udik, Desa Jembrana Kecamatan Waway Karya dan sejumlah kampung lainnya.

Sumber: http://oase.kompas.com

Sultan Serdang agar Jadi Pahlawan

Medan - Sultan Serdang kelima, Sulaiman Shariful Alamshah, diusulkan menjadi pahlawan nasional. Sultan Sulaiman menjadi salah satu dari sedikit raja di Nusantara yang langsung mendukung berdirinya Republik Indonesia. Bahkan, jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, sikap nasionalisme Sultan Sulaiman ditunjukkan ketika dia memerintahkan Istana Kerajaan Serdang dan rakyatnya mengibarkan bendera Merah Putih saat kekuasaan Belanda berakhir di tangan Jepang.

Dalam seminar pengusulan Sultan Sulaiman menjadi tokoh perintis kemerdekaan di Medan, Selasa (19/1), sosok yang lahir di Istana Darul Arif, Rantau Panjang, pada 19 Januari 1865 ini langsung diusulkan menjadi pahlawan nasional dari Sumatera Utara.

Menurut sejarawan dari Universitas Negeri Medan, Ichwan Azhari, sosok Sultan Sulaiman menjadi paling berbeda di antara raja kesultanan Melayu di pesisir Sumatera Timur.

Sultan Sulaiman dianggap sebagai raja Melayu yang berada di belakang perjuangan kaum republiken mendirikan Indonesia. Ini berbeda dengan raja Melayu di Kesultanan Deli ataupun Langkat yang menjadi tetangganya.

”Itulah mengapa saat meletus Revolusi Sosial di Sumatera Utara tahun 1946, Sultan Sulaiman justru selamat. Sultan Sulaiman menjadi salah satu raja selain Sultan Hamengku Buwono IX di Yogyakarta yang langsung menyatakan diri berada di pihak republik begitu Indonesia berdiri,” ujar Ichwan.

Bahkan, lanjut Ichwan, dibandingkan dengan dua kesultanan Melayu lainnya di Sumatera Timur, Kesultanan Serdang dianggap paling mbalelo atas kekuasaan Belanda.

”Dari semua sultan yang ada di Sumatera Utara, Sultan Sulaiman dan ayahnya, Tuanku Basharuddin Syaiful Alamshah, termasuk yang menentang kekuasaan Belanda di tengah kemakmuran yang ditawarkan,” kata Ichwan. (BIL)

Sumber: http://cetak.kompas.com

Sejarawan: Dijajah 350 Tahun itu Mitos

Medan - Sejarawan Taufik Abdullah, SelaRata Penuhsa, mengatakan Indonesia tidak pernah dijajah oleh Belanda selama 350 tahun, sebaliknya Belanda yang memerlukan tiga abad untuk menguasai Indonesia. "Bangsa ini terlalu lama larut dalam mitos bahwa Indonesia pernah hidup dibawah kolonialisme Belanda selama 350 tahun. Ini tidak sesuai dengan fakta, yang terjadi justru Belanda memerlukan lebih dari 300 tahun untuk menaklukkan beberapa daerah di Hindia Belanda," katanya di Medan, Selasa.

Dalam seminar nasional pengusulan Sultan Serdang ke-5, Sulaiman Syariful Alamsyah (1881-1945) sebagai pahlawan nasional, Taufik memaparkan, Belanda pertama kali masuk Indonesia pada 1652 dibawah pimpinan Cornelius de Houtman yang mendarat di salah satu pelabuhan dan pusat kekuasaan nusantara (Banten).

Sementara kolonialisme Belanda berakhir pada 1942 ketika Hindia Belanda diserbu dan diduduki bala tentara Jepang.

"Logikanya apakah masuk akal kalau dikatakan bahwa Belanda langsung berkuasa ketika mereka baru saja datang di Banten," katanya.

Ia mengatakan, ironi dalam mitos yang dianggap sejarah itu juga berlanjut pada abad ke-17 yang justru merupakan zaman ketika berbagai kerajaan di kepulauana nusantara diperintah oleh raja-raja besar dan berkuasa.

Abad ke-17 adalah masa jayanya Sultan Iskandar Muda (1607-1636), yang sempat meluaskan kekuasaannya ke tanah Semenanjung dan Pantai Barat Sumatera, demikian juga Sultan Agung yang meluaskan kekuasaannya ke seluruh Jawa kecuali Banten dan Batavia.

Begitu juga dengan Raja Tallo yang sekaligus perdana menteri kerajaan Gowa dan Sultan Hasanuddin Raja Gowa (1653-1669).

Mereka memerintah di kerajaannya dan biasa terlibat dalam kompetisi dan konflik sesama mereka. Pada masa itu pula meraka menghadapi dengan gagah berani infiltrasi kekuatan asing seperti Belanda, Spanyol dan Portugis.

"Lalu bagaimana harus dipahami kalau di bawah kolonialisme Belanda memerintah, raja-raja di Nusantara itu memiliki kekuasaan yang cukup besar dan bahkan sibuk memperluas wilayah kekuasaan mereka masing-masing," katanya.(ant)

Sumber: http://tribunbatam.co.id

Sastra Sumsel Tertinggal

Palembang, Kompas - Sastra Sumatera Selatan tertinggal dibandingkan daerah lain di Sumatera bagian selatan. Ketertinggalan itu tampak dari sedikit nya jumlah novel karya penulis asal Sumsel.

Hal itu dikatakan Koordinator Institut Jurnalistik Palembang (IJP) Maspril Aries dalam acara peluncuran novel berjudul Angin karya Toton Dai Permana, Sabtu (23/1) di Kampus Stisipol Candradimuka, Palembang.

IJP merupakan lembaga yang menyelenggarakan Program Peduli Penerbitan Buku Sumatera Selatan. Salah satu kegiatannya adalah menerbitkan karya sastra, seperti novel.

Acara peluncuran buku diisi diskusi novel Angin dengan pembicara wartawan Tempo, Arif Ardiansyah, dan pengamat sastra, Rapanie Igama.

Menurut Maspril, di Lampung mudah ditemukan buku fiksi dan nonfiksi di toko buku terkemuka. Namun, di Sumsel sulit ditemukan buku karya penulis Sumsel.

Arif mengutarakan, para penulis Sumsel harus berusaha agar karyanya diterbitkan penerbit buku besar. Penulis Sumsel jangan hanya mengandalkan penerbit buku lokal karena jaringan distribusinya terbatas.

Rapanie menuturkan, penerbitan novel di Sumsel sangat langka. Berdasarkan catatan Rapanie, pada tahun 2009 hanya ada empat novel karya penulis Sumsel yang diterbitkan, termasuk novel Angin .

Perlu didistribusikan

Sesepuh wartawan Sumsel, Ismail Djalili, mengatakan, novel Angin harus didistribusikan secara luas agar dapat dinikmati orang banyak.

Menurut Ismail, sebagus apa pun sebuah karya apabila tidak bisa dinikmati secara luas menjadi percuma.

Setelah novel ini terbit, harus dipikirkan bagaimana mendistribusikannya, ujar Ismail.

Maspril menambahkan, novel Angin akan didistribusikan ke perpustakaan dan sekolah di seluruh Provinsi Sumsel. IJP tidak bisa melakukan distribusi, tetapi pihak sekolah dan perpustakaan yang berminat bisa menghubungi IJP. (WAD)

Sumber: http://cetak.kompas.com

Penulis Prancis Kritik Sudut Pandang Seniman Indonesia

Surabaya - Penulis asal Prancis, Jean Couteau mengkritik sudut pandang seniman Indonesia yang melihat dunia dari Kacamata Barat. "Seni rupa kontemporer khas China dan India begitu diapresiasi. Identitas lokal tumbuh di lahan global, namun apa yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya," katanya di Surabaya, Sabtu.

Ia mengungkapkan hal itu saat berbicara dalam simposium internasional tentang budaya urban bertajuk "The 2nd International Symposium, Urban Studies: Arts, Culture, and History" yang digelar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Dalam simposium yang juga menampilkan peneliti Jawa, Romo Koentoro Wirjomartono, dan periset pustaka dari Belanda, Freek Colombijn (Vrije University), ia mengatakan prediksi McLuhan tentang "Global Village" atau "World City" tidak berlaku untuk budaya.

"Budaya itu tidak mudah menjadi global. Faktanya, apa yang terjadi di Eropa dan di Indonesia justru terbalik," ucapnya menegaskan.

Di Eropa, seni komtemporer menghadirkan seni rupa lokal dalam konteks kekinian, seperti seni rupa kontemporer khas China dan India.

"Tapi, apa yang terjadi di Indonesia justru sebaliknya, karena 80-90 persen seni rupa di Indonesia mengkonstruksi diri dengan ikon-ikon dunia modern kapitalis," paparnya.

Penulis Prancis yang lebih fasih berbahasa Indonesia dibandingkan dengan Bahasa Inggris itu menilai, seniman seni rupa di Indonesia hanya bisa melihat dunia dari kacamata barat.

"Kalau pun ada ikon lokal yang digunakan hanyalah sebagai pelengkap, sampingan dari objek global yang diutamakan. Anda, sebagai bangsa Indonesia, akan kehilangan ikon-ikon lokal, karena dilahap kapitalisme jika tak mau mengganti kacamata itu," tuturnya.

Senada dengan itu, periset pustaka dari Belanda, Freek Colombijn, mengaku prihatin dengan ruang atau tempat publik dan ikon-ikon publik setempat di Indonesia yang tak mengindahkan simbol-simbol.

"Di Indonesia, bendera yang dibawa pejuang juga dibuat dari beton. Di AS, Singapura, bendera itu bendera biasa yang diganti jika kusam. Ia akan selalu hidup, karena ada sesuatu yang hidup dan berganti, sehingga simbol lokal itu tidak kaku, namun berfungsi sebagai pengingat sejarah," katanya.

Pandangan pakar dari Prancis dan Belanda itu dibenarkan Koentoro Wirjomartono yang tampil dengan mengajak para pakar sajen dan karawitan FIB Unair untuk mengiringi dirinya saat memberikan materi.

"Lupa itu sumbernya. Kita sering amnesia bahwa kearifan lokal atau jati diri ini yang harus dijaga. Bukan pasar yang harus dijaga untuk menyokong seni, budaya dan sejarah," ujarnya menjelaskan.(*)

Sumber: http://www.antaranews.com